Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Minggu, 13 November 2011

Buku dan Rak Buku

 

“Jika S2 nanti kamu akan tetap mengambil Linguistik?” tanya teman sekamar saya. Saya mengangguk mantap.

“Saya telanjur cinta!” saya berkelakar. Dia hanya menggeleng dan tertawa.

Mungkin, baginya, saya sudah sedikit tidak waras. haha. tidak apa-apa. Mungkin, baginya, kuliah saya selama ini terlalu rumit dan tak penting. sama sekali bukan masalah. Saya telanjur jatuh cinta pada bahasa. telanjur jatuh cinta pada naskah. dan tentu saja, telanjur jatuh cinta pada sastra. Terlalu berlebihan, sepertinya. Tapi tetap saja. Saya hanya mengatakan bahwa saya sedang jatuh cinta.

Di sudut kamar saya, ada sebuah rak buku sederhana. Rak buku itu selalu mengingatkan saya pada cinta saya pada bahasa. Selalu. Saya menyempatkan diri untuk memberi sampul plastik pada buku-buku saya. Agar terlindung dari lalat, saya pikir.

Ada empat susun. Saya bisa menaruh apa pun di rak itu. Saya meletakkan fotokopian semua naskah dan buku—yang takbisa saya beli—di rak paling atas.

Image(572)

Ah, saya kadang-kadang harus memfotokopi buku-buku atau naskah-naskah ini. Bukan tindak kejahatan, saya kira, karena saya ingin mendapatkan ilmunya. #ngeles haha

Tumpukan ini menandakan cinta yang bertumpuk-tumpuk. halah, ini juga terlalu berlebihan.

Kemudian, di rak kedua, saya meletakkan buku-buku fiksi saya. Belum saya baca semua, tapi saya suka semua buku fiksi saya ini. Ah, jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan toko buku. Atau koleksi teman-teman saya. Tapi, ini kumpulan buku fiksi saya sejak kuliah. Dan tentu saja, saya membelinya dengan uang hasil kerja saya. haha. #sedikitpamer

Image(568)

Image(570)

Image(565)

Image(575)

Image(573)

Itu buku-buku yang sedang saya pinjam dari perpustakaan UI tercinta. Buku Hikayat Kadiroen yang sudah saya cari dari semester kemarin. Bercerita tentang bagaimana masyarakat semasa kolonial. Dan ini benar-benar aset. Buku Membaca Sapardi dan Pengarang Telah Mati adalah dua buku yang saya baca untuk membandingkan. Segenggam cerita dalam Pengarang Telah Mati ada yang dibahas dalam buku Membaca Sapardi. Dan yang terakhir adalah buku Seno Gumira Ajidarma “Aku Kesepian, Sayang. Datanglah Menjelang Kematian!” Ah, Seno selalu membuat saya jatuh cinta berkali-kali.

Kemudian rak ketiga, saya meletakkan jurnal-jurnal yang saya dapatkan gratis, block note hasil seminar, map-map, majalah, berkas-berkas kepanitiaan, modul mengajar, bahkan hasil ujian. Sengaja tidak saya potret. Sebab bagian ini terlalu berantakan. haha

Saya meletakkan buku-buku kuliah saya di rak keempat. Ada kamus, tesaurus, dan buku-buku nonfiksi. Ini sedikit membuat saya pusing. Tapi, tetap saja. Tidak mengurangi cinta saya pada mereka.

Image(560)

Image(559)

Ini kamus yang baru saya miliki. Masih sangat kurang sekali! Harus ditambah. Ah, sebentar lagi akan ada Kamus Mistik karya saya dan kelompok Leksikografi saya. haha

Image(561)

Image(562)

Image(563)

Image(564)

Ini buku-buku kuliah saya. (Lagi-lagi) tidak banyak. Biasanya, saya meminjam di perpustakaan. Itu pun, masih sangat kurang sebenarnya. Dan saya harus membaca lebih banyak buku referensi lagi. Fiuh. Tapi, masalahnya saya selalu tertidur jika membaca. Oh la la. Ini menyebalkan.

Kembali ke kecintaan saya pada sastra, naskah, dan bahasa. Saya mencintai buku-buku itu seperti saya mencintai bahasa saya. Buku adalah bahasa. Buku adalah sastra. Dan buku adalah naskah. Dengan mencintai buku sama halnya dengan mencintai sastra, naskah, dan bahasa. Ah, tolong. Saya sedang jatuh cinta.

 

*Pada buku yang selalu menyampaikan rindu!

Sabtu, 12 November 2011

Selamat Datang

Selamat datang di latar belakang yang baru. Sepagian tadi saya sibuk mengotak-atik latar belakang laman saya. Agak ribet dan susah. Ya, karena memang saya tidak begitu pandai berotak-atik dengan dunia seperti ini. Tapi, lumayanlah hasilnya. Tidak begitu mengecewakan. haha.
Kenapa saya ganti latar belakang? Kenapa? Karena saya ingin ganti. Just it! haha. Kenapa ganti hijau? Bukankah sukanya ungu? Kenapa lagi? Ya memang, lagi ingin suasana baru. Sudah ah. Tidak usah mempermasalahkan masalah penggantian warna atau bentuk latar belakang saya. Itu tidak penting. :P
Selamat datang saja. Nikmati jika berkenan. Jika tidak, tutup saja tab-nya. Selesai. Terima kasih untuk yang sudah datang. Semoga latar belakang yang baru bisa membuat semangat saya juga baru!

Kamis, 10 November 2011

Surat untuk Adik-Adikku

Dear adik-adikku,

Apa kabarmu? Semoga baik, sebaik kabarku ketika menulis surat ini. Kemarin aku sempat melihatmu. Di dalam angkot. Bercerita banyak. Bersenda gurau. Aku senang melihatmu tertawa. Aku juga senang melihatmu bahagia di remajamu.

Dear adik-adikku,

Maafkan aku yang tiba-tiba lancang menulis surat padamu. Kita mungkin takpernah kenal sebelumnya. Tapi, aku sudah menganggapmu sebagai adik. Adik yang harus aku lindungi—meski kita takpernah sedarah. Adikku, Perempuan itu terlihat lebih cantik tanpa make up. Sederhana. Murni. Berapa usiamu sekarang? Mungkin 7 atau 8 tahun di bawahku. Tapi lihatlah, pipimu sudah merona. Mata aslimu merana. Bibirmu memerah.

Aku takmenemukan lagi kejernihan dan keluguan gadis-gadis kecil yang berusia belasan. Berbagai merk kosmetik mungkin sudah kaupakai untuk memoles wajah polosmu.

“Biar terlihat lebih dewasa dan cantik!” katamu jujur.

Adikku, dewasa itu pilihan. Kau bisa memilih menjadi dewasa, tanpa harus memoles wajahmu. Kau juga bisa menjadi cantik tanpa peralatan itu. Kau mau tahu cantik itu apa? Pegang dadamu Adikku. Cantik itu di dalam sana. Di dalam kemurnian hatimu. Itu kecantikan terindah yang dimiliki perempuan. Bukan wajah yang penuh polesan. Kau percaya itu, bukan?

Dear adik-adikku,

Menjadi seorang perempuan adalah anugerah Tuhan yang takterkira. Aku dan kamu. Perempuan. Aku takmau cara berpikirmu mengikuti stereotip masyarakat: make up membuat perempuan cantik. Lantas, kau berlomba-lomba memoles wajahmu sedemikian. Tapi, kau lupa merias hatimu dengan sejuta kebaikan. Bukan itu, Adikku. Bukan itu yang disebut cantik.

Adikku, cantik itu ada dalam kebaikanmu. Kebaikanmu menghargai dirimu sebagai perempuan. Kebaikanmu menghormati orang lain. Kebaikanmu bersyukur pada Tuhan. Dan kebaikanmu memperbaiki hatimu.

“Bagaimana jika tak ada cowok yang suka padaku kalau aku tak memoles wajahku?” (mungkin) inilah pertanyaan yang muncul di kepalamu.

Adikku, laki-laki yang baik adalah laki-laki yang mencari kebaikan hatimu. Bukan lelaki yang menerimamu karena seberapa tebal make up-mu. Maafkan aku. Aku sama sekali takmelarang perempuan merias diri. Hanya saja, aku terlalu sayang padamu. Usiamu masih belasan. Belum waktunya kau mengenal peralatan itu. Kau bisa mengerti kekhawatiranku, bukan?

Percayalah. Perempuan itu cantik dari hatinya.

Sabtu, 05 November 2011

Wine. Wine. Wine

Ah, akhir-akhir ini postingan saya agak sedikit kacau. Sekarang, saya ingin mengunggah gambar-gambar wine Tidak tahu kenapa. Tiba-tiba saya jatuh cinta pada benda satu itu. Tentu saja, semua terlepas dari agama apa yang saya anut.
Saya suka pada warnanya. Menyala. Apa pun jenis winenya. Dan sebenarnya, saya pun takbisa membedakan jenis wine. Saya suka ketika wine itu dituang. Memenuhi setengah gelas. Cantik. Saya suka ketika wine dalam gelas itu bergoyang, meliuk indah. Terlihat seksi. Ah, sebenarnya saya suka wine. #eh!

winepour1

Dan cara menuang seperti ini sedikit menimbulkan efek dramatis, eksotis, dan romantis.

Wine figures

Cantik dan menarik.

wine

Mungkin, seperti saya dan kamu. Yang bahagia ketika mencecap rasa wine pertama kali.

wine_965871

Dan, suatu saat kelak. Saya akan menuangkan wine pada gelasnya. Entah. Untuk siapa.

12_4_orig

Gambar ini menggoda saya. Titik-titik embun pada gelas itu mengingatkan saya pada kerontang rentang.
Menggoda saya agar mencobanya sececap saja

Ya. Wine. Saya tidak tahu harus berharap apa pada benda satu ini! Hanya saja, saya menikmati eksotisme yang timbul darinya

Selasa, 01 November 2011

Ketika Perempuan Seharga Selaput Dara

Maaf. Judul yang saya gunakan sedikit ekstrem.

Jujur saja, saya sedikit tersinggung ketika beberapa orang beramai-ramai operasi selaput dara agar dikira perawan. Dan itu dipermudah dengan adanya penawaran-penawaran murah dari pihak medis untuk melakukan operasi ini. Sakit.
Maaf, kalau tulisan saya ke bawah agak sedikit subjektif dan emosional.
Baiklah. Saya akan memulai tulisan saya dengan rasa kecewa saya pada konstruksi sosial yang ada: Perawan adalah perempuan yang selaput daranya belum robek. Yang ketika malam pertama akan berdarah.
Itu menyakitkan. Sangat. Sebagai seorang perempuan, saya merasa itu jelas-jelas aturan yang dibuat seenaknya. Tak berperikemanusiaan! Selaput dara yang masih utuh tidak bisa digunakan sebagai tolok ukur apakah perempuan tersebut masih perawan atau tidak. Selaput dara adalah lapisan tipis--yang setiap perempuan memiliki ketahanan selaput dara yang berbeda. Bisa saja selaput dara robek karena jatuh atau terantuk benda tumpul. Jika sudah telanjur robek, lantas seseorang bilang bahwa perempuan tersebut tidak dapat menjaga kehormatannya dengan baik. Bukankah itu terlalu menyakitkan untuk pihak perempuan? Sementara (mungkin) perempuan tersebut benar-benar belum melakukan hubungan intim dengan siapa pun.
Perempuan dipaksa menjaga selaputnya, sedangkan laki-laki bisa seenaknya. Maaf, ini bukan tentang gender. Hanya saja, ini sebuah anggapan yang benar-benar menyudutkan perempuan.
Anggapan seperti ini membuat banyak perempuan yang berpikir pintas. "Ah, nanti bisa perawan lagi!" Ya, perawan lagi. Frasa yang muncul ketika ada operasi menyambung selaput dara. Ini jauh lebih menyakitkan. Keperawanan tidak dapat terjadi dua kali. Perempuan-perempuan yang termakan konstruksi sosial tersebut pasti menganggap bahwa keperawanan ditandai dengan utuhnya hymen (selaput). Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, sebab isu yang berkembang di masyarakat memang seperti itu adanya. Lantas, banyak perempuan yang berbondong-bondong ingin operasi penyambungan selaput dara. Dan kebohongan pun akan terjadi.
Sungguh. Saya miris.
Ah, perempuan. Selalu saja. Kadang, saya terlalu bingung dengan semua ini. Di satu sisi, saya melihat ada banyak perempuan yang berjuang mati-matian memperjuangkan hak-haknya, tetapi di sisi yang lain, ada banyak perempuan yang terlalu pasrah pada keadaan.
Entahlah.
Namun, isu operasi selaput dara ini benar-benar membuat saya geram. Bagaimana bisa. Keperawanan seseorang hanya dilihat dari utuh atau tidaknya selaput dara, bukan dari caranya dia menjaga kehormatan. Apakah malam pertama akan jadi menyenangkan karena ada darah hasil operasi selaput dara? Saya tidak tahu. Tanyakan saja sama hujan yang merintik ketika senja.

Senin, 31 Oktober 2011

Dan Keajaiban itu Selalu Ada

Selepas Oktober. Saya berjanji untuk pergi ke suatu tempat. Hanya sekadar menyegarkan emosi. Tapi ternyata saya salah. Saya kehilangan Oktober sebab Oktober tahun ini memberikan banyak hal.
Jujur saja. Memasuki awal Oktober, saya ingin sekali Oktober cepat berkemas. Meninggalkan saya. agar saya bisa menjalani rutinitas dengan normal. Tapi, Oktober tetap bergeming. Berjalan lambat seperti adanya.
Ah, iya. tentu saja. acara itu yang membuat saya ketakutan setengah mati. acara yang diadakan tingkat nasional dan saya dipercaya sebagai ketua pelaksana. terlihat biasa saja dan sederhana memang. hanya saja, bagi saya ini luar biasa. berada di sebuah kepanitiaan dan saya sebagai pemimpinnya. ketidaksuksesan acara ini, tentu saja, merupakan kesalahan saya seutuhnya.
Tapi, saya beruntung. saya berada di antara orang-orang hebat. orang-orang yang punya komitmen dan karakter.
Baiklah. Tuhan memang selalu baik. Selalu mendengar. Ada banyak hal yang tak terduga saat acara ini sudah di ambang mata. Ada banyak bantuan. Saya tidak bisa mengisahkannya satu per satu. Yang pasti, saya hanya ingin berterima kasih pada Tuhan Yang Selalu Baik memberikan bantuan.
Keajaiban. Itu yang Tuhan berikan pada kami. Saya bersyukur. Paling tidak saya bisa memegang acara ini. Saya bisa bertukar pesan dengan Seno Gumira Ajidarma dan Sapardi Djoko Damono. Sungguh. Saya ingat ketika kelas 1 SMP dan pertama kali membaca cerpen "Pelajaran Mengarang" karya SGA, saya tidak pernah terpikirkan untuk bertemu langsung dengannya. Bahkan sekarang, saya bisa memberikan plakat untuknya. Terima kasih Tuhan. Saya juga ingat, ketika saya pertama kali membaca puisi-puisi Sapardi Djoko Damono ketika SMA, saya berjanji untuk bisa melihatnya secara langsung suatu saat nanti. Tapi, jawaban Tuhan lain. Saya diizinkan untuk menjabat tangannya dan mengobrol banyak dengannya. Terima kasih sekali lagi Tuhan.
Ah iya, Tuhan selalu memberikan keajaiban-Nya lewat tangan-tangan yang takterduga. Orang-orang yang berada di dekat saya, contohnya. Tuhan mengirimkan orang-orang hebat ini untuk membantu saya. untuk menyelesaikan semuanya agar semua berakhir dengan baik-baik saja. Terima kasih pada mereka yang sudah sangat sangat membantu saya.

Yang pasti, Tuhan itu selalu memberikan sebesar apa yang kita usahakan. Keajaiban yang kita terima itu sesuai dengan seberapa besar kerja kita untuk Tuhan.

Rabu, 19 Oktober 2011

Selepas Oktober

Selepas Oktober. Mungkin saya harus melepaskan penat. Pergi ke Bandung atau ke mana pun. Atau mungkin cukup berjalan-jalan santai di kampus. Menikmati pemandangan tanpa harus diburu waktu atau senja. Atau berlama-lama menghabiskan waktu di Salihara. Menonton pertunjukan.
Sedikit saja saya meluangkan waktu untuk mengetik ini. Agar kelak, setelah Oktober berkemas. Saya tidak lupa apa yang harus saya lakukan.

Minggu, 16 Oktober 2011

Maaf, Ceritakan Padaku Kisah tentang Ranjang

Setiap yang datang akan sedikit tegang. Setiap yang pergi tak
elak menggigil. Ada rindu yang tersisa di sini.
di sprei yang putih dengan sedikit noda perih.
dan sedikit bunyi merintih.
kau boleh meretas kisah di sini. sebelum ia datang.
sebelum ia menampakkan sangarnya di balik pintu.
jika kau belum sempat pergi, kau boleh tiarap di bawah sini.
menahan napas dan kentut. agar dia tak kalut.
ada yang telah merajut cinta di tempatnya.
kau tahu? di sinilah perginya bermuara
meski kau juga tahu, singgasana ini bukan laut.

Katamu, orang-orang yang berkisah di sini
akan berakhir. aku sedikit bergidik.
aku bukan pengisah, hanya saja terkisah, kataku.
kau mengangguk.
maka aku terduduk. diam. berharap tak ada kisah
yang muncul lagi dari mulutku.
serupa tunarungu yang gagu.
kau juga hanya berdiam. menungguiku.
menungguiku menunggu pengisah.

aku berkemas. segera memakai sweater.
membuka pintu. lantas membiarkan tubuhku
melebur pada panas dan kisah.
aku tak ingin berakhir di sana.
sebab kau takpernah tahu.
apa itu lelah. mengalah.

Rabu, 12 Oktober 2011

Isyarat

Aku selalu senang belajar di kelas ini. Diam. Sepi. Kadang ada tawa, secuil saja. Sebab tak ada gunanya tertawa keras-keras. Tak akan terdengar.
Ya. Sepertinya aku sudah pernah bercerita bahwa semester ini aku mengambil kelas bahasa Isyarat. Kelas yang belajar tentang kehidupan, lebih tepatnya.
Mereka orang-orang hebat. Masih mampu menyalakan lilin terang di antara gerhana pekat. Kalau aku jadi mereka, aku takpernah tahu apa yang akan terjadi. Mungkin bunuh diri. Ah, Tuhan memang memberi cobaan takpernah lebih besar dari kemampuan hamba-Nya. Kemampuan bertahanku taklebih besar dari mereka. Dan aku menyadari itu.
Takgampang mengikuti mereka. Seperti belajar bahasa asing dari antahberantah. Tanganku kaku. Ngilu. Terlalu kelu. Ekspresiku tak mampu merayu.
Sebelum memulai kelas, tanganku harus digerak-gerakkan. Seperti gerakan pemanasan sebelum lari, mungkin. Bersama mereka, aku harus bisa mengungkapkan semua hal hanya dengan ekspresi dan gerak tangan. Ada aku. kamu. kita. Ada senja. jinggga. dan hujan.
Komposisi yang sederhana.
Tapi, aku selalu saja kesulitan menyampaikan isyarat, (mungkin) seperti halnya mereka yang kesulitan menyampaikan suara.
Kamu tahu kan aku suka berada di kelas ini? Seperti halnya aku suka berjalan di lorong-lorong sepi. sendirian. Seperti halnya aku suka memandang hujan di balik kaca. Seperti halnya aku suka mendengarmu bernyanyi.

Minggu, 09 Oktober 2011

Ayah. Ayah. Ayah



Jika sedang banyak hal seperti ini, aku jadi kangen ayah. Kangen lelucon-leluconnya yang kadang terasa garing dan kering, tapi bisa membuatku terbahak. Kadang aku hanya menyenangkannya atau memang tak ada hal lain yang patut ditertawakan.
Tak ada nasihat yang diucapkannya untuk menyederhanakan masalahku. Tapi, aku tahu. leluconnya itu untuk memastikan bahwa aku masih baik-baik saja. Leluconnya itu mewakili kalimat-kalimatnya yang (seharusnya) panjang. Yang mungkin berinti, "Ini bahu dan telinga untukmu!"
Aku sering menangis di bahunya. Meski tak kekar, tapi mampu membuatku betah berlama-lama di sana. Aku sering bercerita banyak dan ayah hanya mendengarkan. Kadang menimpali ceritaku dengan lelucon yang sama sekali tak penting. Tapi itulah yang membuatku rindu.
Ah, ayah. Selalu mampu membuatku terharu.
Aku tak tinggal serumah lagi dengan ayah. Sudah lebih dari 2 tahun. Selalu. Ayah yang memulai percakapan denganku. meneleponku. Kadang terangkat, kadang tidak. Maaf. Aku selalu (terlalu) sibuk di kota ini. Hampir tak pernah ada waktu untuk sekadar bilang, "Aku baik-baik saja," pada ayah. Senggangku ketika sudah larut. Ketika malam seperti ini. Ketika di sana sudah tak ada kehidupan lagi. Aku tak bisa menelepon ayah. Jam di dinding kamarku sudah bertengger di angka 11.35. Hampir tengah malam. Ayahku sudah terlelap, pastinya. Dan aku tak mau mengganggu istirahatnya.
Aku tahu, tak ada laki-laki yang mencintaiku melebihi dirinya, selain ayahku.
Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang harus kukerjakan. Aku ragu. Apakah aku sanggup mengerjakannya atau tidak. Jika sedang begini. Aku butuh ayah. Butuh ayah untuk menenangkanku dan mengatakan semuanya akan terselesaikan dengan baik.
Sungguh. Aku rindu ayah.


**pada kamar yang menjagaku sepanjang malam
bangunkan aku pagi-pagi agar aku bisa menelepon ayah.
jangan sampai keduluan matahari

Sabtu, 08 Oktober 2011

9 10 11

9 10 11
Seperti hitungan sebelum berlari. Bagus. Berurutan.
Itu tanggal hari ini. Mungkin tanggal terbagus sebelum kiamat. Bolehlah kukatakan seperti itu meski aku taktahu kapan kiamat.
9 10 11
Mengingatkanku pada urutan kematian. Kesempurnaan pada 9. Lantas 10 dan 11 adalah kembali pada hitungan awal: 1 2. Kembali adalah pulang, lalu mati.
9 10 11
Akhirnya aku ke Anyer. Iya, tak apa. Norak. Baru pergi sekarang.
Otakku sedikit acak hari ini. Antara senang ke Anyer dan muak dengan penghakiman.
Berkali-kali aku menulis, takperlu kita membawa palu untuk menyatakan: saya benar, kau salah.
Dunia ini terlalu berharga untuk meributkan siapa yang paling benar atau paling salah.
Baiklah. Akan sedikit kudeskripsikan. Mayoritas memang selalu mengintimidasi minoritas. Mereka lupa bahwa menjadi minoritas adalah pilihan yang wajib dihormati oleh siapa pun.
Tapi, sepertinya tidak begitu. Meskipun sebenarnya aku masuk dalam mayoritas tersebut, aku selalu merasa ada orang-orang yang teranggap salah.
Menyakitkan.
9 10 11
Jujur. Aku suka pada urutan angka ini. Nanti saja ya, aku lanjutkan. Sepulang dari Anyer jikat takterlelap.

Minggu, 02 Oktober 2011

Seruas Jalanan, antara Aku dan Kamu

Lantas kamu menghilang. Di balik sebuah lorong
yang takbertuan. Sepi.
Kemarin. Kemarinnya lagi. Aku selalu melihat
tubuhmu yang sedikit kaku di jalanan yang
setiap hari kulewati. Aku menghembuskan napas,
dan kamu menatapku berharap.
Maaf.
Taksetiap hari ada sisa receh untukmu. atau sisa rotiku
tadi pagi. syukurlah. kamu tidak tahu, ada sebotol kecil
wine yang kusimpan dalam tasku.
Tubuhmu legam. kausmu hitam.
serupa jelaga yang menempel di dinding
kamar bambu.
Aku. Kamu. di tempat ini. (tidak) jatuh cinta.
hanya saja menyimpan cerita.
Jika melihatmu, aku ingat adikku. mungkin seusiamu.
kita sering bersitatap. saling mengamati. aku selalu iba
melihatmu di situ. tidur di jalan ini. tanpa ranjang yang
bisa membuatmu menggelinjang. atau selimut yang
memelukmu lembut.
(lagi). maaf.
aku takpernah bisa membawamu ke kamarku.
jangan khawatir. aku selalu berdoa pada Tuhanku,
suatu saat kelak. kamu akan mendapat tempat yang layak.
yang bisa memberimu rasa nyaman, senyaman rasa anggur
yang membuatku tertidur.

Senin, 26 September 2011

Analisis Gender dalam Cerita “Saya, Kenangan & Hujan”

Perempuan dan laki-laki. Selalu saja menarik dibicarakan. Kali ini saya ingin sedikit sok tahu dan sedikit (saja) membahas laki-laki dan perempuan dalam sudut pandang seorang (yang mencoba menjadi) genderis.

Istilah genderis pertama kali saya dengar ketika saya mengambil mata kuliah "Gender dalam Sastra". Konsep genderis yang dimaksud oleh dosen saya tersebut adalah seseorang yang melihat laki-laki dan perempuan dalam tataran yang sama. Bukan mendukung patriarki, apalagi feminis garis keras. Seorang genderis berada di tengah. Melawan yang salah, membela yang benar. Siapa pun itu. Apa pun jenis kelaminnya. Aih, maaf. Ini bukan cerita ninja.

Menurut Relawati (2011:3), istilah gender dan seks (jenis kelamin) memiliki arti pembedaan perempuan dan laki-laki, tetapi acuan yang digunakan berbeda. Istilah seks mengacu pada perbedaan biologis, sedangkan istilah gender mengacu pada konstruksi sosial tentang peran, tugas, dan kedudukan perempuan & laki-laki.

Seks merupakan kodrat dari Tuhan yang tidak bisa dipertukarkan: perempuan menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Sementara itu, gender adalah konsep yang dibentuk masyarakat dalam kaitannya dengan relasi antara laki-laki dan perempuan. Gender dikonstruksikan secara sosial dan budaya. Konsep gender sangat dipengaruhi oleh tata nilai, perbedaan adat istiadat, budaya, dan agama. Jadi, setiap wilayah tidaklah mempunyai konsep gender yang sama. Selain itu, gender dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Tak dapat dimungkiri, dari buku-buku yang saya baca, penelitian gender lebih ditujukan kepada perempuan. Kenapa? Karena perempuan selalu dikonstruksikan sebagai makhluk yang lemah dan perlu dibela. Ah, saya sedikit tersinggung.

Dalam tulisan ini, (sekali lagi) saya akan mencoba menganalisis tulisan teman laki-laki saya dari sudut pandang seorang genderis. Dia menulis sebuah pengakuan dalam blog pribadinya. Dia memberi judul tulisannya "Saya, Kenangan & Hujan". Dari judulnya, memang, tak ada tanda-tanda dia menulis sesuatu yang berhubungan dengan gender.

Paragraf pertama dibuka dengan ungkapan rasa sukanya pada hujan. (Kalau hujan mah, saya juga suka. #lupakan)

“Sejak kecil saya menyukai hujan. Mengamati tempiasnya dari balik jendela adalah kesukaan saya. Sebab selain indah, hujan juga membuat saya merasa (ny)aman….”

Saya tidak akan membahas rasa sukanya pada hujan. Meskipun kebanyakan, pecinta hujan adalah perempuan.

Dulu, saya memiliki julukan-julukan yang sering kali membikin saya menjadi rendah diri. Saya disebut-sebut sebagai anak laki-laki yang lembut. Jarang terlibat pertengkaran, tetapi kerap disalahkan jika ada teman sepermainan yang cekcok dan pulang dengan cucuran air mata. Tapi saya tetap diam.

Itu paragraf kedua. Kalimat Saya disebut-sebut sebagai anak laki-laki yang lembut. Jarang terlibat pertengkaran. Tentu saja itu adalah pelabelan yang diberikan masyarakat kepada dia. Ini dapat digolongkan ke dalam fenomena stereotip yang ada di dalam masyarakat. “Laki-laki adalah makhluk yang kuat, tegar, suka bertengkar, tidak pernah menangis, dan sebagainya!”

Disadari atau tidak, stereotip seperti itu menciptakan pengelompokan. Pengelompokan kemayu atau tidaknya seorang laki-laki berdasarkan sering atau tidaknya mereka bertengkar. Kasihan. Lantas, pengelompokan yang menunjukkan perbedaan itu sama halnya dengan membatasi gerak seseorang? Saya rasa tidak perlu. Setiap orang memiliki pilihan untuk menentukan sifat, sikap, dan peran mereka masing-masing.

Adalah gadis kecil yang bernama Diah lah yang selalu saya hindari. Setiap kali saya bermain-main bersamanya, Diah akan menangis di setiap akhir permainan dan mengadu pada orang tuanya, bahwa saya lah yang menjadi penyebab tangisnya meledak. Lucu memang!
Sampai sekarang, saya tidak tahu apa motifnya bersikap begitu. Namun terakhir bertemu, beberapa bulan lalu, dia tampak selalu tersenyum jika berpapasan dengan saya tanpa berucap sepatah kata, bahkan sekadar salam atau say hai.

Itu paragraf ketiga dan keempat yang saya jadikan satu. Diah. Seorang gadis. Tapi, saya rasa dia mampu mengintimidasi teman saya dengan kebiasannya mengadu dan menangis. Mungkin, teman saya takpernah melawan diperlakukan seperti itu. Mungkin, teman saya sangat geram dan memilih diam. Atau mungkin, teman saya ikut-ikutan mengadu dan menangis. haha.

Diah itu perempuan. Ketika Diah menangis dan mengadu kepada orang tuanya, Diah lebih didengarkan dan diberi simpati lebih. Meskipun, misalnya, Diah yang salah. Hanya saja, konstruksi sosial yang berkembang dalam masyarakat bahwa laki-laki harus melindungi perempuan.

Sampai sekarang julukan itu turut mengiringi pertumbuhan saya dalam menjalani kedewasaan. Tak perlulah orang lain menyadari, sebab saya sendiri yang menyadarinya. Saya memang cenderung pendiam, pemalu, introvert, atau apalah itu namanya.
Suatu hari saya pernah mengikuti tes (sejenis) personal preference yang dilakukan oleh teman saya yang kuliah di jurusan psikologi. Dan pada kenyataannya, hasil yang muncul adalah saya lebih banyak mendapatkan skor nurturance ketimbang aggression. Keduanya juga tak jauh beda dengan filsafat Teoisme, dengan istilah Yin dan Yang. Itu artinya, sisi feminis lebih mendominasi saya ketimbang sisi maskulin.

Dua paragraf selanjutnya menunjukkan bahwa labelling yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar teman saya itu membawa dampak yang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan teman saya. Sifat-sifat feminin (mungkin) lebih banyak ditemukan dalam diri teman saya tersebut. Ya, tak ada yang salah dengan sifat mana yang lebih mendominasi. Sungguh. Feminin atau maskulin sama saja atau bahkan androgini pun memiliki hak yang sama.

Ah iya, saya jadi teringat kuliah siang tadi bahwa tak ada agama satu pun yang berat sebelah. Artinya, semua agama menganggap laki-laki dan perempuan memiliki harkat dan martabat yang sama. Kitab-kitab suci yang dianut oleh umat beragama pun tak ada yang mengajari sistem patriarki.

Tapi ingat, ini bukan masalah jenis kelamin, tetapi energi kehidupan!

Ya, ini bukan tentang seks, tapi gender. Gender dibuat manusia. Manusia yang mengotak-kotakkan apa yang pantas dan yang tidak pantas dilakukan oleh laki-laki dan perempuan.

Dulu, sebutan-sebutan itu membuat saya merasa sedih. Saya menyadari bahwa saya memang seorang yang sensitif dan tertutup. Saya cenderung lembut dibandingkan anak laki-laki seusia saya dan lebih suka tinggal di rumah sembari membaca, menggambar, dan menulis puisi. Kalau pun bermain di luar saya lebih suka sendirian, atau ditemani oleh sahabat kecil saya, Rahmad, yang sekarang pun telah menghilang bak ditelan bandang.

Paragraf terakhir yang saya analisis—fiuh! akhirnya—haha.

Dia menegaskan kembali bahwa sisi feminin dan kelembutannya memang lebih dominan. Dia lebih senang tinggal di rumah—streotip untuk perempuan yang lebih senang melakukan pekerjaan domestik.

Hidup lebih berwarna justru mengajarkan kita agar tidak mudah menghakimi seseorang atas dasar saya benar, kamu salah. Begitu juga dengan sifat, sikap, dan peran seseorang. Tak ada salahnya jika perempuan harus bekerja di sektor publik atau tidak menangis ketika ditimpa kesedihan. Mereka tetap perempuan meski ada sisi maskulin di dalam dirinya. Hal itu juga berlaku pada laki-laki. Tak ada salahnya jika laki-laki mempunyai kelembutan hati atau menangis ketika menonton drama Korea, misalnya. Mereka tetap laki-laki meski sisi feminin lebih dominan.

Saya beruntung, saya dididik dalam keluarga yang demokratis. Yang menghormati pilihan saya. Dan yang telah mendidik saya untuk menjadi perempuan yang bisa melakukan pekerjaan apa pun. Saya memasak ketika pagi dan mencuci mobil ketika sore. Saya menulis menjelang pagi, belajar ketika pagi, dan mengajar menjelang petang. Saya menyapu rumah dan juga mengganti bohlam lampu. Saya dapat memperbaiki perabotan rumah yang rusak. Kadang, saya harus mengangkat galon air mineral. Tak jarang pula saya harus tampil anggun ketika akan ke pesta. Tak ada yang menyebut saya laki-laki. Saya perempuan. Saya bangga menjadi perempuan.

Ya, setelah saya membaca tulisan teman saya tersebut, saya berharap tidak ada lagi orang-orang yang membawa palu lantas mengetukkannya di mana-mana. Dan, suatu saat nanti, saya juga berharap akan menganggap biasa laki-laki yang menangis atau perempuan yang mengangkat besi. Mereka punya pilihan hidup yang harus dihormati oleh siapa pun.

 

Daftar Referensi:

Jumali. 2011. “Saya, Kenangan & Hujan”. (online) http://tepi-langit.blogspot.com/2011/09/saya-kenangan-hujan.html

Mulia, Samuel. 2011. “Bencong…!”. Kompas, 11 September 2011, hlm. 13

Relawati, Rahayu. 2011. Konsep dan Aplikasi Penelitian Gender. Bandung: Muara Indah

Sabtu, 24 September 2011

Sekadar Cerita Lalu tentang Hujan dan Pulang

Langit menjingga. Kelas terakhir hari ini baru saja usai. Sudah pukul lima. Biasanya, kuliahku tidak sesore ini. Kampus sudah mulai sepi. Hanya terlihat beberapa pegawai yang mengecek ruang kelas yang terkunci.
Kurapikan tasku, lalu mengecek barang-barangku. Mungkin kurang sesuatu. Atau lebih sesuatu. Ah, tak perlu.
Aku berjalan pelan. Menikmati setiap langkah di koridor ruangan. Di luar semakin sepi, jingga yang kupikirkan pada langit sudah berganti warna. Mungkin menghitam atau mengabu. Ada tetes-tetes mungil yang menitik di map dan bajuku. Bau hujan. Mungkin sebentar lagi dia datang. Hujan. Aku suka berlindung di bawahnya. Menikmati setiap tetesnya. Membiarkan tubuhku basah. Hujan selalu membuatku betah berlama-lama di luar.
Rintik air semakin kerap dan lebat. Kulambatkan langkahku. Menyusun ingatanku tentang hujan dan semuanya. Kampusku terlalu panjang dan luas untuk dilewati, kadang kusyukuri, kadang kurutuki. Kali ini aku bersyukur.
Syukur. Ah, iya. Kata itu selalu mengingatkanku pada semua hal yang Tuhan berikan padaku. Aku teringat, kelas terakhir yang kutinggalkan hari ini adalah kelas Bahasa Isyarat. Aku yang mendengar dipaksa untuk diam dan takmendengar di kelas itu. Semua menggunakan isyarat. Tanganku kaku. Mulutku kelu.
Aku kagum. Pengajar-pengajarku adalah orang-orang tunarungu. Manusia-manusia yang dipilih Tuhan untuk menerima kelebihan--jika tidak ingin mengatakan itu sebuah keterbatasan. Mereka bisa menangkap isyarat dengan benar. Tanpa kata. Mampu memahami dan "mendengarkan" orang lain. Aku selalu terharu ketika melihat mereka mengajar. Ada lelatu yang meluap-luap. Membuatku malu dan terkesiap. Kurasa, kepekaan mereka jauh lebih besar daripada orang-orang yang mengaku bisa mendengar dan berbicara.
Langkahku semakin pelan. Hujan semakin bergairah. Kupandangi rusa-rusa yang teronggok kedinginan di kandangnya. Setiap hari aku melihat rusa-rusa itu. Mereka menatap nanar setiap orang yang lewat. Mungkin lapar, mungkin mengaduh. Rusa-rusa itu semakin kurus. Ah, menyedihkan. Jatah makannya dimakan anjing rektor atau malah dimakan rektor? Ups. Aku takboleh membicarakan ini di depan umum. Maaf. Sedikit keceplosan.
Jalanan semakin basah. Kandang rusa di sisi kiriku, hutan di sisi kananku. Oh, ini kampus atau tempat wisata. Entahlah. Aku takpeduli. Aku berjalan saja. Menuju stasiun. Suara sirine kereta datang dan berangkat menambah riuh denting hujan. Memekikkan sekaligus menikmatkan. Aku juga selalu suka stasiun. Bangku peron yang memanjang. Orang-orang yang lalulalang. Ada penantian panjang. Ada pertemuan dan perpisahan. Kehilangan dan proses menemukan. Stasiun punya cerita itu. Kalau tidak hujan, aku sering mampir ke stasiun ini, sekadar duduk di peron. Melihat orang-orang bergegas keluar dan masuk. Mendengar dengung sirine. Melihat pengamen berceloteh tentang hidupnya yang malang. Atau menunggu penjual permen menjajakan dagangannya. Semuanya indah.
Lantas, aku menyusuri lorong belakang stasiun. Genangan air di mana-mana. Atau jika hari panas, tempat ini seperti neraka yang menawarkan keeksotisan oven 100 derajat celcius. Terlalu berlebihan memang, tapi panas di tempat itu memang mampu membuatku meleleh. Aku takbetah berlama-lama di sana.
Setelah itu, aku harus melewati jalanan lebar yang takberperikemanusiaan. Mesin-mesin bergerak itu takpunya hati, termasuk pengemudinya. Aku selalu berhenti sejenak di tepi jalan, menunggu orang yang punya kepentingan yang sama denganku: menyeberang! Aku hanya berani menyeberang ketika banyak orang. Jalanan ini seperti ibu yang takbertanggung jawab. Yang membiarkan anak-anaknya berlarian taktentu arah. Tanpa arahan. Tanpa pegangan.
Sederhana. Aku hanya ingin dibangun jembatan penyebrangan di jalan ini. Hanya itu.
Setelahnya, aku harus berjalan melewati gang yang sedikit lebar. Selalu. Bau makanan yang tercium di gang ini mampu membuat nafsu makanku meningkat drastis. Jika di gang ini, aku suka berjalan di sebelah kanan. Aku suka melihat wajah orang-orang yang berpapasan denganku. Meski aku tahu: aku tak pernah mengenal mereka.
Gang yang kulewati masih cukup lebar dibandingkan dengan gang yang menuju kamarku. Gang menuju kamarku berada di antara tembok dari dua rumah yang menjulang. Di sepanjang jalan gang ini, ada banyak tai kucing. Kucing-kucing itu tak punya malu untuk berak sembarangan. Persetan dengan tai kucing! Aku bisa menghindarinya dengan meloncat. Seperti menari di atas panggung. Mungkin, setelah ini akan ada tarian tai kucing. haha
Kamarku ada di ujung gang. Sederhana. Namun selalu membuatku (ny)aman. Aku membuka pintu kamarku dengan segera. Baju dan tubuhku basah dan dingin. Aku takpernah tahan dengan dingin yang berlama-lama di tubuhku. Segera kuganti bajuku dengan kaos oblong dan celana pendek. Ini nyaman.
Di luar masih hujan. Jalanan depan kosku terlalu sepi. Hanya rintik hujan dan kodok. Sudah pukul enam. Biasanya senja datang dengan warna jingga atau orange yang menyala dan menyilaukan. Indah. Tapi senja kali ini takkurang indah. Ada hujan.
Aku duduk di jendela. Memandangi rintik hujan. Entah sampai kapan ku di sini. Mungkin sampai hujan berhenti atau sampai senja menghilang.

Rabu, 21 September 2011

Sendiri

Sendiri selalu menyenangkan. Seperti kali ini. Di sana ramai. Banyak orang. Hanya saja aku di sudut sendiri. Ya. Kali ini aku ingin menulis. Ingin bercerita. Aku sedang di café sekarang. Café yang terletak di dalam gedung pertunjukan Salihara. Menunggu acara. Menunggui orang-orang bercengkerama. Aku memesan roti—entah apa namanya—dan es teh manis. Roti tawar yang dibakar. Dua iris. Di sampingnya ada semangkok kecil saus yang berisi telur setengah matang, irisan tomat dan bawang bombay, serta mayonaisse. Dari namanya, kukira rasanya manis. Ternyata tidak. Gurih. Tak ada yang istimewa. Hanya saja aku sendiri. Itu menjadi lebih nikmat. Hanya satu yang tak kulakukan jika di café seperti ini: merokok. Sungguh. Aku tak suka bau rokok. Apalagi mengisapnya.

Sekarang pukul berapa? Mungkin 6.45. Pukul tujuh nanti, aku akan ke atas. Menaiki tangga kecil yang ada di balik café ini. Lalu, aku akan duduk di sana untuk mendengarkan ceramah. Ceramah dari Sapardi Djoko Damono. Aku sudah pernah bercerita bukan? Jika aku suka Sapardi Djoko Damono.

Aku tidak tahu apa yang akan dibicarakan di sana nanti. Katanya tentang “Kesusastraan Indonesia sebelum Kemerdekaan”. Bahasan yang menarik sepertinya. Ya ya ya. Kesusastraan memang selalu menarik dibicarakan dan didengarkan.

Minggu lalu—di hari yang sama—aku juga ke sini. Tapi tidak mampir ke café. Pembicaraan mengenai gender dan kekuasaan pada tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer yang menjadi bahasannya. Menarik. Minggu lalu, aku bisa mengobrol dengan Ayu Utami. Ah, iya. Penulis itu. Penulis yang membuatku tergila-gila pada sastra.Seperti mimpi.

Sebentar, aku ingin kembali lagi bercerita tentang suasana café ini. tak terlalu luas. tapi cukup nyaman untuk menulis. Hanya diterangi lampu 5 watt di setiap meja. Tak berisik, tapi juga tak sepi. Aku satu-satunya orang yang memakai jilbab di sini. Lainnya adalah orang-orang yang sepertinya bebas dengan hidupnya. Ngobrol. Nongkrong. Merokok. Tertawa. Dan mungkin secuil dari kegiatan mereka adalah untuk mencari ide. Berbagi cerita. Menyenangkan. Ah, tapi hidupku juga tak kalah menyenangkannya dari mereka.

Sudah pukul tujuh. Acara segera dimulai. Aku harus segera membayar pesananku. Dan aku harus segera naik. Duduk manis mendengarkan ceramah. Rotinya mengeyangkan atau membuat eneg. Entahllah. Aku tak tahu antara dua itu. Lain kali saja aku meneruskan ceritaku. Aku senang di sini.

Jumat, 26 Agustus 2011

Sangat Cinta Sapardi Djoko Damono!




Sudah lama saya tidak menulis. Lama sekali. Mungkin sebelum lebaran tahun lalu. Sekarang hampir lebaran lagi. Ada kerinduan. Ada gejolak tertahan. Dulu. Saya suka sekali menulis puisi. Masa-masa labil. Sekarang pun saya masih sangat menikmati puisi. Hanya menikmati. Tak lagi bisa menulis puisi seperti dulu. Sepertinya, puisi-puisi saya sekarang tak bernyawa. Tak pernah hidup.
Ya, tentu saja beda sekali dengan puisi-puisinya maestro. Sapardi Djoko Damono, misalnya. Dari saya mengenal puisi hingga saya menjadi puisi, saya masih sangat mengagumi puisi-puisinya Sapardi. Yang mana pun. Yang dalam kumpulan apa pun.
Saya beruntung. Saya kebetulan bisa berkuliah di jurusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia. Ya. Itu adalah rumah bernaung Sapardi Djoko Damono. Saya cinta dia! Ah.
Beberapa kali saya bertemu dengan beliau, dari sekadar lewat lalu saya memandanginya hingga punggungnya menghilang, sampai saya duduk di depannya untuk menyaksikannya membaca puisinya. Romantis sepertinya. Haha.
Kalau saja. Ya. Kalau saja. Sapardi masih seumuran saya. Saya tidak akan mampu menolak untuk menjadi kekasihnya. Aduh, saya mulai ngelantur.
Suatu ketika, saya harus tertegun, ketika beliau ngomong bahwa sampai sekarang beliau belum menikah. Ah, penyair. Entah. Usianya mungkin lebih dari 70 tahun. Kekasihnya beda agama. Masing-masing dari mereka masih sangat mencintai Tuhannya. Tak ada yang mengalah, sepertinya.
Miris.
Beberapa waktu lalu, saya kembali bertemu dengan beliau dalam acara Renungan Malam Kemerdekaan yang diadakan oleh Rektor Universitas Indonesia. Acaranya romantis dan eksotis. Bertempat di audit perpustakaan pusat UI, di depan danau dan rektorat. Ada banyak lilin sebab acaranya tengah malam. Sapardi membacakan sajaknya yang berjudul "Kemerdekaan". Benar-benar bagus, seperti biasanya. Analogi yang digunakannya sungguh takterpikirkan oleh otak saya.
Ah, kalau ada yang tanya, puisi Sapardi yang paling saya suka apa. Saya bingung harus menjawab apa. Sebab, hampir semua puisinya saya suka. Tapi, ada satu puisi yang sering membuat saya menarik napas, yaitu "Sajak Kecil tentang Cinta".

Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku

Ya, itulah liriknya. Sederhana. Hanya saja ada konsep yang ditawarkan oleh Sapardi. Mencintai adalah meleburnya dua menjadi satu. Angin dan siut, air dan ricik, gunung dan terjal, api dan jilat, cakrawala dan jarak adalah dua hal yang takpernah terpisah. Manunggal. Satu. Saya jadi teringat konsep "Manunggaling Kawula Gusti" atau bersatunya hamba dengan Tuhannya. Begitulah kira-kira yang ingin disampaikan oleh Sapardi. Mencintai sesuatu berarti harus siap menjadi seperti sesuatu tersebut.
Ah, yang membuat saya sedikit merinding itu adalah lirik "Mencintaimu harus menjelma aku". Saya suka kalimat ini. Suka sekali. Ya. Jika saya mencintai seseorang, saya sudah merasa bahwa diri saya adalah bagian daripadanya. Saya dan dia adalah satu hal yang menjadi dua hal. Sehingga, saya cukup menjelma menjadi "aku" untuk dapat menyatu kembali dengannya.
Ah, romantis.


*gambar dari google.co.id

Senin, 22 Agustus 2011

Rummikub





Kita melingkar. Berempat. Di meja makan. Aku. Kau. Kamu. Dan Engkau. Kita cepat-cepat menyelesaikan makan malam agar cepat-cepat pula memainkan permainan.
Dulu aku selalu mengelak memainkan ini. Otakku pusing. Alasanku saat itu. Tapi Kau selalu memaksa. Aku mengalah. Dengan sigap, Kamu membalikkan buah-buah Rummikub agar tertutup. Aku sedikit membantumu. Permainan dimulai. Seperti biasa. Tujuh buah untukku. Tujuh buah untuk Kau. Tujuh buah untuk Kamu. Dan tujuh buah untuk Engkau. Kujejerkan buahku di papan penyangganya. Aku merengut. Angka-angka yang tertera di buahku tak berkompromi kali ini. Kulihat Kau biasa saja. Itu ekspresi yang rutin Kau tampakkan. Lalu kutatap raut mukamu. Tersenyum getir. Ah, mungkin itu kepura-puraanmu saja. Sementara Engkau? Sudah sedikit menggebrak-gebrak meja. Kutahu. Angkamu bukan maumu.
Kau selalu memulai permainan. Lalu kamu. Engkau. Dan terakhir aku. Angkaku belum juga pantas keluar. Sementara kalian sudah mencapai angka 30. Buahku semakin berkembang biak. Aku menahan napas. Buahmu tinggal beberapa, mungkin.
Akhirnya, angkaku mencapai 30 juga. 10 merah, 10 jingga, dan 10 biru. Kombinasi yang romantis.
Permainan semakin gerah. Kau selalu mendominasi permainan ini. Memakan waktu lama-lama untuk giliranmu. Untuk mengombinasikan angka-angka di meja agar angka punyamu habis.
Aku santai-santai saja. Meskipun takpernah tahu apa yang terjadi dengan angkaku selanjutnya.
Ah, jika bermain seperti ini. Aku teringat hidup.
"Apa hubungannya?" Engkau ikut campur dengan pikiranku.
Bermain Rummikub itu seperti hidup. Angka-angka yang kita pilih itu garis takdir kita. Kita asal memilih. Takpernah tahu berapa angka yang kita terima.
"Ah, ngaco!" Kau tiba-tiba datang menyusup di teoriku.
Buktikan saja. Kita takbisa menolak atau mengembalikan angka-angka itu ke tempat semula. Sama seperti takdir kita. Kita memilih menang atau kalah dengan angka yang ada. Semua tergantung kecerdasan kita mengombinasikan angka-angka kita dengan angka-angka lawan kita.
"Dasar bodoh! Ini hanya permainan!" Kamu mencercaku. Padahal Kamu yang mengenalkan permainan ini padaku. Katamu, ini dari negeri Kincir Angin. Aku percaya saja.
Permainan kadang-kadang terinspirasi dari hidup. Atau hidup yang terinspirasi dari permainan? Retoris!
Angka-angka itu akan tetap menjadi angka yang takberguna jika kita terlalu bodoh mengakalinya. Lawan pun taksepenuhnya membahayakan. Kadangkala, kita membutuhkan joker darinya untuk menyelamatkan angka kita. Menyelamatkan hidup kita dari kekalahan yang memalukan.
Kalah. Menang. Kalah. Hidup. Hidup. Mati. Hidup. Mati. Sungguh. Itu semua pilihan. Pilihan yang kadang kita takbisa memilih. Aku takpernah memilih hidup. Begitu juga aku takpernah memilih mati. Tapi itu pasti. Aku hidup. Aku pasti akan mati. Aku mati. Aku pasti tak akan hidup.
"Tik.. tik.. Rummikub!" teriakmu memecah keheningan. Itu kalimat wajib diucapkan ketika angka-angka di papan penyangga kita telah habis. Entah. Itu aturan internasional ataukah hanya aturan kita? Aku takpernah bertanya padamu.
Aku terbengong. Kalah lagi. Sudah sekian putaran aku belum juga menjadi pemenang. Tak apa.
Kulihat angka di papan penyanggaku masih banyak. Mungkin lima buah. Tak ada yang cocok. Aku kalah telak. Kalian menang lagi.
Baiklah. Aku akan ke dapur. Membawakan kalian jus jambu merah dan setoples kacang tupai.
Aku meletakkan jus dan kacang tepat di atas meja makan. Aku menunggu kalian memakannya. Sebab aku kalah. Aku takboleh makan.
Bergeming. Tak ada suara. Kalian belum juga ada yang menuang jus jambu segar ataukah membuka tutup toples kacang tupai. Hening.
Tiba-tiba Engkau menangis. Memandang buah-buah Rummikub yang berserakan. Kau hanya menatap kosong ke arahku. Sementara Kamu berkali-kali menarik napas panjang.
Tak biasanya.
Ayoo, jus jambu merah dan kacang tupai sudah menunggu! Segera makan dan minum. Lalu, permainan dilanjutkan! Teriakku pada kalian.
Percuma, sepertinya.
Tak ada yang mendengarkanku.
Ayoolah, aku ingin bermain. rengekku pada kalian. Geming.
Kamu menggeleng. Lalu, kalian menangis.
Oh, Tuhan! Aku hanya ingin bermain Rummikub seperti biasanya. Umpatku pada Tuhan.
Seperti biasanya, Tuhan diam.
Kamu memandangku sekali lagi. Tapi tak memandang mataku. Hanya menatap lurus pada kursi yang kududuki.
"Sudahlah, dia tak akan kembali. Kereta senja tak pernah memulangkan penumpangnya!" Kau mengusap lembut punggungmu. Lantas, kamu mengusap lembut kursiku. Bukan aku!
Apa maksudmu? Teriakku.
Takpernah ada jawaban. Hingga nanti.

Kematian





Kematian itu pasti. Bukan lagi unda-undi undian.
Aku mati. Kamu mati. Entah kapan.

Ah, kematian. Selalu mengingatkanku pada Tuhan. Pada-Nya yang kelak aku kembali. Ada takut. Ada bahagia.
Mungkin saja, ini tulisanku yang terakhir. Mungkin saja setelah ini Izrail membawaku menghadap-Nya. Kalau saja. Ya, kalau saja setiap saat orang-orang itu ingat mati. Takkan pernah ada orang yang mati-matian mengejar harta seperti orang-orang brengsek yang sering muncul di televisi. Aku muak.
Banyak cara menuju kehidupan yang abadi. Entah. Aku akan menghadap-Nya dengan cara seperti apa. Mungkin sakit. Mungkin terlempar. Mungkin tiba-tiba. Mungkin terjatuh. Tak tahu. Hanya saja. Aku ingin menghadap-Nya dalam keadaan baik. Agar Tuhan pun berkenan menerimaku dengan baik.
Kemarin. Aku teringat semua cerita kematian. Ketika aku tiba-tiba merasa waktuku segera tiba. Aku menggigil.

Dua orang perempuan cantik pergi setelah dibawa kebut-kebutan oleh temannya.
Tiga orang harus rela terseret kereta api lantas meninggal begitu saja.
Dua belas remaja gereja terlempar dari truk yang dinaikinya sepulang dari Retreet Gereja.
Lima belas orang masuk ke jurang bersama bus yang ditumpanginya.


Itu kecelakaan. Rencana Tuhan. Hanya saja itu hanya terjadi dalam waktu seminggu. Entahlah. Pertanda apa.
Lantas, temanku berceloteh.
"Hati-hati ya, lebaran tahun ini hari selasa. Selasa itu berelemen api. Panas. Jadi banyak hal-hal yang tidak diinginkan akan terjadi."
Aku hanya mengangkat bahu. Antara percaya dan tidak.
Semua manusia takpernah meminta untuk dilahirkan. Tidak pernah terpikirkan untuk mengemban tugas hidup yang tak sederhana. Semua terjadi begitu saja. Kita memang takbisa menentukan. Hanya saja kita bisa memilih meskipun terkadang kita terjebak pada pilihan simalakama.

Rabu, 10 Agustus 2011

Deskripsi Acara Simposium Nasional Bahasa Indonesia, sekaligus Rekruitmen Terbuka

Tema Acara
“Membangun Paradigma Mahasiswa Bangga Berbahasa Indonesia”

Deskripsi Acara
Simposium Nasional Bahasa Indonesia 2011 merupakan kegiatan yang membahas isu bahasa mutakhir atau hasil pemikiran kritis mahasiswa terhadap permasalahan bahasa Indonesia. Hal ini diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga berbahasa Indonesia di dalam diri setiap mahasiswa, khususnya program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, baik pendidikan maupun nonpendidikan.
Setiap perguruan tinggi di Indonesia—negeri ataupun swasta—yang memiliki program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, baik pendidikan maupun nonpendidikan berhak mengirimkan maksimal lima delegasi untuk mengikuti serangkaian acara Simposium Nasional Bahasa Indonesia 2011. Simposium ini didahului dengan pengiriman esai dari peserta simposium. Pengiriman esai ini bertujuan agar peserta sudah sedikit memahami materi dasar simposium ini.

Tanggal 25 Oktober 2011, peserta mengikuti pembukaan Falasido sekaligus pembukaan resmi simposium. Pukul 10.15, simposium dibuka. Materi simposium pertama disampaikan oleh pembicara I. Pembicara I menjelaskan materi: "Masalah bahasa Indonesia yang sesungguhnya". Dalam materi ini, diharapkan pembicara dapat mengungkap fakta-fakta mengenai permasalahan bahasa Indonesia yang berbeda dari yang sering dibahas selama ini.

Setelah pembicara I selesai, materi dilanjutkan oleh pembicara II. Pembicara II membahas materi: "Bahasa Indonesia dalam dunia literatur dan arsitektur". Materi yang diharapkan dari pembicara II menyangkut perkembangan bahasa Indonesia dalam dunia literatur. Selain itu, ditunjukkan pula bagaimana bahasa Indonesia juga sangat berkembang di dunia arsitektur.

Setelah pembicara II selesai, materi akan dilanjutkan oleh pembicara III yang membahas materi: "Peranan bahasa Indonesia dalam dunia global, khususnya perfilman". Materi yang disampaikan hampir sama dengan pembicara II, hanya saja dunia yang dibahas adalah dunia perfilman. Hal ini bertujuan untuk membuka paradigma mahasiswa agar mengetahui cakupan luas bahasa Indonesia.

Setelah semua pembicara menyampaikan materi, sesi tanya jawab dimulai. Ada waktu sekitar 1,5 jam untuk tanya jawab. Tanya jawab dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama (45 menit) dibuka dengan 3 pertanyaan dari peserta. Pertanyaan dihimpun kemudian dijawab setelah semua pertanyaan selesai diungkapkan. Apabila jawaban tidak mencukupi dalam waktu 45 menit, panitia memberikan tenggang waktu 10 menit dengan konsekuensi sesi berikutnya hanya berisi 2 pertanyaan dari peserta.

Setelah semua peserta lengkap, peserta diantar kembali ke asrama menggunakan BIKUN. Setelah kembali ke asrama, peserta ditugaskan untuk membentuk opini masing-masing universitas mengenai simposium yang telah berlangsung. Ketentuan penulisan ditentukan panita. Hasil rumusan setiap universitas itu akan dibacakan di simposium hari kedua, tanggal 26 Oktober 2011. Dengan demikian, muncullah sebuah gagasan yang satu dari semua peserta yang hadir mengenai bahasa Indonesia. Hasil tersebut nanti akan dibacakan saat penutupan acara Festival Bulan Bahasa Indonesia.
Pada tanggal 27 Oktober 2011, peserta akan diajak berkeliling kota Jakarta oleh panitia. 28 Oktober 2011, peserta diperbolehkan pulang. PJ transportasi mengantarkan peserta ke tujuan masing-masing (terminal, stasiun, atau bandara). Pengantaran dilakukan menggunakan BIKUN secara kolektif dan dimulai pukul 08.00 WIB. Hal ini menghindari keterlambatan peserta.

Tujuan Umum Kegiatan
Memfasilitasi mahasiswa program studi Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia untuk mendiskusikan masalah bahasa Indonesia mutakhir.

Tujuan Khusus Kegiatan
Peserta memahami masalah bahasa Indonesia mutakhir sehingga dapat merumuskan simpulan dan solusi. Hasil dari simposium diharapkan dapat dibukukan.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari pertama:
hari, tanggal : Selasa, 25 Oktober 2011
pukul : 13.00—17.00 WIB
tempat : Aula Gedung I, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Kampus Baru UI

Hari kedua:
hari, tanggal : Rabu, 26 Oktober 2011
pukul : 08.15—17.00 WIB
tempat : Aula Gedung I, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Kampus Baru UI

Bentuk Kegiatan
Ceramah, tanya jawab, diskusi, dan perumusan hasil materi simposium

Nama Pembicara
1. Felicia N. Utorodewo, Direktur Quality Improvement Teachers and Education Personel (QITEP) Languange, Dosen Sastra Indonesia UI.
2. Avianti Armand, Penulis, Arsitek
3. Hanung Bramantyo, sutradara

Rincian Materi yang Diharapkan

Pembicara I (Felicia N. Utorodewo)
Hari pertama:
"Permasalahan bahasa Indonesia yang sesungguhnya"

Pembicara II (Avianti Armand)
Hari pertama:
"Bahasa Indonesia dalam dunia literatur dan arsitektur"

Pembicara III (Hanung Bramantyo)
Hari pertama:
"Peranan bahasa Indonesia dalam dunia global, khususnya perfilman"

Struktur Kepanitiaan :

PJ Simposium : Fitria Sis Nariswari (I'a)
PJ Konsumsi : Anisya Noviani (Vini)
PJ Humas : _________________
PJ Dokumentasi : _________________
Koorlap : _________________
PJ Transportasi : _________________
PJ Penginapan : _________________
Registrasi : Sapuroh (Sasa)
LO : Dyah Mustikasari
Materi : Inung Imtihani
Perlengkapan : Kiki Rustina

Deskripsi Kerja

• Tugas Konsumsi
1. Menyediakan konsumsi untuk pembicara, peserta, dan panitia. Konsumsi terdiri atas makanan utama dan kue.
2. Berkoordinasi dengan divisi registrasi peserta untuk memastikan jumlah peserta.

• Tugas PJ Humas
1. Memastikan alamat perguruan tinggi yang akan diundang valid
2. Menyebarluaskan undangan simposium ke perguruan tinggi negeri dan swasta yang memiliki jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, baik pendidikan maupun nonpendidikan.
3. Mengirim undangan melalui pos atau surat elektronik

• Tugas PJ Dokumentasi
1. Mendokumentasikan setiap acara dalam simposium, baik prasimposium maupun pascasimposium
2. Mendokumentasikan dokumen-dokumen penting, termasuk esai dari setiap universitas dan hasil simposium

• Tugas Koorlap
1. Mengatur dan mengawasi jalannya simposium
2. Memastikan acara berjalan sesuai dengan konsep

• Tugas Materi
1. Bertanggung jawab atas materi selama acara berlangsung
2. Mengatur materi dari pembicara (membuat batasan materi)

• Tugas Registrasi Peserta
1. Mendaftar peserta yang mengikuti serangkaian acara simposium
2. Menerima pembayaran dari peserta
3. Bertanggung jawab atas pembayaran dari peserta
4. Mengarsip data peserta symposium
5. Berkoordinasi dengan LO, divisi asrama, dan divisi konsumsi

• Tugas PJ Perlengkapan
1. Belanja keperluan simposium
2. Memastikan semua peserta simposium mendapat perlengkapan yang dibutuhkan (seminar kit)
3. Berkoordinasi dengan divisi registrasi peserta untuk jumlah peserta

• Tugas LO
- Peserta
1. Menjadi pusat informasi untuk peserta sebelum simposium dimulai (peserta masih di universitas masing-masing)
2. Mendampingi peserta dari awal tiba di asrama mahasiswa UI hingga akhir acara

- Pembicara
1. Menjadi pusat informasi untuk pembicara
2. Mendampingi pembicara dari awal hingga akhir acara apabila diperlukan oleh pembicara

- Moderator
1. Menjadi pusat informasi untuk moderator
2. Mendampingi moderator dari awal hingga akhir acara apabila diperlukan oleh moderator


• Tugas Transportasi
1. Menjadi narahubung untuk peserta yang mengonfirmasi kedatangan
2. Menjemput dan mengantar peserta simposium ke terminal, stasiun, atau bandara.
3. Mengetahui alat transportasi yang digunakan untuk peserta. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi peserta yang misstransportasi

• Tugas Penginapan
1. Bertanggung jawab terhadap kunci asrama.
2. Berkoordinasi dengan divisi registrasi peserta untuk menentukan jumlah kamar asrama yang disewa yang disesusaikan dengan jumlah peserta (laki-laki dan perempuan)
3. Berkoordinasi dengan LO peserta untuk menyerahkan kunci kamar asrama agar peserta terfasilitasi dengan nyaman


Teman-teman IKSI, apabila berminat menjadi salah satu panitianya, segera kirimkan sms ke nomor 085649180457 ya...
Ditunggu sampai tanggal 13 Agustus 2011.

Sabtu, 30 Juli 2011

Untukmu yang di Sana.

Tibatiba aku ingin menulis puisi. Menuangkannya dalam
cangkir. Seolah kopi yang teraduk. Lalu, air yang bening
sedikit menghitam. Mungkin, selegam senja yang berjelaga.
Tubuhnya renta. Wanginya resah. Setia mendengarku
bercerita.

Rindu.

Satu kata itu. Sedikit mewakili perasaanku yang membuncah.
Aku rindu dekapan hangatnya. Terlebih pada bulan-bulan ini.
Kumandang kalimat Tuhan membahana. Memenuhi buana. Aku
teringat. Canda tawanya ketika memelukku erat. Di antara
ruang kalimat nasehat.

Engkau di mana?
Berkali kugetarkan kalimat itu di bibirku. Warna biru karena
gigil taklagi kupeduli.
Tak pernah ada jawaban.
Susunan aksaraku mungkin taksampai padanya. Biarlah.
Biar aku yang terus mengeja namanya.

Sekarang aku tahu. Mengapa kita tiba-tiba hidup bersama.
Juga sebaliknya. Remah-remah kenangan yang kita susun
bersama, suatu saat akan berkata, “Aku panas dalam sakitmu,"

Kembali. Masing-masing dari kita juga suatu saat akan
kembali. Menjadi bayi yang takpeduli. Hanya saja,
dia kembali terlalu cepat. Menyisakan sedikit
rindu yang tak hangat. Menyesakkan.

Ah, Kakek. Selalu mampu membuatku rindu.
Ketika bulan suci ini mulai bermadu.

Senin, 04 Juli 2011

Tahu Apa Kau tentang Bahasa Kita?

Tiba-tiba saja saya ingin. Entahlah. Mungkin ini dorongan hati saya sebab saya mencintai bahasa saya seperti saya mencintai diri saya. Ah, ini terlalu berlebihan. Menurut definisi ilmiah, bahasa adalah 'sistem tanda bunyi yang disepakati bersama untuk digunakan berkomunikasi, bekerja sama, dan mengidentifikasi diri'.
Bahasa bersifat arbitrer 'suka-suka; manasuka'. Tidak ada aturan yang pasti mengapa ini disebut blog, itu disebut cinta. Ah, semakin ngelantur nih contohnya. Intinya, bahasa adalah kesepakatan. Jadi, jangan heran kalau sekarang banyak bermunculan 'bahasa baru' yang semakin meramaikan negeri ini. :)
Yang penting, orang mengerti apa yang kita bicarakan. Oke selesai semua urusan. Tata bahasa juga sebenarnya tak begitu penting di percakapan. Apalagi grammar ini grammar itu. Percaya deh, semuanya itu akan menganggu komunikasi dan menghambat pesan yang ingin disampaikan.
Hanya saja, orang sering salah kaprah mengenai tata bahasa ini. Banyak orang mengira, jurusan Sastra Indonesia--seperti saya sekarang--haruslah benar tata bahasanya ketika ngomong. Harus sesuai dengan EYD atau apa pun itulah namanya. Ah, ini juga terlalu berlebihan. Tidaklah seseorang harus benar semua ejaannya ketika berbicara. Ya, beberapa orang memang seolah-olah mewajibkan kita harus memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar di mana pun tempatnya. Tak salah memang. Malah ini positif. Namun, jika saran ini dilakukan, bayangkan berapa waktu kita habiskan untuk bertanya kepada teman, "Sudah makan belum?". Tidak dapat diprediksi betapa membosankannya percakapan kita dengan teman kita.
Meskipun demikian, hal seperti ini tidak membuat kita serta merta melupakan segala kewajiban kita berbahasa Indonesia. Ya. Selayaknya hidup, penggunaan bahasa kita juga harus semestinya. Melihat situasi dan kondisi. Dalam ragam ilmiah, kita harus mengikuti semua aturan tata bahasa Indonesia dan menggunakan ejaan yang disempurnakan. Sementara itu, kita tidak diharamkan memakai bahasa gaul, bahkan alay, jika memang situasinya mendukung. Saya selalu berusaha menempatkan diri saya ke dalam situasi dan kondisi. Jika saya sedang menulis blog seperti ini, bahasa jurnalistiklah yang saya gunakan. Namun, saya tidak akan pernah mencoba menulis dengan bahasa seperti ini dalam penulisan makalah. Bisa dijitak dosen saya. haha
Kalau masih takpercaya, coba nulis novel dengan bahasa sebaku makalah. Bisa-bisa novel kita dilempar ke genting atau mungkin langsung dibanting.

Ah, bahasa itu bukanlah sesuatu yang mengikat. Bukan sesuatu yang memberatkan. Mengapa pelajaran Bahasa Indonesia selama ini kurang diminati dan dianggap remeh? Ya, karena memang hal-hal seperti ini. Hal gagah-gagahan bahwa berbahasa harus benar, tak peduli dalam ragam atau laras apa pun. Bahasa Indonesia disampaikan secara kaku. Sulit. Pendapat itu tidak sepenuhnya salah. Tidak ada pendapat yang salah sih. Hanya saja, untuk sekarang, penerapan seperti itu belum bisa diberlakukan. Masyarakat kita masih belajar. Yang penting, kita tahu kapan harus menggunakan bahasa gaul, kapan harus menggunakan tata bahasa dan ejaan yang benar. Itu saja sebenarnya yang harus ditanamkan pada generasi muda. Tak perlu menyalahkan bahasa gaul apalagi bahasa Inggris sebagai faktor perusak bahasa Indonesia. Yang ada, bahasa-bahasa itu malah memperkaya kosakata bahasa Indonesia.
Bahasa selalu bersinggungan. Pengaruh-memengaruhi. Gak ada ceritanya sebuah bahasa tidak terpengaruh oleh bahasa lainnya. Bahasa itu cair. Bisa merembet ke mana-mana. Ah, mungkin, suatu saat nanti, bahasa di dunia ini hanya SATU. Ya, apa pun bahasanya.

Kamis, 30 Juni 2011

Cerpen Terbaik Kompas 2010

Tak ada yang benar-benar murni di dunia ini.

Mungkin, itulah ungkapan yang sedikit tepat untuk menggambarkan dunia literasi kita. Atau mungkin takhanya di dunia literasi, teknologi, sosiologi, atau mungkin biologi. Semua hal yang ada di dunia ini hanyalah mimesis atau, mungkin, hanya kelanjutan gagasan yang pernah ada. Bahkan mungkin, menurut salah satu filsuf, semua hal di dunia ini hanyalah tiruan dari ide. Entahlah. Boleh percaya, boleh tidak. Saya tidak begitu paham mengenai dunia filsafat yang dihubungkan dengan sastra.

Yang pasti, kemarin saya membaca berita bahwa cerpen terbaik Kompas 2010 sudah ditentukan pemenangnya, yaitu “Dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma. Saya senang bukan kepalang. Penulis favorit saya kembali berjaya di cerpen terbaik Kompas. Saya sudah membaca cerpen itu semenjak dimuat di Kompas, sekitar 9 atau 10 bulan yang lalu. Saya takingat tepatnya. Inti ceritanya pun lupa-lupa ingat. Untuk memuaskan rasa penasaran saya, saya kembali membuka file laptop untuk membaca kembali cerpennya.—saya mengopi dari web www.cerpenkompas.wordpress.com,  Fiuh. Saya bernapas lega. Karena memang, cerpennya layak menang. Cerita yang sederhana, namun menyadarkan saya untuk tidak merasa paling benar terhadap segala sesuatu yang saya anut dan menyalahkan segala sesuatu yang tidak saya anut, termasuk kepercayaan pada Tuhan.

Namun, tiba-tiba, raut muka saya sedikit berubah, ketika membaca obrolan singkat Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, dan satu kawannya lagi (Saya takingat namanya) di sebuah jejaring sosial yang berkarakter 140. Mereka membahas cerpen SGA yang katanya mirip sekali dengan short story karya Tolstoy yang berjudul “Three Hermits”.

Daripada saya mati penasaran, saya akhirnya mencari cerpen yang mereka maksud. Untung. Pencarian cerpen Tolstoy tidak memakan banyak waktu. Singkat cerita, mau tak mau, saya membandingkan juga antara “Dodolitdodolitdodolibret” dan “Three Hermits”.

Hemm. Ada beberapa kemiripan alur. Hanya saja, cerpen SGA lebih singkat dan gaya bahasanya masih Seno. Dalam “Three Hermits”, cerita dibuka dengan pelayaran seorang Uskup (Bishop) yang pada akhirnya singgah ke sebuah pulau kecil karena cerita sang nelayan yang ikut dalam pelayarannya. Nelayan bercerita bahwa di pulau kecil itu ada tiga pertama yang hidupnya untuk keselamatan bagi jiwa mereka. Di pulau tersebut, Uskup bertemu juga dengan tiga pertapa yang dimaksud. Mereka berdoa terus menerus, tapi cara mereka berdoa sangat salah dan tidak tunduk pada aturan Tuhan. Lantas, Uskup memutuskan tinggal sementara di pulau tersebut untuk mengajari mereka cara berdoa hingga mencapai tahap benar. Setelah berhasil, Uskup kembali pulang dengan hati yang lega. Namun, tanpa disangkanya, dalam perjalanan pulang, Uskup tersebut melihat ketiga pertapa menyusul kapalnya dengan berlarian di atas laut tanpa menggunakan suatu alat pun. Mereka berteriak pada Uskup agar kembali untuk mengajari mereka cara berdoa yang benar. Sebab, mereka sudah lupa ketika berhenti sejenak saja. Uskup terdiam. Akhirnya, Uskup berkata bahwa masing-masing dari kita memiliki cara berdoa untuk mencapai Tuhan, tidak seharusnya dia mengajari para pertapa itu berdoa. “Pray for us sinners”, ucapnya terakhir kali.

Sementara itu, cerpen “Dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma dibuka dengan polemik dalam diri Kipli (tokoh dalam cerpen “Dodolitdodolitdodolibret”). Kipli memikirkan bagaimana mungkin seseorang dapat berjalan di atas air. Bagaimanapun seseorang yang ingin membaca doa, haruslah diucapkan dengan benar. Karena keyakinannya itu, dia mengajarkan caranya berdoa kepada siapa pun yang ditemuinya. Mengajarkan kebahagiaan, katanya. Suatu ketika, Kipli—yang sekarang berubah panggilan menjadi Guru Kipli—tiba di tepi danau. Singkat cerita, Guru Kipli tiba di pulau yang berada tepat di tengah-tengah danau tersebut. Dia bertemu dengan sembilan orang penduduk pulau tersebut takhenti-hentinya berdoa. Namun, sayang, mereka berdoa dengan cara yang salah, pikirnya. Akhirnya, Guru Kipli pun mengajari mereka cara berdoa yang benar. Setelah merasa sudah berhasil, Guru Kipli pamit dan ingin meneruskan perjalanannya. Takselang berapa lama perahunya berlayar, seseorang berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah laut. Guru Kipli tercengang. Sembilan orang tersebut berlari-lari di atas air. Dia berpikir bahwa orang-orang itu sudah sangat benar cara berdoanya sehingga mampu melakukan hal seperti itu. Sembilan orang itu mendekati perahu Guru Kipli dan mengatakan bahwa mereka ingin diajari lagi cara berdoa yang benar sebab mereka telah lupa.

 

Diakui atau tidak, kedua cerpen ini memiliki kesamaan garis besar cerita dan susunan alur. Jika dalam “Three Hermits” ditutup dengan penyesalan Uskup, dalam “Dodolitdodolitdodolibret”, Seno tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai reaksi Guru Kipli. Saya tidak tahu harus berkomentar apa. Entahlah. Saya pun tidak tahu siapa terinspirasi siapa. Yang pasti kedua cerpen tersebut secara keseluruhan dapat dikatakan mirip. Untung saja. Seno tidak serta merta hanya mengganti prolog dan ending cerita, seperti yang dilakukan oleh Dadang Arimurtono dalam cerpen “Nenek Tua dalam Rashomon” yang isinya hanya menyalin tempel dari cerpen “Rashomon” karya Akutagawa Ryonosuke. Bahkan, cerpen tempelan ini juga termuat di Kompas pada tanggal 30 Januari 2011.

Urusan jiplak menjiplak memang terlalu sensitif untuk dibicarakan ketika menyangkut nama penulis besar, seperti Seno. Kasus seperti ini bukan yang pertama kali, saya kira. Ketika novel Tenggelamnya Kapal van der Wijk karya Hamka terbit, kelompok Lekra sempat ramai menyebut novel tersebut jiplakan dari novel Magdalena karya Al-Manfalutfhi, pengarang dari Mesir. Atau sajak Chairil Anwar yang “Krawang—Bekasi” juga pernah dituduh sebagai sajak jiplakan dari sajak yang berjudul “The Young Dead Soldiers” karya Archibald MacLeish. Dan pada akhirnya, sajak “Karawang—Bekasi” disebut sebagai sajak saduran oleh HB. Jassin.

Saya suka pada pemikiran positif Goenawan Mohamad. Mungkin saja Seno mengadaptasi dongeng yang sama dengan Tolstoy. Di akhir tulisannya, Seno menuliskan cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi. Aha, mungkin Seno sudah mengantisipasi kejadian seperti ini sehingga dia berdalih demikian. Oh, lupakan. Yang ini hanya pemikiran nakal saya. Jika dipikir-pikir, sesuatu yang berasal dari dongeng, otomatis menjadi sebuah tradisi lisan. Semua orang berhak menceritakannya kembali. Ya, seperti dongeng Sangkuriang, Puteri Salju, atau apa pun lainnya, setiap orang memiliki hak yang sama untuk membuat varian bahkan versi dari induk cerita yang sama. Meskipun demikian, sebuah formula--bahasa mudahnya alur cerita--tetaplah sama. Mungkin, ya, sekali lagi ini masih kemungkinan saya, Seno dan Toltstoy bisa saja mengadaptasi dari dongeng yang sama. Tolstoy pun menuliskan di awal ceritanya bahwa ini berasal dari legenda tua dari daerah Volga. Ya, semoga saja benar seperti itu.

Terlepas dari plagiat, menjiplak, menyadur, atau apa pun namanya. Saya rasa, itu adalah sesuatu yang wajar. Meniru sesuatu untuk kemudian menemukan jati diri. Bahasa yang digunakan Seno tidaklah sama persis dengan yang digunakan Tolstoy. Redaksi yang dipilih masih mewakili pemikiran Seno. Selain itu, sumbangan Seno terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia takbisa dibilang remeh. Kecuali, Seno hanya menerjemahkan karya Tolstoy lalu diakuinya sebagai karyanya. Itu mungkin sedikit membuat geram pembacanya, apalagi penggemarnya.

Ah iya, plagiat atau tidak sebuah karya sastra, tergantung dari sudut pandang apa yang dipakai untuk melihat.

 

PS.

Ini link untuk melihat cerpen “Three Hermits” karya Tolstoy http://www.online-literature.com/tolstoy/2896/

Ini link untuk melihat cerpen “Dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma http://cerpenkompas.wordpress.com/2010/09/26/dodolitdodolitdodolibret/

Minggu, 26 Juni 2011

Tiba-Tiba Saja, Aku Ingin Menghabiskan Hujan Bulan Juni Bersamamu


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono



Sekarang bulan Juni. Hampir habis. Tiba-tiba saja aku ingin menghabiskan hujan bulan juni bersamamu. Berdua saja bersama hujan. Kapan terakhir kita bertemu? Setahun yang lalu? Sebulan yang lalu? Entahlah. Penghitung waktu di otakku sudah membeku.
Dulu, aku selalu merengek padamu agar diizinkan bermain hujan. Kamu selalu menggeleng. Nanti sakit, katamu. Aku menurut meski agak cemberut. Kamu terlalu takut air hujan membuatku menggigil lantas menyerang kekebalan tubuhku. Aku tahu itu.
Kubaca sajak itu. Mengingatkanku padamu. Pada waktu yang membawa kita terlalu cepat berlalu. Pada usia yang membuatmu dan membuatku semakin menua. Aku masih ingin bersamamu. Entah sampai kapan. Mungkin sampai aku terbawa kereta kencana ke negeri senja.
Mungkin, jika Tuhan mengizinkan, aku ingin hidup sehari saja setelah kepergianmu. Sebab, aku taksanggup berlama-lama tanpamu. Terlalu sepi hidup ini.
Aku ingin menghabiskan hujan bulan Juni kali ini bersamamu. Duduk di teras rumah sambil sesekali menyeruput teh hangat atau mulut kita kepanasan menggigit pisang goreng. Saling bercerita. Aku berceloteh, engkau mendengarkan. Menatap hujan yang jatuh. Menunggu teduh datang, atau kalau beruntung pelangi hadir di tengah-tengah kita.
Lantas, kita tertawa. Menekuri hidup yang takpernah sederhana. Aku selalu suka saat-saat seperti ini. Pantas saja, kamu begitu cemburu saat aku didekati lelaki lain. Aku tahu. Kamu takingin aku terluka. Pantas saja, kamu takpernah suka pada lelaki yang mempermainkanku. Kamu benar-benar marah ketika aku mulai jatuh cinta pada seseorang di luar sana. Yang katamu dia bukan lelaki baik-baik. Aku takpercaya, tapi benar katamu. Dia melukaiku.
Aku jatuh dan sakit karenanya. Tapi kamu hanya tersenyum, lalu membantuku bangun. Mendekapku erat. Mengusap rambutku. Semuanya akan baik-baik saja, bisikmu saat itu. Aku mengangguk lega. Terima kasih.
Ah iya, aku lupa. Aku lupa memberimu nama, seorang Ayahkah atau malaikat yang diutus Tuhan menjagaku.

Kamis, 23 Juni 2011

Kisah Kita, seperti Hujan dan Teduh

Tiba-tiba saja aku mengingatmu. Mengingat hubungan kita yang semakin lelah untuk dipertahankan. Sayang, bukankah dulu kamu pernah berjanji bahwa seberapa pun jauh jarak kita, kamu akan tetap mengirimiku cinta setiap hari. Sementara aku, aku akan selalu menghabiskan tintaku untuk menulis namamu di langit. Ingatkah kamu? Aku masih sangat mengingatnya. Entah kamu.
Ah, jarak kita takjauh sebenarnya. Hanya saja hati kita yang terlampau jauh. Aku taktahu pasti tujuan Tuhan mempertemukan kita. Seperti hujan dan teduhkah? Selalu bertemu, tapi takpernah ditakdirkan untuk bersama. Ya, mungkin. Seperti itulah kisah kita. Kita saling melengkapi. Saling bercerita. Saling berhadapan. Tapi, jalan kita bersimpangan. Takapa. Semoga saja aku bisa melupakanmu kali ini. Benar-benar melupakanmu. Sebab, bagiku. Melupakanmu itu membutuhkan keberanian. Berani untuk membuka mata tanpamu.
*Hujan selepas senja tadi mengajarkanku banyak hal, termasuk melupakanmu.

Senin, 20 Juni 2011

#Cinta Itu

Setelah beberapa hari meratapi IP dan IPK saya yang terjun bebas, saya akhirnya menyadari bahwa bukan itu satu-satunya tujuan hidup saya. Masih ada banyak hal yang harus saya kejar. Ada banyak hal yang harus saya capai.

Tadi siang, saya bertemu dengan teman sekelas saya. “Ah, hidup menjadi lebih indah dengan cinta, ya?” dia bergumam di sebelah saya. Tentu saja, saya terhenyak dan hanya mengangguk takpasti. Saya tidak tahu mengapa airmuka saya berubah. Cinta? Ah, lagi-lagi satu kata itu. Teman saya itu bercerita bahwa dia baru saja menemukan seseorang yang selama ini dia impikan. Mirip dongeng, tapi biarlah. Dia terlihat sangat bahagia. Matanya berbinar-binar. Layaknya remaja yang baru saja menemukan cinta monyetnya. Saya ikut senang. Sangat senang. Namun, kesenangan itu hanya untuk dia. Lantas, saya berpikir ulang. Cinta. Satu kata itu. Lagi-lagi memenuhi rongga dada. Membuat sesak ruang yang sudah memang sudah menyempit. Membuat mata saya berkaca-kaca.

Red heartRed heartRed heart

protect_me_from_the_rain_by_captain_x

Aku takpernah tahu rasa yang ada ini cinta atau bukan. Yang pasti, aku bahagia melihatmu bahagia. Aku bahagia membiarkanmu bahagia dengannya. Ya. Kamu tiba-tiba saja pergi. Meninggalkanku di sini. Sendiri. Dan berharap padamu agar datang suatu saat nanti. Entah kapan. Tapi, mungkin, kamu takpernah hadir kembali di tengah-tengah kebahagiaanku. Alangkah sepi halaman. Alangkah sepi ladang hatiku. Lalu, pinus-pinus di halaman pun layu. Aku pun takbisa lagi merayumu. Atau mencumbumu agar tetap bersamaku. Aku kesepian sekarang. Tanpa namamu. Tanpa kamu.

Inikah cinta? Cinta yang membiarkanmu pergi tanpa menengok lagi ke perigi. Perigi yang pernah kita lukis bersama di langit. Sumber kisah kita yang tak pernah kering, katamu. Aku hanya mengangguk senang. Ataukah inikah kisah? Kisah yang selalu saja berulang padaku. Yang takpernah berubah formula ceritanya. Layaknya tradisi lisan yang didongengkan berkali-kali. Mungkin, hanya berubah tempat dan waktu. Tokohnya aku dan kamu. Entahlah.

Aku pun takpernah mengerti. Apa yang ada di otakku. Aku bahagia bersamamu. Itu saja. Yang membuatku senang di dekatmu. Itu saja. Yang membuatku menangis ketika kamu lebih memilih dia meskipun aku rela. Kamu dan dia taksalah. Di antara kita takpernah ada komitmen. Apa pun. Hanya saja. Aku yang terlalu menikmati setiap detik bersamamu.

Red heartRed heartRed heart

“Emang kamunya yang gak membuka diri, gimana bisa dia tahu?” teman saya berceloteh tiba-tiba. Seolah tahu apa yang saya pikirkan. Saya mengangkat bahu. Sedikit setuju. Sedikit taksetuju. Selama ini, saya tidak merasa menutup diri dari orang-orang. Saya senang berteman dengan banyak orang. Saya senang berkenalan dengan banyak orang. Tapi, entahlah. Saya belum terlalu memikirkan jodoh atau apa pun yang berkaitan dengan itu.

Kembali lagi ke paragraf pertama, saya masih ingin mengejar mimpi-mimpi saya. Masih ingin mendapatkan apa pun yang saya mau. Saya tidak ingin jatuh dan terjebak pada kisah cinta picisan seperti ini. Saya tidak ingin karier saya hancur hanya gara-gara saya perempuan lemah yang jatuh cinta pada lelaki yang tidak mencintai saya. Tidak. Itu tidak akan terjadi. Saya menulis ini hanya ingin menyadarkan diri saya sendiri bahwa kisah seperti ini hanya layak masuk dustbin hidup saya. Tidak untuk dikenang. Ya. Orang tua saya jauh lebih bahagia ketika melihat saya berprestasi.

Jumat, 17 Juni 2011

Confession in the Last of Fourth Semester

Oke. Pagi-pagi buta seperti ini saya sudah ingin menulis. Ada apa? Banyak hal. Tentunya masih berkaitan dengan semester ini. Yeah, semester 4 yang penuh penundaan kesuksesan.
Saya mengawali semester 4 lima bulan lalu, eh, empat bulan lalu. Diiringi dengan hati agak dongkol karena IP dan IPK semester 3 udah turun (meskipun gak terjun). Semester 4 saya banyak acara yang menyebabkan konsentrasi saya terpecah. Awal semester saya harus pergi ke Bali untuk menghadiri Rakernas IMABSII, bulan Mei ke Jogja untuk Simposium Bahasa Indonesia (yang juga diadakan oleh IMABSII), ngurusin surat-surat untuk mencari dana, ngurusin organisasi, ngurusin jadwal anak-anak privat, belum lagi ditambah kesibukan saya ngajar di salah satu bimbingan belajar yang gak kira-kira padatnya kalo ngasih jadwal. Well. Saya menikmati itu semua. Sangat. Tapi, di antara kenikmatan saya tersebut, tugas-tugas kuliah saya mulai agak berantakan, UTS dan UAS yang saya kerjakan ala kadarnya, ngumpulin tugas--meskipun tepat waktu--gak maksimal dan ngerjainnya deadline serta berantakan, dan absensi saya mulai sering. Yeah, saya menyadari itu.
Semua kesibukan yang duniawi itu membuat saya melupakan apa yang dinamakan kebutuhan rohani. Saya hampir tidak pernah lagi sholat malam, sholat 5 waktu juga mepet waktu, sholat dhuha sudah tidak khusuk, puasa Senin--Kamis kalau sempat, apalagi untuk membaca Al-Quran (hampir tidak). Percaya atau tidak, hal-hal seperti inilah yang menyeimbangkan kerja keras kita. Saya baru sadar ketika melihat IP saya yang berangka 3.51. Semua pencapaian duniawi yang saya ingin raih dengan usaha saya sendiri semuanya sia-sia tanpa ada penyeimbangan. Yah. That's true!
Saya sudah jarang berdoa pada Tuhan. Biarkan saja, Marx dan pengikutnya bilang agama adalah candu. Ketika ada masalah makhluk-makhluk yang mengaku beragama akan mengadu dan meratap-ratap pada Tuhannya. Dan itu akan sia-sia menurut mereka. Tapi bagi saya tidak. Justru saat saya sedang ada dalam lembah kenistaan seperti ini. Agak berlebihan. Hanya Tuhan yang mau mendengar keluh saya. Hanya Tuhan yang menyediakan tempat untuk saya menangis. Ya, hanya Dia. Dan kedua orang tua saya yang masih setia membesarkan hati saya. Terima kasih. Terima kasih pada Allah. Terima kasih pada dua malaikat yang membuat saya ada hingga sekarang. Terima kasih.
Sungguh. Ini pelajaran. Dulu, saya selalu berpikir bahwa hidup itu layaknya naik gunung. Arahnya selalu ke atas meskipun ada halangan dan rintangan kanan kiri. Tapi, ternyata hidup taksekadar analogi seperti itu. Hidup jauh lebih rumit dari sekadar naik gunung atau bahkan roda berputar. Ada hal-hal yang takterprediksi. Ada faktor-faktor yang takselalu bisa dijelaskan dengan nalar dan akal. Yah, itulah hidup dengan segala kemungkinannya.
Baiklah. Penataan ulang rencana hidup saya harus segera saya lakukan. Anggap saja, kemunduran ini saya perlukan agar saya bisa melompat lebih tinggi dan jauh ke depan. Saya bersyukur dengan IP saya yang terjun bebas. Dengan begitu, saya belajar mengerti untuk apa Tuhan menciptakan saya. Yang terpenting untuk saya sekarang adalah komitmen saya untuk semester depan. Komitmen saya untuk mengatur waktu dengan lebih baik. Intensitas beribadah yang banyak dan rutin. Dan cara belajar saya yang harus saya perbaiki. Semoga Tuhan dan saya mencatat komitmen ini!

PS. Saya menulis ini dengan airmata yang takberhenti menetes.
Thanks to Allah.

Sabtu, 04 Juni 2011

Masih Saja Proletar yang Harus Menangis

Beberapa hari yang lalu, teman SMP saya dikabarkan meninggal. Saya kaget. Entahlah. Padahal, ketika SMP, dia baik-baik saja. Tidak sakit-sakitan. Dia meninggal disebabkan oleh penyakit paru-paru. Ah, kasihan.

Kemarin, saya bertemu dengan teman SMP saya yang lain. Otomatis, yang menjadi pembicaraan adalah masalah teman saya yang meninggal itu. Ternyata, selepas SMK, dia bekerja menjadi buruh di pabrik sepatu, sebut saja PH. Gajinya hanya kurang lebih 800 ribu/bulan, sedangkan obat untuk paru-parunya lebih dari itu. Dia menderita penyakit paru-paru setelah bekerja di pabrik tersebut. Oh Tuhan, sebegitu tidak berharganya sebuah nyawa dibandingkan dengan produksi sepatu tanpa memperhatikan keselamatan kerja karyawannya. Bukan hanya dia saja yang menjadi korban, banyak teman-temannya yang lain yang juga menderita penyakit paru-paru karena setiap hari terkena gempuran zat kimia berbahaya yang ada dalam pabrik tersebut.

Saya hanya bisa menarik napas panjang. Lagi-lagi. Kaum buruh yang harus merasakan edannya kapitalis. Lantas siapa yang salah? Entahlah. Ini seperti memainkan permainan telur dan ayam. Tinggal dari sudut pandang mana kita berbicara. Hanya saja, saya berharap. Suatu saat nanti—entah kapan—kaum buruh mendapat haknya dengan baik. Tidak seperti ini, yang selalu dijadikan korban oleh setan yang bernama kapitalisme kontemporer. Ah, semoga.