Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Senin, 13 Agustus 2012

Rangkaian K2N: Tanah Surga, Katanya!

Beberapa hari yang lalu, saya melihat acara infotainment. Awalnya, takmenggubris. Namun, setelah ada paparan tentang film baru dari Deddy Mizwar, saya sedikit melongok. Pasalnya, film yang berjudul "Tanah Surga, Katanya" itu bercerita tentang kehidupan perbatasan. Tentu saja, sangat mengingatkan saya pada proses K2N UI beberapa minggu yang lalu.
Saya ditempatkan di desa Wana Bakti, kecamatan Ketungau Tengah, kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Desa ini termasuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Hanya terpisah bukit.
Lantas, cuplikan film tersebut juga sangat mengingatkan saya pada kondisi di sana. Rumah panggung. Mandi di sungai. Tanah berlumpur. Jalanan rusak. Anak-anak. Merah putih yang jarang.
Ah. Perbatasan selalu membawa cerita. Setiap hari ketika di sana, saya harus berjalan sekira sekilometer menuju ke lokasi kegiatan. Mungkin, lagu pengiring yang tepat adalah "Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah, la la la...". haha. Memang seperti itu. Saya harus melewati jalanan tanpa aspal. Penuh lumpur. Jika tidak hati-hati, dapat dipastikan kaki akan tercelup pada lumpur itu. Sementara, di Pulau Jawa, hampir tidak ada jalanan yang takteraspal. Kalaupun belum teraspal, tanahnya masih bersahabat.
Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Ini Kalimantan. Harusnya masih Indonesia. Namun, sepertinya, campur tangan negeri ini tidak sampai ke tempat ini. Jalanan saja masih jauh dari layak. Terlebih listrik sama sekali belum masuk. Sampai sekarang saya masih menanyakan sila kelima pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Kebutuhan mendasar, seperti listrik, saja belum terpenuhi. Padahal, Pulau Kalimantan termasuk penghasil batu bara terbesar. Miris.
Kemudian tentang sungai. Biasanya, saya hanya melihat di televisi tentang kegiatan mencuci, mandi, dan segala macam dilakukan di sungai. Namun, di sini, saya merasakannya. Pertama kali mandi di sungai, saya seperti orang gagu yang ingin bicara. Kaku. Penuh ragu. Hanya memakai kain sebatas dada. Menuju sungai. Mencelupkan seluruh tubuh ke dalam air yang jernih dan sangat dingin itu. Ah, mungkin saya terlihat sangat norak pada saat itu. Namun, lama-lama biasa. Mungkin, keringat saya sudah menyatu dengan air sungai itu. haha. Mandi bersama-sama dengan penduduk setempat. Bercerita. Tentang apa saja.
Oh iya, ada tiga sungai di desa Wana Bakti, yaitu sungai Merakai, Empudau, dan Kemawil. Semuanya menyenangkan. Tapi saya paling suka mandi di sungai Empudau!
"Orang bilang tanah kita tanah surga..." Semacam lagu lawas yang berdengung. Kalau boleh saya meracau, tanah kita masih tanah surga. Surga dengan definisi yang berbeda. Surga di Jawa, mungkin, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Namun, surga di Kalimantan, mungkin, pasir sungai yang bercampur emas. Tuhan Mahaadil.
Beberapa waktu yang lalu, saya pulang dari Bandung. Naik kereta. Mengobrol banyak hal dengan Bapak yang duduk di sebelah saya.
"Tapi, sekarang kan semua daerah sudah terjangkau karena adanya internet." Beliau menanggapi cerita saya tentang Wana Bakti. Saya menggeleng pelan. Bagaimana bisa internet menyebar di sana, sementara sinyal pun takada.
Ya. Berbicara tentang perbatasan memang takakan habis masalah. Semoga saja. Suatu saat. Saya bisa kembali ke sana. Mengabdi lagi. Pada hal yang lebih nyata.

Tidak ada komentar: