Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Kamis, 05 Januari 2012

Akhirnya, Kamus Istilah Mistik Saya Selesai!



Itu kamus saya! Bukan. Kamus kami! Saya, Inung, Rizma, dan Suci. Empat orang gila yang tiba-tiba tercetus ide gila untuk membuat Kamus Istilah Mistik di mata kuliah Leksikologi dan Leksikografi.
Kelompok lain membuat kamus yang bombastis. Kamus Keperawatan, Astronomi, Kecantikan, atau Kriminal. Ah, sungguh. Saya tak paham atas materi-materi itu. Akhirnya, saya kegirangan ketika Inung mencetuskan ide ini. Saya menyambut dengan tarian hujan. Ah, tidak. Ini terlalu berlebihan.
Jujur saja, saya akrab dengan hal-hal seperti ini. Meskipun tidak mengalaminya secara langsung, tapi saya tumbuh dan besar di lingkungan yang masih percaya dengan adanya kekuatan "lain" di kehidupan ini.
Yang pasti. Selama satu semester ini. Saya dan ketiga teman saya itu akrab dengan hal-hal mistik. Seperti seorang cenayang. Ke mana-mana membawa primbon dan majalah Misteri. Itu menyenangkan. Melihat tatapan aneh orang-orang di sekitar yang melihat kami. Kami hanya cekikikan. Ada banyak cerita dan khayalan konyol selama masa pengerjaan kamus ini. Ada banyak bantuan yang terasa ganjil. Semoga saja lema dalam kamus ini tidak bertambah dan berkurang dengan sendirinya atau tanpa diketahui oleh pemilik kamus! #Ini(sok)serem
Akhirnya, hari ini, kamus itu lahir. Keluar dari masa tapanya. Kami menamainya: Kamus Istilah Mistik Indonesia
Saya bahagia. Mungkin, lebih bahagia daripada kuntilanak yang melahirkan. #SumpahIniNgaco
Ya ya ya. Kamus itu dikumpulkan pada dosen saya besok. Dan lucunya, kami tidak memiliki kopiannya yang sudah rapi. Hanya file-file berserakan di dalam komputer jinjing masing-masing. Haha
Sudahlah. Saya akan menghentikan racauan ini dengan satu doa: SEMOGA ADA PENERBIT YANG BERBAIK HATI (dan sedikit mistis) YANG MAU MENERBITKAN KAMUS ISTILAH MISTIK INDONESIA INI!
Semoga.
Semoga.

Alasan Mengapa Saya Ingin Menjadi Editor!

“Mau makan apa kamu kalau kerja kayak gitu!” komentar ayah saya ketika saya ditanya cita-cita saya—yang saat itu saya jawab: editor!—Saya hanya tersenyum. Mencoba menjelaskan. Tidak mudah. Dalam pikiran ayah saya, pekerjaan adalah dokter, dosen, polisi, akuntan, pengacara, hakim, atau apa pun yang memakai seragam. Saya tidak menyalahkan ayah saya. Hanya saja, saya berkewajiban untuk memberi pandangan baru tentang pekerjaan!

Saya tahu ada sosok bernama “editor” ketika saya berada di bangku SMP kelas 1. Ada sebuah artikel—entah siapa penulisnya—yang terselip di antara jejalan artikel lain dalam buku paket pelajaran Bahasa Indonesia. Artikel yang menjelaskan bahwa editor adalah pekerjaan yang masih belum banyak orang yang tahu. Masih sering tidak dianggap keberadaannya, padahal memiliki peran penting dalam proses penerbitan buku. Sering dimaki penulis. Atau entahlah. Saya lupa apa lagi.

Saya membacanya berkali-kali. Diam-diam saya mengagumi pekerjaan ini. Ada sedikit keinginan untuk menjadi editor di saat teman-teman saya yang lain (mungkin) masih setia dengan cita-cita masa kecilnya: dokter, guru, pilot, atau bahkan superman. Namun, saya masih belum yakin pada keinginan saya tersebut. Saya belum mendapat gambaran: bagaimana kerja saya nanti atau bagaimana saya meyakinkan orang-orang dengan cita-cita saya ini. Entahlah. Mimpi itu sempat hilang.

Ketika masuk SMA, jujur saja, saya sempat melupakan cita-cita saya untuk menjadi editor—meskipun tidak sepenuhnya. Saya dituntut oleh ayah saya untuk masuk jurusan yang beliau inginkan. Harus belajar mati-matian untuk mendapat nilai sempurna dalam pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, dan Matematika. Sungguh. Saya muak dengan semua itu. Bagaimana mungkin elang dituntut mahir berenang atau kelinci dipaksa menjadi ahli terbang! Sayangnya, saya tidak berani mengecewakan ayah saya.

Ah, (lagi-lagi) Tuhan memang selalu baik. Untung saja, ayah saya tidak sampai hati melarang saya pergi ke acara bookfair atau bedah buku atau diskusi kepenulisan. Setiap kali ada acara seperti itu, saya selalu berusaha mengikutinya. Karena, di sekolah, saya tidak mendapatkan kesenangan. Sama sekali.

Dalam suatu kesempatan diskusi kepenulisan—saya lupa temanya—saya beruntung bisa bertemu dengan Windy Ariestanty, editor penerbit Gagas Media. Sungguh. Seperti bertemu dengan malaikat penunjuk jalan. Selama ini, saya hanya menerka-nerka bentuk editor itu seperti apa. Kali itu, saya bisa mendengarkan beliau berbicara. Menjawab pertanyaan saya. Membagi ilmu. Membagi kebahagiaan. Membagi mimpi dan semangat. Membuat mimpi saya yang sempat tertumpuk hal lain kembali muncul. Untuk beberapa saat, saya seperti berada di negeri dongeng. Tuhan memang senang mempertemukan orang-orang yang berjodoh! Pada saat itu, saya masih tinggal di kota kecil, masih SMA kelas XI, culun, lugu, dan norak. Ini mungkin hal yang biasa untuk orang lain, tapi bagi saya, ini adalah jawaban dari Tuhan atas doa saya. Mengagumkan. Kalau boleh dirunut, kejadian satu hari itu boleh dikatakan mengubah cita-cita (ayah) saya. Yang selama itu saya jalani dengan penuh kepura-puraan.

Mbak Windy, ya, anggap saja beliau mau saya panggil begitu! Orang yang bisa membuat saya berani jujur pada ayah saya bahwa saya tidak mau menjadi dokter. Jujur pada diri sendiri bahwa sudah seharusnya saya mengikuti passion saya. Bukan membohongi diri sendiri untuk menyenangkan orang lain. Mbak Windy jugalah orang yang membuat nyata editor bayangan saya. Membuat saya yakin bahwa pekerjaan editor buku benar-benar ada, tidak hanya di artikel yang saya baca.

“Saya mau menjadi editor, seperti Mbak Windy!” ketika ayah saya bertanya lagi saya mau kuliah di jurusan apa.

Ada cerita panjang setelah keberanian saya jujur itu. Ada penolakan keras dari ayah saya. Ada pembelaan dari ibu saya. Ada tangis saya. Ada adu pendapat. Ada pertahanan argumen. Tidak mudah meyakinkan ayah saya dengan pilihan saya. Perjalanan meyakinkan itu tidak sebentar dan sedikit melelahkan. Hampir saja saya menyerah dan larut dalam mimpi (ayah) saya. Dan sudah berniat menjalaninya dengan setengah hati. Tapi, Tuhan tak pernah membiarkan itu terjadi. Tidak tahu. Angin apa. Mungkin kegigihan saya. Mungkin kebaikan Tuhan. Ayah saya memberi kesempatan pada saya untuk mewujudkan keinginan saya. Terima kasih Tuhan! Ah, saya juga harus berterima kasih pada ayah, ibu, dan (tentu saja) Mbak Windy. Akhirnya, saya berani untuk menentukan jalan saya meski harus dengan cerita panjang. Tapi, cerita panjang itulah yang akan terangkai menjadi remah kenangan.

Saya sempat saling berkirim email dengan Mbak Windy. Dengan baik hatinya, Mbak Windy menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang tidak penting. Saya tahu. Mbak Windy super sibuk, tapi beliau masih menyempatkan diri membalas surat bocah ingusan seperti saya. Email-email balasan dari Mbak Windy masih saya simpan rapi di kotak masuk saya. Masih sering saya buka. Sekadar mengingat kebaikannya.

