Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Senin, 26 September 2011

Analisis Gender dalam Cerita “Saya, Kenangan & Hujan”

Perempuan dan laki-laki. Selalu saja menarik dibicarakan. Kali ini saya ingin sedikit sok tahu dan sedikit (saja) membahas laki-laki dan perempuan dalam sudut pandang seorang (yang mencoba menjadi) genderis.

Istilah genderis pertama kali saya dengar ketika saya mengambil mata kuliah "Gender dalam Sastra". Konsep genderis yang dimaksud oleh dosen saya tersebut adalah seseorang yang melihat laki-laki dan perempuan dalam tataran yang sama. Bukan mendukung patriarki, apalagi feminis garis keras. Seorang genderis berada di tengah. Melawan yang salah, membela yang benar. Siapa pun itu. Apa pun jenis kelaminnya. Aih, maaf. Ini bukan cerita ninja.

Menurut Relawati (2011:3), istilah gender dan seks (jenis kelamin) memiliki arti pembedaan perempuan dan laki-laki, tetapi acuan yang digunakan berbeda. Istilah seks mengacu pada perbedaan biologis, sedangkan istilah gender mengacu pada konstruksi sosial tentang peran, tugas, dan kedudukan perempuan & laki-laki.

Seks merupakan kodrat dari Tuhan yang tidak bisa dipertukarkan: perempuan menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Sementara itu, gender adalah konsep yang dibentuk masyarakat dalam kaitannya dengan relasi antara laki-laki dan perempuan. Gender dikonstruksikan secara sosial dan budaya. Konsep gender sangat dipengaruhi oleh tata nilai, perbedaan adat istiadat, budaya, dan agama. Jadi, setiap wilayah tidaklah mempunyai konsep gender yang sama. Selain itu, gender dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Tak dapat dimungkiri, dari buku-buku yang saya baca, penelitian gender lebih ditujukan kepada perempuan. Kenapa? Karena perempuan selalu dikonstruksikan sebagai makhluk yang lemah dan perlu dibela. Ah, saya sedikit tersinggung.

Dalam tulisan ini, (sekali lagi) saya akan mencoba menganalisis tulisan teman laki-laki saya dari sudut pandang seorang genderis. Dia menulis sebuah pengakuan dalam blog pribadinya. Dia memberi judul tulisannya "Saya, Kenangan & Hujan". Dari judulnya, memang, tak ada tanda-tanda dia menulis sesuatu yang berhubungan dengan gender.

Paragraf pertama dibuka dengan ungkapan rasa sukanya pada hujan. (Kalau hujan mah, saya juga suka. #lupakan)

“Sejak kecil saya menyukai hujan. Mengamati tempiasnya dari balik jendela adalah kesukaan saya. Sebab selain indah, hujan juga membuat saya merasa (ny)aman….”

Saya tidak akan membahas rasa sukanya pada hujan. Meskipun kebanyakan, pecinta hujan adalah perempuan.

Dulu, saya memiliki julukan-julukan yang sering kali membikin saya menjadi rendah diri. Saya disebut-sebut sebagai anak laki-laki yang lembut. Jarang terlibat pertengkaran, tetapi kerap disalahkan jika ada teman sepermainan yang cekcok dan pulang dengan cucuran air mata. Tapi saya tetap diam.

Itu paragraf kedua. Kalimat Saya disebut-sebut sebagai anak laki-laki yang lembut. Jarang terlibat pertengkaran. Tentu saja itu adalah pelabelan yang diberikan masyarakat kepada dia. Ini dapat digolongkan ke dalam fenomena stereotip yang ada di dalam masyarakat. “Laki-laki adalah makhluk yang kuat, tegar, suka bertengkar, tidak pernah menangis, dan sebagainya!”

