Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Rabu, 06 Juni 2012

Yang Fana adalah Waktu. Kita Menurut Saja.

Sesajak milik Sapardi itu bergema. Entahlah. Saya memang terlalu sering mengingatnya. "Yang fana adalah waktu. Kita abadi." seperti itu harusnya. Ya. Waktu memang terlalu fana. Tetiba pagi. Siang. Malam. Lalu kembali pagi. Begitu terus. Berlari. Meninggalkan saya. Saya yang takpernah sadar dimakan waktu. Lantas, menurut saja. Hendak di bawa ke mana.
Siang ini hujan. Bulan Juni. Ah, Sapardi lagi. Tidak. Saya taksedang ingin bercerita tentang Sapardi. Hanya saja tentang hujan yang telah membawa saya pada ingatan. Pada kenangan. Cepat-cepat memutar.
Memandang hujan di kota ini. Entah yang keberapa kalinya. Tapi, saya masih merasa itu hujan yang pertama. Hujan tiga tahun lalu. Hujan yang saya maknai sebagai ucapan selamat datang di kota ini. Kota yang mengajari saya banyak hal.
Tiga tahun yang lalu. Saya datang ke kampus ini. Dengan tawa yang menggema. Yang seolah-olah akan menaklukkan dunia. Menggenggamnya dalam sekali tangkup. Ya. Rasanya baru kemarin saya berteriak girang melihat akun sisa ujian. Sekarang hampir habis. Sudah tiga tahun. Rasanya baru kemarin. Baru kemarin. Waktu terlampau fana. Ataukah saya yang terlampau lambat berjalan? Bisa jadi.
Rasanya baru kemarin. Saya melihat hujan di titik yang sama. Di jendela kelas yang sama. Dulu saya tersenyum. Hari ini pun saya tersenyum. Dulu, saya tersenyum untuk keberanian saya datang ke kota ini sendirian. Hari ini, saya tersenyum sebagai ucapan terima kasih pada diri saya karena sudah bertahan. Paling tidak, bertahan dari sergapan rindu tiba-tiba. Pada apa? Tentu saja pada rumah.
Saya berjalan. Melewati rute yang sama dalam tiga tahun. Rasanya baru sekali melewati jalan itu. Tapi, sudah tiga tahun. Mungkin ribuan kali. Hitung saja. Sudah saya katakan, waktu memang terlalu angkuh. Meninggalkan saya tertatih. Hampir menyerah.
Sudah tiga tahun. Saya di sini. Merah-Biru-Ungu. Semuanya berbaur menjadi satu. Takada yang benar-benar jelas. Atau takada yang benar-benar takjelas. Semuanya sama saja. Boleh dianut. Boleh dirujuk. Tapi, saya belum mendapat apa-apa. Usia saja yang bertambah, tapi kedewasaan? Saya kira perlombaan sudah dimenangkan oleh waktu. Dan saya menurut saja.

Tidak ada komentar: