Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Minggu, 10 Juni 2012

Suatu Waktu, Saya akan Kehilangan

Pagi-pagi tadi, Mama telepon. Katanya sakit, habis jatuh. Tangannya takbisa gerak. Saya tertegun. Sejenak. Mencemaskan waktu yang taktahu malu. Ada bening mengalir di pipi. Harusnya saya bisa pulang. Memeluk Mama. Atau sekadar memijit tangannya itu. Paling tidak, bisa menyuapinya atau memasak makanan untuknya. Tapi sayangnya takbisa. Saya tetap di sini. Makalah yang takjua saya kerjakan menahan saya. Sudahlah. Saya takmau menyalahkan makalah lagi.
Kemarin-kemarin juga sudah jarang telepon. Sudah jarang bercerita. Saya terlalu (sok) sibuk. Padahal rindu. Sangat. Dua minggu yang lalu Mama meminta saya pulang. Segera memesan tiket. Agar sebelum pergi ke perbatasan, saya bisa bertemu dengannya. Saya diam saja. Mengiyakan. Tapi ternyata, saya malah banyak main di sini. Takjadi pulang. Sama sekali.
Ah, waktu selalu terlalu cepat. Membawa hidup pada usia tua dengan cepat. Uban. Tubuh ringkih. Selalu mengingatkan saya pada satu hal: kehilangan. Saya benar-benar takut hal itu terjadi. Iya. Saya tahu. Saya takbisa mengelak pada waktu. Pada ketetapan. Entah Mama yang kehilangan, atau saya, bahkan mungkin kami berdua. Tuhan takpernah membocorkan jawaban.
Saya takut. Waktu itu sebentar lagi. Saya terlalu cepat berlari. Tapi takpernah sadar, bahwa waktu lebih cepat larinya, mencuri cantik Mama. Mencuri tegap Ayah. Mencuri bahagia kami.
Mengapa waktu takmembiarkan saja saya bersandar hangat di bahu Ayah lebih lama? Mengapa waktu takmembiarkan saja saya memeluk pinggul Mama lebih lama? Entahlah. Sepertinya dia hidup untuk merasa kehilangan. Untuk dirinya sendiri.
Agar semuanya indah pada waktu-Nya. Mungkin.

Tidak ada komentar: