Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Rabu, 06 Juni 2012

Yang Fana adalah Waktu. Kita Menurut Saja.

Sesajak milik Sapardi itu bergema. Entahlah. Saya memang terlalu sering mengingatnya. "Yang fana adalah waktu. Kita abadi." seperti itu harusnya. Ya. Waktu memang terlalu fana. Tetiba pagi. Siang. Malam. Lalu kembali pagi. Begitu terus. Berlari. Meninggalkan saya. Saya yang takpernah sadar dimakan waktu. Lantas, menurut saja. Hendak di bawa ke mana.
Siang ini hujan. Bulan Juni. Ah, Sapardi lagi. Tidak. Saya taksedang ingin bercerita tentang Sapardi. Hanya saja tentang hujan yang telah membawa saya pada ingatan. Pada kenangan. Cepat-cepat memutar.
Memandang hujan di kota ini. Entah yang keberapa kalinya. Tapi, saya masih merasa itu hujan yang pertama. Hujan tiga tahun lalu. Hujan yang saya maknai sebagai ucapan selamat datang di kota ini. Kota yang mengajari saya banyak hal.
Tiga tahun yang lalu. Saya datang ke kampus ini. Dengan tawa yang menggema. Yang seolah-olah akan menaklukkan dunia. Menggenggamnya dalam sekali tangkup. Ya. Rasanya baru kemarin saya berteriak girang melihat akun sisa ujian. Sekarang hampir habis. Sudah tiga tahun. Rasanya baru kemarin. Baru kemarin. Waktu terlampau fana. Ataukah saya yang terlampau lambat berjalan? Bisa jadi.
Rasanya baru kemarin. Saya melihat hujan di titik yang sama. Di jendela kelas yang sama. Dulu saya tersenyum. Hari ini pun saya tersenyum. Dulu, saya tersenyum untuk keberanian saya datang ke kota ini sendirian. Hari ini, saya tersenyum sebagai ucapan terima kasih pada diri saya karena sudah bertahan. Paling tidak, bertahan dari sergapan rindu tiba-tiba. Pada apa? Tentu saja pada rumah.
Saya berjalan. Melewati rute yang sama dalam tiga tahun. Rasanya baru sekali melewati jalan itu. Tapi, sudah tiga tahun. Mungkin ribuan kali. Hitung saja. Sudah saya katakan, waktu memang terlalu angkuh. Meninggalkan saya tertatih. Hampir menyerah.
Sudah tiga tahun. Saya di sini. Merah-Biru-Ungu. Semuanya berbaur menjadi satu. Takada yang benar-benar jelas. Atau takada yang benar-benar takjelas. Semuanya sama saja. Boleh dianut. Boleh dirujuk. Tapi, saya belum mendapat apa-apa. Usia saja yang bertambah, tapi kedewasaan? Saya kira perlombaan sudah dimenangkan oleh waktu. Dan saya menurut saja.

Jumat, 01 Juni 2012

Catatan Pagi Hari

Sepagian tadi saya sudah tidak bisa terpejam. Selepas subuh, saya tidak terbiasa untuk tidur lagi. Hanya merenung. Atau membaca. Bahkan melamun. Lantas, saya teringat pada tugas makalah saya yang menumpuk. Tidak tahu harus berkata apa. Jujur saja. Semester ini saya terlampau malas mengerjakan semua makalah yang takbeda jauh dengan masalah itu. Saya tahu. Tapi saya diam saja. Membiarkan mereka terlunta. Siapa tahu mereka mencari penyelesaiannya sendiri. Abaikan. Ini saya berkhayal.
Biasanya. Pada bulan Juni. Saya sudah di rumah. Menunggu hujan yang kata Pak Sapardi tabah itu. Bersandar di bahu ayah. Atau menggelung dipeluk mama. Sekarang tidak. Saya masih di sini. Di kota yang sudah mengambil banyak hal dari hidup saya.
Sepertinya, saya akan pulang dua bulan lagi. Menjelang lebaran, mungkin. Ya. Saya akan pergi. Ke mana? Ke perbatasan. Ke pulau terdepan negeri ini. Beruntung. Saya bisa ikut kegiatan K2N yang diadakan oleh kampus saya. Pengabdian masyarakat. Menjangkau negeri ini hingga ke pelosok. Memberikan kasih pada mereka yang merasa tidak diperhatikan. Berbagi kebahagiaan. Saya bahagia. Semoga mereka juga bahagia.
Lantas, otak saya memikirkan setelah liburan. Apa yang akan saya kerjakan? Sementara SKS saya sudah hampir habis. Dan saya masih punya dua semester lagi. Tinggal 3 mata kuliah dan skripsi. Setelah itu sudah. Apakah saya akan mengejar target lulus 3.5 tahun? Dulu iya. Saya sudah mempersiapkan lulus 3.5 tahun mulai semester 1. Tapi, sampai sini. Saya berubah pikiran.
Lulus 3.5 tahun. Takada salahnya memang. Tapi, entah mengapa. Sekarang saya merasa sayang. Terlalu cepat meninggalkan tempat belajar. Dan setelahnya belum tahu harus berbuat apa. Saya masih ingin belajar. Mungkin, semester depan saya akan mengambil banyak mata kuliah (lagi). Belajar saja. Menikmati kampus. Lulus tepat 4 tahun.
Ya. Setelah lulus. Saya akan kuliah lagi. Melanjutkan belajar. Entahlah. Saat paling menyenangkan itu ada di kelas. Mendengar dosen. Belajar banyak. Lalu, saya bisa mengamati lingkungan sekitar saya. Menambah kepekaan saya.
Paling tidak. Saya sudah menghabiskan pagi ini dengan merenung. Semoga melegakan.

Rabu, 30 Mei 2012

(lagi) tentang hujan. semoga kau takbosan.

kau takperlu takut hujan. sebab ia hanya air. yang sebentar lagi terhempas. menyatu dengan rindumu. atau mungkin tangismu.
kau takperlu membuka payung saat hujan. sebab ia hanya tetes. yang takakan membuat basah puisi-puisimu. yang malah akan membuat puisimu menyatu. dengan hatimu mungkin.
kau juga takperlu cepat-cepat berteduh ketika hujan. sebab ia hanya rindu. ingin bercumbu dengan kamu. sesederhana itu kan hujan datang? lalu mengapa kau terlalu cepat resah?

Minggu, 27 Mei 2012

Kepada Euforia

Saya ingin menyapamu kali ini. Dalam dini hari. Seperti ini. Tetiba saja pikiranku penuh. Ingin dituang. Ke mana lagi. Kalau tidak di sini.
Baru saja, saya menghabiskan sisa malam dengan bercerita kepada teman saya. Tentang apa? Tentang apa saja. Kemudian saya teringat pada banyak hal. Pada hal-hal yang kadang membuat kita harus menjadi bagian dari sesuatu. Harus masuk ke dalam komunitas tertentu. Harus diakui oleh banyak orang. Untuk apa? Saya pun tidak pernah tahu jawabannya. Mungkin, untuk hal-hal yang di bawah sadar.
Kadang, kita juga terlalu mudah untuk mengikuti sesuatu yang sedang marak. Ah, mungkin kamu tidak, saya saja. Atau ikut-ikutan meneriakkan sesuatu tanpa mengerti apa yang sedang diteriakkan. Wajar saja. Hidup memang seperti itu. Dituntut memihak atau memilih pada apa yang takpernah diketahui. Lantas, jika tidak memilih, kita akan dihakimi.
Banyak yang bilang, hidup adalah soal pilihan. Pilihan pada apa? Pada iya dan tidak? atau pada tidak dan tidak? Lagi-lagi saya tidak tahu. Apakah dengan tidak memilih kita tidak hidup? Masih hidup rasanya. Tapi, benar juga. Sebab tidak memilih pun sebuah pilihan.
Maaf. Semakin dini hari. Pikiran saya semakin ngaco.
Baiklah. Judul tulisan saya kali ini adalah "Kepada Euforia". Tentang apa? Kamu bisa menceritakannya tentang apa saja. Pilihan-pilihan itu membawa kita pada arus dan anti-arus. Tinggal pilih saja, banyak teman atau terasing. Lantas, karena pada dasarnya manusia ingin diakui keberadannya, kemudian banyak yang berbondong-bondong mengikuti arus. Berteriak-teriak seolah-olah mereka bahagia pada pilihannya. Padahal, hanya ikut-ikutan. Yah. Mungkin itulah definisi euforia menurut saya. Saya tidak tahu makna leksikalnya. Kondisi gembira yang berlebihan. Yang (sok) senang pada hal yang tidak dimengerti. Sudah saya bilang. Ini definisi menurut saya. Protes saja pada yang mencipta kata euforia.
Ya. Sebenarnya, bisa saja kamu teguh pada pilihanmu meskipun itu harus melawan arus. Atau kamu tidak harus mengikuti arus agar dianggap sebagai manusia. Bukankah layang-layang terbang tinggi karena melawan arah angin?

Selasa, 22 Mei 2012

Mencintaimu adalah Mencintai Kekuranganmu.

Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu, sementara aku takpernah bisa mencintai kekuranganmu?
Terdengar klise? Bagaimana lagi. Itulah kenyataannya. Bagiku. Mencintaimu adalah mencintai kekuranganmu. Bukan yang lain.
Aku bisa penuh mencintaimu jika aku bisa dengan tulus mencintai kekuranganmu.
Maaf. Apakah aku menyakitimu dengan ini? Sungguh. Aku minta maaf.
Aku sama sekali takbermaksud menyakitimu. Bukankah akan lebih sakit jika aku (pura-pura) mencintaimu? Bukankah lebih sakit aku mencintaimu karena kelebihanmu saja?
Maaf. Jika begitu, takadil bagimu. Kamu sudah bersedia menyediakan bahagiamu untukku. Sementara aku? Aku masih terlalu payah untuk dimiliki. Untuk kaumiliki, tepatnya!
Maaf.
Sekali lagi. Aku belum mampu membagi letihku denganmu. Mungkin, suatu saat. Aku berharap begitu.

Sabtu, 19 Mei 2012

Liberalisme dan Hal-Hal yang Membuat Ragu

Seperti yang saya duga dan saya harapkan. Workshop kali ini memang mengarah pada hal itu. Liberalisme. Takmasalah. Hanya saja, saya belum bisa menolak atau mengiyakan seluruhnya. Ada beberapa hal yang bisa saya terima. Ada beberapa hal yang saya tolak. Wajar bukan?
Kemarin. Setelah makan siang. Pembahasan sudah bukan tentang iklim lagi. Sudah mengarah pada permasalahan negara. Sudah mengarah pada hal-hal yang memang seharusnya sudah dibicarakan.
Saya memang "tersesat" masuk ke dalam workshop ini. Tapi saya bersyukur. Paling tidak. Saya mengerti sudut pandang mereka.
Dari awal workshop ini saya sudah curiga. Ya ya ya. Saya memang terbiasa membaca teks. Yang segala sesuatunya harus dicari struktur batinnya. Harus dicari makna eksplisitnya. Seperti kali ini. Saya bisa membaca ketika mereka memulai acara dengan permainan. Ada empat blok. Lalu, fasilitator memberikan pilihan berbeda di setiap blok. Peserta diberi kebebasan untuk memilih menurut hatinya. Ya. Saya tahu. Kebebasan individu yang ditekankan di situ. Lantas, kebebasan yang seperti apa? Kebebasan yang tanpa mengganggu kebebasan orang lain, kata mereka. Sampai sejauh mana? Ini masih sangat bias.
Mereka berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan dunia ini. Kaya. Miskin. Masuk UI. Tidak masuk UI. Adalah sebuah pilihan. Well, bisalah itu disebut pilihan. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang terkungkung karena sistem kapitalis. Mereka tidak bisa bergerak. Bahkan memilih untuk hidup mereka pun takbisa. Apakah mereka dengan sengaja memilih untuk menjadi tidak kaya? Atau mereka sengaja memilih tidak punya rumah? Saya rasa tidak.
Mereka takpunya pilihan yang bisa diperjuangkan. Terbentur banyak hal. Lantas mereka terperangkap dalam sistem tersebut.
Saya memang sedikit sok tahu tentang hal ini. Tapi, saya gelisah. Unsur kemanusiaan saya memberontak. Oke. Banyak hal memang. Banyak hal yang berbenturan. Bias. Dan takterjelaskan. Pertanyaan saya tidak pernah dijawab. Padahal sederhana, saya hanya menanyakan nasib orang-orang yang takpunya pilihan itu. Nasib orang-orang yang terbentur sistem. Mau diapakan mereka? Masih tetap menganggap itu pilihan mereka? Konyol!
Liberalisme membuat orang berhak menentukan pilihan hidupnya, termasuk tentang mengembangkan modal. Hal ini memunculkan persaingan bebas, yang nantinya berujung pada kapitalisme. Saya juga tidak memungkiri jika saya juga pengguna produk kapitalis. Tapi, menjadi tidak wajar ketika yang kaya menjadi semakin kaya. Yang miskin akan semakin miskin. Pemilik modal itu sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang takpunya akses. Sepertinya, bagi mereka, profit menjadi tujuan utama. Pragmatis. Praktis. Yang penting eksis. Mungkin seperti itu.
Saya juga taksuka menganut sistem sama rata sama rasa. Itu pun takadil. Orang yang bekerja keras layak mendapatkan lebih. Tapi sungguh menjadi takadil ketika menjadi takpeduli pada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.
Kata mereka lagi. Pada dasarnya, setiap orang liberal. Setiap orang sudah memilih kehidupannya masing-masing. Tapi, banyak yang tidak mengakui itu. Untuk bagian ini, saya masih takbegitu paham. Ketika diskusi di luar forum pun, saya takmendapat jawaban lugas. Paling tidak. Saya sudah mengerti jalan pikiran orang-orang liberal. Mengikuti atau tidak, itu penuh menjadi hak saya.
Lantas, apakah saya salah jika meragukan bahwa liberalisme dapat diterapkan secara utuh di negeri ini?

Jumat, 18 Mei 2012

Workshop "Freedom and the Politics of Climate Change"

Baiklah. Kali ini saya memang berdosa. Mencuri-curi waktu di tengah seminar. Tapi bagaimana lagi. Saya sudah tidak tahan untuk tidak menulis. Hanya catatan sebenarnya.
Pada awalnya, saya ikut seminar ini karena diajak teman. Hanya itu. Jujur. Saya tidak tahu bagaimana bentuk seminar. Bahkan judulnya pun saya taktahu. Parah. Iya memang.
Namun, setelah sampai di tempat, ternyata judul diskusinya adalah "Freedom and the Politics of Climate Change". Well, saya tidak tahu itu apa. Haha. Saya memang payah.
Namun, pembahasan-pembahasan berikutnya (tentu saja) tentang perubahan iklim.
Apa coba? Saya masih tidak mengerti apa yang sedang diomongkan di depan. Climate Change. Perubahan Iklim. Sama saja. Iya. Saya tahu. Iklim akan terus berubah. Seiring manusia yang juga terus berubah. Bagaimana mungkin iklim tidak berubah, sedangkan manusia saja setiap hari berubah. Letih. Dari dulu yang dipermasalahkan tetap sama. Penyebab. Dampak. Solusi yang tidak solutif. Lantas bagaimana? Dari dulu, saya juga tidak pernah merasakan bagaimana dampak pemanasan global. Setiap waktu juga sama. Panas. Terus dengan kita melakukan hal-hal yang dianjurkan panas akan berubah dingin? Saya rasa tidak. Wajar saja iklim berubah. Lalu, mengapa harus dipermasalahkan? Bosan!
Abaikanlah itu.
Hei, saya baru sadar. Judul acara ini adalah "Freedom and the Politics of Climate Change". Freedom. Kebebasan. Liberal. Saya suka kata itu. Mengapa kita tidak membahas hal itu saja? Biar ramai. Biar teriak sampai serak. Dari kemarin. Saya menunggu.
Di luar berisik. Di dalam terganggu. Lantas menegur yang di luar. Terus? Di mana liberalnya? Katanya liberal. Batasannya apa? Saya semakin pusing dengan satu kata itu. Batasan mengganggu. Batasan tidak mengganggu.
Haha
Sangat mengingat jelas. Akhir-akhir ini bahasan tentang liberalisme sedang hangat. Panas malah. Seminarnya sih tentang perubahan iklim. Tapi, saya tahu. Ada tiupan perlahan tentang paham liberal yang disisipkan dalam workshop ini. Ah, saya tadi menyebutnya seminar. Maafkanlah saya. Ini workshop yaa. Haha
Setiap kali diskusi, kami diperbolehkan memilih. Memilih pendapat. Memilih tempat. Suka-suka. Lantas, yang masih saya pertanyakan sampai sekarang adalah batasan memilih itu sampai mana? Sampai ujung dunia? Saya semakin ngaco.
Ini masih pagi. Masih hari kedua. Mudah-mudahan nanti sesi selanjutnya bahasan tentang liberalisme sudah tidak gerilya lagi. Sudah blak-blakan. Toh, katanya liberal. Bebas saja mengajukan paham. Saya juga bebas saja menerima paham baru. Bukan berarti harus masuk ke dalamnya. Ah, tidak memilih apa pun juga sebuah kebebasan, bukan?

Senin, 14 Mei 2012

menanam luka

pada seikat kata aku percaya. ada kamu di sana. menungguku. dalam gelap. oh. mungkin aku yang malah menunggumu dalam senyap. aku takpernah tahu. apakah kamu. kapankah kamu.
kadang. aku terlalu haru. lupa pada hakikat. buncah pada gelisah. siapakah aku. aku (mungkin) yang tumbuh bergeliat di hatimu. rajin menanam luka. atau perih. lantas, kamu juga rajin menanam cinta.
"agar luka yang kautanam takjadi belukar," katamu suatu waktu ketika kutanya apa yang sedang kamu kerjakan.
meleleh. siapa yang takmeleleh jika terbakar terus menerus. kamu yang membakar aku. serupa lilin. yang dibakar gelap.
tapi tetap saja. aku takpernah bisa mengalah pada altar egoku. terlalu angkuh. kamu juga bilang begitu.
sudahlah. terlalu banyak aku menulis tentangmu. nanti muak. aku taktanggung jika kamu bosan. maaf.

Kamis, 10 Mei 2012

World Class University: Antara Merakyat dan Melarat.

Saya teringat. Setiap hari senin, setiap mata kuliah Kritik Sastra di gedung IV FIB UI. Kami harus berbagi LCD dengan kelas sebelah. Kami memulai kelas pada pukul 10.00, sedangkan kelas sebelah pukul 11.00. Kami sama-sama membutuhkan LCD untuk presentasi, tetapi yang ada hanya ucapan, "LCD habis. Semuanya terpakai. Kalau mau gantian."

Baiklah. Berbagi LCD. Mungkin, istilahnya terlalu romantis. Tapi, jujur ini miris. Bagaimana mungkin, kami harus memotong presentasi kami pada pukul 11.00 karena kelas sebelah harus memulai presentasinya juga. Sementara, pembahasan belum selesai.

Mau takmau. Kami pun harus merelakannya. Berbagi LCD. Meski harus mengelus dada. Enthlah. Universitas yang (katanya) berkelas internasional tidak memiliki LCD sejumlah kelas. Mungkin, kami harus merakyat. Menggunakan papan tulis dan spidol. Kembali pada zaman antahberantah.

Takhanya itu. Hampir setiap hari. Kami pun harus berbagi bangku. Lagi-lagi kami diajari untuk berbagi dengan sesama. Ya. Berbagi bangku. Lebih romantis bukan kedengarannya?

Setiap pagi. Ada saja pemindahan bangku dari satu kelas ke kelas yang lain. Bangku diseret-seret. Diangkat-angkat. Mengganggu! Kelas takpunya bangku sejumlah mahasiswanya. Parahnya, berbagi bangku ini terjadi antarlantai. Mahasiswa harus naik atau turun untuk mengambil bangku di kelas yang kosong.

Baiklah. Masih beruntung bisa kebagian. Yang datang terlalu telat dapat dipastikan akan duduk lesehan. Atau tidak perlu masuk kelas karena tidak ada bangku.

Suatu saat, kami harus terheran-heran kembali. Pasalnya, bangku yang ada adalah bangku seminar (tanpa ada meja). Well, ini lucu. Kami tidak boleh menulis karena tidak ada sandaran untuk menulis. Terpaksa lagi. Kami harus menerima keadaan itu dengan lapang dada.

Itu masih belum seberapa. Hari Rabu, 9 Mei 2012, kami harus kuliah di ruang 4309. Kelas kosong. Hanya ada papan tulis, meja dan kursi dosen, serta meja LCD. Taksatu pun bangku untuk mahasiswa di sana. Kami harus lesehan. Duduk di bawah. Seperti akan pengajian. Bangku di gedung itu sudah terpakai semuanya. Tidak mungkin kami mengambil bangku di gedung lainnya.



Lantas, bagaimana dengan gembar-gembor World Class University? Ataukah kami harus diajari merakyat agar takketahuan kalau melarat? Entah. Berbagi LCD dan berbagi bangku. Miris. Lalu, berbagi apa lagi nanti? Mungkin berbagi kelas. Sebab mahasiswa yang diterima melebihi kuota.

Rabu, 02 Mei 2012

jatuh cinta

waktu memang terlalu cepat membawa kita pada hal lain. termasuk jatuh cinta. siapa sangka. aku bisa jatuh cinta padamu. setelah banyak waktu yang kita habiskan bersama.

Selasa, 24 April 2012

Ponsel Saya Hilang

Seperti biasanya. Saya terlalu biasa untuk menerima hal senang maupun sedih. Bagi saya sama saja. Sama-sama dari Tuhan yang patut disyukuri. Sore tadi. Sehabis kelas Wacana, saya (dengan sangat tidak sengaja) meninggalkan ponsel saya di laci kelas Wacana. Keluar gedung menuju perpustakaan. Dan saya baru tersadar jika ponsel saya tidak ada di dalam tas. Saya yakin. Ponsel saya ketinggalan di laci itu. Dengan segera saya kembali ke kelas.
Baiklah. Mungkin ceritanya mudah ditebak. Ponsel saya sudah tidak ada lagi di laci meja saya. Teman saya mencoba menelepon ponsel saya. Mati.
"Kok lo nyantai gitu sih handphone lo ilang?" teman saya--yang daritadi menemani saya--mungkin heran.
"Ya. Mau gimana lagi. Kalau jodoh pasti akan balik lagi. Kalau gak jodoh berarti ya bakal dapat ganti yang lebih baik." saya menjawab enteng sambil tertawa.
Dia terdiam. Membenarkan. Ya. Saya selalu percaya pada Tuhan. Yang akan mengganti hal-hal yang diambil-Nya dengan hal yang lebih baik.
Sesampainya di rumah, saya menelepon Mama saya. Seperti biasanya juga, Mama saya juga biasa saja. Sangat biasa. Malah melarang saya untuk menanyakan ke OB besok.
"Kamu kurang memberi kali!" Pas! Saya sudah menduga itu yang akan dibilang oleh Mama saya.
Iya. Mungkin saya memang sangat kurang memberi. Memberi ke siapa pun. Memberi apa pun. Termasuk ke Tuhan. Saya tahu.
Jujur saja. Ini kehilangan barang yang sedikit istimewa untuk pertama kalinya. Saya termasuk orang yang teliti. Sangat malah. Rapi menyimpan barang-barang saya. Apa pun. Tapi entah kali ini. Mungkin memang waktunya hilang. Sudahlah. Tidak apa-apa. Akan ada ganti yang lebih baik.
Kenapa saya harus mempertanyakan alasan ponsel hilang, sementara saya takpernah bertanya alasan segala kebahagiaan yang diberikan Tuhan pada saya. Cukup adil bukan? Semoga saja.

Senin, 23 April 2012

April Hampir Habis. Dan Aku Baru Saja Menulis.

Ini benar-benar April hampir habis. Dan aku belum menulis sama sekali. Tentang apa pun. Terlebih tentang kamu. Maaf. Aku salah fokus. Seperti bulan-bulan yang lalu. Banyak hal yang terjadi. Menyenangkan. Mengharukan. Menyedihkan. Bagiku. Itu sama saja. Sama-sama membahagiakan. Takkurang apa pun. Sudah kukatakan bukan? Konsep bahagia bagiku terlalu sederhana. Bahkan hanya bisa bangun pagi lalu melakukan hal-hal rutin, bagiku itu juga bahagia. Bulan April ini. Tuhan memang sedang sangat-sangat baik padaku. Sudah kuceritakan padamu juga kan? Jika aku taklolos seleksi Mahasiswa Berprestasi, bahkan masih di tingkat Jurusan. Perasaanku biasa saja. Dan masih tetap berpikir akan ada ganti yang jauh lebih baik. Entah kapan. Ternyata. Apa yang teryakini. Itu jugalah yang terjadi. Aku memang taklolos seleksi Mapres Utama, tapi aku tetap menjadi Mahasiswa Berprestasi di Bidang Akademik. Takmenyangka. Indeks Prestasi Komulatif-ku menempati angka tertinggi di seluruh mahasiswa program studiku. Namaku terpanggil. Menerima penghargaan dan bantuan membayar Biaya Operasional Pendidikan--yang bagiku mahal itu. Terima kasih Tuhan. Mungkin, jika boleh kumenyebutnya, ini kado dari Tuhan untuk tanggal lahirku. Baiklah. Aku memang selalu percaya kebaikan-kebaikan sederhana yang kulakukan untuk orang lain akan berdampak besar padaku. Di saat yang tepat. Mungkin kamu taktahu atau takingat. Jika tanggal 17 April kemarin aku berkurang umur. Entah. Berapa sisa umurku sekarang. Ya. Takperlu ucapan memang. Tapi aku bahagia ketika malaikat-malaikat kecil takbersayap yang serumah denganku menyiapkan kejutan tengah malam. Aku dibangunkan tepat pukul 00.00, mereka membawa kue tart cokelat yang lezat dengan angka lilin 99. Aku tertawa saja. Terima kasih. Sempat kami berdoa bersama. Bersenda gurau. Kata mereka, usiaku sudah mencapai 99 tahun. Iya. Tandanya aku harus sesegera mengingat kematian. Jika dihitung oleh kalkulator manusia, usiaku baru mencapai 21 tahun. Usia ranum. Jujur saja. Tanggal 17 kali ini, aku takbanyak berharap mendapat ucapan selamat. Sebab aku tahu. Ini takpanjang. Takabadi. Tapi, aku tetap berterima kasih pada mereka yang sudah bersusah payah mengingat tanggal itu tanpa bantuan jejaring sosial. Lalu, adikku satu-satunya. Dia mengirimiku ucapan "Selamat Ulang Tahun" berbelas-belas kali di kotak masukku. Mungkin, itu caranya menyayangiku. Aku juga sangat menyayanginya. Sangat. Orang-orang terdekatku memang takpernah melupakan tanggal itu. Kedua orang tuaku. Tanteku. Dan kedua adik sepupuku. Aku menyayangi mereka. Sangat. Ketika berangkat ke kampus pun, aku bebas saja. Takada beban. Namun, lagi-lagi. Membuatku terharu. Teman baikku membawakan kue tart mungil yang cantik. Mengucapkan selamat ulang tahun dengan caranya. Aku hampir menangis. Terima kasih sekali lagi. Bahkan, sampai hari ini aku masih mendapat ucapan selamat ulang tahun dan kado. Padahal, aku takmemiliki situs jejaring sosial yang beraplikasi pengingat ulang tahun itu. Terima kasih. Sudah mengingat hari itu untukku. Satu lagi. Kado dari Tuhan yang takpernah berakhir. Aku lolos hingga tahap esai untuk Peneliti Muda Good Governace MWA UI Unsur Mahasiswa. Besok petang akan wawancara. Semoga Tuhan takbosan baik kepadaku. Satu hal yang belum tertuliskan pada April ini: kamu! Semoga kamu juga baik-baik saja.

Jumat, 30 Maret 2012

Bahagia itu sederhana. Seperti kemarin.

Entahlah. Definisi bahagia bagi saya memang terlalu mudah. Menjalani sepanjang hari dengan berjalan-jalan juga membahagiakan. Seharian kemarin saya tersenyum. Hal-hal sederhana memang biasanya membuat saya sangat bersyukur pada Tuhan. Saya masih bisa menikmatinya. Hingga sekarang.

Pagi-pagi. Saya membaca pesan singkat dari teman saya bahwa kuliah Sastra Bandingan ditiadakan. Hari itu hanya satu mata kuliah. Otomatis. Kemarin saya sedikit terbebas dari kuliah yang penuh tuntutan. Saya juga sengaja menolak tawaran mengajar. Alasan saya ada seminar, padahal saya akan hadir di diskusi film. Sudahlah. Berbohong demi kebahagiaan. Sepertinya Tuhan mengerti.

Berangkat ke kampus. Memakai baju ungu. Menyenangkan. Saya akan ke perpustakaan hari ini. Menonton film. Mengerjakan tugas. Lalu mengikuti diskusi filmnya.

Sengaja saya tidak menunggu bus untuk sampai ke perpustakaan. Meminjam sepeda. Menaikinya. Bersepeda selalu menyenangkan. Ya. Mengingatkan pada masa kecil. Takada rasa takut. Takbanyak pertimbangan. Seperti sekarang. Panas. Tapi, takmembuat bersepeda menjadi tidak menyenangkan. Angin masih bertiup. Untunglah, sedikit mendung. Saya memang suka bersepeda atau berjalan kaki. Bebas polusi. Bebas dikejar waktu.

Sesampainya di perpustakaan. Saya langsung masuk ke sinema. Filmnya sudah hampir mulai. Oh iya, saya menonton film “Dilema”. Film yang diproduseri oleh Wulan Guritno. Sangat menarik. Film ini gabungan dari lima film pendek. Yang disutradrai oleh empat orang berbakat. Yang memiliki cerita masing-masing, tetapi tetiba memiliki benang merah. Ada kritik sosial tentang negeri ini. Ada penggambaran hubungan antara ayah dan anak di setiap scene. Garis Keras, The Officer, The Gamblers, Big Boss, dan Rendesvouz. Judul tiap-tiap scene. Menjadi satu kesatuan. Bergerak. Seperti kenangan. Terpisah-pisah. Tapi menyatu. Nanti. Jika ada waktu saya akan menulis resensinya.

Setelah menonton film, saya naik ke lantai tiga. Mengerjakan tugas. Baru kali ini saya mengerjakan tugas yang bahannya berbahasa Inggris dengan senang hati. Entahlah. Mungkin perasaan masih terbawa.

Minum segelas jus jeruk yang berwarna oranye juga menjadi hal yang menyenangkan. Sederhana saja.

Pukul lima. Saya harus ke lantai enam. Diskusi film hampir dimulai. Kembali menyenangkan. Wulan Guritno, empat sutradaranya, dan Ario Bayu hadir sebagai pembicara di diskusi itu. Ario Bayu. Iya. Dia salah satu pemain dalam scene The Officer. Sebagai Brigadir Aryo. Ah, sudah lama saya kagum dengan kemampuan akting dia. Selalu dingin. Dingin yang menghangatkan.

Kebahagiaan itu sepertinya memang datang beruntun. Saya berhasil memenangkan kuis yang diadakan panitia. Mendapat bingkisan. Yang menyerahkan Ario Bayu. Bersalaman. Foto bersama. Hampir berciuman. Oh. Yang ini lupakan. Saya hanya bercanda. Haha

Di luar hujan. Semakin petang. Saya harus pulang sendirian. Iya. Takapa. Sudah biasa. Ada rerintik. Yang semakin membawa pada dejavu. Pada rindu. Terima kasih. Kemarin sangat menyenangkan. Bolehlah nanti. Saya mengajakmu serta dalam bahagia versi saya.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana hujan. Yang takpernah memilih tempat untuk jatuh. Seperti kemarin.

Sabtu, 24 Maret 2012

Intinya, Saya Rindu!

Sepertinya sudah sangat lama, saya tidak menjenguk rumah ini. Sudah banyak sarang laba-laba di sana-sini. Berdebu. Kotor. Tapi mungkin cukup disapu atau dipel. Sedikit saja. Sebab, saya takmeninggalkan rumah ini terlampau lama. Lama tapi takterlalu.
Entahlah. Tetiba saja saya kangen bercerita di sini. Padahal takada yang sedang ingin saya ceritakan. Saya ingin menulis. Itu saja. Saya juga sudah lama tidak menulis puisi. Sekadar membimbang dalam tulisan pun tidak. Saya tidak tahu. Apa yang saya lakukan akhir-akhir ini. Gempuran tugas. Makalah. Presentasi. Menjadi satu kesatuan yang menjelma monster. Merampas separo lebih waktu saya. Ditambah jadwal mengajar yang lama-lama tidak manusiawi. Saya rindu. Kangen. Menulis puisi.
Paling tidak, menulis puisi adalah cara sederhana untuk bercerita. Sesingkat waktu. Sependek usia. Takperlu berpanjang lebar.
Ah, saya ingat. Kemarin libur panjang. Saya tidak pulang, ke Bandung ataupun ke Jombang. Sama sekali. Hanya berdiam diri dan bercinta dengan tugas. Lama-lama memuakkan. Tapi, bagaimana lagi. Sudahlah. Nikmati saja.
Jika saya sedang bosan dengan tugas saya, menulis hal takpenting seperti ini yang saya lakukan. Sekadar membunuh jenuh. Meminta waktu berlama-lama. Entahlah. Akhir-akhir ini saya lebih sering rindu rumah. Rindu pulang. Menurut saya, rumah itu manis. Ada banyak kenangan di dalamnya.
Tadi, saya mengatakan sedang rindu pada puisi. Sekarang, saya benar-benar rindu pulang. Intinya, saya rindu. Pada apa? Pada siapa? Pada setiap hal yang membuat rasa hangat. Tertawa. Bercerita. Banyak hal. Pada setiap orang yang pernah mengajari saya mengeja nama. Rindu. Ingin bertemu.

Sabtu, 17 Maret 2012

Ada Banyak Cerita pada Malam. Yang Takterlihat saat Terang

Saya selalu senang melakukan perjalanan pada malam hari. Ada banyak hal yang takterlihat pada siang hari akan tampak pada malam hari. Ah, ini bukan cerita seram.
"Kamu kalau pulang jangan malam-malam!" nasihat Oma saya setiap kali saya akan pulang ke Bandung. Saya diam. Tidak menolak ataupun mengiyakan. Masalahnya, hari terakhir sebelum akhir pekan yang panjang, urusan saya di kota ini baru selesai menjelang senja. Saya hanya bisa naik bus dari terminal pukul enam. Itu mungkin bus yang terakhir.
Kemarin, akhirnya saya pun pulang. Setelah melalui perdebatan panjang dalam diri saya. Antara urusan di kota ini yang takpernah selesai atau meluangkan sedikit waktu untuk bisa memeluk Oma, Tante, Om, dan dua adik sepupu saya. Untunglah, saya memilih pilihan yang kedua.
Perjalanan yang menyenangkan meskipun terlalu dingin. Saya suka duduk di samping jendela. Menatap keluar. Tidak memasang headset. Membaca buku. Melihat pengamen-pengamen kecil di lampu merah-kuning-hijau. Menatap nanar pada kakek atau nenek yang masih belum istirahat di usianya yang senja.
Melihat mereka. Mengingat negeri ini. Banyak protes di sana sini. Menolak kebijakan itu ini. Miris.
Banyak ketimpangan. Sang pemilik modal tetaplah pada posisinya yang aman. Sang proletar juga harus tetap menerima nasibnya. Lantas, bagaimana dengan kelas menengah? Kelas setengah-setengah. Yang takbisa dianggap pemilik modal juga takpantas dianggap proletar? Saya kira, kelas menengah akan terombang-ambing. Mencoba dengan keras meraih "gaya hidup" yang di atas sebab takmau dicap kelas bawah. Dilematis.
Perjalanan malam selalu mengingatkan saya pada hal-hal yang takterduga. Seperti kali ini, saya teringat pada Marx yang membagi dunia atas dua kelas: borjuis dan proletar. Sementara kelompok menengah yang sulit teridentifikasi takpernah dipikirkan oleh Marx.
Ada kesenjangan di sini. Saya selalu kasihan pada orang-orang yang di pinggir jalan itu, pada sopir angkot, pedagang asongan, mungkin juga pada makelar penumpang. Bagaimana jika mereka tak mendapatkan cukup uang untuk mencukupi kebutuhan anak istri mereka di rumah.
Kadang, di tengah keterbatasan mereka, masih ada senyum yang tulus. Ya. Bahagia memang sederhana. Kemarin, saya sempat melihat sepasang kakek nenek yang bergandengan di trotoar. Berjalan. Berdua saja. Saling menopang tubuh ringkih masing-masing. Membuat iri. Termasuk saya. Mereka bahagia. Bahkan dengan cara yang sangat sederhana.
Setiap kali ke Bandung, saya tidak pernah absen pergi ke pusat perbelanjaan. Sekadar jalan-jalan atau memang ada urusan. Jujur saja, saya tidak begitu tertarik pergi ke arena modern ini. Hanya saja, saya menikmati kebersamaan saya dengan tante dan kedua adik [sepupu] saya. Saya bisa ngobrol atau sekadar menggandeng tangan mereka. Itu hal yang takbisa ditukar dengan apa pun. Termasuk kemewahan yang ada di pusat perbelanjaan. Setiap kali tante saya memilih dan memilah produk, saya hanya menungguinya. Mengajak ngobrol tante atau duduk jika memungkinkan. Melihat-lihat pengunjung lain. Mencatat apa pun yang dapat disimpan.
Banyak yang datang dan pergi di setiap gerai. Masing-masing membawa gayanya. Setiap orang berusaha berpenampilan sangat menarik--paling tidak menurut dia.
Mungkin, mereka termasuk kelas menengah. Yang takpernah mau disebut ketinggalan zamam. Sepertinya, gadget terbaru selalu ada dalam genggaman mereka. Berjalan tanpa mendongak karena (mungkin) sibuk membuat livetweet tentang perjalanannya ke mall. Atau sedang check-ini di foursquare.
Entahlah. Itu hanya sekilas pemikiran liar saya. Boleh setuju boleh tidak.
Sudah saya bilang. Perjalanan malam selalu membuat saya semakin meracau. Melamun ke mana-mana.

Warna: Identitas Budaya Populer

Warna. Warna-warni. Setiap yang oranye, paling tidak, harus berpasangan dengan yang serupa oranye. Senada, katanya. Tak bolehkah yang oranye berpasangan dengan yang hijau atau biru?
Kalau itu takboleh, betapa kasihan si warna. Oranye hanya bersama (serupa) oranye!
Paling tidak, itulah yang saya lihat di pusat perbelanjaan hari ini. Tas warna oranye dipadupadankan dengan sepatu dan dompet oranye. Begitu halnya dengan warna merah, biru, ungu, dan lainnya.
Kemudian, tante saya ribut. Dia ingin membeli tas oranye tersebut, namun bingung harus dipasangkan dengan baju warna apa. Masalahnya, dia hanya punya sedikit baju yang bernada oranye. Pada akhirnya, tas tersebut tak jadi terbeli. Hanya karena taktahu harus memakai baju apa.
Entahlah. Hal-hal seperti ini siapa yang mengonstruksikan. Siapa yang memulai.
Jika menanyakan hal ini, nantinya, akan sama dengan permainan telur dan ayam. Siapa yang duluan? Takada yang mengaku!
Pusat perbelanjaan tidak akan mengonstruksikan pola dan warna senada untuk setiap produk yang mereka tawarkan jika takada konsumen yang meminta. Sementara itu, pola pikir konsumen juga tidak akan terbentuk jika takada pola dari produsen. Masalah ini sederhana. Hanya saja, banyak yang enggan peduli.
Masalah warna dalam berpenampilan. Ya itu saja. Dari sini. dapat terlihat adanya konstruksi sosial yang lekat. Streotip masyarakat yang kuat bahwa yang tidak senada akan terasing!
Pada dasarnya, manusia membutuhkan komunitas untuk mengakui keberadaannya. Menjadi bagian dari kerumunan. Akan merasa termarginalisasi jika tidak mengikuti perkembangan zaman. Boleh juga disebut sebagai budaya populer untuk fenomena semacam ini. Dalam budaya populer, penyeragaman cita rasa pada masyarakat itu menjadi unsur yang penting.
Warna dalam penampilan pun dapat menjadi identitas seseorang. Ada semacam peraturan taktertulis dalam diri setiap penikmat warna. Keberpikiran seperti ini takelak dimanfaatkan dengan sangat baik oleh pemilik modal. Produk diciptakan dengan asas keterserasian. Belum afdol jika memakai tas warna ungu tanpa sepatu warna ungu juga. Mungkin itu paradigma yang digembar-gemborkan secara diam-diam dan menyelinap. Display pada manekin dan etalase toko semakin menguatkan ideologi itu. Masyarakat berebut di depan kasir untuk memuaskan keinginan yang sebenarnya takpernah cukup. Merasa sangat puas jika bisa membeli tas dan sepatu yang sepaket dengan harga selangit. Kemudian dengan bangga memakainya ketika bertemu dengan orang lain. Dengan begitu, mereka dapat dianggap bagian dari sebuah komunitas yang takdisadari: budaya populer.
Warna adalah konsep. Realitasnya berupa ungu, hijau, oranye, dan sebagainya. Klasifikasi warna yang mengatur adalah manusia menurut budaya masing-masing. Lantas, mengapa masih meributkan warna yang taksenada dalam sebuah penampilan? Padahal, boleh saja kau memakai warna sesukamu di satu waktu! Bukan berarti kau bukan bagian dari komunitas.

Senin, 12 Maret 2012

Beberapa Cerita tentang Bahasa Kita

Sepagian tadi, saya kembali diingatkan oleh dosen saya beberapa istilah atau peribahasa dalam bahasa Indonesia yang memiliki "sejarah" atau "muatan budaya". Sebelum menguap, saya mencoba menuliskannya di sini. Kamu boleh menyebarluaskannya, asalkan masih ada nama saya. Hehe.

1. Alah Bisa karena Biasa

Peribahasa ini bermakna leksikal 'kalah bisa (racun) karena biasa'. Kata alah berasal dari bahasa Melayu Klasik yang berarti juga 'kalah', sedangkan bisa bermakna 'racun'. Mungkin, sebagian orang menganggap bahwa kata bisa di sini bersinonim dengan kata dapat. Yang pasti, peribahasa ini mengisyaratkan bahwa bisa itu dapat kalah dengan kebiasaan. Jika tubuh setiap hari memakan sedikit racun, kelak, tubuh akan membentuk sistem kekebalannya sendiri. Ya. Kalah bisa karena biasa! Tidak berlebihan memang.

2. Mata Keranjang

Istilah ini sering terdengar ketika ada seseorang yang hobinya menggoda lawan jenis. Pada dasarnya, istilah ini berasal dari frase dari mata ke ranjang. Yang maksudnya, seseorang melihat orang lain dengan pikiran menuju ke ranjang, bukan keranjang yang dapat menampung semuanya.

3. Hidung Belang

Istilah ini sering digunakan untuk menyebut lelaki yang "nakal" atau suka gonta-ganti pasangan. Istilah ini muncul ketika zaman penjajahan ada seorang sersan yang jatuh cinta pada puteri jenderalnya. Suatu saat, sersan tersebut kepergok sedang bercinta dengan puteri tersebut. Singkatnya, sersan dihukum di tengah lapangan banteng dengan hidung dicat hitam belang-belang, sedangkan sang puteri tidak dihukum karena dia anak jenderal. Julukan ini tetap berlaku sampai sekarang. Perempuan tidak ada yang mendapat julukan ini. Agak sedikit bias gender sih. haha

4. Dirgahayu

Ini makna katanya 'semoga panjang umur'. Ada banyak yang salah, termasuk saya. Pada awalnya, saya mengira kata ini bermakna 'selamat ulang tahun'. haha. #ngaco

5. Antara Wanita dan Perempuan

Dua kata ini seringkali mengalami pergeseran makna, kadang yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Namun, penutur bahasa Indonesia dapat memilih, ingin menggunakan kata wanita atau perempuan. Kata wanita berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Vanita yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi fun yang artinya senang-senang. Sementara itu, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti yang memiliki. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa wanita juga berasal dari kata wani ditoto (dalam bahasa Jawa) yang artinya berani ditata.

Begitulah. Sekelumit cerita tentang bahasa kita. Boleh percaya boleh tidak. Sebab ini semacam tradisi lisan yang turun temurun. Namun, bahasa acapkali dipengaruhi oleh budaya dan alam yang membentuknya, termasuk peribahasa dan istilah yang digunakan. Segala sesuatu yang ada di bumi ini tidak turun dari langit, termasuk bahasa.

I Wanna Learn Indonesian atau I Wanna Learn Bahasa?

Ah, mungkin topik ini sudah terlalu basi. Namun, saya baru saja tersadar akan hal ini ketika membaca artikel singkat dari Anton M. Moeliono beberapa jam yang lalu.
Seringkali, penutur bahasa Indonesia dalam berbahasa Inggris mengucapkan I'll speak in Bahasa atau I wanna learn Bahasa. Kalimat ini juga diucapkan oleh dosen MPK Bahasa Inggris saya.
Dulu, jujur, saya tidak mengerti mengapa banyak orang menggunakan kata bahasa untuk mengganti kata, yang seharusnya, Indonesian. Dalam hal ini, saya benar-benar tidak mengerti (dalam arti yang sebenarnya) konsep pemakaian kata bahasa dalam bahasa Inggris.
Hal ini dapat ditelusuri pemakaian katanya. Seperti yang saya rangkum (semoga tepat) dari tulisan Anton M. Moeliono bahwa ada kesejarahan yang bisa dirunut dalam penggunaan kata bahasa Indonesia. Pada mulanya, orang Belanda di Tanah Air seringkali menggunakan istilah bahasa Indonesia dalam pemakaian bahasa Belanda. Pada mulanya, orang Belanda menyebut het maleis untuk bahasa Melayu--yang menjadi induk bahasa Indonesia. Setelah itu, muncul bentuk de bahasa atau de bahasa Indonesia sebagai bentuk kompromi atau (mungkin) analogi dalam kalimat berbahasa Belanda.
Kebiasaan menggunakan de bahasa ini menjalar ke beberapa penggunaan bahasa asing lainnya meskipun alasannya berbeda dengan kalangan Belanda. Istilah ini kemudian ditiru secara terus menerus hingga menjadi kaprah. Sebagai contoh sederhana, orang Inggris akan mengatakan "I'm going to learn French, German, Dutch, and Japanese"
Dan, mereka tidak akan mengatakan, "I'm going to learn le francais, das Deutsche, het nederlands, and Nihon-go," padahal, nama itu lazim digunakan dalam bahasanya masing-masing.
Tanpa kita sadari, penutur bahasa Indonesia, juga tidak akan mengatakan, "Saya besok akan belajar English dan le francais!" kecuali dia adalah Cinta Laura. haha
Masih menurut Moeliono, bangga berbahasa Indonesia itu memperlakukan bahasa Indonesia sewajarnya seperti bahasa lain dan tidak (sok) menganggap kata bahasa tidak dapat diterjemahkan. Bentuk I wanna learn bahasa akan menjadi wajar dan lazim jika bentuk I wanna learn le francais sama rapinya dengan I wanna learn French--dalam bahasa bakunya.

Artikel itu sederhana, namun mencerahkan. Kesalahkaprahan memang kerapkali terjadi di negeri ini, terutama dalam hal bahasanya. Tulisan tersebut pemikiran Anton M. Moeliono yang saya rangkum dengan kalimat saya. Jika dipikir, logika yang digunakan Moeliono memang benar. Takselamanya yang sering digunakan orang itu benar. Seringkali, penutur bahasa hanya menggunakan tanpa curiga pada sejarahnya. Ya. Takada salahnya menggunakan kalimat, "I'm going to learn Indonesian!" atau "Io studio l'Indonesiano!"

Minggu, 26 Februari 2012

Merajut Perih

Kadang memang, sepertinya hidup takpernah adil. Kamu yang sudah berjuang mati-matian mendapatkan sesuatu, temanmu dengan mudah mendapatkannya. Sementara kamu? Kamu tetap pada perjuanganmu. Tanpa hasil. Paling tidak, itulah yang kamu pikirkan.

Kadang, kamu merasa berhak mendapatkan sesuatu, tapi ternyata tidak. Kamu sama sekali tidak pernah mendapatkan itu.

Remah-remah perih memang selalu ada. Terjadi begitu saja. Menyusun. Menjadi sekumpulan sayatan luka. Dan mungkin kamu pikir itu akan menjadi borok.

Kamu berpikir begitu? Tolong, jawablah tidak.

Remah perih itu akan jadi luka yang menguatkan. Yang akan tumbuh menjadi kulit yang lebih kuat. Kamu ingat cerita tentang adonan roti bukan? Atau cerita tentang rajutan benang?

Telur mentah. Tepung terigu. cokelat mentah. gula pasir. baking powder.

paling tidak, itulah bahan dasar roti. coba cicipi satu satu. macam-macam bukan rasanya? pahit. hambar. manis. getir.

Begitulah. Kehidupanmu sekarang. Kamu hanya butuh bersabar untuk mencampur keperihanmu itu menjadi "kue" yang lezat. Menjadi "kue" yang membuat rindu lidah.

Atau, coba kamu perhatikan rajutan benang dari bagian bawah. Berantakan dan terlalu ruwet, bukan?

Karena kamu memandangnya dari sudut pandang bawah. Tuhan yang tahu. Sebab Tuhan melihat kehidupanmu dari atas. Keruwetan itu akan membentuk rajutan indah di atas kain. Itulah. Rajutan Tuhan untukmu.

Sekarang kamu mengerti betapa hidup ini indah pada waktu-Nya. Tuhanmu akan tetap menjawab doa-doamu. Bukankah dia sudah menjanjikan hal itu?

Percayalah. Kehidupan ini sangat adil dengan cara-Nya.

*Note to my self

Senin, 20 Februari 2012

Bahagia

ada banyak hal yang membuat saya
bahagia. termasuk mencium bau rumput yang baru saja dipotong. wangi sisa hujan. air di pucuk daun. tawa bayi. pulang malam. berjalan di depan kandang rusa. bermain hujan. atau sekadar duduk di peron
stasiun. ya. sesederhana itu.
saya bahagia. melihat kakek dan nenek di samping rumah. setiap sore bercengkerama di depan warung kecil milik mereka. meladeni anak-anak yang membeli pop ice. menutup warungnya sebelum larut. membukanya sebelum ada matahari. ada senyum di wajah mereka. mereka bahagia. ya. sesederhana itu.
bahagia takperlu pengakuan. cukup
perasaan. bersyukur. terima kasih pada Tuhan. yang telah menciptakan segala sesuatunya memiliki
harmoni. terima kasih. saya bahagia. dengan hal-hal sederhana yang saya miliki.

Rabu, 15 Februari 2012

Rutinitas

Kembali ke rutinitas itu selalu mampu membuat saya tertegun. Kembali belajar hidup. Seorang diri.
Ada banyak hal. Awalnya memang selalu merasa jetlag. Merasa memulai sesuatu dari awal lagi setelah berminggu-minggu hidup di istana (baca: rumah). Rumah takpernah mengizinkan saya melihat sekitar. Pagar yang menjulang. Dan gembok yang terkunci rapat. Sangat melindungi saya dari dunia luar. Boleh dikatakan mengisolasi.
Sekarang tidak. Saya harus berpanas-panas lagi. Mengejar angkutan umum. Antri di terminal.
Sekarang pukul enam sore. Hampir magrib. Terminal penuh. Macet. Bahkan, di kota ini perjuangan dimulai dari titik awal perjalanan. Saya hanya menghela napas. berharap ini akan baik-baik saja sampai tujuan.
Ada banyak pengamen.
Penjaja makanan.
Penjaja es teh manis dalam plastik.
Penjaja permen.
(bahkan) mungkin penjaja tubuh.
Saya selalu kasihan melihat mereka. Ada rasa haru yang luar biasa pada orang-orang itu.
Seorang anak kecil. Mungkin masih 8 tahun. Terseok-seok membawa botol-botol minuman untuk dijual. berkeringat. sangat.
Mbak pengamen. Ada banyak tato dan pearching di tubuhnya. Suaranya cempreng. Tapi masih nekad mengamen.
Ah, betapa kadang hidup ini terlihat tidak adil. Mereka mencari koin untuk makan, sedangkan orang-orang yang ada Senayan itu dengan ganasnya menghabiskan koin--yang sebenarnya--milik mereka. Sudahlah, saya semakin ngelantur.
Rutinitas ini selalu mampu membuat saya merasa. Ada banyak hal yang terjadi. Yang rutin terjadi--meski dengan cerita dan pemeran yang berbeda.

Senin, 13 Februari 2012

hampir tujuh tahun

sesekali bolehlah saya tidak menggunakan huruf kapital di awal kalimat. ini sekali saja. saya janji.
saya sudah kembali ke rutinitas. diajar dan mengajar. dipimpin dan memimpin. semuanya kembali pada semangat baru.
sore tadi gerimis. ketika saya baru berangkat ke tempat ngajar. saya berjalan terus. tanpa berniat membawa payung. seperti biasanya. saya juga taktakut make-up di wajah saya luntur. sebab saya takpernah memoles wajah saya dengan sapuan warna-warni. cukup pelembap dan lipgloss tipis. itu sudah lebih dari cukup.
di jalanan itu, tetiba saya teringat kamu. teman di sekolah menengah pertama dan atas. teman seorganisasi intrasekolah. kamu wakilnya, saya sekretarisnya. seringkali kita menghabiskan waktu berdua, atau bertiga dengan adik saya. berenang. memasak. atau apa pun hal menyenangkan lainnya.
dari kamu pula saya belajar sabar dan toleransi. menghargai kekurangan dan kelebihan orang lain. banyak hal. saya kenal baik dengan orang tuamu. kamu pun kenal baik dengan orang tua saya.
ah, kita sama-sama perempuan yang sedikit maskulin. kamu suka lihat pertandingan sepak bola. saya suka main bola. entahlah. mungkin itu yang membuat kita akrab.
hal yang paling saya senangi ketika kita berada di kolam renang. beratapkan langit. kadang muncul pelangi di sana. kita suka memandangi langit itu lama-lama. hingga taksadar baju renang kita sudah hampir mengering.
lantas kita tertawa.
"yuk, bikin janji." kamu memecah keheningan di antara kita. saya mendelik. bingung.
"tentang?"
"tentang laki-laki. kita berjanji. tidak akan menerima cinta laki-laki sebelum kita meraih mimpi tertinggi kita masing-masing." kamu mengucapkan kalimat itu dengan lancar. saya menanggapinya dengan antusias. mengangguk dengan cepat.
kelingking kita tertaut. saya tahu, ketika itu, kamu punya mimpi sebesar saya. bahkan mungkin lebih besar.
janji itu hampir tujuh tahun yang lalu. ketika kita sedang berada di tingkat dua sekolah menengah pertama.
kamu tahu? saya masih memegang janji itu. taktergoda untuk mengingkarinya. meski saya tahu. di tahun yang kedua, kamu sudah mulai menerima cinta laki-laki. mengakuinya sebagai kekasihmu.
saya bergeming. tetap dengan pendirian ini. mimpi tertinggi saya belum tercapai. ini terdengar naif dan tolol memang. tapi biarlah. saya tidak pernah diajarkan untuk mengingkari janji yang telah saya buat.
saya tak marah padamu. sama sekali tidak. tapi saya tahu. kamu menjauh dari saya ketika kamu punya kekasih yang pertama. entahlah. apa yang ada di pikiranmu saat itu.
hampir tujuh tahun. saya masih setia pada janji bocah ingusan. yang mungkin diucapkan di tengah kegalauan. tapi percayalah, saya masih menyayangimu. berharap kita bisa tertawa di kaki langit lagi.
itulah mengapa. saya tak ingin mengawali semua kalimat ini dengan huruf besar. sederhana. jika ada (tanda) untuk awal, selalu ada masanya berakhir. saya tak ingin hubungan kita terhenti.

Senin, 06 Februari 2012

Berharap Cerita Ini akan Berlanjut

Berdua saja. Kamu menunduk. Saya bercerita panjang. Derap langkah di depan kita seolah bayangan yang taknyata. Datang dan pergi. Tanpa kenangan. Serupa figuran. Kita pemeran utamanya. Sesekali kamu menanggapi obrolan saya. Saya pun mendengarkan.
Sepi.
Kamu tahu? Saya bisa mencium wangi rambutmu yang baru tercuci itu. Jarang sekali saya memperhatikan rincian. Tapi kali ini lain. Saya suka ketika pertama kali melihatmu menunggu saya di ujung pintu itu. Menarik sekali.
Saya memakai baju ungu. Kacamata ungu. Jam tangan ungu. Sepatu ungu. Tas ungu. Dan ponsel ungu. Entahlah. Mungkin kamu menganggap saya pesakitan. Yang semuanya harus berwarna sama. Sebenarnya tidak. Tadi hanya kebetulan.
Baiklah. Ini pertemuan pertama kita. Setelah beberapa kali mengirim pesan singkat. Yang benar-benar singkat.
Saya hanya ingin mengambil kumpulan puisi yang kamu janjikan itu. Cuma-cuma.
Lantas, kita bertemu.
Berbicara banyak. Ah, tidak. Saya yang berbicara. Kamu lebih banyak mendengarkan. Diam. Ya. Lelaki yang takbanyak bicara memang selalu terlihat sangat menarik di mata saya. Termasuk kamu.
"Nanti lupa," kamu menyerahkan kumpulan puisi(mu) dan teman-temanmu. Antologi kecil. Yang sepertinya menarik.
Saya menerimanya. Mengucap terima kasih.
Temanmu datang. Lalu meminjam antologi itu dari tangan saya. Pasrah.
"Ini terlalu mahal kalau lo jual dengan harga segitu!" temanmu itu berceloteh.
Kamu hanya bergidik.
"Lo tahu kan pemikiran teman-teman kita? Duit segitu lebih baik buat nongkrong daripada buat beli buku? Apalagi kumpulan puisi." temanmu itu masih meneruskan kalimatnya yang tadi.
"Gue gak ngeliat pasar. Tapi idealis! Sastra bukan kacang goreng yang bisa dijual murah pinggir jalan. Ini karya yang harus dihargai!" nadamu tetap tenang. Tapi cukup menusuk. Untuk saya dan (mungkin) untuk temanmu. Diam-diam. Saya mengagumimu pada pertemuan pertama.
Setelah itu, temanmu pergi. Kita masih betah duduk di bangku yang sama. Takada dari kita yang berniat mengakhiri pertemuan ini.
Sesekali saya mencuri pandang pada matamu. Mencoba menemukan bening. Atau melihatmu lekat ketika kamu menghisap sebatang rokok. Meskipun saya harus terbatuk. Tapi itu sedikit membuatmu lebih seksi.
Saya melirik jam di tangan. Sudah hampir pukul 1 siang. Hampir 4 jam kita di sini. Berdua. Bercerita.
Ponsel saya berdering. Teman saya memanggil. Sebentar saja saya menyelinap dari kamu.
Untunglah. Teman saya sudah selesai dengan urusannya. Saya harus ke rumahnya sekarang. Terima kasih. Sedikit menyelematkan saya dari pesonamu. Ah.
Lima menit yang lalu, pesan singkatmu masuk ke kotak masuk saya.
"Bolehlah, lain kali kita diskusi sastra lagi." katamu singkat.
"Tentu saja. Dengan senang hati!" saya juga menjawab dengan singkat.
Saya tersenyum. Menyenangkan. Terima kasih untuk hari ini. Yakinkan saya bahwa kita akan bertemu lagi.

Jumat, 03 Februari 2012

Saya Hampir 21 Tahun!

“Umur berapa kamu akan menikah?” tiba-tiba ayah saya menanyakan hal itu di tengah obrolan kami. Saya tercekat. Memandangnya nanar. Saya menggeleng pelan.

“Tidak tahu. Belum ada target.” jawab saya singkat.

“Kok bisa belum ada rencana. Umur kamu sudah hampir 21 tahun. Paling tidak, kamu menikah umur 24!” ayah saya akhirnya menyatakan hal ini. Hal yang paling saya takutkan.

“Sekolah dululah. Baru mikir nikah, Yah!” saya mencoba membuat pilihan.

“Iya, sekolah dulu. Tapi sampai sekarang, kamu belum punya pacar! Setelah S2 kamu sudah harus menikah.” ayah saya masih ceramah panjang lebar. Sementara pikiran saya, sudah entah ke mana.

Setelah S2? Itu berarti 3-4 tahun lagi. Terlalu cepat. Sebenarnya, saya ingin S3 dulu. Meraih gelar doktor. Hidup melajang. Jalan-jalan ke mana pun saya suka. Entahlah. Saya tidak tahu mengapa harus cepat-cepat menikah.

“Kalau cari suami itu yang baik! Menikah itu ibadah. Biar hidupmu sempurna.” mama saya ikut nimbrung. Saya bergeming. Tanpa menolak atau mengiyakan.

Saya tidak mungkin melontarkan pendapat ekstrem saya bahwa saya tidak mau menikah. Atau mengarang cerita bahwa saya seorang penyuka sesama jenis, mungkin. Ah, tidak mungkin. Pernyataan ini akan membunuh kedua orang tua saya.

“Kamu harus menikah! Punya anak. Biar tidak sepi hidupmu.” Mama saya menambahi. Seolah tahu apa yang sedang saya pikirkan.

Bergeming.

Obrolan terhenti sampai di situ. Telepon dari tempat saya mengajar berhasil mengalihkan eksekusi ini. Bla bla bla. Sesaat saya disibukkan lagi dengan pengaturan jadwal mengajar. Tapi, itu hanya sampai tombol end di ponsel saya tertekan. Setelah itu kembali lagi. Meski tanpa kedua orang tua saya. Saya sudah berhasil izin keluar dari percakapan itu.

Hanya saya dan pikiran saya.

Menikah.

Saya selalu sensitif mendengar satu kata itu. Seperti pesakitan yang sebentar lagi menemui ajal. Ah, ini terlalu berlebihan. Kenapa saya tumbuh terlalu cepat. Tetiba hampir 21 tahun. Dan orang tua saya pun semakin menua. Sungguh. Saya takingin mengecewakan mereka.

Lelah. Waktu memang takpernah ke mana-mana. Tetap berputar di tempatnya. Hanya letih yang berubah. Menjadi semakin perih.

Entahlah. Sampai sekarang pun saya belum bisa memutuskan. Kapan saya harus menikah. Mungkin saja besok. Atau beberapa tahun lagi. Saya masih enggan memikirkannya. Ya. Jika pemikiran saya berubah. Saya janji. Akan segera mengabarimu. Di mana pun. Dan kapan pun!

Selasa, 24 Januari 2012

Setelah Semester 5

Setiap semester selalu memiliki cerita. Ada banyak hal yang terjadi dan tetiba berubah. Seperti kali ini. Semester lima telah berakhir. Benar-benar berakhir. Nilai-nilai saya sudah keluar. Dan baru saja saya membayar BOP untuk semester enam. Tapi, takada salahnya saya sedikit bercerita tentang semester lima saya.

Saya senang berada di semester ini. Mata kuliah yang menyenangkan. Dan dengan dosen-dosen yang menyenangkan pula. Jujur saja, saya sedikit trauma dengan IP saya yang terjun bebas pada semester empat kemarin. Ah, tapi ada untungnya juga. Ini membuat target IP saya pada semester lima adalah 4.00! Sedikit agak gila memang. Sudahlah. Saya memang suka segala sesuatunya berjalan seperti yang saya inginkan meskipun pada kenyataannya, tidak semua keinginan saya tercapai. Kecewa? Pasti. Setiap orang berhak kecewa. Tapi, saya tidak akan memelihara rasa kecewa saya. Masih banyak tempat sampah. Tinggal membuangnya, lalu menggantinya dengan harapan yang baru. Selesai.

Saya mengambil tujuh mata kuliah pada semester ini: Bahasa Isyarat, Gender dalam Sastra, Pengantar Dialektologi, Semantik dan Pragmatik, Leksikologi dan Leksikografi, Sastra Populer, serta Pengantar Metodologi Penelitian Kebudayaan. Entah kenapa. Saya suka semua mata kuliah tersebut. Saya memilih semua mata kuliah wajib linguistik dan sastra. Sebab, saya masih bingung memilih antara peminatan sastra atau linguistik. Haha

Baiklah. Semester ini, saya tidak hanya kuliah-pulang-kuliah-pulang. Ada banyak kepanitiaan yang hampir membuat saya gila dan sedikit pesimis dengan nilai kuliah saya. Semester ini dimulai pada pertengahan bulan September. Di awal masuk, saya sudah diribetkan dengan pengurusan surat-surat Simposium Nasional Bahasa Indonesia, menghubungi calon peserta, mempersiapkan transportasi, menyewa kamar, dan rapat sana-rapat sini.

Selain itu, pada bulan Oktober awal, saya sudah sedikit sibuk mengurus keperluan final Lomba Esai Olimpiade Ilmiah Mahasiswa Universitas Indonesia (OIM-UI). Kebetulan, saya dipercaya buat jadi PJ lomba esai. Acara ini cukup membuat saya membolos tiga mata kuliah sekaligus. Ah, membolos adalah hal yang sangat jarang saya lakukan.

Hal yang paling menyita perhatian saya adalah acara Simposium Nasional Bahasa Indonesia. Mungkin, bagi orang lain, menangani acara ini terkesan biasa saja, tapi bagi saya, ini adalah sebuah kepercayaan besar. Acara ini berhasil membuat saya bolos kuliah seminggu penuh.

Setelah Oktober berlalu, saya kira, saya akan bisa mempelajari teori kuliah yang sedikit terbengkalai. Ternyata tidak! Saya harus mengajar. Mengejar rupiah. Tabungan saya mulai menipis gara-gara bulan Oktober saya tidak bisa mengajar sama sekali. Dan tidak mungkin saya minta kiriman orang tua. Saya sudah berniat untuk hidup mandiri. Apa pun yang terjadi. Haha. Ini terlalu berlebihan. Biasanya, jika mengajar, saya baru sampai rumah sekitar pukul 10 malam. Sangat bisa ditebak. Sesampai di rumah, saya langsung tertidur. Tanpa sempat membaca materi kuliah tadi pagi atau mempersiapkan kuliah besok pagi. Keadaan ini diperparah dengan dipercayanya saya menjadi koordinator siswa privat. Terjadilah ketidakkonsentrasian saya di dalam kelas karena sms yang menanyakan jadwal atau konfirmasi jadwal. Haha

Kepanitiaan saya belum berakhir. Bulan November, Ikatan Keluarga Sastra Indonesia (IKSI) tercinta bekerja sama dengan Faber Castell untuk mengadakan Talkshow “Kreatif Menulis, Rezeki Tak Akan Habis” bersama Raditya Dika. Dan saya sebagai Sekretaris Umumnya yang merangkap sebagai Kestari! Oh No! Surat lagi. Lagi-lagi surat. Saya harus ke sana ke mari (seolah lagu Ayu Ting Ting #halah) meminta tanda tangan orang-orang penting itu—yang namanya selalu berada di surat. Dan sedikit berhasil membuat saya gontok-gontokan atau merayu-rayu agar surat tersebut segera disetujui. Acara ini berhasil membuat saya membolos satu mata kuliah.

Ya. Sebelum acara tayang bincang tersebut, saya juga harus mempersiapkan presentasi esai saya dalam final UI untuk Bangsa. Meskipun belum menang, saya senang esai saya sempat masuk final. Saya membuat esai tersebut dalam semalam. Dan akhirnya lolos. Terima kasih.

Setelah semua kepanitiaan tersebut, saya bisa sedikit lega. Tapi, itu tidak bertahan lama. Rapat buat amandemen AD/ART IKSI FIB UI dan Laporan Pertanggungjawaban Kelompok Diskusi Ilmiah Program Studi Indonesia menunggu dijamah. Benar-benar memakan waktu di antara tugas UAS yang mulai menggempur. Sementara, saya masih harus mengajar!

Namun, kepanitiaan dan organisasi tetap saja masih nomor ke-13 dibandingkan dengan mengerjakan tugas kuliah. Semester ini benar-benar menyenangkan dan menguras energi.

Mata kuliah Pengantar Dialektologi mewajibkan saya turun lapangan untuk penelitian langsung. Perjalanannya sudah pernah saya ceritakan di ruang ini. Hasilnya, saya dan tujuh orang lainnya harus membuat makalah interpretasi dari data penelitian. Baiklah. Makalah tersebut setebal 350 halaman. Wow! Cukup membuat saya menarik napas panjang. Tapi saya senang. Ada kebersamaan yang takbisa ditukar dengan apa pun. Ada cerita ketika saya dan teman-teman lainnya harus lembur di kosan Rizma. Ada tawa. Tensi emosi yang sedikit naik. Atau sekadar bayar upeti bagi yang telat datang.

Saya harus membuat kamus istilah dalam mata kuliah Leksikologi dan Leksikografi. Sudah saya jelaskan juga di ruang ini. Akhirnya saya memilih membuat Kamus Istilah Mistik Indonesia. Sementara itu, betapa menyenangkannya kuliah Bahasa Isyarat juga sudah sering saya ceritakan di sini.

Untuk mata kuliah Gender dalam Sastra, Pengantar Metodologi Penelitian Kebudayaan, Semantik dan Pragmatik, serta Sastra Populer, saya hanya harus membuat makalah “normal” untuk tugas akhirnya. haha

Akhirnya. Semester 5 berakhir juga. Selesai dengan ceritanya. Dan kelak akan menjadi kenangan. Manis. Oh iya, target IP 4.00 saya belum tercapai. Mungkin lain kali. Tapi, Tuhan masih mendengar doa saya. IP saya tidak jauh-jauh dari 4.00. haha. Beruntung. Nilai B+ dan ke bawah tidak berani muncul dalam riwayat nilai saya. Tentu saja, naik dari semester kemarin. Ah, ini bukan pamer.

Selamat datang semester 6. (Semoga) menjadi semester terakhir sebelum saya skripsi. Saya masih berharap. IP 4.00 mau mampir ke saya dalam semester ini. Semoga. Semoga.

Rabu, 18 Januari 2012

Tentang Perempuan

"Si A hamil." suara mama saya di seberang sana. A adalah teman SD saya. Cukup akrab. Saya kaget. Sedikit tidak menyangka. A anak yang cukup pendiam. Tentu saja, dia hamil di luar nikah sehingga membuat saya keheranan.
Ini negeri timur. Masih sangat menganggap tabu perempuan yang hamil sebelum pernikahan.
Entahlah. Saya tidak mengerti apa yang dilakukan A. Saya tidak menyalahkan siapa pun jika perbuatannya atas dasar suka sama suka. Sudahlah. Pernyataan ini terbebas dari agama mana pun. Saya tidak berniat melawan agama apa pun.
Saya menyayangkan kejadian ini. Kali ini teman saya. Kemarin, sepupu saya. Saya hanya bisa menghela napas panjang. Mereka perempuan. Saya perempuan. Saya tidak mempermasalahkan jika mereka hamil lalu menikah dan hidup berbahagia. Tapi, sayangnya, cerita negeri dongeng seperti itu memang hanya ada di dalam negeri dongeng. Faktanya, mereka tersisih. Laki-lakinya pergi entah ke mana. Melepas tanggung jawab begitu saja. Sungguh. Saya selalu sakit hati dengan cerita seperti ini. Ingin rasanya mengejar "pacar-pacar" mereka untuk meminta pertanggungjawaban. Atau jika perlu memakinya.
(Lagi-lagi) perempuan. Teman dan sepupu saya (bisa-bisanya) masih membela "pacar-pacar" mereka. Yang dipersalahkan memang perempuan. Yang menanggung beban juga perempuan.
Entahlah. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh teman dan sepupu saya ketika menyerahkan keperawanannya begitu saja pada lelaki yang belum tentu bertanggung jawab padanya. Mungkin, termakan rayuan. Mungkin, memang takbisa menahan nafsu. Atau mungkin, larut dalam suasana. Saya tidak habis pikir.
Baiklah. Pemikiran setiap orang memang berbeda. Saya terbiasa menghadapi sesuatu dengan logika saya. Bukan dengan perasaan! Bahkan, untuk sekadar urusan jatuh cinta. Saya menimbang baik-buruk dalam setiap langkah yang saya lakukan. Mungkin, saya terlalu ekstrem menjadi perempuan. Biarlah.
Ah, sudahlah. Saya hanya mengingatkan.

Minggu, 08 Januari 2012

Pulang

Setelah selesai urusan di kota ini. Aku selalu bergegas pulang. Berkemas. Lantas pergi ke terminal atau stasiun cepat-cepat. Sebab, pulang selalu membawa cerita. Perjalanan panjang di dalam kereta atau bus membuatku selalu rindu untuk kembali. Aku takpernah memasang headset untuk mendengarkan musik atau sekadar menutup telinga. Sebab, aku takkan pernah mendengarkan apa pun jika telingaku penuh. Padahal, kereta selalu membuat cerita sendiri. Ada cerita di setiap perjalanan. Ada obrolan yang kadang membuatku terpingkal atau tertusuk. Banyak hal ketika pulang dan perjalanan.

Aku pulang. Ke rumah. Ke tempat yang memberiku rasa hangat. Ya. Tak lama sebab aku harus kembali “pulang” ke rumah yang lain.

“Ah, gue males pulang. Ngapain pulang. Di rumah gak ada kerjaan!”

Aku teringat kalimat yang terlontar dari temanku itu. Pulang itu ke tempat yang memberi rasa hangat. Bukan kembali pada bangunannya. Tapi pada “rumah”nya.

“Berarti itu bukan rumah lo kalau sampai males pulang!”

Aku menjawab sekenanya. Mungkin, dia marah. Lantas dia terdiam. Ya. Rumah takkan pernah memberi rasa malas untuk ditinggali, bukan ditinggalkan.

Ngapaian pulang? Banyak yang menanyakan itu. Banyak hal! Sekadar memastikan bahwa semuanya baik-baik saja juga menjadi salah satu alasan. Mencium pipi dan tangan serta memeluk orang-orang yang di “rumah” adalah hal yang takbisa dilakukan oleh dunia virtual. Maka, aku harus pulang. Ke rumah. Ke tempat yang memberiku rasa hangat.

Mendengar tawa, bercerita banyak, atau hanya sekadar menanyakan kabar. Itu semua bisa dilakukan ketika pulang. Meski bisa dilakukan oleh teknologi, rasanya akan jauh lebih hangat ketika pulang.

Ah, yang terpenting. Aku bisa membuang rindu dari mereka. Pada orang-orang yang tulus mencintai. Yang setiap saat membuka pintu rumahnya untukku. Menyambut gembira kepulanganku.

Tapi, pulang selalu saja melalui proses panjang. Ada banyak pertimbangan. Sudah pernah kukatakan, di kota ini, aku (selalu) terlalu sibuk pergi. Hingga, terlalu lupa pada pulang. Ya. Aku tidak akan merasakan pulang, sebelum pernah pergi. Terlalu lama pergi, kadang juga membuatku lupa untuk pulang.

Semoga. Urusanku kali ini cepat selesai. Sebab. Sudah terlalu lama aku tidak pulang. Bahkan, sekadar bertanya kabar mereka pun taksempat.

Kamis, 05 Januari 2012

Akhirnya, Kamus Istilah Mistik Saya Selesai!



Itu kamus saya! Bukan. Kamus kami! Saya, Inung, Rizma, dan Suci. Empat orang gila yang tiba-tiba tercetus ide gila untuk membuat Kamus Istilah Mistik di mata kuliah Leksikologi dan Leksikografi.
Kelompok lain membuat kamus yang bombastis. Kamus Keperawatan, Astronomi, Kecantikan, atau Kriminal. Ah, sungguh. Saya tak paham atas materi-materi itu. Akhirnya, saya kegirangan ketika Inung mencetuskan ide ini. Saya menyambut dengan tarian hujan. Ah, tidak. Ini terlalu berlebihan.
Jujur saja, saya akrab dengan hal-hal seperti ini. Meskipun tidak mengalaminya secara langsung, tapi saya tumbuh dan besar di lingkungan yang masih percaya dengan adanya kekuatan "lain" di kehidupan ini.
Yang pasti. Selama satu semester ini. Saya dan ketiga teman saya itu akrab dengan hal-hal mistik. Seperti seorang cenayang. Ke mana-mana membawa primbon dan majalah Misteri. Itu menyenangkan. Melihat tatapan aneh orang-orang di sekitar yang melihat kami. Kami hanya cekikikan. Ada banyak cerita dan khayalan konyol selama masa pengerjaan kamus ini. Ada banyak bantuan yang terasa ganjil. Semoga saja lema dalam kamus ini tidak bertambah dan berkurang dengan sendirinya atau tanpa diketahui oleh pemilik kamus! #Ini(sok)serem
Akhirnya, hari ini, kamus itu lahir. Keluar dari masa tapanya. Kami menamainya: Kamus Istilah Mistik Indonesia
Saya bahagia. Mungkin, lebih bahagia daripada kuntilanak yang melahirkan. #SumpahIniNgaco
Ya ya ya. Kamus itu dikumpulkan pada dosen saya besok. Dan lucunya, kami tidak memiliki kopiannya yang sudah rapi. Hanya file-file berserakan di dalam komputer jinjing masing-masing. Haha
Sudahlah. Saya akan menghentikan racauan ini dengan satu doa: SEMOGA ADA PENERBIT YANG BERBAIK HATI (dan sedikit mistis) YANG MAU MENERBITKAN KAMUS ISTILAH MISTIK INDONESIA INI!
Semoga.
Semoga.

Alasan Mengapa Saya Ingin Menjadi Editor!

“Mau makan apa kamu kalau kerja kayak gitu!” komentar ayah saya ketika saya ditanya cita-cita saya—yang saat itu saya jawab: editor!—Saya hanya tersenyum. Mencoba menjelaskan. Tidak mudah. Dalam pikiran ayah saya, pekerjaan adalah dokter, dosen, polisi, akuntan, pengacara, hakim, atau apa pun yang memakai seragam. Saya tidak menyalahkan ayah saya. Hanya saja, saya berkewajiban untuk memberi pandangan baru tentang pekerjaan!

Saya tahu ada sosok bernama “editor” ketika saya berada di bangku SMP kelas 1. Ada sebuah artikel—entah siapa penulisnya—yang terselip di antara jejalan artikel lain dalam buku paket pelajaran Bahasa Indonesia. Artikel yang menjelaskan bahwa editor adalah pekerjaan yang masih belum banyak orang yang tahu. Masih sering tidak dianggap keberadaannya, padahal memiliki peran penting dalam proses penerbitan buku. Sering dimaki penulis. Atau entahlah. Saya lupa apa lagi.

Saya membacanya berkali-kali. Diam-diam saya mengagumi pekerjaan ini. Ada sedikit keinginan untuk menjadi editor di saat teman-teman saya yang lain (mungkin) masih setia dengan cita-cita masa kecilnya: dokter, guru, pilot, atau bahkan superman. Namun, saya masih belum yakin pada keinginan saya tersebut. Saya belum mendapat gambaran: bagaimana kerja saya nanti atau bagaimana saya meyakinkan orang-orang dengan cita-cita saya ini. Entahlah. Mimpi itu sempat hilang.

Ketika masuk SMA, jujur saja, saya sempat melupakan cita-cita saya untuk menjadi editor—meskipun tidak sepenuhnya. Saya dituntut oleh ayah saya untuk masuk jurusan yang beliau inginkan. Harus belajar mati-matian untuk mendapat nilai sempurna dalam pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika. Sungguh. Saya muak dengan semua itu. Bagaimana mungkin elang dituntut mahir berenang atau kelinci dipaksa menjadi ahli terbang! Sayangnya, saya tidak berani mengecewakan ayah saya.

Ah, (lagi-lagi) Tuhan memang selalu baik. Untung saja, ayah saya tidak sampai hati melarang saya pergi ke acara bookfair atau bedah buku atau diskusi kepenulisan. Setiap kali ada acara seperti itu, saya selalu berusaha mengikutinya. Karena, di sekolah, saya tidak mendapatkan kesenangan. Sama sekali.

Dalam suatu kesempatan diskusi kepenulisan—saya lupa temanya—saya beruntung bisa bertemu dengan Windy Ariestanty, editor penerbit Gagas Media. Sungguh. Seperti bertemu dengan malaikat penunjuk jalan. Selama ini, saya hanya menerka-nerka bentuk editor itu seperti apa. Kali itu, saya bisa mendengarkan beliau berbicara. Menjawab pertanyaan saya. Membagi ilmu. Membagi kebahagiaan. Membagi mimpi dan semangat. Membuat mimpi saya yang sempat tertumpuk hal lain kembali muncul. Untuk beberapa saat, saya seperti berada di negeri dongeng. Tuhan memang senang mempertemukan orang-orang yang berjodoh! Pada saat itu, saya masih tinggal di kota kecil, masih SMA kelas XI, culun, lugu, dan norak. Ini mungkin hal yang biasa untuk orang lain, tapi bagi saya, ini adalah jawaban dari Tuhan atas doa saya. Mengagumkan. Kalau boleh dirunut, kejadian satu hari itu boleh dikatakan mengubah cita-cita (ayah) saya. Yang selama itu saya jalani dengan penuh kepura-puraan.

Mbak Windy, ya, anggap saja beliau mau saya panggil begitu! Orang yang bisa membuat saya berani jujur pada ayah saya bahwa saya tidak mau menjadi dokter. Jujur pada diri sendiri bahwa sudah seharusnya saya mengikuti passion saya. Bukan membohongi diri sendiri untuk menyenangkan orang lain. Mbak Windy jugalah orang yang membuat nyata editor bayangan saya. Membuat saya yakin bahwa pekerjaan editor buku benar-benar ada, tidak hanya di artikel yang saya baca.

“Saya mau menjadi editor, seperti Mbak Windy!” ketika ayah saya bertanya lagi saya mau kuliah di jurusan apa.

Ada cerita panjang setelah keberanian saya jujur itu. Ada penolakan keras dari ayah saya. Ada pembelaan dari ibu saya. Ada tangis saya. Ada adu pendapat. Ada pertahanan argumen. Tidak mudah meyakinkan ayah saya dengan pilihan saya. Perjalanan meyakinkan itu tidak sebentar dan sedikit melelahkan. Hampir saja saya menyerah dan larut dalam mimpi (ayah) saya. Dan sudah berniat menjalaninya dengan setengah hati. Tapi, Tuhan tak pernah membiarkan itu terjadi. Tidak tahu. Angin apa. Mungkin kegigihan saya. Mungkin kebaikan Tuhan. Ayah saya memberi kesempatan pada saya untuk mewujudkan keinginan saya. Terima kasih Tuhan! Ah, saya juga harus berterima kasih pada ayah, ibu, dan (tentu saja) Mbak Windy. Akhirnya, saya berani untuk menentukan jalan saya meski harus dengan cerita panjang. Tapi, cerita panjang itulah yang akan terangkai menjadi remah kenangan.

Saya sempat saling berkirim email dengan Mbak Windy. Dengan baik hatinya, Mbak Windy menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tidak penting. Saya tahu. Mbak Windy super sibuk, tapi beliau masih menyempatkan diri membalas surat bocah ingusan seperti saya. Email-email balasan dari Mbak Windy masih saya simpan rapi di kotak masuk saya. Masih sering saya buka. Sekadar mengingat kebaikannya.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengirim email lagi padanya. Mengucapkan terima kasih. Sedikit bercerita. Saya tahu. Mbak Windy akan membalasnya. Benar saja. Sehari setelah email saya terkirim, saya menerima balasan darinya.

Ah, seharusnya saya yang menangis, Mbak. Bukan Mbak! Ada banyak hal yang Mbak berikan pada saya. Pada cita-cita saya. Pada hidup saya. Terima kasih. Terima kasih. Saya tidak tahu frase apa lagi yang patut saya sampaikan pada Mbak, selain terima kasih. Saya tahu. Cerita saya hanya bagian kecil di antara cerita-cerita lain yang jauh lebih istimewa.

Ya. Kemarin baru saja membaca buku Mbak yang terbaru, Life Traveler, saya membaca satu kalimat: “Profesi yang saya jalani terkesan absurd dan mungkin tak pernah dicita-citakan dengan penuh kesadaran oleh seseorang”. Saya mungkin bukan seseorang itu, Mbak, karena saya menginginkan menjadi seorang editor dengan penuh kesadaran. Hehe

Pada akhirnya, saya tahu. Tuhan merangkai cerita saya dan “editor” dengan indah. Saya akhirnya berada juga di kota yang katanya metropolitan ini—meski harus ada tangis untuk memperjuangkannya di hadapan ayah saya. Menjalani kehidupan saya seperti apa yang saya impikan. Melakukan apa yang saya cintai, dan mencintai apa yang saya lakukan. Sungguh. Tidak ada yang lebih indah dari itu! Di sini, saya merasa, Tuhan semakin mendekatkan saya dengan cita-cita saya. Ya. Terima kasih.

Untuk saat ini, saya memang belum resmi bekerja di sebuah penerbitan sebagai editor. Hanya saja, saya senang membantu menyunting tulisan teman-teman saya. Ucapan terima kasih dari mereka adalah kekuatan saya untuk mempertahankan mimpi saya: menjadi editor!

Sabtu, 31 Desember 2011

Selalu Ada Akhir untuk Mengawali

Akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk sekadar menertawakan kegagalan atau sedikit tersenyum pada target yang taksempat tersampaikan. Seperti kali ini. Pengujung tahun yang indah. Ada banyak hal di luar sana. Terompet. Kembang api. Riuh. Setiap Ada riuh, akan selalu ada diam. Hening. Di sudut kamar atau hati. Berpacu dengan kenangan dan ingatan.
Buncah. Bersyukur. Paling tidak, Tuhan sudah berbaik hati. Memanjangkan usia saya hingga detik ini.
Saya selalu suka hingar bingar yang timbul ketika malam pergantian tahun. Warna-warni yang indah. Nada dar-der-dor yang sedikit memekakkan. Tapi saya tidak berniat untuk menjadi bagian dari euforia itu. Berdiam diri di rumah jauh lebih indah.
Selalu ada akhir untuk mengawali sesuatu yang baru. Yang dianggap akhir sebenarnya adalah pijakan untuk melompat lebih tinggi. Menyelam lebih dalam. Atau berlari dengan lebih cepat. Itulah yang saya harapkan.
Mengutip kicauan dari Goenawan Mohamad, "Yang baru bukan tahun. Tapi hidup."
Itu indah sekali. Tahun tidak pernah merasa menjadi baru. Hanya hidup yang seharusnya baru setiap hari. Semoga. Semoga Tuhan selalu baik kepada saya.

Jumat, 23 Desember 2011

Senja

Memang. Takada yang lebih menyenangkan
selain menyusuri jalanan lengang kampus ketika senja.
Duduk saja. Di tepi danau hijau.
Menatap lekat. Lama-lama.
Takada jingga. Hanya abu-abu.
Tidak masalah. Sebab angin telah mengganti
Semuanya.
Mengibarkan rok seolah bendera.
Menarik tubuh. Jatuh ke tanah.
Suatu saat.
Senja akan merindu
pada hujan yang membasahkan atau
angin yang menerbangkan.

Rabu, 21 Desember 2011

Natal




Sudah hampir Natal. Sekarang sudah pagi. Sedangkan mataku belum terpejam. Gejala insomnia? Bukan.
Aku hanya sekadar mengingatmu. Mengenangmu. Lalu, tiba-tiba terjaga. Tanpa air putih atau segelas cokelat.
Sekali lagi. Aku selalu heran pada kenangan yang taktahu malu. Lama-lama aku membencinya. Sebab dia selalu membawamu kembali. Mengolokku yang takbisa melawan. Membiarkanmu datang. Lantas, menari-nari. Sudahlah.
Sudah berapa Natal yang kita lewatkan sendiri? Mungkin tiga. Mungkin empat. Ya. Aku tahu. Pada akhirnya kita akan berjalan masing-masing. Tapi, tetap saja. Melihatmu beranjak itu seperti pecandu yang sakaw. Bagaimana kabarmu sekarang?
Dari dulu. Aku takpernah punya pohon Natal. Sama sekali. Aku takpernah tahu rasanya menghias cemara itu dengan gantungan-gantungan yang lucu. Aku hanya mendengar ceritamu. Menghias pohon Natal itu seperti sebuah persembahan pada Tuhan. Sukacita menyambut hari kelahiran Tuhan-mu. Padahal, aku ingin sekali memasang bintang di pucuk cemaramu. Atau menggantungkan kaus kaki kecil di setiap dahan. Atau melilitkan kapas putih--yang seolah-olah salju itu.
"Mungkin, sama halnya dengan menganyam janur untuk dibuat ketupat di hari Lebaran," celotehmu lalu.
Aku menggeleng. Mamaku takpernah memasak masakan lebaran. Sama sekali.
"Aku takpernah dan takbisa menganyamnya," kataku. Kamu mendengus. Tertawa kecil. Aku ikut tertawa.
Kita hanya terdiam setelah itu. Pikiranku dan pikiranmu mungkin sama: kita sampai di sini. Menyakitkan. Sangat.
"Percayalah. Kita akan menemukan kedamaian di jalan Tuhan kita masing-masing," kamu berkata pelan. Ada bening di matamu. Suaramu tertahan.
Aku hanya mengangguk perlahan. Aku masih ingat semua kalimatmu. Terima kasih.
Kenangan. Semoga Natal tahun depan, kenangan tentangmu sudah berubah cerita.

Setiap Natal tiba. Aku selalu mengingatmu. Seperti kali ini. Di dini hari--hampir pagi. Dan lagu "Someday"--John Legend masih berputar sendiri di playlist-ku. Entah. Sudah putaran ke berapa.

Kepada Ibu

Di luar gerimis. Mericik. Membunyi tik tik. Selain itu, sunyi.
Kepada Ibu. Maaf.
Aku takpernah sempat mengirimkan ucapakanku untukmu. Lewat sepotong
kartu pos atau mungkin berbisik pada senja.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Aku yakin, engkau akan menjawab, "sangat baik."
Padahal aku tahu. Ada lelah di matamu. Ada letih di hatimu.
Ada sedikit luka di balik kata baik-mu.
Tapi bibirmu masih merasa baik-baik saja.

Kepada Ibu. Terima kasih.
Terima kasih kepada Tuhan. Yang memilihmu untuk menjagaku. Menjadi malaikat.
Tanpa sayap.
Pukul dua nanti aku ingin terlelap.
Berharap bisa memelukmu dalam dunia takberbatasku.
Aku tahu. Mata ini akan bengkak besok.
Sebab terlalu lama menahan rindu untukmu. Takapa.
Aku janji, sebelum matahari terbit,
aku akan mengirimkan satu kalimat untukmu. Semoga Ibu senang.

Selamat hari Ibu. Semoga setiap hari Ibu selamat. (Aku mengutip kicauan dari temanku, tak apa, kan?)

Ah, tunggu dulu.
Kemarin. Engkau mengirimkan satu klausa untukku.
Singkat. Dan menyayat.
"Dan kau wujudkan mimpi yang terindah di setiap malamku"
Masuk berjejal di dalam kotak masukku.
Aku tertegun di antara padat jadwal. Ada bening menggenang.
Terima kasih.
Tahukah engkau, Ibu?
apa mimpi terindahku di setiap malam?
ENGKAU!!
Melihatmu tersenyum. Mendengarmu bercerita riang.
Tidak ada yang lebih baik dari itu semua.
Ah, mungkin, coretan ini taksampai padamu.
Internet takbisa menyampaikan semua rasa, ternyata.
Iya. Takapa.
Aku yakin. Engkau sudah merasa bahwa aku (selalu) menulis
sesuatu untukmu setiap saat.

Selasa, 20 Desember 2011

Dan Ponsel Saya pun Bisa Cemburu!

Hampir enam tahun. Iya. Saya bersama ponsel saya. Itu ponsel pertama saya. Ayah membelikannya karena nilai UN saya hampir sempurna. Harganya jangan ditanya. Masih sangat mahal. Lebih dari gaji sebulan ayah saya. Saya ingat. Kelas 1 SMA ketika itu. Menyenangkan sekali. Sejak mendapat ponsel itu, sama sekali saya takberniat ganti, baik nomor apalagi ponselnya.
Ah, tapi sayang. Segala sesuatu memang selalu berbatas. Termasuk ponsel saya. Akhir-akhir ini ponsel saya sudah menunjukkan tanda-tanda penuannya. Angka 2 sudah terlalu sensitif. Sudah tidak bisa bekerja secepat dulu. Otaknya sudah enggan diajak menampung banyak kenangan. Tanda getarnya juga sudah tidak berlaku lagi. Kasihan. Waktunya beristirahat.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya memutuskan untuk membuat dia istirahat. Menemani saya kala senggang saja. Tidak harus bekerja keras untuk membantu pekerjaan saya. Saya membeli penggantinya. Mungkin generasi cicit dari ponsel saya tersebut. Harganya hanya setengah dari harga ponsel saya, tapi (mungkin) fiturnya jauh lebih banyak.
Sudah seminggu saya memakai ponsel baru. Ponsel lama sedikit terbengkalai, karena memang, saya mengisinya dengan nomor baru--yang hanya beberapa orang yang tahu. Sementara itu, ponsel baru--dengan nomor saya yang lama--menemani saya bekerja dan berhaha-hihi.
Ah, saya salah. Tidak hanya manusia, ponsel pun bisa cemburu. Kemarin, ponsel baru saya sama sekali tidak bisa digunakan. Tidak ada jaringan meskipun sudah saya refresh berkali-kali. Jadinya, saya harus menggunakan nomor baru dengan ponsel lama untuk menghubungi teman-teman saya. Padahal, kemarin saya sedang sibuk menjadi panitia tayang bincang di kampus saya.
Sesampainya di rumah, saya mencoba menukar nomor. Ajaib. Dua-duanya bisa mendapat jaringan. Aneh.
Tapi, tetap saja. Nomor lama saya memang sepertinya minta ganti cip. Nomor lama saya tidak bisa digunakan untuk mengirim sms, padahal masih bisa digunakan untuk menerima sms, menelpon, dan menyelancar dunia maya. Benar-benar aneh.
Ya ya ya. Saya sedikit mengambil kesimpulan bahwa ponsel pun bisa cemburu dan merajuk dengan caranya. Saya tertawa. Baru sekali saya ganti ponsel. Setelah enam tahun. Selalu (terlalu) setia pada apa pun!

Senin, 19 Desember 2011

Penelitian Dialektologi ke Kresek-Tangerang

 

Saya senang berada di semester 5 ini. Mata kuliah yang menyenangkan. Dosen yang menyenangkan. Dan (semoga) juga nilai yang memuaskan. haha.

Hari Sabtu (17/12), saya dan teman sekelompok saya—Inung—melakukan penelitian bahasa di desa Sukasari, kecamatan Kresek, kabupaten Tangerang. Ya. Penelitian ini adalah salah satu syarat kelulusan di mata kuliah Pengantar Dialektologi. Penelitian ini menyenangkan. Sangat.

Kami berangkat dari kamar kosan pukul 08.00 WIB. Pukul 09.00 baru mendapatkan bus yang jurusan Depok—Kalideres. Kami pun naik bus tersebut. Berhubung hari Sabtu, jalanan di Jakarta tidak terlalu macet. Sampailah kami di Kalideres pukul 10.50. Perjalanan belum selesai. Kami harus naik lagi (semacam) Kopaja yang menuju ke arah Kresek. Pukul 11.00, bus jurusan Kalideres—Kresek akhirnya berangkat. Kami mengira perjalanan ini tidak memakan waktu lama, ternyata salah. Kami baru sampai di Kresek pukul 13.45. Entahlah. Itu berapa jam jika dihitung dari awal keberangkatan. Dalam perjalanan tersebut, saya pun harus menyaksikan kenorakan Inung yang (mungkin) baru pertama kali tahu aplikasi navigasi di ponsel barunya. Haha

Kami sampai di sebuah terminal yang merangkap fungsinya menjadi pasar. Sedikit kotor dan bau. Sudahlah. Tidak apa-apa. Untunglah. Di depan situ terdapat sebuah masjid. Kami pun sholat dhuhur sekaligus ashar. Ah, jujur. Saya seperti jetlag ketika awal-awal sampai. Kepala pusing karena terlalu lama dalam perjalanan. Norak. Haha. Ini foto masjid tempat kami sholat.

2011-12-17 15.10.51

Kami bertanya rumah Pak RT setempat untuk meminta izin mengadakan penelitian ini. Ya. Sekaligus meminta tolong ke Pak RT untuk mencarikan informan yang sesuai dengan kriteria informan penelitian dialektologi ini, yaitu NORM’s. Yang pertama, Nonmobile, maksudnya orang tersebut jarang bepergian dari kampungnya. Yang kedua, Older, orang tersebut harus berusia sekitar 40—60 tahun. Yang ketiga, Rural, maksudnya orang tersebut haruslah penduduk asli daerah tersebut minimal dari dua generasi. Yang keempat, Male, diharapkan informan dalam penelitian ini adalah laki-laki karena laki-laki dianggap dapat menyimpan bahasa etnisnya dengan baik. Namun, kriteria yang terakhir ini masih diperdebatkan.

Akhirnya, kami dipertemukan dengan Ibu Salminah. Penelitian pun dimulai. Karena kami menghindari idiolek, kami pun mewancarai dua orang. Ibu Salminah dan Pak RT itu. haha

Inung mewancarai Ibu Salminah dan saya mewancarai Pak RT—yang saya lupa namanya. Penelitian pun berlangsung. Ah iya, namanya penelitian dialektologi, yang kami tanyakan pun seputar kosakata. Misalnya, mereka menyebut kata abu dengan kata apa. Daftar tanyaannya berupa 200 kosakata Swadesh dan 32 kosakata sistem kekerabatan—sapaan. Total ada 232 kosakata yang kami tanyakan.

Penelitian berlangsung selama kurang lebih 1 jam 15 menit. Pak RT itu baik sekali. Ibu Salminah juga. Mau meladeni mahasiswa kurang kerjaan seperti kami. Sekitar pukul 15.30 penelitian selesai. Untuk kenang-kenangan, saya sempat memotret Inung, Pak RT, dan Ibu Salminah.

2011-12-17 15.06.23

Bisa ditebak kan yang mana Inung, Ibu Salminah, atau Pak RT. Haha

Setelah itu, kami langsung pamit pulang. Takut terlalu malam pulang. Bus yang ke Kresek—Kalideres hanya sampai pukul 17.00, sedangkan Kalideres—Depok hanya sampai pukul 19.00. Wah, itu waktu yang terlalu riskan untuk berleha-leha. Sebelum benar-benar pulang, kami makan siang (atau sore) di warung samping Masjid.

2011-12-17 15.11.322011-12-17 15.10.20

2011-12-17 15.07.19

2011-12-17 15.38.52

Sembari menunggu bus yang takkunjung berangkat, saya memotret-potret saja keadaan yang di sana. (Dari kiri atas ke kanan) Gambar pasar di sana. Dan yang membuat saya kagum, di sana masih ada wartel sekaligus merangkap warnet. Oh waw! Sudah ada minimarket juga. Ckck. Investasi minimarket memang sudah merambah ke setiap pelosok. Jalanan lengang menuju rumah Pak RT.

Akhirnya, bus jurusan Kalideres berangkat juga. Sudah pukul 16.10. Hampir senja. Saya bosan di perjalanan. Baterai ponsel menipis. Membaca buku pun tidak memungkinkan. Yang saya lakukan hanya memotret apa pun yang ada di jalanan.

Kami tiba di Kalideres pukul 18.40. Fiuh. Masih ada bus yang lewat untuk ke Depok. Perjalanan pulang lebih panjang. Jakarta Macet lagi. Saya sampai di kosan pukul 22.00 dengan wajah kusut dan bau bus. Ini perjalanan gila. Penelitian hanya satu jam, sedangkan waktu tempuhnya 10 jam.

Ah, tapi jika tidak ada tugas ini, saya tidak akan jalan-jalan ke Kresek. Tidak akan tahu bahwa kamar mandi di sana masih belum tertutup sempurna. Tidak akan tahu bahwa ada daerah dekat Kota Metropolitan yang masih asli. Tidak akan tahu bahwa ada bahasa Jawa yang digunakan orang-orang tersebut. Kosakata Jawa dengan logat Sunda dan beberapa campuran kata sapaan bahasa Betawi. Itu sangat menarik. Ya. setelah penelitian ini, saya tertarik untuk mengambil skripsi dialektologi. Ingin meneliti dialek di sebuah tempat yang belum terjamah. Tentu saja. Keinginan utama saya adalah jalan-jalan. :P

Minggu, 18 Desember 2011

Kepada Kamu

Selamat pagi,
Sudah lama tak menyapamu. Ada rindu. Sepasang ngilu. Kamu.
Kamu. Masih kamu.
Kemarin hujan. Di jalanan. Menyusun ingatan. Masih tentang kamu. Remah-remah imajinasi. Sedikit saja.
Aku selalu mengingat. Bagaimana kenangan tentang imajinasiku.
Berjalan berdua. Beriringan. Bergandengan. Di bawah hujan.
Atau kita berada dalam bus kota. Bernyanyi. Mengusap nako.
Aku lebih suka berjalan kaki. Bersamamu. Daripada harus kedinginan di dalam mobilmu. Sederhana bukan? Sebab, berjalan membuat waktu berhenti sejenak. Agar aku bisa lebih lama menggenggam tanganmu.
Mungkin kita akan menikah kelak. Aku menjadi pasanganmu. Tapi aku takmau menukar nama belakangku dengan nama belakangmu. itu nama ayahku.
Kelak, akan lahir anak-anak lucu dari rahimku. Lakilaki dan perempuan sama saja.
Lantas, kita akan menghabiskan waktu di toko buku. Memilah dan memilih buku dongeng atau puzzle untuk anak kita. Atau kita akan membacakan sebuah dongeng setiap malam. Mengecup anak kita sebelum mereka tidur.
Membawa mereka jalanjalan. Menemani mereka membaca dan belajar. Itu menyenangkan bukan?
Kepada kamu,
aku senang menghabiskan waktuku bersamamu.

Selasa, 13 Desember 2011

Jarak

Daunmu gugur kataku
biarlah
kaumemandangnya sayu
Bukan itu mauku, katamu
lantas?
kamu! katamu lagi
aku jengah
mana mungkin?

sekali lagi
kita harus mengalah
pada jarak yang serta
merta tunduk pada waktu

mengapa kita taktumbuh
di tempat yang sama?
lalu kita dapat berjalan
beriringan
oh.

Senin, 12 Desember 2011

Rindu Hujan Pagi Hari

Pukul empat sore. Hujan. Sekarang di luar masih hujan. Meskipun hanya serintik. Pagi tadi, saya tiba-tiba rindu hujan pagi hari. Saya rindu pada hujan yang datang mendadak dan kejam menyembunyikan matahari. Tentu saja. Saya lebih senang hujan turun daripada matahari terik memanggang kepala saya. Berbicara tentang hujan memang takpernah membuat saya bosan. Tapi mungkin membuatmu muak. Sayangnya, saya sudah telanjut jatuh cinta pada rintiknya.
Kemarin, saya melihat postingan teman saya. Saya hanya mengingat dua baris di antara berbaris-baris yang dia tulis. Dia menulis puisi. Sederhana. "You say you love the rain, but you open your umbrella when its rain. This is why I'm afraid. You say you love me"
Yeah. Masih ada beberapa baris yang saya lupa. Kadang-kadang, manusia memang seperti itu. (Seolah-olah) mencintai sesuatu. Padahal hanya sebatas mengikuti orang lain mencintai sesuatu.
Percaya atau tidak. Saya tidak pernah menyelipkan payung di antara kosong tas saya. Ke mana pun saya pergi.
"Wah, hujan nih. Lo gak bawa payung?" teman saya bertanya pada saya dengan muka sedikit manyun.
"Mana pernah!" saya menjawab singkat. Teman saya mendengus. Terserah. Tapi itulah. Saya memilih bermain dengan hujan atau menungguinya hingga hujan pergi sama sekali.
Tentang kesetiaan. Ah, saya selalu terlalu sok tahu tentang hal ini. Ketika saya memilih sesuatu, saya akan tetap bersamanya atau meninggalkannya dari awal. Ya. Itu jugalah yang membuat saya enggan membuka payung ketika hujan.
Saya jadi ingat. Dulu saya selalu senang ketika hujan datang. Saya bisa bermain-main di bawah hujan dengan ayah dan adik saya. Kaki telanjang. Berkeliling kebun. Lempar-lemparan lumpur. Mencari ikan di empang. Bahkan, bermain bola. Saya, ayah, dan adik. Selalu senang ketika hujan. Itu berarti kami bisa bermain bersama. Walaupun setelah bermain, kami harus mendengar ocehan Mama. Tentu saja, Mama mengoceh. Karena kami masuk rumah dalam keadaan basah. Tetesan dari baju kami mengotori lantai yang sudah dipel paginya. Kami hanya tergelak, lalu bersama-sama mengepel kembali lantai rumah kami yang basah. Lalu, setelah mandi dan keramas, saya dan adik saya berlomba mencium pipi Mama. Tapi sayang, pasti ayah saya yang lebih dulu sampai ke pipi Mama saya.
Entah. Itu berapa tahun yang lalu. Mungkin sebelum saya menstruasi untuk pertama kalinya. Sudah sangat lama. Sekarang tidak lagi. Adik saya sudah besar. Sudah enggan berkotor-kotoran dengan hujan. Meski terkadang, masih sering saya melihat ayah saya berhujan-hujanan dengan ayam-ayamnya. Dan saya hanya melihat dari dalam rumah.
Banyak hal yang berubah. Meski rasa hangat itu takpernah berubah. Saya lebih suka menggelung di balik selimut ketika hujan sambil tetap mendengarkan rintiknya. Adik saya lebih senang berhubungan dengan teman-temannya di jejaring sosial. Mama saya lebih senang bermain Zuma di komputernya. Dan ayah saya lebih tertarik bercengkerama dengan ayam, burung, atau bebeknya di kebun.
Saya rindu pada mereka. Pada mereka yang telah memberi rasa hangat pada saya. Hujan hanya pengingat. Benang merah yang menghubungkan kenangan saya tentang tiga malaikat tanpa sayap itu. Terlampau banyak kenangan manis di rumah mungil--yang catnya tidak pernah tetap.
Tanggal 28 November kemarin, Ayah saya ulang tahun. Ke berapa? Saya pun lupa. Mungkin sudah kepala lima. Ah, ayah saya sudah setengah abad. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Harapannya ada pada saya. Sungguh. Sekali pun saya tak ingin mengecewakannya.
Tanggal 7 Desember kemarin, adik saya ulang tahun. Yang ke-17. Oh, dia sudah besar sekarang. Padahal, rasanya, baru kemarin dia lahir. Menjadi bayi mungil yang menyedot banyak perhatian orang. Yang sering saya ciumi ubun-ubunnya. Rasanya, baru kemarin. Saya dan dia pergi bersama ke sekolah. Atau bertengkar rebutan remote TV di rumah. Berkejaran. Saling meneriaki. Mandi bareng. Tidur dalam satu ranjang. Dan sama-sama kena marah Mama atau Ayah. Mengesankan.
Tanggal 22 Desember nanti, hari ibu. Hari Mama. Tak ada kata yang bisa dirangkai untuk mendefinisikan perempuan ini. Terlampau sempurna. Dari Mama juga, saya belajar memberi dan mengasihi sesama. Belajar sabar dan menerima sesuatu. Bersyukur. Mama saya bukan ibu yang cerewet. Tidak panik ketika saya sakit atau mendapat masalah. Memang, seolah-olah Mama membiarkan saya berjalan sesuka saya. Tapi, di kota ini, saya baru mengerti pengajaran yang diterapkan Mama pada saya. Saya belajar untuk bertanggung jawab terhadap pilihan dan kehidupan saya. Belajar mengurusi keperluan saya tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Ah, sudahlah. Mama saya tidak akan cukup diceritakan dalam ruang ini.

Yang pasti. Sekarang. Saya merindukan mereka. Ah, paling tidak. Saya sudah meluapkannya di sini. Siapa tahu kicauan ini sampai pada mereka. Entah terbawa hujan atau angin.

Kamis, 08 Desember 2011

Tentang Kepedulian

Maaf. Saya memulai paragraf ini dengan sebuah permohonan tulus kepada kalian. Mencaci saya sekarang pun takapa. Sama sekali saya tidak keberatan. Baiklah. Selama ini kalian (mungkin) menganggap saya benar-benar tidak peduli dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan "kita". Maaf. Saya ralat. Yang berhubungan dengan "kalian". Hanya saja (seolah-olah) saya harus mengikuti semua kegiatan "kalian" itu.
Ya. Kebetulan saja kita "terlahir" di tempat yang sama. Tapi bukan berarti kita harus selalu bersama-sama. Jujur saja, saya sedikit risih ketika kalian berteriak-teriak di depan saya. Menanyakan di mana kepedulian saya terhadap "rumah kita"? Dalam hati, saya tergelak. "Rumah kita"? Rumah adalah tempat pulang yang hangat. Yang memberikan ruang untuk menjadi diri. Maaf. Saya tidak menemukan kehangatan itu di tempat yang kalian sebut "rumah kita" ini.
Kepedulian itu tidak harus kasat mata. Tidak harus muncul di setiap suasana. Setiap orang memiliki prioritas masing-masing. Yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Kalian punya kerjaan. Saya punya kerjaan. Baiklah. Tidak perlu mengunggulkan kerjaan siapa yang paling berat dan yang paling sibuk. Semua adalah soal pilihan. Saya memilih keluar. Dan kalian memilih masuk. Bukan masalah besar sebenarnya. Lantas, mengapa kalian mempermasalahkan pilihan saya, sedangkan saya tidak pernah mempermasalahkan pilihan kalian?
Ada banyak alasan (jika saya mau beralasan). Tapi saya memilih diam. Membiarkan kalian meneriaki dan memaki saya. Apakah kalian peduli terhadap pilihan saya? Saya rasa tidak. Dan mengapa saya harus peduli pada pilihan kalian? Saya tidak punya komitmen dan tanggung jawab apa pun terhadap kalian!
Maaf. Saya memang tidak terbiasa dengan kerumunan. Tidak terbiasa terpesona dengan huru-hara yang ada. Saya lebih senang menghabiskan waktu saya sendirian. Terkesan egois dan autis, memang. Tapi, apakah seseorang hanya dinilai dari kesannya? Semoga saja tidak.