Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Februari 2014

Anak Panah, Apa Kabar?

Gambar diambil di sini


Anak Panah, apa kabar?

Ceritanya aku sedang ikut-ikutan menulis surat cinta. Pada bulan yang katanya bulan cinta. Meskipun aku tahu, aku tidak akan sanggup ikut #30HariMenulisSuratCinta. Dan, ini pun bukan surat tentang cinta. Hanya saja aku sedang mencoba mencari tahu tentang kabarmu. Hallo, Anak Panah, apa kabar?

Bagaimana? Adakah sesuatu hal yang lain yang membuatmu enggan menulis surat atau sekadar membalas suratku lagi? Atau mungkin kau tak lagi mengunjungi laman ini karena kesibukanmu, mungkin? Barangkali memang seperti itu.

Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Pada anak panah yang pernah kau lepaskan meskipun taktahu arah. Terima kasih sudah menulis untukku. Barangkali aku sudah berterima kasih padamu berkali-kali pada surat yang takpernah lagi kau balas itu. Tapi, takapa. Aku hanya ingin berterima kasih.

Ah, iya, satu lagi. Aku pernah bercerita tentang Lelaki Lampu, bukan? Iya. Lelaki Lampu yang pada saat itu hampir menyita seluruh perhatianku. Yang hampir saja membuatku gila. Ah, ini mungkin berlebihan. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Tuhan mendengar doa-doaku untuk Lelaki Lampu itu. Agar aku dan Lelaki Lampu itu dipertemukan dalam aliran waktu yang sama. Ah, kau pun sebenarnya takperlu tahu doa-doaku yang lain. Tapi, terima kasih. Aku bahagia bersama Lelaki Lampu itu. 

Anak Panah, apa kabar?

Aku pun takpernah tahu bagaimana harus berterima kasih padamu. Dan, masih sangat berharap, kau tetap ada di depan lamanku meskipun takharus setiap hari. Terima kasih sudah membaca dan menulis untukku.

Rabu, 21 Desember 2011

Natal




Sudah hampir Natal. Sekarang sudah pagi. Sedangkan mataku belum terpejam. Gejala insomnia? Bukan.
Aku hanya sekadar mengingatmu. Mengenangmu. Lalu, tiba-tiba terjaga. Tanpa air putih atau segelas cokelat.
Sekali lagi. Aku selalu heran pada kenangan yang taktahu malu. Lama-lama aku membencinya. Sebab dia selalu membawamu kembali. Mengolokku yang takbisa melawan. Membiarkanmu datang. Lantas, menari-nari. Sudahlah.
Sudah berapa Natal yang kita lewatkan sendiri? Mungkin tiga. Mungkin empat. Ya. Aku tahu. Pada akhirnya kita akan berjalan masing-masing. Tapi, tetap saja. Melihatmu beranjak itu seperti pecandu yang sakaw. Bagaimana kabarmu sekarang?
Dari dulu. Aku takpernah punya pohon Natal. Sama sekali. Aku takpernah tahu rasanya menghias cemara itu dengan gantungan-gantungan yang lucu. Aku hanya mendengar ceritamu. Menghias pohon Natal itu seperti sebuah persembahan pada Tuhan. Sukacita menyambut hari kelahiran Tuhan-mu. Padahal, aku ingin sekali memasang bintang di pucuk cemaramu. Atau menggantungkan kaus kaki kecil di setiap dahan. Atau melilitkan kapas putih--yang seolah-olah salju itu.
"Mungkin, sama halnya dengan menganyam janur untuk dibuat ketupat di hari Lebaran," celotehmu lalu.
Aku menggeleng. Mamaku takpernah memasak masakan lebaran. Sama sekali.
"Aku takpernah dan takbisa menganyamnya," kataku. Kamu mendengus. Tertawa kecil. Aku ikut tertawa.
Kita hanya terdiam setelah itu. Pikiranku dan pikiranmu mungkin sama: kita sampai di sini. Menyakitkan. Sangat.
"Percayalah. Kita akan menemukan kedamaian di jalan Tuhan kita masing-masing," kamu berkata pelan. Ada bening di matamu. Suaramu tertahan.
Aku hanya mengangguk perlahan. Aku masih ingat semua kalimatmu. Terima kasih.
Kenangan. Semoga Natal tahun depan, kenangan tentangmu sudah berubah cerita.

Setiap Natal tiba. Aku selalu mengingatmu. Seperti kali ini. Di dini hari--hampir pagi. Dan lagu "Someday"--John Legend masih berputar sendiri di playlist-ku. Entah. Sudah putaran ke berapa.

Selasa, 15 November 2011

Ending




07:59:00
Penghitung waktu di pojok monitormu terus berjalan. Tik. Tik. Serupa jam dinding usang yang dentingnya terus menghantuimu. Menit itu diam saja. Namun, ada yang berteriak nyaring.
"Cepat selesaikan!! Kalau kamu tidak mau mengulang!"
Entah. Itu suara siapa. Mungkin dosenmu. Papamu. Mamamu. Atau bahkan pacarmu.
Tes. Tes.
Keringat di dalam ruangan berpendingin seperti ini memang taknormal. Tapi kamu basah. Lebih deras dari hujan yang mengguyurmu kemarin sore.

07:59:30
Monitor di depanmu masih kesepian. Hanya ada nama dan nomor mahasiswamu. Bodoh! Mau mengerjakan apa? Ingin kau lempar saja monitor yang dari tadi menjulurkan lidahnya ke arahmu. Mengejekmu. Mungkin, hidupmu akan bebas dalam 30 detik jika monitor ini hancur. Tapi, tentu saja. Kau akan terperangkap satu tahun lagi menghabiskan waktu di kuliah keparat ini.
Napasmu memburu. Logikamu menolak segala kemungkinan. Gila saja! Lima halaman hanya dalam waktu 30 DETIK!!! Hanya Tuhan yang bisa melakukan itu, pikirmu!
"Pukul 08.00, semua tulisan sudah harus dikumpulkan di meja biasa!" suara ketua kelasmu tempo lalu mendengung. Telingamu sakit, tapi (mungkin) tidak sesakit otakmu.
Mulutmu takberhenti mengucapkan sumpah serapah untuk mengutuk dosen yang menurutmu brengsek itu. Sudah dua kali kamu gagal lulus dalam mata kuliahnya.

08:00:00
Waktu habis.
Tet. Tet. Tet. Black Berry-mu bergetar. Panggilan masuk. Temanmu. Kamu sudah seharusnya menyerah. Kautekan tombol hijau. Menempelkan dengan malas di telingamu yang panas.
"Bapak Bachtiar meninggal!" telepon ditutup. Singkat. Jelas. Padat.
Matamu mengerjap. Seperti mimpi. Itu nama dosen yang kauserapahi sepersekian detik yang lalu.

Kamis, 23 Juni 2011

Kisah Kita, seperti Hujan dan Teduh

Tiba-tiba saja aku mengingatmu. Mengingat hubungan kita yang semakin lelah untuk dipertahankan. Sayang, bukankah dulu kamu pernah berjanji bahwa seberapa pun jauh jarak kita, kamu akan tetap mengirimiku cinta setiap hari. Sementara aku, aku akan selalu menghabiskan tintaku untuk menulis namamu di langit. Ingatkah kamu? Aku masih sangat mengingatnya. Entah kamu.
Ah, jarak kita takjauh sebenarnya. Hanya saja hati kita yang terlampau jauh. Aku taktahu pasti tujuan Tuhan mempertemukan kita. Seperti hujan dan teduhkah? Selalu bertemu, tapi takpernah ditakdirkan untuk bersama. Ya, mungkin. Seperti itulah kisah kita. Kita saling melengkapi. Saling bercerita. Saling berhadapan. Tapi, jalan kita bersimpangan. Takapa. Semoga saja aku bisa melupakanmu kali ini. Benar-benar melupakanmu. Sebab, bagiku. Melupakanmu itu membutuhkan keberanian. Berani untuk membuka mata tanpamu.
*Hujan selepas senja tadi mengajarkanku banyak hal, termasuk melupakanmu.