Disadari atau tidak, stereotip seperti itu menciptakan pengelompokan. Pengelompokan kemayu atau tidaknya seorang laki-laki berdasarkan sering atau tidaknya mereka bertengkar. Kasihan. Lantas, pengelompokan yang menunjukkan perbedaan itu sama halnya dengan membatasi gerak seseorang? Saya rasa tidak perlu. Setiap orang memiliki pilihan untuk menentukan sifat, sikap, dan peran mereka masing-masing.

Adalah gadis kecil yang bernama Diah lah yang selalu saya hindari. Setiap kali saya bermain-main bersamanya, Diah akan menangis di setiap akhir permainan dan mengadu pada orang tuanya, bahwa saya lah yang menjadi penyebab tangisnya meledak. Lucu memang!
Sampai sekarang, saya tidak tahu apa motifnya bersikap begitu. Namun terakhir bertemu, beberapa bulan lalu, dia tampak selalu tersenyum jika berpapasan dengan saya tanpa berucap sepatah kata, bahkan sekadar salam atau say hai.

Itu paragraf ketiga dan keempat yang saya jadikan satu. Diah. Seorang gadis. Tapi, saya rasa dia mampu mengintimidasi teman saya dengan kebiasannya mengadu dan menangis. Mungkin, teman saya takpernah melawan diperlakukan seperti itu. Mungkin, teman saya sangat geram dan memilih diam. Atau mungkin, teman saya ikut-ikutan mengadu dan menangis. haha.

Diah itu perempuan. Ketika Diah menangis dan mengadu kepada orang tuanya, Diah lebih didengarkan dan diberi simpati lebih. Meskipun, misalnya, Diah yang salah. Hanya saja, konstruksi sosial yang berkembang dalam masyarakat bahwa laki-laki harus melindungi perempuan.

Sampai sekarang julukan itu turut mengiringi pertumbuhan saya dalam menjalani kedewasaan. Tak perlulah orang lain menyadari, sebab saya sendiri yang menyadarinya. Saya memang cenderung pendiam, pemalu, introvert, atau apalah itu namanya.
Suatu hari saya pernah mengikuti tes (sejenis) personal preference yang dilakukan oleh teman saya yang kuliah di jurusan psikologi. Dan pada kenyataannya, hasil yang muncul adalah saya lebih banyak mendapatkan skor nurturance ketimbang aggression. Keduanya juga tak jauh beda dengan filsafat Teoisme, dengan istilah Yin dan Yang. Itu artinya, sisi feminis lebih mendominasi saya ketimbang sisi maskulin.

Dua paragraf selanjutnya menunjukkan bahwa labelling yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar teman saya itu membawa dampak yang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan teman saya. Sifat-sifat feminin (mungkin) lebih banyak ditemukan dalam diri teman saya tersebut. Ya, tak ada yang salah dengan sifat mana yang lebih mendominasi. Sungguh. Feminin atau maskulin sama saja atau bahkan androgini pun memiliki hak yang sama.

Ah iya, saya jadi teringat kuliah siang tadi bahwa tak ada agama satu pun yang berat sebelah. Artinya, semua agama menganggap laki-laki dan perempuan memiliki harkat dan martabat yang sama. Kitab-kitab suci yang dianut oleh umat beragama pun tak ada yang mengajari sistem patriarki.

Tapi ingat, ini bukan masalah jenis kelamin, tetapi energi kehidupan!

Ya, ini bukan tentang seks, tapi gender. Gender dibuat manusia. Manusia yang mengotak-kotakkan apa yang pantas dan yang tidak pantas dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Dulu, sebutan-sebutan itu membuat saya merasa sedih. Saya menyadari bahwa saya memang seorang yang sensitif dan tertutup. Saya cenderung lembut dibandingkan anak laki-laki seusia saya dan lebih suka tinggal di rumah sembari membaca, menggambar, dan menulis puisi. Kalau pun bermain di luar saya lebih suka sendirian, atau ditemani oleh sahabat kecil saya, Rahmad, yang sekarang pun telah menghilang bak ditelan bandang.

Paragraf terakhir yang saya analisis—fiuh! akhirnya—haha.

