Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Kamis, 21 Juli 2016

Lelaki yang Datang dari Masa Lalu tanpa Membawa Luka




"Kalau kamu butuh seseorang agar terbebas dari tekanan orang tua atau sosial, aku siap buat jadi pasangan bohonganmu," kata lelaki di depanku. Lelaki yang beberapa jam lalu mengabariku bahwa ia sedang pulang, lalu ingin bertemu. Lelaki yang dulu, dulu sekali, selalu bisa membuatku merasakan kupu-kupu terbang dalam perutku. Dulu, dulu sekali, jauh sebelum banyak-banyak orang yang datang dan pergi begitu saja. 

Aku tertawa kencang. Lelucon itu terdengar lucu. Padahal, sesungguhnya jantungku berdebar. Kenapa harus bohongan coba?

"Aku serius, Dek, dengan tawaranku. Aku tahulah gimana tekananmu menjadi perempuan yang sudah bisa bergerak bebas, tetapi masih takbisa lepas dari hal-hal di belakangmu. Aku tahu rasanya," katanya dengan wajah serius.

"Kayaknya belum perlu, sih, Mas. Aku masih bisa mengatasi segala pertanyaan dan penghakiman itu. Orang tuaku masih baik-baik saja, kok! Semacam sedikit nggak peduli aja, sih, kalau yang ngomong orang lain. Haha."

Sementara itu, ada jantung yang sedang berdetak takseperti biasanya, ada otak yang juga sedang mengingat-ingat. Entah tujuh, entah delapan tahun lalu. Ada yang sedang diam-diam kudoakan tiap malam, ada yang sedang diam-diam banyak-banyak kutulis dalam setiap lembar buku harian, dan ada yang sedang diam-diam menunggu seseorang pada pagi-pagi buta di halte bus kampus. 

Seseorang yang kutahu akan berjarak jutaan tahun cahaya. Seseorang yang dulu selalu berdebat, pekerjaan apa yang paling susah, menganyam kerangka ketupat atau menghias pohon Natal. Seseorang yang dulu tempat bertukar buku bagus. Dan, seseorang yang selalu rajin pergi ke gereja, sedangkan aku masih belum berniat meninggalkan sholat. Begitulah. Tuhan memang senang bercanda.

"Syukurlah kalau gitu. Terus kamu gimana? Mau penelitian tentang apa?"

"Mas, dulu, dong, cerita. Gimana kuliahnya di Chicago? Mau disertasi tentang apa? Pulang ke Indonesia berapa lama? Penelitian ke mana aja?" cercaku.

"Lha, panjang, Dek! Haha. Oke, oke. Jadi, risetku itu tentang karet."

"Karet? Diapain?"

"Aku pakai metode follow a thing. Aku mengikuti proses karet dari lahir sampai pensiun dari sudut pandang social science. Yang menarik dari karet, kan, karet itu bahan alam, tetapi setelah diproses ia tidak lagi bisa diurai oleh alam. Bagaimana relasi dan interaksi sosial dari setiap proses itu yang ingin aku kaji. Bla bla bla.... Makanya, ini aku pulang buat penelitian, buat bahan disertasi, tapi ini masih riset awal, sih." jelasnya panjang lebar. Lelaki di depanku ini selalu membuatku kagum.

"Kok, keren, sih?" hanya kalimat itu yang bisa muncul. Bolehlah aku bilang bahwa aku hanya remah-remah meses kiloan di hadapannya.

"Namanya riset, ya, harus total, Dek. Gantian, kamu gimana? Mau penelitian disertasi tentang apa?

"Tentang Timor Timur, tapi pakai korpus karya sastra, mau lihat memori kolektif antara dua negara, Indonesia dan Timor Leste, yang pernah konflik dari sudut pandang yang berbeda," jawabku sekenanya.

"Kamu butuh lulus cepat atau nggak?" tanyanya kemudian.

"Nggak harus. Yang penting puas dalam risetnya," jawabku sok idealis.

"Bagus! Kalau nggak butuh lulus cepat, kamu bisa ikut beasiswa programku ini. Nanti aku bantu segala sesuatunya, deh. Mungkin butuh 6 sampai 7 tahun untuk dapat gelar Ph. D. Orang-orang di yayasan ini sedang butuh penelitian tentang Timor Timur."

"Akan sangat-sangat kupertimbangkan, Mas! Selama nanti kalau ada pertanyaan tentang hal-hal yang tidak bersifat akademis dalam jangka waktu enam atau tujuh tahun itu, kamu siap menjadi orang pertama yang membelaku, loh! Haha."

"Haha. Siyaaaaaappppppp!"

Lalu, lelaki di depanku itu pamit. Sudah ada janji dengan teman lainnya, katanya. Selalu saja begitu. Temannya terlalu banyak. Tapi aku bisa apa selain melepasnya, seperti yang lalu-lalu. Sebuah gantungan kunci darinya sudah ada di genggamanku. Kebetulan saja, aku sedang mencari gantungan kunci untuk menggantikan gantungan kunci kamarku yang sudah lepas bagian gambar utamanya. Jika saja lelaki itu tahu, aku baru tiga kali ini aku mengganti gantungan kunci kamarku dari tujuh atau delapan tahun yang lalu, pertama gantungan kunci oleh-oleh dari lelaki itu, kedua gantungan kunci dari Mama yang sekarang sudah rusak, dan ketiga oleh-oleh dari lelaki itu lagi.

Percayalah, itu satu-satunya cara untuk tetap mengingatnya. Diam-diam.

Minggu, 17 Juli 2016

Dan, Mitos itu Bernama Kecantikan

Seharusnya, setiap orang sadar bahwa membahas fisik seseorang bisa jadi sangat menyakitkan, bahkan hanya sebatas kalimat, "Kamu gendutan, ya?"

Jika boleh saya bilang, standar kecantikan yang ada di dalam masyarakat itu sungguh jahat. Jauh lebih jahat daripada bahaya laten komunis yang sedang digembar-gemborkan itu. Meskipun keduanya tidak perlu dibenarkan juga.

Jadi begini, pertanyaan atau pernyataan tentang fisik--terlebih perempuan--seharusnya tidak perlu dibahas dan dibanding-bandingkan dengan kondisi fisik perempuan lain atau kondisi fisik sebelumnya. Terlebih pada momentum Lebaran, reuni, halalbihalal, atau apa pun itu acaranya. 

Seseorang tidak pernah tahu, efek kalimat "Kamu gendutan, ya?" atau "Kok, kamu sekarang item banget, sih?" atau "Badanmu lebar amat, jadi susah masuk frame, kan!" atau "Kamu kerempeng sekali, kayak nggak pernah makan setahun!" atau "Ternyata dadamu rata, ya? Haha." atau "Bokongmu nggak ada beda sama papan jalan. Rata!" atau "Kamu harusnya pakai pensil alis, biar nggak kayak tuyul!" dan kalimat-kalimat lain yang serupa. Kalimat yang saya yakin hanya diucapkan sekilas tanpa dipikirkan masak-masak itu akan berdampak pada orang yang dilontari pertanyaan atau pernyataan.

Semenjak kuliah, tubuh adik saya mendadak jauh lebih berkembang daripada saya. Hal itu takpelak membuat setiap orang yang bertemu kami selalu berkomentar, "Kok, sekarang adiknya yang gendut, ya! Kakaknya kurusan!" Takhanya sekali, kalimat serupa itu terlontar berkali-kali. Tahu akibatnya? Adik saya kemudian diet mati-matian untuk menurunkan berat badannya. Beberapa kali jatuh sakit karena memilih tidak makan atau mengurangi porsi makannya sepersekian persen. Masih untung, adik saya tidak sampai mengalami gangguan pola makan.

Padahal, saya dan mama saya berkali-kali mengingatkan bahwa takmasalah memiliki tubuh subur selama sehat. Tetapi, ia lebih percaya kalimat orang lain yang barangkali setelah mengucapkan kalimat itu, mereka akan lupa. "Aku sakit, Ma, tiap kali ketemu orang selalu dibilang gendut," dalih adik saya setiap kali diingatkan tentang program dietnya itu. Saya jauh lebih sakit melihat orang-orang yang berjuang mati-matian untuk memenuhi standar kecantikan yang ada dalam masyarakat itu.

Baiklah, itu satu contoh. Belum termasuk kejahatan mitos lainnya, misalnya kulit putih, tubuh tinggi, rambut lurus, wajah mulus, dan hal-hal yang setipe. Yang pada akhirnya, membuat saya muak. Membuat saya ingin membisiki mereka satu-per satu bahwa tidak ada yang salah menjadi perempuan yang sama sekali berbeda dengan perempuan-perempuan yang dimitoskan sebagai perempuan "cantik" itu. 

Naomi Wolf, dalam bukunya Beauty Myth, sudah membahas tentang hal ini yang ternyata pun tidak berubah setelah sekian puluh tahun. Mitos kecantikan akan selalu ada dan bertumbuh. Standarnya akan terus berubah mengikuti desain dari orang-orang yang punya kepentingan, misalnya produsen produk kecantikan dan media iklan. Lalu, sebagai masyarakat yang setiap hari terpapar produk-produk tersebut, tanpa sadar akan selalu membanding-bandingkan dirinya dengan model iklan produk tersebut. Dan, jauh lebih jahatnya, standar yang sesungguhnya tidak jelas batasannya itu, kemudian digunakan untuk melihat fisik seseorang lainnya dan digunakan sebagai alasan untuk mencela.

Jika dipikirkan secara mendalam, apa salah dan dosa perempuan yang bertubuh lebar, pendek, dan berdada rata, misalnya? The woman can't do anything with it. Selama seseorang tersebut tidak menyakitimu, tidak membuat keributan, tidak mengacaukan dunia, saya kira tidak perlu menyakiti hatinya dengan hal-hal yang tidak perlu.

Tidak semua perempuan paham bahwa segala yang ada di dunia ini, termasuk standar kecantikan, adalah konstruksi yang dibentuk, didesain, dan disengaja. Barangkali, mayoritas dari mereka berpikir bahwa menjadi perempuan seperti yang digambarkan dalam iklan adalah sebuah keharusan jika ingin diakui sebagai "perempuan cantik". Namun, masih banyak juga orang yang belajar tentang hal-hal seperti ini masih juga suka membahas fisik orang lain. Apa urgensinya? Apakah setelah seseorang bilang, "Ternyata dadamu rata, ya?" kepada seseorang lainnya, lantas bisa membuat dada seseorang tersebut berubah ukuran sebagaimana yang distandarkan? Tidak juga.

Maka, tolonglah, berhenti membahas fisik seseorang. Coba cari obrolan yang tidak perlu menyakiti siapa pun ketika bertemu kembali dengan teman lama ataupun teman baru. Banyak obrolan tentang sastra, filsafat, ekonomi, politik, iklim, lingkungan, dan topik menarik lainnya, tetapi kau lebih memilih membahas fisik seseorang? Hell-ooo! Sepertinya hidupmu butuh piknik!

Minggu, 22 Mei 2016

Kepada Jarak Jutaan Tahun Cahaya yang Sedang Kita Tempuh

Apa yang lebih menyedihkan daripada dua orang yang saling mencintai, tetapi takpernah bisa bersatu hanya karena rumah ibadah yang berbeda? Kukira kesedihan kita jauh melampaui itu.

Entahlah. Apa yang sedang ada di pikiran Tuhan ketika mempertemukan kita, lalu membuat kita jatuh cinta, dan perasaan itu entah sampai berapa lama bertumbuh. Tuhan memang senang bercanda, bukan? Tiba-tiba aku harus datang ke kotamu untuk menyelesaikan pekerjaan yang entah-apa, sedangkan kamu memang tinggal di sana. Sebagaimana FTV, kisah kita sudah tertebak setelah itu.

Dulu, dulu sekali, aku pernah berkata pada seseorang, “Ya, buat apa dipertahankan. Beda agama, apalagi LDR. Tidak ada yang perlu diperjuangkan!” kataku lantang pada waktu itu ketika ia bertanya pendapatku tentang temanku yang sedang menjalani hubungan beda agama meskipun mereka satu kota.

Lalu kita? Aku suka diam-diam tertawa, menertawakan kekonyolan yang sedang terjadi. Kotamu jauh di timur, di Pulau Komodo, yang dulu hanya bisa kubaca di cerita pendek penulis favoritku itu. Sementara kotaku masih tetap di sini, kota yang katanya metropolitan dan masih saja penuh dengan ingar-bingar.

Aku masih rajin bangun tengah malam untuk bersujud ketika kamu juga rajin pergi memimpin doa. Entah mengapa, selalu saja ada sedikit sesak ketika aku melihat Rosario yang sering kau kalungkan di leher itu. “Aku ke gereja dulu, ya,” katamu selalu. Tiap kali aku menatapmu yang sudah berpakaian rapi. Aku hanya bisa mengangguk. 

"Kenapa kamu nggak ikut aku aja, sih? Lalu kita menikah, dan aku mau tinggal di mana pun, termasuk di kotamu. Aku bisa mengajar di mana saja," kataku suatu waktu. "Nanti kalau aku ikut kamu, kamu akan mudah meninggalkanku jika aku sedang dalam kondisi terpuruk," katamu kemudian. Aku diam-diam menarik napas.

Seharusnya kamu tahu, aku tidak pernah menjadi pihak yang meninggalkan dalam sebuah komitmen. Menjadi pihak yang pernah ditinggalkan—berkali-kali oleh orang yang sama—mengajarkanku banyak hal. Bahwa aku pun seharusnya tidak menorehkan luka yang sama, terlebih kepadamu. 

Atau memang barangkali kita takperlu lagi mempermasalahkan, siapa ikut siapa. Sebab, jarak yang harus ditempuh terlalu jauh. Sebab dinding terlalu tinggi. Dan, sebab kita sedang berbatas jutaan tahun cahaya. Barangkali juga, seharusnya kita tidak perlu lagi saling mengingat. Membatasi diri untuk hal-hal yang akhirnya akan berakhir pada kesepian.

Lantas, apa yang sedang kita pertahankan? Atau barangkali yang sedang kita perjuangkan dari setiap panggilan dan pesan yang masih kita jaga sampai hari ini? Barangkali jawabannya sedang tertinggal di jutaan bintang yang berhamburan di langit kotamu itu.

Senin, 18 Januari 2016

Selamat Datang, Tuan Tiba-Tiba!



Hallo, salam kenal.

Kadang, cerita tentang sesuatu bisa jadi dimulai dari hal apa pun. Tiba-tiba, tanpa terduga. Begitu juga dengan hal-hal yang sedikit mendebarkan, lalu tiba-tiba menjadikan senyum terkembang tanpa sengaja. Sebuah kalimat sederhana di sebuah tempat yang takterduga pun kadang membawa hal-hal yang takterduga pula. Setelah itu, segala hal yang dulu kadang menjadi standar ideal tiba-tiba menguar begitu saja. 

Aku boleh memanggilmu Tuan Tiba-Tiba?

Berapa lama kita mulai berbagi cerita? Kukira belum lama. Hanya saja segala sesuatunya berlangsung tiba-tiba.

Tuan Tiba-Tiba,
Kamu boleh menertawakan kekonyolanku hari ini. Yang tiba-tiba pula ingin menulis banyak-banyak tentang kamu. Yang sesungguhnya pun aku tahu, kamu tidak akan pernah membaca tulisan ini. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Atas segala macam telinga dan bahu yang sudah dengan sangat baik kamu sediakan. Atas segala tawa yang akhir-akhir ini pun aku sudah lupa rasanya. Atas segala kalimatmu yang sama sekali takberbunga-bunga itu, tetapi pada akhirnya aku memahaminya. Terima kasih. 

Tuan Tiba-Tiba,
Aku tahu. Di bawah ribuan bintang itu, kita seringkali sibuk dengan pikiran masing-masing. Kamu sibuk dengan analisismu tentang besi, baja, ikatan-ikatan kimia yang aku sudah sangat lupa itu apa, tulisan-tulisan dan baca-bacaanmu yang tidak jauh-jauh dari rekayasa ilmiah atau apa pun itu. Sementara aku setiap harinya masih sibuk dengan naskah-naskah yang harus aku edit, bacaan-bacaan yang bagimu juga entah apa, tulisan-tulisan juga yang taksatu pun kamu tertarik membacanya.

Namun, satu hal yang harus kamu tahu, Tuan Tiba-Tiba, aku tidak pernah merasa menjadi orang lain di hadapanmu. Aku tidak perlu bersusah payah membaca sesuatu yang entah apa agar aku bisa berbincang denganmu sehingga aku taktampak bodoh. Aku bisa membaca apa pun yang aku suka, termasuk teenlit yang entah sejak kapan, aku taklagi membacanya. Tentu saja, tanpa cibiran darimu. Barangkali, bagimu, semua buku fiksi sama saja. Sama-sama tidak kamu mengerti. Haha

Dan, barangkali, aku di matamu juga sama, sama-sama tidak mengerti ketika kamu sudah mulai bercerita tentang analisis yang sedang kamu kerjakan itu. Padahal, aku yang memancingmu untuk bercerita, aku pula yang tiba-tiba harus menghentikannya. Dan, kita hanya tertawa setelah itu.

Tuan Tiba-Tiba,
Sesungguhnya, aku sama sekali tidak berencana untuk berbagi kebahagiaan denganmu secepat ini. Ada hal-hal yang belum benar-benar aku selesaikan. Ada hal-hal yang berulang kali kutakutkan. Dan, ada hal-hal yang takpernah bisa kujelaskan. Hanya saja, matamu yang menenangkan dan jabat tanganmu yang hangat itu semacam menjawab segala pernyataan dan pertanyaanku yang takkan pernah selesai. Rasanya tidak adil jika aku tidak mempersilakanmu masuk.

Semoga saja, kamu tidak akan pergi dengan tiba-tiba jika suatu hari nanti kita sedang berada dalam kondisi kecewa, entah atas sebab apa. 

Maka, selamat datang di rumah yang sedang direnovasi, Tuan Tiba-Tiba! Semoga kali ini aku bisa menjamu tamu dengan jauh lebih baik.

Selasa, 29 Desember 2015

Desember Hampir Habis

Radio di pojok ruangan itu sedang memutar keras-keras lagu "Desember" dari Efek Rumah Kaca. Lagu itu terputar tepat ketika aku selesai mengetik judul di atas. Takada yang meminta. Lagu itu tiba-tiba terputar. Mungkin memang sedang berjodoh. Entahlah, setelah April, setelah Juni, Desember selalu bercerita banyak-banyak. Tentang apa saja. Tentang hujan yang setiap harinya mencuri langkah di genting rumah. Tentang ikan paus yang entah masih ada atau tidak di lautan. Atau tentang bunga padi di sawah tetangga.

Kau, apa kabar?
Apakah kau sudah menerima kartupos-kartuposku? Kartupos-kartupos yang kukirimkan melalui senja yang semburat, yang belum sempat dipotong-potong seseorang untuk diberikan kepada pacarnya. Atau suatu hari, aku menitipkan kartupos-kartupos itu melalui merpati yang katanya takpernah ingkar janji itu. Apakah kau sudah menerimanya?

Penantian yang tanpa ujung itu menyeretku pada ombak yang bergulung-gulung, pada sepertiga air mata yang belum sempat kuseka. Pusaran itu diam-diam menelan tubuhku yang semakin lemah karena ada kenangan dan harapan yang berbaur menjadi satu, tanpa jeda. Kau boleh tertawa kapan saja dalam hal ini. Sebelum tertawa itu dilarang, kata grup komedian yang legendaris itu.

Apakah aku menanti balasan kartupos-kartuposku darimu? Aku takpunya kesabaran yang sunyi, kata seorang penyair di kotamu. Pun denganku. Kesabaran yang kupupuk diam-diam ini barangkali takkan menjadi belukar, barangkali akan terkikis, pelan-pelan. Waktu terlampau singkat jika kuisi dengan sebuah penantian balasan kartupos-kartuposku darimu.

Hanya saja, jika suatu hari kau sempat membalas seluruh kartuposku, percayalah bahwa cintaku masih tetap seperti hujan pada bulan Desember. Tetap jatuh di tempat yang sama tanpa pernah merasa bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Ia takpernah peduli tentang penghakiman dari semesta sebab ia turun dengan sebuah pemakluman. Ia pun takperlu membuatmu menggigil sebab ia sudah menyediakan tempat pulang yang di dalamnya tersedia tungku api yang siap menghangatkanmu, kapan saja. Cintaku akan tetap seperti rumah yang pintunya tetap terbuka lebar menunggu kepulanganmu.

Rabu, 16 Desember 2015

Anak Perempuan dan Ayahnya

Apa yang bisa dilakukan seorang anak perempuan ketika ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-mengutuknya demi membela perempuan lain-yang bukan ibunya? Lalu, anak perempuan itu-bahkan takpunya teman untuk bercerita-kecuali memang hanya Tuhan-nya. 

Sementara selama ini dia sedang berusaha mati-matian untuk membuat ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu bangga kepadanya. Dia sedang berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi ayahnya-yang barangkali sekarang dia sudah tidak bisa lagi membedakan antara mimpinya atau mimpi ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu. Dia sedang menjalani hidup-yang barangkali dia pun sesungguhnya tidak pernah membayangkan kehidupan seperti itu. Tapi, dia selama ini hanya diam. Menjalani saja semua yang didiktekan ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu. Tanpa pernah punya keberanian untuk menolak, selain mengiyakan. Karena semua ada hitungannya. Biaya hidup, biaya sekolah, biaya kuliah, biaya ini-itu semuanya masih bergantung pada ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu.

Sekali dia berbuat kesalahan, semua hitungan pembiayaan itu akan dirinci, dijabarkan secara gamblang di depannya. Diungkit-ungkit bahwa anak perempuannya itu belum punya apa pun yang bisa dibanggakan, padahal anak perempuan itu takpernah mempunyai cita-cita untuk menyakiti siapa pun, bahkan setelah ia punya segalanya yang bisa dibanggakan, kelak. Cacian sebagai anak-yang-taktahu-membalas-budi-kepada-ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-pun meluncur dengan lancar di depan anak perempuan itu. Ditambah lagi dengan umpatan semacam-percuma-menyekolahkan-tinggi-tinggi-sebab-tidak-akan-berhasil-jika-kelakuan-kepada-orang-tua-seperti-itu. Satu kali pun, anak perempuan itu takpernah punya kesengajaan untuk menyakiti hati kedua orang tuanya.

Jika sudah demikian, lalu anak perempuan itu bisa apa? Sementara ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu takpernah tahu, ia berdoa siang-malam agar ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu selalu sehat dan bahagia. Ia sudah mengubur mimpinya dalam-dalam tentang bekerja kantoran, kuliah di luar negeri, berbisnis, dan hal-hal lain yang perlahan tapi pasti akan lenyap.

Ayah-satu-satunya-yang-sangat-dicintainya-itu-pun takpernah tahu bahwa anak perempuannya itu takpernah punya cita-cita lain, kecuali: membahagiakan orang tua.

Minggu, 11 Oktober 2015

Jauh Sebelum Hari Itu

Aku takingat, apakah aku pernah bercerita panjang lebar tentang masa sebelum mataku bertemu matamu itu. Jauh sebelum hari itu, jauh sebelum tanganku menjabat tanganmu untuk pertama kalinya. Lebih jauh dari itu mungkin. Aku sama sekali takingat.

Jauh sebelum hari itu, aku pernah jatuh cinta pada sebuah kota yang di dalamnya aku ingin tinggal, berlama-lama atau bahkan mungkin selamanya meskipun aku takpernah tahu dengan siapa aku di dalamnya. Hanya saja kota itu semacam cerita yang ingin sekali kubaca habis, pelan-pelan.

Jauh sebelum hari itu, aku sudah mencintai kota itu dengan sangat. Membayangkan suatu hari aku akan membaca buku di suatu senja dengan gerimis yang sedikit deras, di teras rumah, dengan menghabiskan secangkir cokelat panas. Betapa menyenangkannya. Atau pada hari-hari tertentu aku akan memakai rok berwarna jingga senja, kemudian datang pada sebuah pertunjukan tari atau sandiwara, duduk saja di sana, barangkali juga akan kedinginan karena suhu pendingin ruangan yang terlalu rendah. Tidak masalah kukira, sebab aku akan memakai selendang bidadari yang akan kulilitkan pada leherku agar terasa hangat. Atau aku akan datang dengan setumpuk pertanyaan yang kurangkum dari setumpuk buku pada banyak-banyak diskusi yang diadakan pada waktu-waktu tertentu.

Jauh sebelum hari itu, aku pernah berdoa banyak-banyak pada Tuhan agar hasil ujian yang aku kerjakan tempo lalu itu membawaku tinggal di kota itu. Sayangnya, pada saat itu, Tuhan mengirimku ke kota lain, yang jaraknya hampir 500 kilometer dari kota itu. Aku takbisa berbuat banyak selain menghadapi kehidupan dengan sebaik-baiknya di kota lain itu.

Jauh sebelum hari itu, aku pun pernah membayangkan betapa menyenangkannya jika aku bisa memiliki toko roti dan sebuah penerbitan. Sederhana saja, aku suka makan roti dan membaca buku. Haha. Selain itu, betapa menyenangkannya bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, biar hidup tidak sekadar hidup tanpa ada manfaat untuk orang lain. Barangkali, angan-angan itu muncul ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dan, jauh sebelum hari itu, aku sudah memiliki mimpi banyak-banyak tentang masa depan.

Jauh sebelum hari itu, aku sudah punya mimpi yang ternyata sekarang hampir semuanya ada pada kamu. Tetapi aku tahu, segala mimpiku dan kamu adalah hal yang berbeda.

Selasa, 15 September 2015

Perihal Asisten Rumah Tangga

Hidup sendirian di rumah bersama dengan seorang penjaga rumah membuat saya harus berpikir berulang kali lipat untuk nantinya merekrut seorang asisten rumah tangga. Kedua orang tua saya sedang pergi haji, saya bertugas untuk menjaga dua rumah, satu rumah oma saya dan satu rumah keluarga saya. Seorang penjaga rumah akan datang ketika malam menjelang dan tidur di rumah oma saya, sedangkan saya tetap sendirian di rumah saya.

Meskipun demikian,  ada hal-hal yang kadang membuat saya jengkel karena saya tidak terlalu berani menegur pada si penjaga rumah. Jadi, begini, kadang saya harus bernapas panjang-panjang ketika bangun tidur dan membuka pintu, kemudian mendapati sampah kupasan kulit mangga di pinggir kolam. Atau kulit telur yang tercecer di bawah jemuran. Atau juga gelas dan piring kotor yang diletakkan begitu saja di meja. Atau sampah-sampah daun yang dibiarkan menumpuk. Dan, tentu saja, yang akan membersihkan semua itu adalah saya.

Saya tidak berani menyuruh si penjaga rumah untuk membersihkan segala macam persampahan itu--meskipun sebenarnya bayaran yang diterimanya sudah termasuk bayaran membersihkan rumah--karena alasan ia hampir seusia oma saya. Ada lapisan tebal rasa sungkan dan takut untuk menegurnya. Pun dengan omelan-omelan yang harus saya simpan rapat-rapat agar tidak perlu menyakiti siapa pun. Seharusnya memang hal itu remeh-temeh dan saya tidak perlu jengkel, hanya saja itu tidak terjadi sekali atau dua kali. Atau mungkin saya saja yang bersikap berlebihan. Sesungguhnya, saya pun tidak terlalu rajin membersihkan rumah, tapi saya tidak pernah tahan melihat sampah atau piring kotor yang tidak pada tempatnya.

Dari kejadian semacam ini, saya jadi berpikir ulang berkali-kali untuk nantinya merekrut asisten rumah tangga, terlebih baby sitter. Bukan maksud saya untuk menggeneralisasikan bahwa semua orang yang berprofesi sebagai asisten rumah tangga selalu seperti itu--tipe orang-orang yang tidak sepenuhnya peduli pada rumah yang dijaganya--tetapi ternyata saya bukan tipe orang yang bisa percaya untuk menyerahkan pekerjaan kepada orang lain.

Saya jadi berpikir, pasti akan lebih menenangkan jika semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri saja, semampunya. Tidak perlu terlalu ambisius untuk rumah yang selalu tertata sangat rapi, yang penting bersih, tidak bau, dan cukup rapi. Barangkali bagi saya itu cukup daripada harus merekrut asisten rumah tangga, tetapi saya tidak pernah berani menegur perihal kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak sesuai dengan kebiasaan saya. Yang pada akhirnya, saya harus menahan emosi setiap hari, yang bisa jadi meledak pada malam Lebaran.

Begitulah. Barangkali keputusan saya hingga kalimat terakhir ini sudah bulat, saya tidak akan menggunakan jasa asisten rumah tangga nanti setelah saya sudah berumah tangga atau mulai memiliki rumah sendiri.

Jumat, 11 September 2015

Empati Takmelulu tentang Like dan Share

Beberapa tahun terakhir ini, saya jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah, dan pada akhirnya memutuskan untuk tidak mengikuti perkembangan berita dengan saksama, baik dari surat kabar cetak, surat kabar elektronik, terlebih televisi. Saya hanya cukup tahu apa yang terjadi, tanpa harus memiliki niat untuk mengikuti perkembangannya secara mendalam. Meskipun demikian, saya masih saja kebanjiran informasi dari linimasa jejaring sosial yang berasal dari unggahan teman-teman saya.

Mengapa saya memutusukan untuk tidak lagi membaca koran dan menonton televisi? Saya hanya ingin bahagia. Itu saja. Begini, setiap kali mencoba mengikuti berita, saya selalu saja menarik napas panjang-panjang, adakah berita yang tidak lebih buruk dari ini? Barangkali memang benar bahwa a bad news is a good news. Tapi, apakah dengan mengunggah foto korban yang berdarah-darah juga termasuk sebuah kebaikan bagi sebuah media?

Saya masih bisa sedikit memaklumi ketika berita hanya berisi perspektif dari para jurnalis atau penulisnya sebab saya percaya bahwa segala sesuatu yang didengar adalah opini, bukan fakta, dan segala sesuatu yang dilihat adalah perspektif, bukan kebenaran. Termasuk tulisan ini, termasuk nukilan--yang entah dari siapa--itu. Dan, mungkin memang perspektif saya berbeda dengan perspektif para jurnalis tersebut sehingga saya tidak terlalu setuju dengan segala hal yang dikemukakannya. 

Namun, saya masih percaya, jurnalis yang memang benar-benar memahami dan menerapkan kode etik, tidak akan pernah melanggar segala sesuatu yang sudah tertera di dalam kode etik. Akan tetapi, permasalahan tidak berhenti pada itu saja. Perkembangan arus teknologi dan informasi memungkinkan setiap orang memiliki "media" secara pribadi, yang dikelola secara mandiri dan dikonsumsi oleh orang-orang dalam lingkarannya. Katakanlah, jejaring sosial. Setiap orang pasti punya seminimalnya satu akun yang bebas diisi dengan apa pun.

Media yang dikelola oleh satu orang saja sudah cukup membentuk sebuah "kebenaran", terlebih media yang dikelola oleh jutaan netizen. Media punya andil besar dalam menggiring opini massa. Tentu saja. Itu sudah dibahas berabad-abad tahun yang lalu oleh para ahli media. Bahwa media adalah tangan kapitalis, bahwa media adalah kapital paling berpengaruh pada abad ini. Semacam bahasan yang sudah basi. Percuma saja grandtheory itu digaung-gaungkan kalau masih saja keenakan menerima suapan dari media. Lantas, bagaimana? Barangkali tidak terlalu menyalahkan media adalah salah satu jalan untuk menghentikan informasi yang tidak pada tempatnya. Memulai membatasi diri dari informasi-informasi yang takperlu mungkin bisa sedikit membahagiakan dan membantu agar kebodohan tidak terlalu cepat meluas.

Misalnya saja, satu hari yang lalu, Masjidil Haram tertimpa alat berat, banyak orang luka-luka, bahkan meninggal. Seharusnya, informasi sudah sangat cukup pada hal-hal yang mencakup 5W+1H. Tidak perlu ada foto korban yang berdarah-darah yang dibagikan di setiap akun jejaring sosial, lantas yang melihat kemudian ikut membagikan foto-foto itu. Terlebih, akun-akun yang membagikan foto-foto tersebut adalah akun-akun semacam Golongan Darah, Berdakwah, Dagelan, atau sejenis itu yang entah siapa administratornya dan entah bagaimana cara mendapatkan berita tersebut.

Lalu, setiap orang dengan tidak merasa berdosa mengeklik tombol like atau share, yang otomatis akan turut serta menyebarluaskan berita tersebut dengan alibi turut berempati. Terlebih berita yang entah dari mana datangnya itu disebarkan secara personal melalui aplikasi pesan. Oh, tolong. Empati atau apa pun itulah namanya bukan dengan hanya menge-like atau menge-share sesuatu yang diposting oleh akun-akun yang entah apa dan entah siapa itu. Tolong, menjadi cerdas tidak perlu sekolah setinggi langit, kok.

Saya memang sedikit emosional kali ini. Orang tua saya sedang berada di Makkah ketika kejadian. Sungguh saya tidak tahu-menahu perihal jatuhnya alat berat sampai ketika banyak pesan yang masuk menanyakan kabar orang tua saya kepada saya. Saya yakin orang tua saya baik-baik saja, tetapi menjadi miris ketika foto-foto jamaah haji yang terluka disebarluaskan tanpa ada pertanggungjawaban. Saya membayangkan saja, bagaimana jika yang terekam dalam foto itu adalah orang tua saya, tentu saja kesedihan saya akan berkali lipat.

Sebenarnya, sudah sejak lama saya ingin menulis tentang permohonan dengan sungguh-sungguh untuk tidak menyebarluaskan foto korban apa pun, baik foto dengan blur terlebih foto yang tampak jelas. Barangkali itu adalah salah satu empati yang bisa dilakukan--selain doa--ketika tangan taksanggup terulur untuk membantu korban maupun keluarga korban. Sekian.

Kamis, 09 Juli 2015

Kabar Gembira(?)

"Aku lulus sidang dengan nilai A!" aku mengetik pesan itu dengan cepat, tetapi cepat-cepat pula menghapusnya kembali. Pesan itu takjadi terkirim sebab segala sesuatunya taklagi seperti dulu. Barangkali, memilih menghela napas panjang-panjang adalah sebuah pilihan yang menenangkan untuk kali ini.

Sungguh, hingga detik ini, satu-satunya orang yang ingin kukabari cepat-cepat setelah kedua orang tuaku adalah kamu. Masih kamu. Tapi, aku taklagi bisa menulis rentetan pesan semacam "Aku dapat IPK tertinggi lagi, loh." atau "Aku cum laude lagi." atau "Semester ini IP-ku 4.00!" kepadamu. Dulu, jika seperti itu, sebentar lagi kamu pasti akan meneleponku untuk mengucapkan selamat berkali-kali. Lalu, pipiku merona. Bahagia sekali rasanya. Tapi, itu dulu. Dulu sekali.

Ah, sudahlah. Seharusnya memang aku segera bangun. Segala macam cum laude dan IPK tertinggi itu memang sebaiknya disimpan rapat-rapat. Kamu takperlu tahu, toh, barangkali kamu pun taklagi ingin tahu. Kabar gembira tentangku barangkali taklagi penting untukmu. Padahal, aku hanya ingin berbagi kebahagian denganmu, bukan untuk mengintimidasimu. Terlebih untuk membuatmu merasa kecil. Sudah, sudah, lupakan. Sebab, seberapa keras pun berjuang, aku takpernah bisa meyakinkanmu bahwa aku akan tetap berada di sampingmu, apa pun yang terjadi. Apa pun.

Namun, barangkali ketabahan bulan Juni kemarin mengajariku banyak hal. Bahwa aku harus merelakan segala sesuatu yang tidak tercipta untukku, dan mungkin kamu salah satunya. Bahwa aku harus mulai berhenti menunggu seseorang yang sedang berbahagia menunggu kedatangan orang lain, dan mungkin itu kamu yang sedang menunggu kepulangan orang-yang-bukan-aku. Dan, bahwa aku harus memperjuangkan hal lain yang patut diperjuangkan, mungkin kamu yang takberkenan ada di dalamnya. Dan, aku harus cepat-cepat pergi memang.

Sesungguhnya, ada satu lagi kabar (yang seharusnya) gembira untuk kita. Tapi, barangkali itu dulu. Sekarang takperlu lagi kuceritakan di sini. Toh, di kota mana pun nanti aku tinggal, tidak akan membuatmu kembali. Rumahmu bukan lagi aku. Aku cukup tahu diri. Sekian dan terima kasih. Aku undur diri.

Kamis, 02 Juli 2015

Selamat, Segala Sesuatunya (akan) Selesai!

Kurang dari 24 jam saya akan menghadapi sidang tesis. Sementara itu, saya baru saja menyelesaikan membuat poin-poin presentasi beberapa menit yang lalu. Tetiba saja, perut saya rasanya sedikit mulas. Untuk pertama kalinya, saya grogi menghadapi hal-hal presentasi seperti ini. Pun untuk pertama kalinya juga saya bergadang selama hampir seminggu untuk menyelesaikan tesis ketika tenggat waktu pengumpulan dua bulan yang lalu. Dan, begitulah. Tesis kali ini selesai pada waktunya dengan segala macam suka-dukanya.

Saya memilih topik tentang fenomena pesugihan di Gunung Kawi. Sedikit yakin, banyak ragunya saat itu. Sempat mengajukan ganti topik, tetapi ditolak oleh pembimbing. Akhirnya, saya pun takada pilihan lain selain menyelesaikan topik ini hingga selesai. Penelitian pertama saya lakukan pada bulan Januari. Sekira 10 hari saya menginap di Gunung Kawi, menghitung hari agar cepat selesai, tetapi lama-lama saya menikmati proses ini.

Data lapangan menunjukkan banyak hal yang takterlihat pada mulanya, tetapi memang seharusnya demikian. Setiap orang yang berkepentingan di sana selalu menekankan bahwa di Gunung Kawi bukanlah tempat pesugihan, tetapi hanya tempat ziarah atau ngalap berkah. Akan tetapi, logikanya, tempat ziarah "biasa" tidak mungkin dikunjungi hingga sepuluh ribu pengunjung setiap bulannya. Sesungguhnya, penelitian saya ini memang tidak mempermasalahkan ada atau tidaknya pesugihan di sana, tetapi hal-hal yang di luar itu, misalnya ideologi, politik, dan narasi dalam ritual ngalap berkah.

Karena pembahasan tentang persilangan hal-hal tersebut antara pemangku kepentingan di Gunung Kawi, saya pun harus mengkroscek data ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat karena pihak Gunung Kawi menyatakan bahwa kedua makam tersebut ada hubungannya dengan Hamengkubuwono III.

Baiklah. Singkatnya, saya harus penelitian ke sana kemari mencari data. Semacam lelah, tapi takbisa berhenti di tengah jalan. Saya harus lulus pada semester ini jika takmau membuang delapan juta untuk bayaran semesteran dan mau mempertahankan predikat cumlaude (yang sesungguhnya juga taktahu fungsinya untuk apa).

Sekarang, segala sesuatunya sudah hampir selesai. Barangkali 15 jam lagi saya sudah bisa menyandang gelar M.Hum. di belakang nama saya. Namun, sekarang saya tahu, apa yang membuat saya mulas. Lalu, setelah M.Hum. saya akan bagaimana? Akan ke mana? Akan melakukan apa? Akan bekerja apa? Pertanyaan-pertanyaan yang takkan habis itu sedikit-sedikit menghantui saya.

Dulu, ketika lulus jenjang sarjana, saya sama sekali takmemikirkan hal tersebut. Sebab saya langsung melanjutkan S2 dengan salah satu tujuannya adalah penundaan status pengangguran. Tapi sekarang? Saya mau lari ke mana lagi? Menunda segala sesuatunya dengan sekolah S3? Saya rasa menunda tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Satu hal sesungguhnya yang ingin saya lakukan selepas lulus: saya ingin mengajar. Tapi, entahlah, universitas mana yang rela menerima saya. Haha. Pilihan untuk tetap di kota ini atau pindah ke kota lain pun masih harus dipikirkan masak-masak. Pilihan untuk menikah--yang entah dengan siapa pun--harus masuk ke dalam daftar rencana. Atau pilihan melanjutkan S3 di mana dan kapan sebenarnya bisa dipikirkan mulai sekarang. Atau mungkin beberapa bulan mempersiapkan beasiswa dengan les bahasa Inggris dan kerja freelance di penerbitan bisa juga menjadi pilihan. Dan, segala sesuatunya sekarang berkumpul dalam perut, membuat melilit. Padahal saya harus istirahat, sebentar lagi waktu sahur, sebentar lagi sidang tesis.

Ternyata menjadi dewasa itu dilematis, ya? 

Selasa, 30 Juni 2015

Dan, Tetiba Segala Sesuatunya Menjadi Sendu

Gambar diambil dari sini.

Apa yang tersisa dari penghujung bulan Juni selain gerimis yang hanya ada dalam tulisan penyair tua favoritmu itu? Gerimis yang tidak akan pernah datang. Jikalau memang datang, ia menjelma sebagai sebuah ketabahan, lalu menguap begitu saja dimakan waktu.

Terbuat dari apakah waktu? Apa pun itu. Saya rasa, waktu adalah hal yang paling rakus yang pernah Tuhan ciptakan. Ia suka menghabiskan hal-hal yang belum selesai sehingga selamanya takkan pernah selesai. Ia juga suka bersijingkat mencuri-curi segala tenggat yang terlewat begitu saja. Atau, diam-diam ia seringkali mengubah segala sesuatunya menjadi abu.

Saya takbisa mengeluh lagi tentang waktu yang takpernah tahu malu itu. Saya hanya bisa mengikutinya, kadang harus berlari atau berjalan sangat pelan. Agar segala sesuatu yang saya usahakan tidak pernah usang dimakan waktu.

Pun waktu yang tetiba membuat segalanya menjadi sendu. Pada selepas senja tadi. Pada jalanan kecil yang setiap kali saya lewati. Sudah hampir enam tahun, saya menempati kota ini. Kota yang pun dengan tetiba menjadi tempat pulang saya yang kesekian. Pada selepas senja tadi, temaram di langit dan jalanan kecil itu menjadi lebih syahdu. Seolah nantinya saya akan sangat merindukan hal-hal itu di luar sana. Di kota lain yang saya pun masih taktahu.

Segala sesuatunya hampir selesai pada hari ini meskipun sesungguhnya saya tahu segala sesuatunya hampir dimulai dari hari ini. Hari-hari setelah ini, saya harus segera memutuskan apakah tetap tinggal di kota ini atau pergi. Segalanya berubah menjadi dilematis karena jauh lebih rumit daripada sekadar pertanyaan "Akan memakai baju apa saya hari ini?" yang sering saya pertanyakan menjelang mandi pagi.

Dan, untuk kali ini, kali ini saja, saya harus menggantungkan pertanyaan itu kepada waktu. Sebab, takpernah ada yang tahu ke mana kaki melangkah setelah ini, selain waktu.

Sabtu, 20 Juni 2015

Pertemuan Kembali

"Aku sudah di stasiun," katamu dalam sebuah pesan singkat. Diam-diam saya berdebar, kereta yang saya yakin kecepatannya takpernah berubah itu rasanya melambat. Perjalanan Solo--Jogjakarta yang hanya tertempuh waktu 50 menit itu semacam melambat menjadi 12 jam. Diam-diam saya merindukan kamu, merindukan kita.

Apa yang tersisa dari sebuah rindu, selain pertemuan? Saya pun takpernah tahu. Itu kali pertama kita bertemu kembali setelah malam-malam panjang yang hanya berisikan saya dan kamu, bukan kita. Pertemuan tanpa rencana yang akhirnya menyeret kembali segala debar yang sesungguhnya takpernah hilang itu.

Kereta berhenti tepat di stasiun pertama kali saya mengenalmu. Semacam cerita picisan memang, tapi begitulah nyatanya. Saya melihat kamu di sudut yang sama dengan pertemuan-pertemuan kita yang lalu, berdiri menunggu. Menghampirimu kala itu bukan perkara mudah. Ada hati yang diam-diam sedang ditata baik-baik agar takterlihat terlalu berantakan di matamu.

"Hai," sapamu mengawali pertemuan kala itu. Saya hanya menjawab sekadarnya, bukan taksenang, hanya terlampau bahagia. Saya takmau kamu melihat kebahagiaan itu atas alasan harga diri yang entah berapa harganya itu.

Selanjutnya, kamu berbicara tentang jadwal makan saya yang berantakan karena belum makan seharian, mengomeli saya karena terlalu lelah, dan hal-hal tentang saya yang masih kamu ingat dengan jelas. Dalam hati, saya bersorak. Kamu sama sekali takberubah, pun matamu yang membuat saya jatuh cinta berkali-kali itu.

Pertemuan yang takdirencanakan itu terasa sangat sebentar. Waktu terlalu cepat ketika ada kamu, saya kira. Sebuah pelukan yang lebih lama dari biasanya menjadi sebuah penanda bahwa akan ada pertemuan-pertemuan setelahnya. Kala itu, saya takberpikir banyak. Saya sudah terlampau bahagia ketika akhirnya bisa berbicara denganmu lagi setelah penantian panjang.

Adakah yang lebih dahsyat dari sebuah rindu, selain pertemuan (kembali)?

Senin, 25 Mei 2015

Kapital

Sudah lama tidak menulis di sini. Tentu saja, kesibukan mengerjakan tesis bisa dijadikan kambing hitam tunggal yang barangkali memang patut dipersalahkan. Kurang dari 24 jam lagi dari waktu menulis ini, saya harus menghadapi sidang seminar tesis, semacam sidang pertama yang nantinya akan ada revisi-revisi untuk sidang tesis sesungguhnya. Rasanya? Entahlah. Saya hampir lupa rasanya deg-degan ketika menghadapi hal-hal seperti ini. Hingga detik ini, saya baru membuat sekitar sepertiga dari tampilan presentasi yang seharusnya, tetapi saya malah pergi.

Sudahlah. Lupakan sejenak. Saya baru saja membaca sebuah tulisan seseorang yang entah siapa yang sedang mengimbau untuk bijak menggunakan layanan Go-Jek, utamanya layanannya yang berupa Go-Food. Jadi, layanan itu memudahkan para pelanggan untuk memesan makanan yang nantinya akan diantar oleh petugas Go-Jek tanpa harus menambah biaya, selain biaya makanan. Kemudian, takjarang, orang-orang hanya memesan satu porsi makan siang, tetapi tetap komplain karena pesanan datangnya lama tanpa memedulikan kondisi jalanan Jakarta yang macet ketika jam makan siang.

Hal itu mengingatkan saya pada banyak hal. Tentang orang-orang yang sama sekali takpunya kapital. Mungkin kali ini bolehlah meminjam pembagian kapital yang dikemukakan Bourdieu: kapital budaya, kapital simbolik, kapital ekonomi, dan kapital sosial. Seberapa banyak dunia terbagi-bagi atas dasar kapital tersebut. Barangkali, tulisan ini memang terlalu terlambat atau terlalu emosional. Hanya saja, saya sedang berpikir banyak-banyak tentang banyak hal.

Seberapa banyak penghasilan sopir angkot sehari setelah dikurangi iuran ini-itu, bayar pajak buat penguasa jalan, pembagian jatah untuk preman pasar, dan setoran kepada yang punya angkot? Seberapa banyak yang mereka bawa pulang untuk anak dan istrinya? Namun, masih banyak penumpang yang membayar tarif angkot di bawah tarif yang seharusnya dengan alasan yang entah apa.

Seberapa banyak uang yang didapatkan pedagang asongan dalam sehari? Jika yang membeli dagangannya juga takjauh-jauh dari sopir angkot atau tukang parkir? Barangkali, satu barang yang mereka jual hanya menghasilkan laba seratus atau paling banyak seribu rupiah. Namun, masih ada yang membeli barang dagangan mereka dengan menawar.

Masih banyak contoh lainnya. Namun, saya sudah tidak punya daya untuk melanjutkannya. Saya sedang ditunggu untuk segera mengerjakan presentasi. Semoga tetap bahagia, siapa pun itu.

Minggu, 22 Maret 2015

Kepada Sang Pemberi Debar

Saya tidak pernah tahu harus menyebut "kita" sebagai apa. Serupa catatan harian yang menumpuk tanpa pernah berniat memberi judul. Barangkali, itu kita, sekarang. Entah nanti.

Barangkali, hari-hari yang pernah dan sedang kita lalui sekarang, hanya serupa daun-daun yang meranggas pada musim gugur tahun lalu, yang barangkali juga takterganti pada musim semi kemudian. Dan, guguran itu lantas luruh begitu saja. Menyatu dengan tanah atau termakan burung atau mungkin tersapu angin, lalu hanyut ke sungai. Lenyap.

Percakapan-percakapan yang tentang apa saja itu pun tanpa pernah ada tentang kita. Kita hanya tahu bahwa kita suka bercakap panjang-panjang dan banyak-banyak dalam sebuah ruang yang seringkali saya sebut sebagai ruang kosong. Serupa angin malam yang tanpa pernah kita sadari suka menyelip di antara pori-pori, lalu menyisakan kembung dalam perut. Begitulah, kita. Takterlihat, tetapi barangkali nanti akan menyisakan bekas. Yang bentuknya entah apa.

Sekali lagi, saya juga tidak pernah tahu apakah kata "kita" cukup mendefinisikan antara saya dan kau. Atau sebenarnya kita hanya cukup disebut sebagai saya dan kau. Sudahlah lupakan. Apalagi yang kita cari, selain percik bahagia pada raut muka ketika percakapan-percakapan panjang pada malam-malam yang sama sekali takpanjang itu tersulut? 

Namun, di antara banyak hal itu, saya hanya tahu satu hal tentang kau. Terima kasih, wahai, Sang Pemberi Debar!

Senin, 16 Februari 2015

Kepada Cinta Yang Nanti

Bandung, 16 Februari 2015

Kepada Cinta Yang Nanti,
Kali ini, aku sama sekali takberharap banyak. Hanya ingin merasa cukup, lalu semoga semua akan baik-baik saja. Ini surat pertama, pada hari yang kuanggap pertama. Beberapa minggu yang lalu, beberapa orang berbondong-bondong untuk menulis surat pada momentum #30harimenulissuratcinta. Aku tertinggal. Maka, tanpa ada alasan apa pun, semoga saja selama tiga puluh hari ke depan, aku bisa berkomitmen untuk menulis surat. Pada siapa saja, termasuk ikan paus di lautan, mungkin.

Kepada Cinta Yang Nanti,
Aku tahu, kamu pun tahu bahwa kita sama sekali belum tahu perihal apa pun tentang nanti. Kita hanya sedang berlari menuju ke ujung jalan itu. Seolah sendirian. Namun, kita sama-sama tahu bahwa di seberang rel itu kita sedang tertuju pada arah yang sama.

Kepada Cinta Yang Nanti,
Apa yang kuharapkan padamu? Tidak ada. Aku sama sekali takmengharapkan apa pun sebab seringkali harapan akan berbanding lurus dengan kekecewaan. Terlalu sering mengecewakan dan dikecewakan tidak baik untuk kesehatan, bukan? Maka dari itu, aku hanya ingin berbahagia pada waktu yang sedang ada. Berbahagia untuk apa pun, bukan mencari kebahagiaan karena sesuatu, termasuk berbahagia denganmu nanti.

Kepada Cinta Yang Nanti,
Entahlah. Apa yang harus kukatakan lagi, selain aku akan menunggumu di ujung jalan itu. Semoga kamu datang tepat waktu, tidak terlambat dan tidak tergesa-gesa. Jika kamu terlambat, aku takut gempa bumi menghancurkan ujung jalanan itu hingga aku pun tinggal nama. Namun, jika kamu terlalu cepat, aku juga takut, langkah kecilku ini belum tiba di sana, di tempat seharusnya kita bertemu karena perjalanan terlampau panjang.

Kepada Cinta Yang Nanti,
Kamu percaya, bukan, bahwa hidup hanya tentang waktu? Yang fana adalah waktu, kita menurut saja. Dan, aku pun percaya bahwa waktu juga yang akan menyembuhkan dan mengeringkan lukamu dan lukaku yang entah dari mana dan siapa. Hingga nanti, pada waktu ketika kita seharusnya bertemu, takada lagi luka lama yang akan membuat luka baru.

Kepada Cinta Yang Nanti,
Begitulah, suratku ini. Dibuat dalam sela-sela menunggu pagi. Untuk kamu, yang entah siapa.

Rabu, 07 Januari 2015

Kepada Angka Tujuh pada Kalender

When you can tell a story and it doesn't make you cry. You know at that time you have healed. (Anonymous)

Januari tujuh dua ribu lima belas. Semacam angka-angka yang begitu saja terlewat. Sudah hampir sepertiga bulan terlewat, sedangkan saya belum melakukan apa pun untuk menyambut angka-angka itu. Barangkali, doa-doa pada tahun yang akan terlewati ini taksemuluk pada tahun-tahun yang sudah terlewati. Angka-angka itu mengajarkan banyak hal. Bahwa hidup bukan tentang memberi lalu sudah pasti menerima. Seringkali hidup hanya menerima, tanpa sama sekali memberi. Atau sebaliknya.

Pada tahun ini, satu saja, saya hanya ingin bisa berdamai dengan apa pun yang terjadi. Tidak perlu terlalu mencaci atau mencintai. Sebab, tuhan lebih senang bermain dadu. Kotak-kotak dadu itu mudah terbolak-balik, apalagi hanya sebentuk hati. Berdamai dengan segala sesuatu yang terjadi semoga bukanlah sesuatu yang terlampau sulit. Sebab, sekarang, saya pun harus memahami bahwa hidup akan terasa lebih hidup jika tanpa ekspektasi yang terlalu tinggi. Pada apa pun. Ekspektasi berbanding lurus dengan kekecewaan. Percayalah.

Hanya saja, saya juga berterima kasih. Kepada waktu-waktu yang telah lalu. Yang dengan bercandanya yang sama sekali taklucu. Terima kasih. Paling tidak, saya jadi pandai untuk membalut luka meskipun masih keteteran di sana-sini. Paling tidak, saya lebih bisa menjaga kesehatan saya. Paling tidak, saya mengerti bahwa tidak semua harapan itu terkabul. Terima kasih, pada apa pun yang terjadi.

Hanya saja, sekarang dan sampai nanti, saya harus berkali-kali mengingatkan diri sendiri agar tidak kesulitan untuk berdamai dengan apa pun. Amin.

Senin, 01 Desember 2014

Betapa saya diam-diam menunggu kepulanganmu

Betapa saya diam-diam merindukanmu. Semacam perempuan remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Masih merona ketika taksengaja seseorang di luar sana menyebut namamu. Masih memerah pipi saya ketika taksengaja bercerita banyak tentangmu. Atau masih berbinar ketika taksengaja mengingat segala tentangmu. Kamu boleh bilang saya bodoh atau apa pun. Saya cukup menyebutnya ini rindu.

Betapa saya diam-diam membanding-bandingkanmu dengan beberapa lelaki yang tetiba datang. Semacam tidak adil memang. Tapi, nyatanya, semua kebaikan masih tentang kamu. Kamu boleh takpercaya, pada akhirnya saya pelan-pelan mundur, lalu diam-diam mengingatmu. Tentang kita. Tentang pembicaraan kita pada malam-malam panjang yang takkan pernah terganti itu. Tentang hari-hari pada kalender yang menjadi lebih lambat pada Desember tahun lalu.

Betapa saya diam-diam mengutuk Desember yang datang terlampau cepat. Semacam mengingatkan saya pada banyak hal. Pada titik segala sesuatu hampir dimulai. Nyatanya belum ke mana-mana. Dan, hujan pada Desember tahun ini barangkali hanya menyisakan harapan yang masih terus bertumbuh entah dengan penopang apa. Takapa. Selama masih ada harapan, saya masih percaya keajaiban itu selalu ada.

Betapa saya diam-diam mengambil jarak. Sejenak pergi dari kota ini menuju kota-kota lain. Berharap menemukan rumah, selain kotamu dan kamu. Hanya saja, kali ini saya memang harus menertawakan diri saya sendiri. Semacam sia-sia ketika tubuh harus pergi, sedangkan hati tetap tinggal. Dan, di kota-kota yang saya singgahi itu selalu ada banyak hal yang menghubungkan saya dengan kamu. Sesempit itu, kah, dunia ini? Entahlah.

Betapa saya diam-diam mengaminkan segala doa yang baik. Barangkali memang benar, tidak perlu mencari-cari alasan untuk berkemas jika memang itu tidak pernah ada. Dan, pada akhirnya saya pun setuju. Sebab, sampai sekarang, saya tidak pernah menemukan alasan mengapa saya harus berkemas dari kamu. Hanya saja, sekarang saya tahu bahwa saya harus membiarkan kamu melewati jalanmu sendiri. Sebab, tidak semua jalan bisa terlewati berdua, bukan?

Betapa saya pun diam-diam berdoa agar kamu taklupa jalan pulang. Dan, tahu bahwa di sini masih ada rumah yang pintunya selalu terbuka lebar menunggu kepulanganmu.

Selasa, 11 November 2014

Catatan atas Film Senyap: Percobaan Membalut Luka yang Sia-Sia

Akhirnya, sekuel film Jagal atau The Act of Killing yang berjudul Senyap atau The Look of Silence diputar perdana di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 10 November 2014. Film yang disutradarai Joshua Oppenheimer ini meraih banyak penghargaan dan pujian. Barangkali, memang kedua film ini layak dipuji atas dasar dedikasi untuk mengungkap sebuah sejarah yang selama ini dibungkam. Sejarah kontroversi yang hingga detik ini belum ada penyelesaiannya.

Sedikit berbeda dengan film Jagal, film Senyap bersudut pandang dari keluarga "korban". Dalam hal ini, saya menyebut "korban" dalam tanda petik karena memang harus dipertanyakan kembali siapa "korban" siapa "pahlawan". Film ini menyebut "korban" adalah setiap orang yang dianggap terlibat Partai Komunis Indonesia dan dibunuh. Film ini bermula ketika Adi Rukun--seorang tukang kacamata keliling--yang mendatangi satu per satu orang-orang yang dianggap terlibat dalam pembunuhan kakaknya. Ramli adalah nama kakak Adi Rukun, yang dibunuh secara sangat sadis hingga usus terurai dan tubuh tercincang. Jika membayangkan adegan pembunuhan tersebut, tentu betapa sangat tidak berperikemanusiaan orang-orang yang melakukannya.

Menjadi menarik ketika potongan-potongan dialog antara Adi Rukun dan beberapa orang yang dikatakan dulu terlibat pembunuhan dan sekarang masih berkuasa. Rerata orang-orang itu akan menjawab tidak merasa bersalah, mereka membela negara, dan yang sudah biarlah sudah. Terlihat bagaimana wajah kecewa Adi Rukun ketika mengetahui respons para pembunuh yang seringkali biasa saja itu.

Barangkali, banyak di antara yang menonton film itu yang kemudian serta-merta mengutuk para pembunuh tanpa menengok konteks yang terjadi pada masa itu. Mereka akan dengan senang hati membela orang-orang yang dibunuh. Wajar sekali karena memang dalam wacana film Senyap ditampilkan seperti itu. Hidup memang hanya perang wacana, kok! Dulu, film Arifin C. Noer yang Pengkhianatan G30S/PKI menjadi wacana dominan yang berkembang pada masa itu. Semua orang mencerca PKI atas kematian jenderal-jenderal itu. Sekarang, wacana dominan yang berkembang adalah PKI tidak bersalah dan orang-orang pemerintah yang harus bertanggung jawab atas semua pelanggaran HAM ini. Dulu, siapa pun yang tidak membela pemerintah disebut PKI, sekarang siapa pun yang tidak membela PKI disebut antek Orde Baru. Apakah hidup sehitam putih itu? Jika iya, betapa menyedihkan.

Saya, sebagai pribadi, sangat menghargai film Jagal dan Senyap. Itu hasil kerja yang luar biasa dan tidak mudah. Hanya saja, saya merasa bahwa film ini tidak melancarkan proses rekonsiliasi, tetapi malah menimbulkan banyak dendam. Luka yang memang tidak pernah kering itu harus dicongkel-congkel lagi. Sebelumnya, saya sangat setuju dengan tulisan Yosef Djakababa tentang protesnya terhadap film Jagal yang bisa dibaca di sini.

Jika boleh saya mengutip tulisan Djakababa bahwa apa yang dilakukan oleh Oppenheimer tidak ubahnya sebagaimana yang dilakukan oleh rezim Orde Baru dengan film Pengkhianatan G30S/PKI. Wacana terbagi antara Si Baik dan Si Jahat. Akan tetapi, kemudian penonton filmnya mengelu-elukan bahwa film ini adalah pengungkapan sejarah yang selama ini didiamkan.

Sementara itu, konteks pada masa itu sama sekali tidak disinggung. Sejarah peristiwa 1965 memang mustahil ditampilkan secara utuh. Namun, bukan berarti pengungkapan sejarah tanpa konteks bisa dilakukan. Jika saya bisa secara frontal menyebut bahwa konteks pada saat itu adalah perang. Jika tidak membunuh maka dibunuh. Apakah menjadi salah ketika orang-orang yang membunuh itu merasa membela negara atas kekacauan yang ditimbulkan oleh pihak lawan?

Saya tidak tahu, tetapi merasa yakin bahwa dialog-dialog itu atas arahan sutradara. Pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan oleh Adi Rukun pun takubahnya dengan penulisan sejarah di buku-buku sekolah yang menuding pihak lawan berbohong dan memalsukan sejarah. Dalam film tersebut, ada adegan ketika Adi Rukun membantah semua cerita anaknya yang bersumber dari guru di sekolah anaknya. Pernyataan itu membuat saya mempertanyakan banyak hal. Apakah tidak ada pemaparan sejarah secara lebih holistik. Tidak lagi terbagi atas siapa yang paling benar atau paling salah, siapa yang paling menderita atau siapa yang paling berbahagia.

Dan, satu hal lagi pertanyaan saya, jadi Oppenheimer itu siapa? Jujur saja, saya merasa dia orang yang benar-benar asing, kemudian tetiba datang menawarkan rekonsiliasi, yang barangkali ia tidak tahu rasa setiap orang yang pernah terlibat dalam peristiwa itu. Saya yakin, dalam generasi 2014 ini, setiap orang pasti terlibat paling tidak dua generasi di atasnya. Pilihannya ada dua menjadi yang dibunuh atau membunuh entah dilihat dari sudut pandang mana. Yang jelas, luka itu masih ada, mungkin masih terlampau basah untuk dikorek lagi. Sementara itu, tetiba seorang yang entah siapa datang membawa skenario dan konsep rekonsiliasi di kepalanya yang sama sekali mungkin tidak bisa diterapkan di negeri ini. Entahlah.

Bagaimanapun, saya tetap merekomendasikan kedua film ini ditonton oleh siapa pun sebab kedua film ini adalah film yang memberikan perspektif baru atas sebuah sejarah. Perkara nanti bagaimana interpretasi, itu urusan belakangan yang setiap orang boleh menafsirkannya.

Selasa, 04 November 2014

Untuk Lelaki yang Pernah Terlibat Banyak dengan Hatiku

Selamat ulang tahun, selamat menghitung mundur umur. Ini kali ketiga aku bisa mengucapkan selamat ulang tahun untukmu. Rasanya masih tetap sama setiap tahunnya: aku bahagia. Paling tidak, aku bisa melihatmu menambah kebijaksanaan. Selamat sekali lagi. Semoga jalan di depan sana semakin terang dan tentu saja membahagiakanmu. Semoga segala sesuatu yang menjadi semoga pada bulan-bulan lalu telah didengar Tuhan.

Percayalah, aku masih berdoa untuk kebaikanmu, dengan atau tanpa aku di dalamnya. Berjanjilah untuk dirimu sendiri bahwa kau akan tetap baik-baik saja, apa pun yang terjadi. Aku yakin kaki-kakimu semakin kokoh menopang banyak hal yang barangkali sempat menggoyahkanmu. Ah, selamat sekali lagi untuk yang kesekian kali. Semoga pula kamu cepat menemukan rumah yang bisa menyamankan dalam segala hal.

                                                                                                                      
Depok, 5 November 2014