Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Selasa, 13 Agustus 2013

Yang Seharusnya Ditinggalkan

Gambar diambil dari sini.


"Kamu?" Aku tertegun. Saat melihat tubuh yang dulu begitu kukenal sedang berdiri di depan pintu. Tersenyum. Lalu, semuanya tiba-tiba menguap. Dan, selalu saja begitu. Setiap kali matanya menatap lekat.
"Selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin, ya!" dia berkata perlahan. Aku hanya mengangguk dan hanya terucap 'sama-sama'. Entahlah. Sudah berapa lama. Aku taklagi mengucap selamat Natal padanya. Sedang mencoba melupa. Dan, mungkin memang sudah terlupa. Meski sesekali masih terkenang.
"Silakan masuk," aku mempersilakannya dengan sedikit kikuk. Lalu, kami sudah berada di kursi masing-masing. Ujung dan ujung. Seolah tanpa pernah bersinggungan. Padahal, dulu. Ah, Sudahlah.
"Kamu apa kabar?" dia membuka hening yang sedang terjadi.
"Baik. Semoga kamu juga baik-baik saja," jawabku sekenanya. Aku takbermaksud menanyakan apa pun tentangnya.
"Begitulah. Aku juga baik. Sebaik aku mengingatmu," dia berkata tanpa perasaan. Aku semakin kikuk.
"Aku ingin mencoba opor ayam dan ketupat buatanmu," dia memecah hening kembali. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Aku tahu dia sangat tahu bahwa aku takpernah dan takbisa memasak, terlebih opor ayam. Terlalu rumit. Lalu, dia hanya tertawa. Tawanya masih sama. Renyah dan menghangatkan. Aku pun ikut tertawa. Sekadar membiarkan resah menyerah pada gelisah.
Sudah sangat lama. Aku takmelihat matanya. Sejak dia pergi setelah segala sesuatunya (harus) berakhir. Sudah pernah kubilang, setiap kali Natal, aku selalu mengingatnya. Dengan sangat. Sekadar mengingatnya. Dulu, ada rindu yang diam-diam melekat, lalu tertiupkan pada angin agar tersampaikan padanya. Sekarang tidak lagi. Aku hanya mengingatnya. Mungkin, setiap Lebaran seperti kali ini dia juga selalu mengingatku. Tapi, aku takpernah tahu, adakah rindu yang tertitipkan pada udara atau tidak.
Entahlah. Menjadi manusia terkadang terlalu rumit terikat pada nama. Pada aturan-aturan yang entah bagaimana harus terpatuhi. Pada segala hal yang entah bagaimana telah menjadi ritual pemujaan.
"Masih lama di rumah?" Aku mengangguk. Lalu, menyebut sebuah tanggal rencana kepergianku ke kota yang katanya metropolitan itu. Dia mengangguk-angguk.
"Kalau kamu takkeberatan, kamu bisa datang di acara pernikahanku. Tepat seminggu setelah hari ini," masih dengan gayanya yang santai, dia berkata seperti itu. Tentu saja, aku terkejut. Dulu. Kami selalu merencanakan masa depan bersama. Meski aku tahu, takpernah ada kata 'kita' di dalam masa depan kami masing-masing. Dia orang yang ambisius pada karier, kukira.
"Kenapa secepat ini?" aku takkuasa menahan pertanyaan itu.
"Setiap orang akan berubah, termasuk mimpi. Mimpiku taklagi jabatan tinggi,"
Aku tercekat. Rasanya aku ingin mendengarnya cerita banyak-banyak seperti dulu. Tapi, bukan itu.
"Selamat! Semoga kamu bahagia. Aku akan datang," janjiku padanya.
"Terima kasih. Aku tahu, kamu masih bersetia dengan mimpi-mimpimu itu. Semoga kamu juga bahagia,"
Aku mengangguk.
Lalu, perbincangan taklagi lama. Dia harus pergi (lagi). Ada bening yang menggumpal di pelupuk setelah melihat mobilnya menjauh ditelan sudut pandang. Entahlah. Bahagia atau sedih. Aku sama sekali takbisa mendefinisikannya.
Akhirnya, cerita pun berubah. Dan, pertanyaanku terjawab. Takada rindu yang diam-diam tercekat. Yang ingin dia sampaikan lewat udara. Untukku. Mungkin hanya kenangan, yang membawanya kemari. Menemui seseorang yang pernah ada dalam hidupnya. Dulu.
Ah, masa lalu. Selalu saja hanya untuk dikenang. Bukan untuk ditinggali, tapi sebaliknya.

Tidak ada komentar: