Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Jumat, 26 November 2010

Maaf

Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.

Kamu yang hanya bisa memanggil namaku saat hujan tiba. Yang menggigil di bawah hujan menungguku pulang. Yang merelakan separo waktumu untukku. Ya, hanya untukku.

Kamu yang hanya bisa memandangi fotoku di luar sana. Yang setiap hari mengirimiku ucapan ”Selamat Malam” lewat pesan singkat. Yang aku tahu itu hanya untukku.

Kamu yang tak pernah sanggup mengeja kalimat Aku cinta kamu. Kamu yang hanya tersenyum saat aku tertawa. Kamu yang menangis hebat saat aku kesakitan.

Maaf. Aku tak pernah bisa membaca matamu. Aku tak pernah bisa merasakan isyarat itu. Maaf.



Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.

Kamu yang selalu kelu saat berbicara denganku. Kamu yang selalu menolak menatap mataku. Kamu yang selalu berkeringat saat aku melihatmu tertawa.

Aku tahu, kemarin lusa. Kamu ada di depan rumahku. Sebatang cokelat dan sepucuk surat kausembunyikan di balik tubuhmu. Mengintipku dari celah pagar rumahku. Ah, kenapa kamu tak meminta bantuan merpati saja untuk mengantar surat itu untukku. Tak perlu repot-repot. Tapi, kamu selalu bilang tak ingin merepotkan yang lain.

Kamu tahu? Aku sudah menunggumu di dalam. Sudah kupoleskan sedikit pemerah di bibirku yang tipis. Sudah kukenakan baju yang kamu pilihkan. Aku gelisah di dalam. Menerka-nerka apa yang ada di dalam sepucuk surat itu. Sayang sekali, kamu tak pernah masuk. Ah, mungkin kali ini, malaikat kecil itu lupa membawa panah cintanya. Atau panah cintanya masih diasah di surga? Entahlah. Aku juga tak mengerti.



Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.

Kamu egois. Atau aku yang terlalu apatis? Sudahlah. Tak perlu dibahas. Kamu masih saja diam. Aku juga masih saja tak peduli. Atau kamu ingin menjadi sosok romantis yang aku idamkan? Mungkin kemarin kamu sempat melihat coretanku. Romantis itu Tanpa Kata. Ah iya, aku lupa.

Kamu gunung es. Atau aku yang suka ngeles? Mungkin juga. Aku selalu mengalihkan perhatianmu saat kamu mulai berucap tentang cinta, tentang hujan, dan tentang kita.

Maaf. Bukan maksudku. Hanya saja aku takut. Aku takut.



Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.

Kamu bukan batu. Dan aku juga bukan sepatu. Yah, hari ini. Saat aku berbicara dengan hatiku, kamu datang. Mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang mungkin sudah berhasil membuat gelombang di hatimu. Yang mungkin sudah mengacak-ngacak sistem otakmu. Aku mencintaimu. Hanya itu yang kamu ucapkan. Aku menunduk. Kamu tertunduk. Kita diam. Bergeming. Maaf. Hanya itu yang bisa aku ucapkan padamu. Kamu terlihat tegar. Iya, tak apa. Mencintaimu adalah sebuah ketulusan. Kamu mengusap lenganku dengan lembut. Aku yang menangis. Bukan kamu. Maaf. Sekali lagi aku mengucap kata itu. Lalu pergi meninggalkanmu yang mematung. Mungkin hatimu sudah penuh abu letusan gunung cintamu. Maaf.



Hari ini, kulepaskan kau dari hatiku.

Maaf. Belum ada namamu di sudut hatiku.

Tidak ada komentar: