Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Rabu, 08 Agustus 2018

Review Suka-Suka: Si Doel Anak Betawi Asli, Kerjaannye Bikin Anak Orang Sakit Hati

Baiklah.

Kita mulai isi blog ini dengan hal-hal yang cukup berfaedah (lagi), setelah banyak-banyak kegalauan nirfaedah yang seharusnya sudah tidak perlu terungkapkan. Setelah banyak-banyak hari terlewati tanpa menulis karena kebanyakan kerjaan yang (diam-diam) menjauhkan diri ini dari kegiatan menulis. Macem hubunganmu sama dia, kan? Yang suka tiba-tiba menjauh tanpa alasan. #halah

Sudah cukup.

Mari mulai saja dengan review film yang semoga saja memberi pandangan lain. Film pertama yang tertonton dalam bulan ini adalah: Si Doel the Movie!

Gambar dari sini.

Seperti biasanya, buanglah ekspektasi apa pun ketika menonton atau membaca sesuatu. Resapi saja. Nikmati. Nanti penilaian akan lebih objektif, paling tidak itu menurut saya.

Film ini dibuka dengan nukilan dialog-dialog dari masa lampau, entah dari Babe Sabeni, Mak Nyak, Mandra. Dan, kutipan tersebut cukup membangunkan kenangan bagi sebagian orang yang pasti sudah hafal betul dialog-dialog dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan atau Si Doel Anak Betawi. Babe Sabeni, yang menurut saya adalah tokoh sentral dalam rangkaian sinetron ini, dihadirkan kembali melalui dialognya. Tak banyak, tapi cukup membuatnya ada.

Lalu, film berjalan dengan menampilkan Mandra dan Doel yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Belanda. Tak terelakkan, banyolan-banyolan khas Mandra dan Atun menjadi bumbu penyedap yang sangat pas, macem mecin dalam Indomie yang takpernah gagal bikin enak.

Tidak dapat dimungkiri pula, Mandra (dan Atun) menjadi primadona dalam film ini. Celetukannya mampu membuat seisi bioskop terkekeh, tanpa terkecuali. Kisah cinta menye-menye barangkali terselamatkan oleh kedua orang ini meskipun banyak candaan yang bodyshaming, yang mungkin dulu terdengar sangat lucu, tapi sekarang BIG NO!

Namun, kisah yang sedang ditonjolkan dalam Si Doel the Movie ini adalah (tentu saja) kisah cinta segitiga antara Doel, Sarah, dan Zaenab. Kisah cinta Atun dan Mas Karyo--yang di sinetronnya menjadi cerita tersendiri--juga tidak dibahas. Terlebih kisah cinta Mandra--yang sampai 14 tahun berlalu, ia tak juga menikah, tak sempat disinggung sama sekali.

Dulu, saya ingat sekali, ketika menonton sinetronnya, saya selalu mengganti channel ketika cerita sudah mulai memperlihatkan kegalauan Doel--Sarah--Zaenab. Saya hanya suka menonton kisah-kisah tokoh sampingan yang guyonannya lucu, segar, dan sangat menghibur.

Hanya saja, ketika menonton ini, saya tidak bisa mengganti channel. Mau tak mau, saya harus juga mengikuti bagaimana kerumitan cinta segitiga yang sesungguhnya tak perlu terjadi jika Si Doel berlaku tegas. Ketidaktegasan itu lalu tergambar dalam wajah Doel-Sarah-Zaenab yang cemas sepanjang film.

Tentang Sarah yang dialognya kaku dan puitis? Banyak yang protes tentang hal ini. Tapi coba bayangkan, seorang perempuan bertemu kembali dengan laki-laki yang masih sangat dicintainya setelah terpisah (dengan tidak baik-baik) selama 14 tahun? Tidak semua perempuan bisa bersikap wajar dalam situasi seperti itu. Dalam hal ini, coba bandingkan percakapan Sarah dan Mandra atau Sarah dan Hans, yang terdengar lebih luwes.

Tentang Zaenab yang juga sangat mencintai Doel meskipun ia sangat tahu bahwa hati Doel hanya untuk Sarah? Mungkin banyak juga yang kesal, yang berpikir bahwa Zaenab bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik daripada Doel. Sementara, Zaenab tetap memilih mendampingi Doel. Terlihat menyebalkan memang, namun relasi seperti ini sangat (di)wajar(kan) terjadi: Si Doel butuh istri yang bisa ngurusin dia dan Mak Nyak, gak cinta-cinta amat ama si bini juga kagak ape-ape. Terbukti, Doel dan Zaenab hanya menikah siri. Posisi Zaenab sama sekali tidak aman. Ia bisa saja terdepak dari kehidupan Doel jika Sarah kembali dan Mak Nyak tidak ada, misalnya. Karena satu-satunya orang yang mempertahankan Zaenab ada dalam hidup Si Doel adalah Mak Nyak.

Dan, Doel, lelaki yang dulu mati-matian disekolahin sama Babe agar jadi gubernur sekali-kali, dari puluhan tahun yang lalu masih saja terjebak dalam dua perempuan. Ia bekerja menjadi teknisi lepas, yang kadang ada panggilan, kadang tidak. Selama puluhan tahun itu, ia pun tidak (mampu) membangun dan berpindah ke rumahnya sendiri--terlepas dari film ini ingin menghadirkan suasana rumah masa lalu--karena ia masih saja tinggal di rumah Babe dan Nyak-nya. Tidak ada perkembangan secara materiil yang nyata dalam diri Si Doel, kecuali handphone yang bisa buat whatsapp-an. Mungkin, film ini memang ingin menghadirkan sosok Doel yang lugu dan sederhana. Dan, keluguan itu pulalah yang sekarang bikin gemesh karena kesal, sedangkan dulu nontonnya lempeng-lempeng aja.

Dia juga masih tidak pernah tahu, hatinya untuk siapa. Antara cinta pada Sarah atau sayang pada Zaenab. Menurut saya yaa, ia sama sekali tidak pernah ada usaha untuk memperjuangkan atau minimal mempertahankan cinta. Selempeng itu ia berlaku pada Sarah, terlebih Zaenab.

Contohnya, ia tidak pernah ada usaha untuk mencari Sarah selama 14 tahun dengan alasan tidak tahu harus mencari Sarah ke mana dan tidak punya cukup uang untuk menyusul Sarah, sedangkan ia tahu, Sarah sedang mengandung anaknya ketika pergi. Meskipun, di atas hitam dan putih, ia tidak pernah menceraikan Sarah. Cem manalah enaknya digantung gitu? Lalu, ia malah nikah siri dengan Zaenab. Oh, men, bagaimana perasaan Sarah? Lalu, bagaimana perasaan Zaenab yang tetiba dituduh pelakor

Sebab, Doel semacam terjebak dalam pikiran-pikirannya yang belum terjadi. Perasaan "tidak pantas" untuk Sarah masih terus menghantuinya. Sementara Sarah tidak pernah menuntut untuk itu. Ia hanya ingin Doel ada dan hadir dalam kehidupannya, tanpa ada Zaenab. Sedangkan, ia pun tidak bisa memberikan kejelasan status pada Zaenab.

Dan, Doel tetaplah Doel, yang takpernah bisa mengambil keputusan tegas, bahkan hingga film selesai. Jadi, bersiaplah, yang kemarin sempat ribut #timsarah atau #timzaenab pasti akan langsung berpindah pada #timmandra atau #timatun karena macem tidak ada gunanya membela salah satu dari mereka karena mereka sesungguhnya menikmati terjebak dalam cinta segitiga macem itu. Lah, kok, emosi. Sabar, Mbak, sabar!

Jadi gini, hal itu sebenernya bisa dijelaskan secara logika. Cinta Sarah dan Zaenab tidak akan tetap sebesar itu tanpa ada pesaingnya. Sarah membutuhkan Zaenab agar tetap mencintai Doel dengan menggebu, begitu pula Zaenab. Ia tidak akan tetap setia pada Doel tanpa adanya Sarah. Mereka membutuhkan rival agar merasa menang, agar merasa lebih baik dari perempuan lain. Dan, perasaan itu ada pada dua perempuan itu. Barangkali, mereka bersaing sudah tidak murni lagi untuk mendapatkan Doel, tetapi lebih kepada pemenuhan self-esteem dengan cara sama-sama berlaku (sok) ikhlas agar Doel melepaskan dirinya, lalu kembali pada rivalnya. Mereka tahu kelemahan Doel yang tidak pernah bisa memilih. Jadi, mereka merasa lebih aman berlaku demikian daripada meminta Doel tetap tinggal bersamanya.

Sementara Doel? Dalam hal ini, perasaan tidak ingin kehilangan fans sudah terpupuk rapi dalam lubuk hati Doel yang paling dalam. Ia pada dasarnya tidak ingin kehilangan keduanya, tapi juga tidak ingin terlihat menginginkan keduanya. Ia akan membuat batas dalam dirinya untuk melihat siapa yang paling gigih memperjuangkannya dan ia membiarkan seleksi alam yang menyingkirkan salah satunya. Tapi itu tidak pernah terjadi sebelum luar angkasa mulai dihuni manusia.

Terkesan jahat? Oh, tidak. Cara Doel sangat halus sehingga dua perempuan cantik itu masih sangat tergila-gila padanya. Come on, tanyain gih, dia pakai susuk apa? Wk.

Well, tapi dari awal sampai akhir, sih, film ini cukup terekomendasikan untuk ditonton dan cukup menguras emosi juga, terlepas dari beberapa detail yang terlewat, misalnya tas-tas barang bawaan Bang Mandra yang pas berangkat banyak banget, eh, pas sampai Belanda tinggal koper dan kardus. Atau baju Zaenab yang tetiba ganti pas lagi duduk di oplet, padahal ga sampai 10 detik. Dan, mengenai kebudayaan Betawi yang ingin dihadirkan melalui dialog, tapi kesannya lagi baca paparan Teori Kebudayaan.

Terlepas dari itu semua, bolehlah kasih 8 out of 10 untuk film ini karena sudah bikin saya tak berasa nontonnya karena tetiba sudah selesai dan juga nangis dalam bioskop pas adegan Sarah ketemu Doel, Zaenab membayangkan Sarah ketemu Doel, dan satu lagi, ketika Doel Jr. memeluk Doel di Bandara Schiphol. Saya kalau jadi anaknya cukup sakit hati juga sih sama Doel. Tapi, yaudahlah, ya. Hubungan anak dan bapak untuk kali ini masih dimaafkan. 

Jadi, saya #timsarah atau #timzaenab? Saya #timmakanindomiepakaiboncabe ajalah yaaa ....

#SiDoelTheMovie #ReviewDoelTheMovie #Fitriview

Jumat, 22 Juni 2018

Welcome to the 27's Club

Well, selamat datang kembali!

Sudah lama tidak menulis. Sudah lama (hampir) pergi. Alasan terlalu banyak pekerjaan dan kuliah jenjang ini pasti akan selalu menjadi alasan-alasan utama atas segala ketidaksempatan terjadi. Padahal, itu hanya butuh prioritas.

Lalu, liburan sekaligus lebaran menjadi momen yang tadinya tanpa jeda menjadi terlampau banyak jeda. Lalu, kembali memikirkan hal-hal yang sempat terlupa, yang terlewatkan. Membuat mules, membuat bernapas banyak-banyak.

Dua bulan lalu, resmilah menjadi penghuni usia 27, katanya usia keramat, katanya banyak yang meninggal pada usia 27. Apa pun itu, saya masih merasa begini-begini saja.

Saya masih bahagia mendengar kabar pernikahan teman-teman saya, kabar kehamilan, dan yang paling sering adalah kabar melahirkan. Sungguh. Itu membahagiakan buat saya.

Hal-hal macem itu adalah sesuatu yang pernah saya bayangkan ketika saya berusia belasan tahun. Bahwa usia 27 tahun adalah saya yang sudah menikah dan sudah memiliki anak pertama.

Nyatanya, saya bahkan masih suka menjadi pemuja rahasia untuk seseorang. Tentu saja itu menggelikan. Apa bedanya saya sekarang dengan saya ketika SMP, yang pasti tidak akan punya nyali untuk menyukai seseorang?

Haha. Tentu saja. Saya masih saja diam. Diam-diam mendoakan keselamatan dan kebahagiannya. Jodoh tidak akan lari, bagi saya.

"Ya, tapi jodoh juga harus ditahan kali biar gak lari. Lagian mana dia tahu kalo kamu diem aja?"

Kalimat sejenis akan selalu muncul dari teman-teman terdekat saya. Sudahlah. Barangkali sudah sangat lelah berharap, mencari, tapi tak kunjung menemukan. Berkali-kali patah untuk orang yang salah membuat saya lebih tidak ingin mengejar siapa-siapa.

Abaikanlah tulisan ini. Saya sendiri merasa geli ketika seseorang yang berada pada usia 27 tahun masih menulis panjang lebar tentang perasaannya kepada seseorang yang tak juga tersampaikan. Seharusnya, makin dewasa usia, makin dewasa pula kisah percintaannya. Haha. Ternyata hal itu tidak berlaku bagi saya. Mungkin belum. Ya, belum.

Senin, 22 Januari 2018

Kepada Kamu dan Lelaki yang Kamu Cintai Diam-Diam

Sumber gambar klik di sini

Malam ini sendu sekali. Percakapan-percakapan di aplikasi pesan juga mengantarkan pada kenyataan bahwa jarak akan kembali membentang. Kembali memisahkan. Entah menggetarkan, entah tidak. Ditambah lagi, lagu-lagu yang terputar di radio tetiba mengingatkan akan pada banyak hal: tentang masa kecil, tentang cita-cita, atau tentang kerinduan pada entah apa atau siapa.

Di tengah tenggat proposal, selalu saja ada distraksi yang berhasil mengubah haluan, mengantarkan tangan untuk mengeklik laman ini, lalu bercerita saja, tentang apa saja.

Kembali pada jarak. Kali ini, kamu harus kembali mengalah. Orang yang sedang kamu sebut namanya berkali-kali dalam doa harus pergi. Bukan kepergian yang pertama bagimu, tetapi ini untuk pertama kalinya baginya. Menyesakkan? Tentu saja.

Seseorang yang sudah lama ada--selalu ada, lebih tepatnya--hanya saja tidak pernah disadari, beberapa hari ke depan, akan semakin jauh. Ia akan pergi ke kota yang sesungguhnya sangat kamu hindari hanya karena alasan-alasan klasik: orang yang pernah membuatmu bahagia sedang berkuliah di sana.

Namun, sesungguhnya, kamu akan segera mengangguk jika ia menawarimu untuk tinggal bersamanya. Sederhana saja, "Semua akan baik-baik saja selama kita masih memiliki kita" itu prinsipmu. Sekalipun, kamu harus meninggalkan semuanya di kota yang katanya metropolitan ini, kota yang memberimu (hampir) segalanya, yang menghidupimu. Dan, kamu akan dengan mudah mengiyakan untuk pergi jika ia memintanya. Disebut apa selain cinta? Tidak ada.

Kadang, tidak butuh banyak alasan untuk segala sesuatu yang disebut cinta. Perlahan kamu mulai memercayainya.

Love is being with someone who makes you happy in a way nobody else can

Barangkali, barangkali itu alasan satu-satunya. Ia yang akan terbentang jarak adalah orang yang membuatmu bahagia, sangat. Kamu sadari atau tidak. Atau ia menyadari atau tidak.

Saat ini, kamu pun masih tidak bisa menerka, apakah ia yang memberimu kebahagiaan adalah orang yang dikirim Tuhan untuk melengkapi atau ia akan pergi juga seperti yang lalu-lalu. Hanya saja, kamu belum pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana sekarang dari orang yang lalu-lalu.

Kamu yang sedari dulu terobsesi kencan di theme park, tetiba saja, dia mengajakmu ke sana, tanpa kamu pernah bercerita apa pun tentang obsesi ini. Meskipun sebenarnya tidak dapat disebut sebagai kencan karena kalian hanya teman. Tapi, ini sebuah kebetulan, bukan? Dan, kamu sangat bahagia, bukan?

Atau, kamu juga sering membayangkan menghabiskan waktu di Timezone, sekadar bermain basket atau bowling untuk anak-anak, atau permainan-permainan bocah di sana. Dan, kamu berhasil mengajaknya tanpa terlalu banyak paksaan. Itu obsesimu selain berkencan di theme park, bukan?

Atau, dia selalu menanyakan pendapatmu terlebih dahulu untuk setiap keputusan yang akan kalian ambil, bahkan hanya sebatas makan di mana atau makan apa. Perasaan merasa dihargai bisa mengalahkan apa pun, bukan?

Atau, dia selalu ada di saat-saat genting dalam hidupmu, saat kamu butuh cerita tentang apa saja, saat kamu butuh bahu dan telinga, saat kamu butuh sandaran, selain Tuhan. Ia selalu ada.

Entahlah. Kamu hanya merasa bahagia saja ketika melihatnya, terlebih melihatnya baik-baik saja. Dan, kamu hanya berani memeluknya lewat doa-doa panjang sebab kamu tak ingin menghancurkan segala sesuatunya jika harus mengaku bahwa kamu mulai mencintainya lebih dari teman baik karena kamu sangat tahu bahwa ia sedang mencari perempuan sesukunya, sedangkan kamu tak bisa berbuat apa pun untuk mengubah sukumu menjadi sukunya.

Tapi, percayalah, semesta mendoakan kalian.



Depok, 23 Januari 2018, 1:21 WIB

Sabtu, 30 September 2017

Menyimpan, Mengenang-Ngenang Memori



Dulu, dulu sekali. Saya teramat suka menyimpan apa saja. Baju kesayangan yang sudah tak muat, catatan semasa sekolah, benda-benda berwarna ungu, atau apa saja yang bisa saya simpan. Saya tumpuk-tumpuk, agar kenangan tak hilang, dalih saya.

Terlebih semasa kuliah, ada seseorang yang sempat membuat saya berbahagia. Kegemaran saya menyimpan semakin menjadi karena ternyata orang-yang-sempat-membuat-saya-berbahagia pun senang menyimpan barang apa saja.

Saya mulai menyimpan tiket parkir, tiket masuk museum, bon makan berdua, tiket kereta api, buku-buku darinya, resi pengiriman barang, terlebih kartu pos-kartu pos dari dia. Saya menyimpannya rapi di dalam sebuah kotak. Saya bilang, itu kotak kenangan.

Selayaknya kenangan, kotak itu pun hanya sekumpulan masa lalu. Sebab, orang itu ternyata beranjak, tanpa pamit. Bukan, bukan tentang kepergian orang itu yang akan saya ceritakan di sini. Tapi, sebuah proses melepaskan, keberpisahan dengan benda-benda.

Setelah kepergiannya, jangan ditanya betapa hancurnya saya. Ada banyak hal yang ikut pergi, termasuk harapan-harapan yang terlalu tinggi kepadanya. Salah satu hal yang pertama kali saya lakukan adalah ikut berpisah dengan segala barang yang menghubungkan saya dengan dia.

Terlampau tampak berat pada mulanya. Namun, saya tetap harus melakukannya. Kotak-yang-saya-beri-nama-kotak-kenangan-itu akhirnya saya masukkan ke dalam trash bag, lalu meletakkannya di tempat sampah. Tanpa menengok-nengok lagi isinya apa. Termasuk, menyingkirkan benda-benda milik saya yang akan mengingatkan saya padanya, misalnya Tupperware yang sering saya gunakan untuk mengirimi ia makanan atau parfum yang selalu saya pakai ketika bertemu dengannya.

Lalu, apakah berhasil?

Saya lebih lega, lebih lapang, dan lebih merelakan.

Sejak saat itu, saya hampir tak pernah lagi menyimpan-nyimpan sesuatu--jika bukan dokumen/sesuatu yang sangat penting. Bahkan, saya sudah sangat berusaha agar sama sekali tak terikat dengan benda-benda milik saya. 

Hal tersebut ternyata lebih menyenangkan. Lebih melegakan perasaan secara psikologis. Tak perlu menumpuk-numpuk benda-benda tak penting. Satu benda baru, berarti yang lama seharusnya dihilangkan, entah dibuang atau dikasih ke orang. Awalnya saya merasa, "Duh, kalau suatu saat perlu bagaimana?" Tapi, setelah saya coba jalani, ternyata benda-benda yang telah saya buang benar-benar terlupakan. Seringkali saya tak ingat lagi, pernah punya ini, pernah punya itu. Lalu, saya berpikir, bahwa sesungguhnya, saya tak benar-benar membutuhkan benda-benda yang saya tumpuk-tumpuk itu--meski banyak memori di dalamnya, misalnya.

Begitu, bukankah, seharusnya hidup? Tak perlu terlalu terikat dengan sesuatu atau seseorang. Biar segalanya lebih mudah. Lebih mudah berkemas, lebih mudah berpindah. Biar tak sakit terlalu lama, biar lukanya cepat terobati. Dan, benda-benda atau orang-orang yang (di)hilang(kan) akan diganti dengan hal-hal yang jauh lebih baik, bukan?

Jadi, tak perlu risau pada apa-apa yang seharusnya perlu dibuang atau perlu dipaksa berpisah jika memang sudah tak layak dipertahankan. Ada hal-hal baru yang sedang menunggu, yang saya percaya sepenuhnya bahwa pengganti sesuatu yang hilang akan jauh lebih baik, pun itu berlaku untuk seseorang yang pergi.

Kamis, 16 Februari 2017

Dear You,


Malam ini aku bercerita panjang lebar dengan seseorang di luar sana. Tentang kemalangannya yang ditinggal pergi begitu saja oleh seorang perempuan--yang ternyata juga teman baikku. Aku tertawa-tawa saja mendengar kisahnya yang bagiku semacam cerita bocah kecil yang belum tahu bagaimana menghadapi seorang perempuan metropolitan. Sementara, pada sore harinya, aku juga mendengar cerita yang sama dari versi sang perempuan. Perempuan itu hanya menganggap bocah lelaki yang baru saja bercerita padaku itu seorang teman, cukup teman berbagi yang menyenangkan di awal, tetapi membosankan selanjutnya. Tak ada beda, aku juga hanya tertawa-tawa mendengar kisah-kisah semacam itu.

Pada akhirnya, mereka tidak lagi melanjutkan percakapan. Barangkali karena lelakinya terlalu bocah atau perempuannya terlalu banyak pilihan. Lantas, sekarang, lelaki itu masih saja menjadi bocah yang mencari perhatian di sana-sini, sedangkan perempuan itu sudah menemukan lelakinya dari belahan dunia lain dan barangkali mereka akan hidup bahagia selamanya.

Lalu, hubungannya denganku? Aku hanya bisa tertawa kali ini. Mengingat segala yang pernah kita lewatkan. Tentangmu yang tetiba datang mengetuk pintu berkali-kali. Dan, aku yang dengan mudah membukakannya. Ternyata kamu tak pernah benar-benar ingin tinggal. Sebab di luar hujan deras, kamu hanya ingin mencari tempat singgah yang lebih nyaman daripada sekadar teras warung burjo.

Begitulah. Barangkali, kisah dua orang tersebut hampir sama seperti kisah kita. Hanya saja, aku yang sedang berada dalam posisi lelaki itu. Aku yang malam ini bernasihat panjang lebar agar lelaki itu tak lagi terjerembab dalam harapan-harapan palsu, sesungguhnya, sedang menasihati diriku sendiri. Dan, aku yang sedang menertawakan kisah mereka, sesungguhnya pun sedang menertawakan diriku sendiri--yang pada beberapa waktu lalu menaruh harapan terlalu tinggi padamu.

Pada dasarnya, aku sama sekali tak masalah, ketika kamu harus mengatakan bahwa kamu hanya menganggapku teman. Tak ada masalah sebab tak selamanya rindu harus berbalas rindu. Dan, perasaan ini sungguh tak ada hubungannya denganmu. Aku sudah terbiasa mengatasinya sendiri. Pergilah sesukamu, tak perlu lagi berkunjung jika tak benar-benar ingin tinggal!

Kamis, 21 Juli 2016

Lelaki yang Datang dari Masa Lalu tanpa Membawa Luka




"Kalau kamu butuh seseorang agar terbebas dari tekanan orang tua atau sosial, aku siap buat jadi pasangan bohonganmu," kata lelaki di depanku. Lelaki yang beberapa jam lalu mengabariku bahwa ia sedang pulang, lalu ingin bertemu. Lelaki yang dulu, dulu sekali, selalu bisa membuatku merasakan kupu-kupu terbang dalam perutku. Dulu, dulu sekali, jauh sebelum banyak-banyak orang yang datang dan pergi begitu saja. 

Aku tertawa kencang. Lelucon itu terdengar lucu. Padahal, sesungguhnya jantungku berdebar. Kenapa harus bohongan coba?

"Aku serius, Dek, dengan tawaranku. Aku tahulah gimana tekananmu menjadi perempuan yang sudah bisa bergerak bebas, tetapi masih takbisa lepas dari hal-hal di belakangmu. Aku tahu rasanya," katanya dengan wajah serius.

"Kayaknya belum perlu, sih, Mas. Aku masih bisa mengatasi segala pertanyaan dan penghakiman itu. Orang tuaku masih baik-baik saja, kok! Semacam sedikit nggak peduli aja, sih, kalau yang ngomong orang lain. Haha."

Sementara itu, ada jantung yang sedang berdetak takseperti biasanya, ada otak yang juga sedang mengingat-ingat. Entah tujuh, entah delapan tahun lalu. Ada yang sedang diam-diam kudoakan tiap malam, ada yang sedang diam-diam banyak-banyak kutulis dalam setiap lembar buku harian, dan ada yang sedang diam-diam menunggu seseorang pada pagi-pagi buta di halte bus kampus. 

Seseorang yang kutahu akan berjarak jutaan tahun cahaya. Seseorang yang dulu selalu berdebat, pekerjaan apa yang paling susah, menganyam kerangka ketupat atau menghias pohon Natal. Seseorang yang dulu tempat bertukar buku bagus. Dan, seseorang yang selalu rajin pergi ke gereja, sedangkan aku masih belum berniat meninggalkan sholat. Begitulah. Tuhan memang senang bercanda.

"Syukurlah kalau gitu. Terus kamu gimana? Mau penelitian tentang apa?"

"Mas, dulu, dong, cerita. Gimana kuliahnya di Chicago? Mau disertasi tentang apa? Pulang ke Indonesia berapa lama? Penelitian ke mana aja?" cercaku.

"Lha, panjang, Dek! Haha. Oke, oke. Jadi, risetku itu tentang karet."

"Karet? Diapain?"

"Aku pakai metode follow a thing. Aku mengikuti proses karet dari lahir sampai pensiun dari sudut pandang social science. Yang menarik dari karet, kan, karet itu bahan alam, tetapi setelah diproses ia tidak lagi bisa diurai oleh alam. Bagaimana relasi dan interaksi sosial dari setiap proses itu yang ingin aku kaji. Bla bla bla.... Makanya, ini aku pulang buat penelitian, buat bahan disertasi, tapi ini masih riset awal, sih." jelasnya panjang lebar. Lelaki di depanku ini selalu membuatku kagum.

"Kok, keren, sih?" hanya kalimat itu yang bisa muncul. Bolehlah aku bilang bahwa aku hanya remah-remah meses kiloan di hadapannya.

"Namanya riset, ya, harus total, Dek. Gantian, kamu gimana? Mau penelitian disertasi tentang apa?

"Tentang Timor Timur, tapi pakai korpus karya sastra, mau lihat memori kolektif antara dua negara, Indonesia dan Timor Leste, yang pernah konflik dari sudut pandang yang berbeda," jawabku sekenanya.

"Kamu butuh lulus cepat atau nggak?" tanyanya kemudian.

"Nggak harus. Yang penting puas dalam risetnya," jawabku sok idealis.

"Bagus! Kalau nggak butuh lulus cepat, kamu bisa ikut beasiswa programku ini. Nanti aku bantu segala sesuatunya, deh. Mungkin butuh 6 sampai 7 tahun untuk dapat gelar Ph. D. Orang-orang di yayasan ini sedang butuh penelitian tentang Timor Timur."

"Akan sangat-sangat kupertimbangkan, Mas! Selama nanti kalau ada pertanyaan tentang hal-hal yang tidak bersifat akademis dalam jangka waktu enam atau tujuh tahun itu, kamu siap menjadi orang pertama yang membelaku, loh! Haha."

"Haha. Siyaaaaaappppppp!"

Lalu, lelaki di depanku itu pamit. Sudah ada janji dengan teman lainnya, katanya. Selalu saja begitu. Temannya terlalu banyak. Tapi aku bisa apa selain melepasnya, seperti yang lalu-lalu. Sebuah gantungan kunci darinya sudah ada di genggamanku. Kebetulan saja, aku sedang mencari gantungan kunci untuk menggantikan gantungan kunci kamarku yang sudah lepas bagian gambar utamanya. Jika saja lelaki itu tahu, aku baru tiga kali ini aku mengganti gantungan kunci kamarku dari tujuh atau delapan tahun yang lalu, pertama gantungan kunci oleh-oleh dari lelaki itu, kedua gantungan kunci dari Mama yang sekarang sudah rusak, dan ketiga oleh-oleh dari lelaki itu lagi.

Percayalah, itu satu-satunya cara untuk tetap mengingatnya. Diam-diam.

Minggu, 17 Juli 2016

Dan, Mitos itu Bernama Kecantikan

Seharusnya, setiap orang sadar bahwa membahas fisik seseorang bisa jadi sangat menyakitkan, bahkan hanya sebatas kalimat, "Kamu gendutan, ya?"

Jika boleh saya bilang, standar kecantikan yang ada di dalam masyarakat itu sungguh jahat. Jauh lebih jahat daripada bahaya laten komunis yang sedang digembar-gemborkan itu. Meskipun keduanya tidak perlu dibenarkan juga.

Jadi begini, pertanyaan atau pernyataan tentang fisik--terlebih perempuan--seharusnya tidak perlu dibahas dan dibanding-bandingkan dengan kondisi fisik perempuan lain atau kondisi fisik sebelumnya. Terlebih pada momentum Lebaran, reuni, halalbihalal, atau apa pun itu acaranya. 

Seseorang tidak pernah tahu, efek kalimat "Kamu gendutan, ya?" atau "Kok, kamu sekarang item banget, sih?" atau "Badanmu lebar amat, jadi susah masuk frame, kan!" atau "Kamu kerempeng sekali, kayak nggak pernah makan setahun!" atau "Ternyata dadamu rata, ya? Haha." atau "Bokongmu nggak ada beda sama papan jalan. Rata!" atau "Kamu harusnya pakai pensil alis, biar nggak kayak tuyul!" dan kalimat-kalimat lain yang serupa. Kalimat yang saya yakin hanya diucapkan sekilas tanpa dipikirkan masak-masak itu akan berdampak pada orang yang dilontari pertanyaan atau pernyataan.

Semenjak kuliah, tubuh adik saya mendadak jauh lebih berkembang daripada saya. Hal itu takpelak membuat setiap orang yang bertemu kami selalu berkomentar, "Kok, sekarang adiknya yang gendut, ya! Kakaknya kurusan!" Takhanya sekali, kalimat serupa itu terlontar berkali-kali. Tahu akibatnya? Adik saya kemudian diet mati-matian untuk menurunkan berat badannya. Beberapa kali jatuh sakit karena memilih tidak makan atau mengurangi porsi makannya sepersekian persen. Masih untung, adik saya tidak sampai mengalami gangguan pola makan.

Padahal, saya dan mama saya berkali-kali mengingatkan bahwa takmasalah memiliki tubuh subur selama sehat. Tetapi, ia lebih percaya kalimat orang lain yang barangkali setelah mengucapkan kalimat itu, mereka akan lupa. "Aku sakit, Ma, tiap kali ketemu orang selalu dibilang gendut," dalih adik saya setiap kali diingatkan tentang program dietnya itu. Saya jauh lebih sakit melihat orang-orang yang berjuang mati-matian untuk memenuhi standar kecantikan yang ada dalam masyarakat itu.

Baiklah, itu satu contoh. Belum termasuk kejahatan mitos lainnya, misalnya kulit putih, tubuh tinggi, rambut lurus, wajah mulus, dan hal-hal yang setipe. Yang pada akhirnya, membuat saya muak. Membuat saya ingin membisiki mereka satu-per satu bahwa tidak ada yang salah menjadi perempuan yang sama sekali berbeda dengan perempuan-perempuan yang dimitoskan sebagai perempuan "cantik" itu. 

Naomi Wolf, dalam bukunya Beauty Myth, sudah membahas tentang hal ini yang ternyata pun tidak berubah setelah sekian puluh tahun. Mitos kecantikan akan selalu ada dan bertumbuh. Standarnya akan terus berubah mengikuti desain dari orang-orang yang punya kepentingan, misalnya produsen produk kecantikan dan media iklan. Lalu, sebagai masyarakat yang setiap hari terpapar produk-produk tersebut, tanpa sadar akan selalu membanding-bandingkan dirinya dengan model iklan produk tersebut. Dan, jauh lebih jahatnya, standar yang sesungguhnya tidak jelas batasannya itu, kemudian digunakan untuk melihat fisik seseorang lainnya dan digunakan sebagai alasan untuk mencela.

Jika dipikirkan secara mendalam, apa salah dan dosa perempuan yang bertubuh lebar, pendek, dan berdada rata, misalnya? The woman can't do anything with it. Selama seseorang tersebut tidak menyakitimu, tidak membuat keributan, tidak mengacaukan dunia, saya kira tidak perlu menyakiti hatinya dengan hal-hal yang tidak perlu.

Tidak semua perempuan paham bahwa segala yang ada di dunia ini, termasuk standar kecantikan, adalah konstruksi yang dibentuk, didesain, dan disengaja. Barangkali, mayoritas dari mereka berpikir bahwa menjadi perempuan seperti yang digambarkan dalam iklan adalah sebuah keharusan jika ingin diakui sebagai "perempuan cantik". Namun, masih banyak juga orang yang belajar tentang hal-hal seperti ini masih juga suka membahas fisik orang lain. Apa urgensinya? Apakah setelah seseorang bilang, "Ternyata dadamu rata, ya?" kepada seseorang lainnya, lantas bisa membuat dada seseorang tersebut berubah ukuran sebagaimana yang distandarkan? Tidak juga.

Maka, tolonglah, berhenti membahas fisik seseorang. Coba cari obrolan yang tidak perlu menyakiti siapa pun ketika bertemu kembali dengan teman lama ataupun teman baru. Banyak obrolan tentang sastra, filsafat, ekonomi, politik, iklim, lingkungan, dan topik menarik lainnya, tetapi kau lebih memilih membahas fisik seseorang? Hell-ooo! Sepertinya hidupmu butuh piknik!

Minggu, 22 Mei 2016

Kepada Jarak Jutaan Tahun Cahaya yang Sedang Kita Tempuh

Apa yang lebih menyedihkan daripada dua orang yang saling mencintai, tetapi takpernah bisa bersatu hanya karena rumah ibadah yang berbeda? Kukira kesedihan kita jauh melampaui itu.

Entahlah. Apa yang sedang ada di pikiran Tuhan ketika mempertemukan kita, lalu membuat kita jatuh cinta, dan perasaan itu entah sampai berapa lama bertumbuh. Tuhan memang senang bercanda, bukan? Tiba-tiba aku harus datang ke kotamu untuk menyelesaikan pekerjaan yang entah-apa, sedangkan kamu memang tinggal di sana. Sebagaimana FTV, kisah kita sudah tertebak setelah itu.

Dulu, dulu sekali, aku pernah berkata pada seseorang, “Ya, buat apa dipertahankan. Beda agama, apalagi LDR. Tidak ada yang perlu diperjuangkan!” kataku lantang pada waktu itu ketika ia bertanya pendapatku tentang temanku yang sedang menjalani hubungan beda agama meskipun mereka satu kota.

Lalu kita? Aku suka diam-diam tertawa, menertawakan kekonyolan yang sedang terjadi. Kotamu jauh di timur, di Pulau Komodo, yang dulu hanya bisa kubaca di cerita pendek penulis favoritku itu. Sementara kotaku masih tetap di sini, kota yang katanya metropolitan dan masih saja penuh dengan ingar-bingar.

Aku masih rajin bangun tengah malam untuk bersujud ketika kamu juga rajin pergi memimpin doa. Entah mengapa, selalu saja ada sedikit sesak ketika aku melihat Rosario yang sering kau kalungkan di leher itu. “Aku ke gereja dulu, ya,” katamu selalu. Tiap kali aku menatapmu yang sudah berpakaian rapi. Aku hanya bisa mengangguk. 

"Kenapa kamu nggak ikut aku aja, sih? Lalu kita menikah, dan aku mau tinggal di mana pun, termasuk di kotamu. Aku bisa mengajar di mana saja," kataku suatu waktu. "Nanti kalau aku ikut kamu, kamu akan mudah meninggalkanku jika aku sedang dalam kondisi terpuruk," katamu kemudian. Aku diam-diam menarik napas.

Seharusnya kamu tahu, aku tidak pernah menjadi pihak yang meninggalkan dalam sebuah komitmen. Menjadi pihak yang pernah ditinggalkan—berkali-kali oleh orang yang sama—mengajarkanku banyak hal. Bahwa aku pun seharusnya tidak menorehkan luka yang sama, terlebih kepadamu. 

Atau memang barangkali kita takperlu lagi mempermasalahkan, siapa ikut siapa. Sebab, jarak yang harus ditempuh terlalu jauh. Sebab dinding terlalu tinggi. Dan, sebab kita sedang berbatas jutaan tahun cahaya. Barangkali juga, seharusnya kita tidak perlu lagi saling mengingat. Membatasi diri untuk hal-hal yang akhirnya akan berakhir pada kesepian.

Lantas, apa yang sedang kita pertahankan? Atau barangkali yang sedang kita perjuangkan dari setiap panggilan dan pesan yang masih kita jaga sampai hari ini? Barangkali jawabannya sedang tertinggal di jutaan bintang yang berhamburan di langit kotamu itu.

Senin, 18 Januari 2016

Selamat Datang, Tuan Tiba-Tiba!



Hallo, salam kenal.

Kadang, cerita tentang sesuatu bisa jadi dimulai dari hal apa pun. Tiba-tiba, tanpa terduga. Begitu juga dengan hal-hal yang sedikit mendebarkan, lalu tiba-tiba menjadikan senyum terkembang tanpa sengaja. Sebuah kalimat sederhana di sebuah tempat yang takterduga pun kadang membawa hal-hal yang takterduga pula. Setelah itu, segala hal yang dulu kadang menjadi standar ideal tiba-tiba menguar begitu saja. 

Aku boleh memanggilmu Tuan Tiba-Tiba?

Berapa lama kita mulai berbagi cerita? Kukira belum lama. Hanya saja segala sesuatunya berlangsung tiba-tiba.

Tuan Tiba-Tiba,
Kamu boleh menertawakan kekonyolanku hari ini. Yang tiba-tiba pula ingin menulis banyak-banyak tentang kamu. Yang sesungguhnya pun aku tahu, kamu tidak akan pernah membaca tulisan ini. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Atas segala macam telinga dan bahu yang sudah dengan sangat baik kamu sediakan. Atas segala tawa yang akhir-akhir ini pun aku sudah lupa rasanya. Atas segala kalimatmu yang sama sekali takberbunga-bunga itu, tetapi pada akhirnya aku memahaminya. Terima kasih. 

Tuan Tiba-Tiba,
Aku tahu. Di bawah ribuan bintang itu, kita seringkali sibuk dengan pikiran masing-masing. Kamu sibuk dengan analisismu tentang besi, baja, ikatan-ikatan kimia yang aku sudah sangat lupa itu apa, tulisan-tulisan dan baca-bacaanmu yang tidak jauh-jauh dari rekayasa ilmiah atau apa pun itu. Sementara aku setiap harinya masih sibuk dengan naskah-naskah yang harus aku edit, bacaan-bacaan yang bagimu juga entah apa, tulisan-tulisan juga yang taksatu pun kamu tertarik membacanya.

Namun, satu hal yang harus kamu tahu, Tuan Tiba-Tiba, aku tidak pernah merasa menjadi orang lain di hadapanmu. Aku tidak perlu bersusah payah membaca sesuatu yang entah apa agar aku bisa berbincang denganmu sehingga aku taktampak bodoh. Aku bisa membaca apa pun yang aku suka, termasuk teenlit yang entah sejak kapan, aku taklagi membacanya. Tentu saja, tanpa cibiran darimu. Barangkali, bagimu, semua buku fiksi sama saja. Sama-sama tidak kamu mengerti. Haha

Dan, barangkali, aku di matamu juga sama, sama-sama tidak mengerti ketika kamu sudah mulai bercerita tentang analisis yang sedang kamu kerjakan itu. Padahal, aku yang memancingmu untuk bercerita, aku pula yang tiba-tiba harus menghentikannya. Dan, kita hanya tertawa setelah itu.

Tuan Tiba-Tiba,
Sesungguhnya, aku sama sekali tidak berencana untuk berbagi kebahagiaan denganmu secepat ini. Ada hal-hal yang belum benar-benar aku selesaikan. Ada hal-hal yang berulang kali kutakutkan. Dan, ada hal-hal yang takpernah bisa kujelaskan. Hanya saja, matamu yang menenangkan dan jabat tanganmu yang hangat itu semacam menjawab segala pernyataan dan pertanyaanku yang takkan pernah selesai. Rasanya tidak adil jika aku tidak mempersilakanmu masuk.

Semoga saja, kamu tidak akan pergi dengan tiba-tiba jika suatu hari nanti kita sedang berada dalam kondisi kecewa, entah atas sebab apa. 

Maka, selamat datang di rumah yang sedang direnovasi, Tuan Tiba-Tiba! Semoga kali ini aku bisa menjamu tamu dengan jauh lebih baik.

Selasa, 29 Desember 2015

Desember Hampir Habis

Radio di pojok ruangan itu sedang memutar keras-keras lagu "Desember" dari Efek Rumah Kaca. Lagu itu terputar tepat ketika aku selesai mengetik judul di atas. Takada yang meminta. Lagu itu tiba-tiba terputar. Mungkin memang sedang berjodoh. Entahlah, setelah April, setelah Juni, Desember selalu bercerita banyak-banyak. Tentang apa saja. Tentang hujan yang setiap harinya mencuri langkah di genting rumah. Tentang ikan paus yang entah masih ada atau tidak di lautan. Atau tentang bunga padi di sawah tetangga.

Kau, apa kabar?
Apakah kau sudah menerima kartupos-kartuposku? Kartupos-kartupos yang kukirimkan melalui senja yang semburat, yang belum sempat dipotong-potong seseorang untuk diberikan kepada pacarnya. Atau suatu hari, aku menitipkan kartupos-kartupos itu melalui merpati yang katanya takpernah ingkar janji itu. Apakah kau sudah menerimanya?

Penantian yang tanpa ujung itu menyeretku pada ombak yang bergulung-gulung, pada sepertiga air mata yang belum sempat kuseka. Pusaran itu diam-diam menelan tubuhku yang semakin lemah karena ada kenangan dan harapan yang berbaur menjadi satu, tanpa jeda. Kau boleh tertawa kapan saja dalam hal ini. Sebelum tertawa itu dilarang, kata grup komedian yang legendaris itu.

Apakah aku menanti balasan kartupos-kartuposku darimu? Aku takpunya kesabaran yang sunyi, kata seorang penyair di kotamu. Pun denganku. Kesabaran yang kupupuk diam-diam ini barangkali takkan menjadi belukar, barangkali akan terkikis, pelan-pelan. Waktu terlampau singkat jika kuisi dengan sebuah penantian balasan kartupos-kartuposku darimu.

Hanya saja, jika suatu hari kau sempat membalas seluruh kartuposku, percayalah bahwa cintaku masih tetap seperti hujan pada bulan Desember. Tetap jatuh di tempat yang sama tanpa pernah merasa bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Ia takpernah peduli tentang penghakiman dari semesta sebab ia turun dengan sebuah pemakluman. Ia pun takperlu membuatmu menggigil sebab ia sudah menyediakan tempat pulang yang di dalamnya tersedia tungku api yang siap menghangatkanmu, kapan saja. Cintaku akan tetap seperti rumah yang pintunya tetap terbuka lebar menunggu kepulanganmu.

Rabu, 16 Desember 2015

Anak Perempuan dan Ayahnya

Apa yang bisa dilakukan seorang anak perempuan ketika ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-mengutuknya demi membela perempuan lain-yang bukan ibunya? Lalu, anak perempuan itu-bahkan takpunya teman untuk bercerita-kecuali memang hanya Tuhan-nya. 

Sementara selama ini dia sedang berusaha mati-matian untuk membuat ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu bangga kepadanya. Dia sedang berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi ayahnya-yang barangkali sekarang dia sudah tidak bisa lagi membedakan antara mimpinya atau mimpi ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu. Dia sedang menjalani hidup-yang barangkali dia pun sesungguhnya tidak pernah membayangkan kehidupan seperti itu. Tapi, dia selama ini hanya diam. Menjalani saja semua yang didiktekan ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu. Tanpa pernah punya keberanian untuk menolak, selain mengiyakan. Karena semua ada hitungannya. Biaya hidup, biaya sekolah, biaya kuliah, biaya ini-itu semuanya masih bergantung pada ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu.

Sekali dia berbuat kesalahan, semua hitungan pembiayaan itu akan dirinci, dijabarkan secara gamblang di depannya. Diungkit-ungkit bahwa anak perempuannya itu belum punya apa pun yang bisa dibanggakan, padahal anak perempuan itu takpernah mempunyai cita-cita untuk menyakiti siapa pun, bahkan setelah ia punya segalanya yang bisa dibanggakan, kelak. Cacian sebagai anak-yang-taktahu-membalas-budi-kepada-ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-pun meluncur dengan lancar di depan anak perempuan itu. Ditambah lagi dengan umpatan semacam-percuma-menyekolahkan-tinggi-tinggi-sebab-tidak-akan-berhasil-jika-kelakuan-kepada-orang-tua-seperti-itu. Satu kali pun, anak perempuan itu takpernah punya kesengajaan untuk menyakiti hati kedua orang tuanya.

Jika sudah demikian, lalu anak perempuan itu bisa apa? Sementara ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu takpernah tahu, ia berdoa siang-malam agar ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu selalu sehat dan bahagia. Ia sudah mengubur mimpinya dalam-dalam tentang bekerja kantoran, kuliah di luar negeri, berbisnis, dan hal-hal lain yang perlahan tapi pasti akan lenyap.

Ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu-pun takpernah tahu bahwa anak perempuannya itu takpernah punya cita-cita lain, kecuali: membahagiakan orang tua.

Minggu, 11 Oktober 2015

Jauh Sebelum Hari Itu

Aku takingat, apakah aku pernah bercerita panjang lebar tentang masa sebelum mataku bertemu matamu itu. Jauh sebelum hari itu, jauh sebelum tanganku menjabat tanganmu untuk pertama kalinya. Lebih jauh dari itu mungkin. Aku sama sekali takingat.

Jauh sebelum hari itu, aku pernah jatuh cinta pada sebuah kota yang di dalamnya aku ingin tinggal, berlama-lama atau bahkan mungkin selamanya meskipun aku takpernah tahu dengan siapa aku di dalamnya. Hanya saja kota itu semacam cerita yang ingin sekali kubaca habis, pelan-pelan.

Jauh sebelum hari itu, aku sudah mencintai kota itu dengan sangat. Membayangkan suatu hari aku akan membaca buku di suatu senja dengan gerimis yang sedikit deras, di teras rumah, dengan menghabiskan secangkir cokelat panas. Betapa menyenangkannya. Atau pada hari-hari tertentu aku akan memakai rok berwarna jingga senja, kemudian datang pada sebuah pertunjukan tari atau sandiwara, duduk saja di sana, barangkali juga akan kedinginan karena suhu pendingin ruangan yang terlalu rendah. Tidak masalah kukira, sebab aku akan memakai selendang bidadari yang akan kulilitkan pada leherku agar terasa hangat. Atau aku akan datang dengan setumpuk pertanyaan yang kurangkum dari setumpuk buku pada banyak-banyak diskusi yang diadakan pada waktu-waktu tertentu.

Jauh sebelum hari itu, aku pernah berdoa banyak-banyak pada Tuhan agar hasil ujian yang aku kerjakan tempo lalu itu membawaku tinggal di kota itu. Sayangnya, pada saat itu, Tuhan mengirimku ke kota lain, yang jaraknya hampir 500 kilometer dari kota itu. Aku takbisa berbuat banyak selain menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya di kota lain itu.

Jauh sebelum hari itu, aku pun pernah membayangkan betapa menyenangkannya jika aku bisa memiliki toko roti dan sebuah penerbitan. Sederhana saja, aku suka makan roti dan membaca buku. Haha. Selain itu, betapa menyenangkannya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, biar hidup tidak sekadar hidup tanpa ada manfaat untuk orang lain. Barangkali, angan-angan itu muncul ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dan, jauh sebelum hari itu, aku sudah memiliki mimpi banyak-banyak tentang masa depan.

Jauh sebelum hari itu, aku sudah punya mimpi yang ternyata sekarang hampir semuanya ada pada kamu. Tetapi aku tahu, segala mimpiku dan kamu adalah hal yang berbeda.

Selasa, 15 September 2015

Perihal Asisten Rumah Tangga

Hidup sendirian di rumah bersama dengan seorang penjaga rumah membuat saya harus berpikir berulang kali lipat untuk nantinya merekrut seorang asisten rumah tangga. Kedua orang tua saya sedang pergi haji, saya bertugas untuk menjaga dua rumah, satu rumah oma saya dan satu rumah keluarga saya. Seorang penjaga rumah akan datang ketika malam menjelang dan tidur di rumah oma saya, sedangkan saya tetap sendirian di rumah saya.

Meskipun demikian,  ada hal-hal yang kadang membuat saya jengkel karena saya tidak terlalu berani menegur pada si penjaga rumah. Jadi, begini, kadang saya harus bernapas panjang-panjang ketika bangun tidur dan membuka pintu, kemudian mendapati sampah kupasan kulit mangga di pinggir kolam. Atau kulit telur yang tercecer di bawah jemuran. Atau juga gelas dan piring kotor yang diletakkan begitu saja di meja. Atau sampah-sampah daun yang dibiarkan menumpuk. Dan, tentu saja, yang akan membersihkan semua itu adalah saya.

Saya tidak berani menyuruh si penjaga rumah untuk membersihkan segala macam persampahan itu--meskipun sebenarnya bayaran yang diterimanya sudah termasuk bayaran membersihkan rumah--karena alasan ia hampir seusia oma saya. Ada lapisan tebal rasa sungkan dan takut untuk menegurnya. Pun dengan omelan-omelan yang harus saya simpan rapat-rapat agar tidak perlu menyakiti siapa pun. Seharusnya memang hal itu remeh-temeh dan saya tidak perlu jengkel, hanya saja itu tidak terjadi sekali atau dua kali. Atau mungkin saya saja yang bersikap berlebihan. Sesungguhnya, saya pun tidak terlalu rajin membersihkan rumah, tapi saya tidak pernah tahan melihat sampah atau piring kotor yang tidak pada tempatnya.

Dari kejadian semacam ini, saya jadi berpikir ulang berkali-kali untuk nantinya merekrut asisten rumah tangga, terlebih baby sitter. Bukan maksud saya untuk menggeneralisasikan bahwa semua orang yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga selalu seperti itu--tipe orang-orang yang tidak sepenuhnya peduli pada rumah yang dijaganya--tetapi ternyata saya bukan tipe orang yang bisa percaya untuk menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.

Saya jadi berpikir, pasti akan lebih menenangkan jika semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri saja, semampunya. Tidak perlu terlalu ambisius untuk rumah yang selalu tertata sangat rapi, yang penting bersih, tidak bau, dan cukup rapi. Barangkali bagi saya itu cukup daripada harus merekrut asisten rumah tangga, tetapi saya tidak pernah berani menegur perihal kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak sesuai dengan kebiasaan saya. Yang pada akhirnya, saya harus menahan emosi setiap hari, yang bisa jadi meledak pada malam Lebaran.

Begitulah. Barangkali keputusan saya hingga kalimat terakhir ini sudah bulat, saya tidak akan menggunakan jasa asisten rumah tangga nanti setelah saya sudah berumah tangga atau mulai memiliki rumah sendiri.

Jumat, 11 September 2015

Empati Takmelulu tentang Like dan Share

Beberapa tahun terakhir ini, saya jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti perkembangan berita dengan saksama, baik dari surat kabar cetak, surat kabar elektronik, terlebih televisi. Saya hanya cukup tahu apa yang terjadi, tanpa harus memiliki niat untuk mengikuti perkembangannya secara mendalam. Meskipun demikian, saya masih saja kebanjiran informasi dari linimasa jejaring sosial yang berasal dari unggahan teman-teman saya.

Mengapa saya memutusukan untuk tidak lagi membaca koran dan menonton televisi? Saya hanya ingin bahagia. Itu saja. Begini, setiap kali mencoba mengikuti berita, saya selalu saja menarik napas panjang-panjang, adakah berita yang tidak lebih buruk dari ini? Barangkali memang benar bahwa a bad news is a good news. Tapi, apakah dengan mengunggah foto korban yang berdarah-darah juga termasuk sebuah kebaikan bagi sebuah media?

Saya masih bisa sedikit memaklumi ketika berita hanya berisi perspektif dari para jurnalis atau penulisnya sebab saya percaya bahwa segala sesuatu yang didengar adalah opini, bukan fakta, dan segala sesuatu yang dilihat adalah perspektif, bukan kebenaran. Termasuk tulisan ini, termasuk nukilan--yang entah dari siapa--itu. Dan, mungkin memang perspektif saya berbeda dengan perspektif para jurnalis tersebut sehingga saya tidak terlalu setuju dengan segala hal yang dikemukakannya. 

Namun, saya masih percaya, jurnalis yang memang benar-benar memahami dan menerapkan kode etik, tidak akan pernah melanggar segala sesuatu yang sudah tertera di dalam kode etik. Akan tetapi, permasalahan tidak berhenti pada itu saja. Perkembangan arus teknologi dan informasi memungkinkan setiap orang memiliki "media" secara pribadi, yang dikelola secara mandiri dan dikonsumsi oleh orang-orang dalam lingkarannya. Katakanlah, jejaring sosial. Setiap orang pasti punya seminimalnya satu akun yang bebas diisi dengan apa pun.

Media yang dikelola oleh satu orang saja sudah cukup membentuk sebuah "kebenaran", terlebih media yang dikelola oleh jutaan netizen. Media punya andil besar dalam menggiring opini massa. Tentu saja. Itu sudah dibahas berabad-abad tahun yang lalu oleh para ahli media. Bahwa media adalah tangan kapitalis, bahwa media adalah kapital paling berpengaruh pada abad ini. Semacam bahasan yang sudah basi. Percuma saja grandtheory itu digaung-gaungkan kalau masih saja keenakan menerima suapan dari media. Lantas, bagaimana? Barangkali tidak terlalu menyalahkan media adalah salah satu jalan untuk menghentikan informasi yang tidak pada tempatnya. Memulai membatasi diri dari informasi-informasi yang takperlu mungkin bisa sedikit membahagiakan dan membantu agar kebodohan tidak terlalu cepat meluas.

Misalnya saja, satu hari yang lalu, Masjidil Haram tertimpa alat berat, banyak orang luka-luka, bahkan meninggal. Seharusnya, informasi sudah sangat cukup pada hal-hal yang mencakup 5W+1H. Tidak perlu ada foto korban yang berdarah-darah yang dibagikan di setiap akun jejaring sosial, lantas yang melihat kemudian ikut membagikan foto-foto itu. Terlebih, akun-akun yang membagikan foto-foto tersebut adalah akun-akun semacam Golongan Darah, Berdakwah, Dagelan, atau sejenis itu yang entah siapa administratornya dan entah bagaimana cara mendapatkan berita tersebut.

Lalu, setiap orang dengan tidak merasa berdosa mengeklik tombol like atau share, yang otomatis akan turut serta menyebarluaskan berita tersebut dengan alibi turut berempati. Terlebih berita yang entah dari mana datangnya itu disebarkan secara personal melalui aplikasi pesan. Oh, tolong. Empati atau apa pun itulah namanya bukan dengan hanya menge-like atau menge-share sesuatu yang diposting oleh akun-akun yang entah apa dan entah siapa itu. Tolong, menjadi cerdas tidak perlu sekolah setinggi langit, kok.

Saya memang sedikit emosional kali ini. Orang tua saya sedang berada di Makkah ketika kejadian. Sungguh saya tidak tahu-menahu perihal jatuhnya alat berat sampai ketika banyak pesan yang masuk menanyakan kabar orang tua saya kepada saya. Saya yakin orang tua saya baik-baik saja, tetapi menjadi miris ketika foto-foto jamaah haji yang terluka disebarluaskan tanpa ada pertanggungjawaban. Saya membayangkan saja, bagaimana jika yang terekam dalam foto itu adalah orang tua saya, tentu saja kesedihan saya akan berkali lipat.

Sebenarnya, sudah sejak lama saya ingin menulis tentang permohonan dengan sungguh-sungguh untuk tidak menyebarluaskan foto korban apa pun, baik foto dengan blur terlebih foto yang tampak jelas. Barangkali itu adalah salah satu empati yang bisa dilakukan--selain doa--ketika tangan taksanggup terulur untuk membantu korban maupun keluarga korban. Sekian.

Kamis, 09 Juli 2015

Kabar Gembira(?)

"Aku lulus sidang dengan nilai A!" aku mengetik pesan itu dengan cepat, tetapi cepat-cepat pula menghapusnya kembali. Pesan itu takjadi terkirim sebab segala sesuatunya taklagi seperti dulu. Barangkali, memilih menghela napas panjang-panjang adalah sebuah pilihan yang menenangkan untuk kali ini.

Sungguh, hingga detik ini, satu-satunya orang yang ingin kukabari cepat-cepat setelah kedua orang tuaku adalah kamu. Masih kamu. Tapi, aku taklagi bisa menulis rentetan pesan semacam "Aku dapat IPK tertinggi lagi, loh." atau "Aku cum laude lagi." atau "Semester ini IP-ku 4.00!" kepadamu. Dulu, jika seperti itu, sebentar lagi kamu pasti akan meneleponku untuk mengucapkan selamat berkali-kali. Lalu, pipiku merona. Bahagia sekali rasanya. Tapi, itu dulu. Dulu sekali.

Ah, sudahlah. Seharusnya memang aku segera bangun. Segala macam cum laude dan IPK tertinggi itu memang sebaiknya disimpan rapat-rapat. Kamu takperlu tahu, toh, barangkali kamu pun taklagi ingin tahu. Kabar gembira tentangku barangkali taklagi penting untukmu. Padahal, aku hanya ingin berbagi kebahagian denganmu, bukan untuk mengintimidasimu. Terlebih untuk membuatmu merasa kecil. Sudah, sudah, lupakan. Sebab, seberapa keras pun berjuang, aku takpernah bisa meyakinkanmu bahwa aku akan tetap berada di sampingmu, apa pun yang terjadi. Apa pun.

Namun, barangkali ketabahan bulan Juni kemarin mengajariku banyak hal. Bahwa aku harus merelakan segala sesuatu yang tidak tercipta untukku, dan mungkin kamu salah satunya. Bahwa aku harus mulai berhenti menunggu seseorang yang sedang berbahagia menunggu kedatangan orang lain, dan mungkin itu kamu yang sedang menunggu kepulangan orang-yang-bukan-aku. Dan, bahwa aku harus memperjuangkan hal lain yang patut diperjuangkan, mungkin kamu yang takberkenan ada di dalamnya. Dan, aku harus cepat-cepat pergi memang.

Sesungguhnya, ada satu lagi kabar (yang seharusnya) gembira untuk kita. Tapi, barangkali itu dulu. Sekarang takperlu lagi kuceritakan di sini. Toh, di kota mana pun nanti aku tinggal, tidak akan membuatmu kembali. Rumahmu bukan lagi aku. Aku cukup tahu diri. Sekian dan terima kasih. Aku undur diri.

Kamis, 02 Juli 2015

Selamat, Segala Sesuatunya (akan) Selesai!

Kurang dari 24 jam saya akan menghadapi sidang tesis. Sementara itu, saya baru saja menyelesaikan membuat poin-poin presentasi beberapa menit yang lalu. Tetiba saja, perut saya rasanya sedikit mulas. Untuk pertama kalinya, saya grogi menghadapi hal-hal presentasi seperti ini. Pun untuk pertama kalinya juga saya bergadang selama hampir seminggu untuk menyelesaikan tesis ketika tenggat waktu pengumpulan dua bulan yang lalu. Dan, begitulah. Tesis kali ini selesai pada waktunya dengan segala macam suka-dukanya.

Saya memilih topik tentang fenomena pesugihan di Gunung Kawi. Sedikit yakin, banyak ragunya saat itu. Sempat mengajukan ganti topik, tetapi ditolak oleh pembimbing. Akhirnya, saya pun takada pilihan lain selain menyelesaikan topik ini hingga selesai. Penelitian pertama saya lakukan pada bulan Januari. Sekira 10 hari saya menginap di Gunung Kawi, menghitung hari agar cepat selesai, tetapi lama-lama saya menikmati proses ini.

Data lapangan menunjukkan banyak hal yang takterlihat pada mulanya, tetapi memang seharusnya demikian. Setiap orang yang berkepentingan di sana selalu menekankan bahwa di Gunung Kawi bukanlah tempat pesugihan, tetapi hanya tempat ziarah atau ngalap berkah. Akan tetapi, logikanya, tempat ziarah "biasa" tidak mungkin dikunjungi hingga sepuluh ribu pengunjung setiap bulannya. Sesungguhnya, penelitian saya ini memang tidak mempermasalahkan ada atau tidaknya pesugihan di sana, tetapi hal-hal yang di luar itu, misalnya ideologi, politik, dan narasi dalam ritual ngalap berkah.

Karena pembahasan tentang persilangan hal-hal tersebut antara pemangku kepentingan di Gunung Kawi, saya pun harus mengkroscek data ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat karena pihak Gunung Kawi menyatakan bahwa kedua makam tersebut ada hubungannya dengan Hamengkubuwono III.

Baiklah. Singkatnya, saya harus penelitian ke sana kemari mencari data. Semacam lelah, tapi takbisa berhenti di tengah jalan. Saya harus lulus pada semester ini jika takmau membuang delapan juta untuk bayaran semesteran dan mau mempertahankan predikat cumlaude (yang sesungguhnya juga taktahu fungsinya untuk apa).

Sekarang, segala sesuatunya sudah hampir selesai. Barangkali 15 jam lagi saya sudah bisa menyandang gelar M.Hum. di belakang nama saya. Namun, sekarang saya tahu, apa yang membuat saya mulas. Lalu, setelah M.Hum. saya akan bagaimana? Akan ke mana? Akan melakukan apa? Akan bekerja apa? Pertanyaan-pertanyaan yang takkan habis itu sedikit-sedikit menghantui saya.

Dulu, ketika lulus jenjang sarjana, saya sama sekali takmemikirkan hal tersebut. Sebab saya langsung melanjutkan S2 dengan salah satu tujuannya adalah penundaan status pengangguran. Tapi sekarang? Saya mau lari ke mana lagi? Menunda segala sesuatunya dengan sekolah S3? Saya rasa menunda tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Satu hal sesungguhnya yang ingin saya lakukan selepas lulus: saya ingin mengajar. Tapi, entahlah, universitas mana yang rela menerima saya. Haha. Pilihan untuk tetap di kota ini atau pindah ke kota lain pun masih harus dipikirkan masak-masak. Pilihan untuk menikah--yang entah dengan siapa pun--harus masuk ke dalam daftar rencana. Atau pilihan melanjutkan S3 di mana dan kapan sebenarnya bisa dipikirkan mulai sekarang. Atau mungkin beberapa bulan mempersiapkan beasiswa dengan les bahasa Inggris dan kerja freelance di penerbitan bisa juga menjadi pilihan. Dan, segala sesuatunya sekarang berkumpul dalam perut, membuat melilit. Padahal saya harus istirahat, sebentar lagi waktu sahur, sebentar lagi sidang tesis.

Ternyata menjadi dewasa itu dilematis, ya? 

Selasa, 30 Juni 2015

Dan, Tetiba Segala Sesuatunya Menjadi Sendu

Gambar diambil dari sini.

Apa yang tersisa dari penghujung bulan Juni selain gerimis yang hanya ada dalam tulisan penyair tua favoritmu itu? Gerimis yang tidak akan pernah datang. Jikalau memang datang, ia menjelma sebagai sebuah ketabahan, lalu menguap begitu saja dimakan waktu.

Terbuat dari apakah waktu? Apa pun itu. Saya rasa, waktu adalah hal yang paling rakus yang pernah Tuhan ciptakan. Ia suka menghabiskan hal-hal yang belum selesai sehingga selamanya takkan pernah selesai. Ia juga suka bersijingkat mencuri-curi segala tenggat yang terlewat begitu saja. Atau, diam-diam ia seringkali mengubah segala sesuatunya menjadi abu.

Saya takbisa mengeluh lagi tentang waktu yang takpernah tahu malu itu. Saya hanya bisa mengikutinya, kadang harus berlari atau berjalan sangat pelan. Agar segala sesuatu yang saya usahakan tidak pernah usang dimakan waktu.

Pun waktu yang tetiba membuat segalanya menjadi sendu. Pada selepas senja tadi. Pada jalanan kecil yang setiap kali saya lewati. Sudah hampir enam tahun, saya menempati kota ini. Kota yang pun dengan tetiba menjadi tempat pulang saya yang kesekian. Pada selepas senja tadi, temaram di langit dan jalanan kecil itu menjadi lebih syahdu. Seolah nantinya saya akan sangat merindukan hal-hal itu di luar sana. Di kota lain yang saya pun masih taktahu.

Segala sesuatunya hampir selesai pada hari ini meskipun sesungguhnya saya tahu segala sesuatunya hampir dimulai dari hari ini. Hari-hari setelah ini, saya harus segera memutuskan apakah tetap tinggal di kota ini atau pergi. Segalanya berubah menjadi dilematis karena jauh lebih rumit daripada sekadar pertanyaan "Akan memakai baju apa saya hari ini?" yang sering saya pertanyakan menjelang mandi pagi.

Dan, untuk kali ini, kali ini saja, saya harus menggantungkan pertanyaan itu kepada waktu. Sebab, takpernah ada yang tahu ke mana kaki melangkah setelah ini, selain waktu.

Sabtu, 20 Juni 2015

Pertemuan Kembali

"Aku sudah di stasiun," katamu dalam sebuah pesan singkat. Diam-diam saya berdebar, kereta yang saya yakin kecepatannya takpernah berubah itu rasanya melambat. Perjalanan Solo--Jogjakarta yang hanya tertempuh waktu 50 menit itu semacam melambat menjadi 12 jam. Diam-diam saya merindukan kamu, merindukan kita.

Apa yang tersisa dari sebuah rindu, selain pertemuan? Saya pun takpernah tahu. Itu kali pertama kita bertemu kembali setelah malam-malam panjang yang hanya berisikan saya dan kamu, bukan kita. Pertemuan tanpa rencana yang akhirnya menyeret kembali segala debar yang sesungguhnya takpernah hilang itu.

Kereta berhenti tepat di stasiun pertama kali saya mengenalmu. Semacam cerita picisan memang, tapi begitulah nyatanya. Saya melihat kamu di sudut yang sama dengan pertemuan-pertemuan kita yang lalu, berdiri menunggu. Menghampirimu kala itu bukan perkara mudah. Ada hati yang diam-diam sedang ditata baik-baik agar takterlihat terlalu berantakan di matamu.

"Hai," sapamu mengawali pertemuan kala itu. Saya hanya menjawab sekadarnya, bukan taksenang, hanya terlampau bahagia. Saya takmau kamu melihat kebahagiaan itu atas alasan harga diri yang entah berapa harganya itu.

Selanjutnya, kamu berbicara tentang jadwal makan saya yang berantakan karena belum makan seharian, mengomeli saya karena terlalu lelah, dan hal-hal tentang saya yang masih kamu ingat dengan jelas. Dalam hati, saya bersorak. Kamu sama sekali takberubah, pun matamu yang membuat saya jatuh cinta berkali-kali itu.

Pertemuan yang takdirencanakan itu terasa sangat sebentar. Waktu terlalu cepat ketika ada kamu, saya kira. Sebuah pelukan yang lebih lama dari biasanya menjadi sebuah penanda bahwa akan ada pertemuan-pertemuan setelahnya. Kala itu, saya takberpikir banyak. Saya sudah terlampau bahagia ketika akhirnya bisa berbicara denganmu lagi setelah penantian panjang.

Adakah yang lebih dahsyat dari sebuah rindu, selain pertemuan (kembali)?

Senin, 25 Mei 2015

Kapital

Sudah lama tidak menulis di sini. Tentu saja, kesibukan mengerjakan tesis bisa dijadikan kambing hitam tunggal yang barangkali memang patut dipersalahkan. Kurang dari 24 jam lagi dari waktu menulis ini, saya harus menghadapi sidang seminar tesis, semacam sidang pertama yang nantinya akan ada revisi-revisi untuk sidang tesis sesungguhnya. Rasanya? Entahlah. Saya hampir lupa rasanya deg-degan ketika menghadapi hal-hal seperti ini. Hingga detik ini, saya baru membuat sekitar sepertiga dari tampilan presentasi yang seharusnya, tetapi saya malah pergi.

Sudahlah. Lupakan sejenak. Saya baru saja membaca sebuah tulisan seseorang yang entah siapa yang sedang mengimbau untuk bijak menggunakan layanan Go-Jek, utamanya layanannya yang berupa Go-Food. Jadi, layanan itu memudahkan para pelanggan untuk memesan makanan yang nantinya akan diantar oleh petugas Go-Jek tanpa harus menambah biaya, selain biaya makanan. Kemudian, takjarang, orang-orang hanya memesan satu porsi makan siang, tetapi tetap komplain karena pesanan datangnya lama tanpa memedulikan kondisi jalanan Jakarta yang macet ketika jam makan siang.

Hal itu mengingatkan saya pada banyak hal. Tentang orang-orang yang sama sekali takpunya kapital. Mungkin kali ini bolehlah meminjam pembagian kapital yang dikemukakan Bourdieu: kapital budaya, kapital simbolik, kapital ekonomi, dan kapital sosial. Seberapa banyak dunia terbagi-bagi atas dasar kapital tersebut. Barangkali, tulisan ini memang terlalu terlambat atau terlalu emosional. Hanya saja, saya sedang berpikir banyak-banyak tentang banyak hal.

Seberapa banyak penghasilan sopir angkot sehari setelah dikurangi iuran ini-itu, bayar pajak buat penguasa jalan, pembagian jatah untuk preman pasar, dan setoran kepada yang punya angkot? Seberapa banyak yang mereka bawa pulang untuk anak dan istrinya? Namun, masih banyak penumpang yang membayar tarif angkot di bawah tarif yang seharusnya dengan alasan yang entah apa.

Seberapa banyak uang yang didapatkan pedagang asongan dalam sehari? Jika yang membeli dagangannya juga takjauh-jauh dari sopir angkot atau tukang parkir? Barangkali, satu barang yang mereka jual hanya menghasilkan laba seratus atau paling banyak seribu rupiah. Namun, masih ada yang membeli barang dagangan mereka dengan menawar.

Masih banyak contoh lainnya. Namun, saya sudah tidak punya daya untuk melanjutkannya. Saya sedang ditunggu untuk segera mengerjakan presentasi. Semoga tetap bahagia, siapa pun itu.

Minggu, 22 Maret 2015

Kepada Sang Pemberi Debar

Saya tidak pernah tahu harus menyebut "kita" sebagai apa. Serupa catatan harian yang menumpuk tanpa pernah berniat memberi judul. Barangkali, itu kita, sekarang. Entah nanti.

Barangkali, hari-hari yang pernah dan sedang kita lalui sekarang, hanya serupa daun-daun yang meranggas pada musim gugur tahun lalu, yang barangkali juga takterganti pada musim semi kemudian. Dan, guguran itu lantas luruh begitu saja. Menyatu dengan tanah atau termakan burung atau mungkin tersapu angin, lalu hanyut ke sungai. Lenyap.

Percakapan-percakapan yang tentang apa saja itu pun tanpa pernah ada tentang kita. Kita hanya tahu bahwa kita suka bercakap panjang-panjang dan banyak-banyak dalam sebuah ruang yang seringkali saya sebut sebagai ruang kosong. Serupa angin malam yang tanpa pernah kita sadari suka menyelip di antara pori-pori, lalu menyisakan kembung dalam perut. Begitulah, kita. Takterlihat, tetapi barangkali nanti akan menyisakan bekas. Yang bentuknya entah apa.

Sekali lagi, saya juga tidak pernah tahu apakah kata "kita" cukup mendefinisikan antara saya dan kau. Atau sebenarnya kita hanya cukup disebut sebagai saya dan kau. Sudahlah lupakan. Apalagi yang kita cari, selain percik bahagia pada raut muka ketika percakapan-percakapan panjang pada malam-malam yang sama sekali takpanjang itu tersulut? 

Namun, di antara banyak hal itu, saya hanya tahu satu hal tentang kau. Terima kasih, wahai, Sang Pemberi Debar!