Dia menegaskan kembali bahwa sisi feminin dan kelembutannya memang lebih dominan. Dia lebih senang tinggal di rumah—streotip untuk perempuan yang lebih senang melakukan pekerjaan domestik.

Hidup lebih berwarna justru mengajarkan kita agar tidak mudah menghakimi seseorang atas dasar saya benar, kamu salah. Begitu juga dengan sifat, sikap, dan peran seseorang. Tak ada salahnya jika perempuan harus bekerja di sektor publik atau tidak menangis ketika ditimpa kesedihan. Mereka tetap perempuan meski ada sisi maskulin di dalam dirinya. Hal itu juga berlaku pada laki-laki. Tak ada salahnya jika laki-laki mempunyai kelembutan hati atau menangis ketika menonton drama Korea, misalnya. Mereka tetap laki-laki meski sisi feminin lebih dominan.

Saya beruntung, saya dididik dalam keluarga yang demokratis. Yang menghormati pilihan saya. Dan yang telah mendidik saya untuk menjadi perempuan yang bisa melakukan pekerjaan apa pun. Saya memasak ketika pagi dan mencuci mobil ketika sore. Saya menulis menjelang pagi, belajar ketika pagi, dan mengajar menjelang petang. Saya menyapu rumah dan juga mengganti bohlam lampu. Saya dapat memperbaiki perabotan rumah yang rusak. Kadang, saya harus mengangkat galon air mineral. Tak jarang pula saya harus tampil anggun ketika akan ke pesta. Tak ada yang menyebut saya laki-laki. Saya perempuan. Saya bangga menjadi perempuan.

Ya, setelah saya membaca tulisan teman saya tersebut, saya berharap tidak ada lagi orang-orang yang membawa palu lantas mengetukkannya di mana-mana. Dan, suatu saat nanti, saya juga berharap akan menganggap biasa laki-laki yang menangis atau perempuan yang mengangkat besi. Mereka punya pilihan hidup yang harus dihormati oleh siapa pun.

 

Daftar Referensi:

Jumali. 2011. “Saya, Kenangan & Hujan”. (online) http://tepi-langit.blogspot.com/2011/09/saya-kenangan-hujan.html

Mulia, Samuel. 2011. “Bencong…!”. Kompas, 11 September 2011, hlm. 13

Relawati, Rahayu. 2011. Konsep dan Aplikasi Penelitian Gender. Bandung: Muara Indah

Sabtu, 24 September 2011

Sekadar Cerita Lalu tentang Hujan dan Pulang

Langit menjingga. Kelas terakhir hari ini baru saja usai. Sudah pukul lima. Biasanya, kuliahku tidak sesore ini. Kampus sudah mulai sepi. Hanya terlihat beberapa pegawai yang mengecek ruang kelas yang terkunci.
Kurapikan tasku, lalu mengecek barang-barangku. Mungkin kurang sesuatu. Atau lebih sesuatu. Ah, tak perlu.
Aku berjalan pelan. Menikmati setiap langkah di koridor ruangan. Di luar semakin sepi, jingga yang kupikirkan pada langit sudah berganti warna. Mungkin menghitam atau mengabu. Ada tetes-tetes mungil yang menitik di map dan bajuku. Bau hujan. Mungkin sebentar lagi dia datang. Hujan. Aku suka berlindung di bawahnya. Menikmati setiap tetesnya. Membiarkan tubuhku basah. Hujan selalu membuatku betah berlama-lama di luar.
Rintik air semakin kerap dan lebat. Kulambatkan langkahku. Menyusun ingatanku tentang hujan dan semuanya. Kampusku terlalu panjang dan luas untuk dilewati, kadang kusyukuri, kadang kurutuki. Kali ini aku bersyukur.
Syukur. Ah, iya. Kata itu selalu mengingatkanku pada semua hal yang Tuhan berikan padaku. Aku teringat, kelas terakhir yang kutinggalkan hari ini adalah kelas Bahasa Isyarat. Aku yang mendengar dipaksa untuk diam dan takmendengar di kelas itu. Semua menggunakan isyarat. Tanganku kaku. Mulutku kelu.
Aku kagum. Pengajar-pengajarku adalah orang-orang tunarungu. Manusia-manusia yang dipilih Tuhan untuk menerima kelebihan--jika tidak ingin mengatakan itu sebuah keterbatasan. Mereka bisa menangkap isyarat dengan benar. Tanpa kata. Mampu memahami dan "mendengarkan" orang lain. Aku selalu terharu ketika melihat mereka mengajar. Ada lelatu yang meluap-luap. Membuatku malu dan terkesiap. Kurasa, kepekaan mereka jauh lebih besar daripada orang-orang yang mengaku bisa mendengar dan berbicara.
Langkahku semakin pelan. Hujan semakin bergairah. Kupandangi rusa-rusa yang teronggok kedinginan di kandangnya. Setiap hari aku melihat rusa-rusa itu. Mereka menatap nanar setiap orang yang lewat. Mungkin lapar, mungkin mengaduh. Rusa-rusa itu semakin kurus. Ah, menyedihkan. Jatah makannya dimakan anjing rektor atau malah dimakan rektor? Ups. Aku takboleh membicarakan ini di depan umum. Maaf. Sedikit keceplosan.
Jalanan semakin basah. Kandang rusa di sisi kiriku, hutan di sisi kananku. Oh, ini kampus atau tempat wisata. Entahlah. Aku takpeduli. Aku berjalan saja. Menuju stasiun. Suara sirine kereta datang dan berangkat menambah riuh denting hujan. Memekikkan sekaligus menikmatkan. Aku juga selalu suka stasiun. Bangku peron yang memanjang. Orang-orang yang lalulalang. Ada penantian panjang. Ada pertemuan dan perpisahan. Kehilangan dan proses menemukan. Stasiun punya cerita itu. Kalau tidak hujan, aku sering mampir ke stasiun ini, sekadar duduk di peron. Melihat orang-orang bergegas keluar dan masuk. Mendengar dengung sirine. Melihat pengamen berceloteh tentang hidupnya yang malang. Atau menunggu penjual permen menjajakan dagangannya. Semuanya indah.
Lantas, aku menyusuri lorong belakang stasiun. Genangan air di mana-mana. Atau jika hari panas, tempat ini seperti neraka yang menawarkan keeksotisan oven 100 derajat celcius. Terlalu berlebihan memang, tapi panas di tempat itu memang mampu membuatku meleleh. Aku takbetah berlama-lama di sana.
Setelah itu, aku harus melewati jalanan lebar yang takberperikemanusiaan. Mesin-mesin bergerak itu takpunya hati, termasuk pengemudinya. Aku selalu berhenti sejenak di tepi jalan, menunggu orang yang punya kepentingan yang sama denganku: menyeberang! Aku hanya berani menyeberang ketika banyak orang. Jalanan ini seperti ibu yang takbertanggung jawab. Yang membiarkan anak-anaknya berlarian taktentu arah. Tanpa arahan. Tanpa pegangan.
Sederhana. Aku hanya ingin dibangun jembatan penyebrangan di jalan ini. Hanya itu.
Setelahnya, aku harus berjalan melewati gang yang sedikit lebar. Selalu. Bau makanan yang tercium di gang ini mampu membuat nafsu makanku meningkat drastis. Jika di gang ini, aku suka berjalan di sebelah kanan. Aku suka melihat wajah orang-orang yang berpapasan denganku. Meski aku tahu: aku tak pernah mengenal mereka.
Gang yang kulewati masih cukup lebar dibandingkan dengan gang yang menuju kamarku. Gang menuju kamarku berada di antara tembok dari dua rumah yang menjulang. Di sepanjang jalan gang ini, ada banyak tai kucing. Kucing-kucing itu tak punya malu untuk berak sembarangan. Persetan dengan tai kucing! Aku bisa menghindarinya dengan meloncat. Seperti menari di atas panggung. Mungkin, setelah ini akan ada tarian tai kucing. haha
Kamarku ada di ujung gang. Sederhana. Namun selalu membuatku (ny)aman. Aku membuka pintu kamarku dengan segera. Baju dan tubuhku basah dan dingin. Aku takpernah tahan dengan dingin yang berlama-lama di tubuhku. Segera kuganti bajuku dengan kaos oblong dan celana pendek. Ini nyaman.
Di luar masih hujan. Jalanan depan kosku terlalu sepi. Hanya rintik hujan dan kodok. Sudah pukul enam. Biasanya senja datang dengan warna jingga atau orange yang menyala dan menyilaukan. Indah. Tapi senja kali ini takkurang indah. Ada hujan.
Aku duduk di jendela. Memandangi rintik hujan. Entah sampai kapan ku di sini. Mungkin sampai hujan berhenti atau sampai senja menghilang.

Rabu, 21 September 2011

Sendiri

Sendiri selalu menyenangkan. Seperti kali ini. Di sana ramai. Banyak orang. Hanya saja aku di sudut sendiri. Ya. Kali ini aku ingin menulis. Ingin bercerita. Aku sedang di café sekarang. Café yang terletak di dalam gedung pertunjukan Salihara. Menunggu acara. Menunggui orang-orang bercengkerama. Aku memesan roti—entah apa namanya—dan es teh manis. Roti tawar yang dibakar. Dua iris. Di sampingnya ada semangkok kecil saus yang berisi telur setengah matang, irisan tomat dan bawang bombay, serta mayonaisse. Dari namanya, kukira rasanya manis. Ternyata tidak. Gurih. Tak ada yang istimewa. Hanya saja aku sendiri. Itu menjadi lebih nikmat. Hanya satu yang tak kulakukan jika di café seperti ini: merokok. Sungguh. Aku tak suka bau rokok. Apalagi mengisapnya.

Sekarang pukul berapa? Mungkin 6.45. Pukul tujuh nanti, aku akan ke atas. Menaiki tangga kecil yang ada di balik café ini. Lalu, aku akan duduk di sana untuk mendengarkan ceramah. Ceramah dari Sapardi Djoko Damono. Aku sudah pernah bercerita bukan? Jika aku suka Sapardi Djoko Damono.

Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan di sana nanti. Katanya tentang “Kesusastraan Indonesia sebelum Kemerdekaan”. Bahasan yang menarik sepertinya. Ya ya ya. Kesusastraan memang selalu menarik dibicarakan dan didengarkan.

Minggu lalu—di hari yang sama—aku juga ke sini. Tapi tidak mampir ke café. Pembicaraan mengenai gender dan kekuasaan pada tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer yang menjadi bahasannya. Menarik. Minggu lalu, aku bisa mengobrol dengan Ayu Utami. Ah, iya. Penulis itu. Penulis yang membuatku tergila-gila pada sastra.Seperti mimpi.

Sebentar, aku ingin kembali lagi bercerita tentang suasana café ini. tak terlalu luas. tapi cukup nyaman untuk menulis. Hanya diterangi lampu 5 watt di setiap meja. Tak berisik, tapi juga tak sepi. Aku satu-satunya orang yang memakai jilbab di sini. Lainnya adalah orang-orang yang sepertinya bebas dengan hidupnya. Ngobrol. Nongkrong. Merokok. Tertawa. Dan mungkin secuil dari kegiatan mereka adalah untuk mencari ide. Berbagi cerita. Menyenangkan. Ah, tapi hidupku juga tak kalah menyenangkannya dari mereka.

Sudah pukul tujuh. Acara segera dimulai. Aku harus segera membayar pesananku. Dan aku harus segera naik. Duduk manis mendengarkan ceramah. Rotinya mengeyangkan atau membuat eneg. Entahllah. Aku tak tahu antara dua itu. Lain kali saja aku meneruskan ceritaku. Aku senang di sini.