Beberapa bulan yang lalu, saya mengirim email lagi padanya. Mengucapkan terima kasih. Sedikit bercerita. Saya tahu. Mbak Windy akan membalasnya. Benar saja. Sehari setelah email saya terkirim, saya menerima balasan darinya.

Ah, seharusnya saya yang menangis, Mbak. Bukan Mbak! Ada banyak hal yang Mbak berikan pada saya. Pada cita-cita saya. Pada hidup saya. Terima kasih. Terima kasih. Saya tidak tahu frase apa lagi yang patut saya sampaikan pada Mbak, selain terima kasih. Saya tahu. Cerita saya hanya bagian kecil di antara cerita-cerita lain yang jauh lebih istimewa.

Ya. Kemarin baru saja membaca buku Mbak yang terbaru, Life Traveler, saya membaca satu kalimat: “Profesi yang saya jalani terkesan absurd dan mungkin tak pernah dicita-citakan dengan penuh kesadaran oleh seseorang”. Saya mungkin bukan seseorang itu, Mbak, karena saya menginginkan menjadi seorang editor dengan penuh kesadaran. Hehe

Pada akhirnya, saya tahu. Tuhan merangkai cerita saya dan “editor” dengan indah. Saya akhirnya berada juga di kota yang katanya metropolitan ini—meski harus ada tangis untuk memperjuangkannya di hadapan ayah saya. Menjalani kehidupan saya seperti apa yang saya impikan. Melakukan apa yang saya cintai, dan mencintai apa yang saya lakukan. Sungguh. Tidak ada yang lebih indah dari itu! Di sini, saya merasa, Tuhan semakin mendekatkan saya dengan cita-cita saya. Ya. Terima kasih.

Untuk saat ini, saya memang belum resmi bekerja di sebuah penerbitan sebagai editor. Hanya saja, saya senang membantu menyunting tulisan teman-teman saya. Ucapan terima kasih dari mereka adalah kekuatan saya untuk mempertahankan mimpi saya: menjadi editor!

Sabtu, 31 Desember 2011

Selalu Ada Akhir untuk Mengawali

Akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk sekadar menertawakan kegagalan atau sedikit tersenyum pada target yang taksempat tersampaikan. Seperti kali ini. Pengujung tahun yang indah. Ada banyak hal di luar sana. Terompet. Kembang api. Riuh. Setiap Ada riuh, akan selalu ada diam. Hening. Di sudut kamar atau hati. Berpacu dengan kenangan dan ingatan.
Buncah. Bersyukur. Paling tidak, Tuhan sudah berbaik hati. Memanjangkan usia saya hingga detik ini.
Saya selalu suka hingar bingar yang timbul ketika malam pergantian tahun. Warna-warni yang indah. Nada dar-der-dor yang sedikit memekakkan. Tapi saya tidak berniat untuk menjadi bagian dari euforia itu. Berdiam diri di rumah jauh lebih indah.
Selalu ada akhir untuk mengawali sesuatu yang baru. Yang dianggap akhir sebenarnya adalah pijakan untuk melompat lebih tinggi. Menyelam lebih dalam. Atau berlari dengan lebih cepat. Itulah yang saya harapkan.
Mengutip kicauan dari Goenawan Mohamad, "Yang baru bukan tahun. Tapi hidup."
Itu indah sekali. Tahun tidak pernah merasa menjadi baru. Hanya hidup yang seharusnya baru setiap hari. Semoga. Semoga Tuhan selalu baik kepada saya.

Jumat, 23 Desember 2011

Senja

Memang. Takada yang lebih menyenangkan
selain menyusuri jalanan lengang kampus ketika senja.
Duduk saja. Di tepi danau hijau.
Menatap lekat. Lama-lama.
Takada jingga. Hanya abu-abu.
Tidak masalah. Sebab angin telah mengganti
Semuanya.
Mengibarkan rok seolah bendera.
Menarik tubuh. Jatuh ke tanah.
Suatu saat.
Senja akan merindu
pada hujan yang membasahkan atau
angin yang menerbangkan.

Rabu, 21 Desember 2011

Natal




Sudah hampir Natal. Sekarang sudah pagi. Sedangkan mataku belum terpejam. Gejala insomnia? Bukan.
Aku hanya sekadar mengingatmu. Mengenangmu. Lalu, tiba-tiba terjaga. Tanpa air putih atau segelas cokelat.
Sekali lagi. Aku selalu heran pada kenangan yang taktahu malu. Lama-lama aku membencinya. Sebab dia selalu membawamu kembali. Mengolokku yang takbisa melawan. Membiarkanmu datang. Lantas, menari-nari. Sudahlah.
Sudah berapa Natal yang kita lewatkan sendiri? Mungkin tiga. Mungkin empat. Ya. Aku tahu. Pada akhirnya kita akan berjalan masing-masing. Tapi, tetap saja. Melihatmu beranjak itu seperti pecandu yang sakaw. Bagaimana kabarmu sekarang?
Dari dulu. Aku takpernah punya pohon Natal. Sama sekali. Aku takpernah tahu rasanya menghias cemara itu dengan gantungan-gantungan yang lucu. Aku hanya mendengar ceritamu. Menghias pohon Natal itu seperti sebuah persembahan pada Tuhan. Sukacita menyambut hari kelahiran Tuhan-mu. Padahal, aku ingin sekali memasang bintang di pucuk cemaramu. Atau menggantungkan kaus kaki kecil di setiap dahan. Atau melilitkan kapas putih--yang seolah-olah salju itu.
"Mungkin, sama halnya dengan menganyam janur untuk dibuat ketupat di hari Lebaran," celotehmu lalu.
Aku menggeleng. Mamaku takpernah memasak masakan lebaran. Sama sekali.
"Aku takpernah dan takbisa menganyamnya," kataku. Kamu mendengus. Tertawa kecil. Aku ikut tertawa.
Kita hanya terdiam setelah itu. Pikiranku dan pikiranmu mungkin sama: kita sampai di sini. Menyakitkan. Sangat.
"Percayalah. Kita akan menemukan kedamaian di jalan Tuhan kita masing-masing," kamu berkata pelan. Ada bening di matamu. Suaramu tertahan.
Aku hanya mengangguk perlahan. Aku masih ingat semua kalimatmu. Terima kasih.
Kenangan. Semoga Natal tahun depan, kenangan tentangmu sudah berubah cerita.

Setiap Natal tiba. Aku selalu mengingatmu. Seperti kali ini. Di dini hari--hampir pagi. Dan lagu "Someday"--John Legend masih berputar sendiri di playlist-ku. Entah. Sudah putaran ke berapa.

Kepada Ibu

Di luar gerimis. Mericik. Membunyi tik tik. Selain itu, sunyi.
Kepada Ibu. Maaf.
Aku takpernah sempat mengirimkan ucapakanku untukmu. Lewat sepotong
kartu pos atau mungkin berbisik pada senja.
Bagaimana kabarmu hari ini?
Aku yakin, engkau akan menjawab, "sangat baik."
Padahal aku tahu. Ada lelah di matamu. Ada letih di hatimu.
Ada sedikit luka di balik kata baik-mu.
Tapi bibirmu masih merasa baik-baik saja.

Kepada Ibu. Terima kasih.
Terima kasih kepada Tuhan. Yang memilihmu untuk menjagaku. Menjadi malaikat.
Tanpa sayap.
Pukul dua nanti aku ingin terlelap.
Berharap bisa memelukmu dalam dunia takberbatasku.
Aku tahu. Mata ini akan bengkak besok.
Sebab terlalu lama menahan rindu untukmu. Takapa.
Aku janji, sebelum matahari terbit,
aku akan mengirimkan satu kalimat untukmu. Semoga Ibu senang.

Selamat hari Ibu. Semoga setiap hari Ibu selamat. (Aku mengutip kicauan dari temanku, tak apa, kan?)

Ah, tunggu dulu.
Kemarin. Engkau mengirimkan satu klausa untukku.
Singkat. Dan menyayat.
"Dan kau wujudkan mimpi yang terindah di setiap malamku"
Masuk berjejal di dalam kotak masukku.
Aku tertegun di antara padat jadwal. Ada bening menggenang.
Terima kasih.
Tahukah engkau, Ibu?
apa mimpi terindahku di setiap malam?
ENGKAU!!
Melihatmu tersenyum. Mendengarmu bercerita riang.
Tidak ada yang lebih baik dari itu semua.
Ah, mungkin, coretan ini taksampai padamu.
Internet takbisa menyampaikan semua rasa, ternyata.
Iya. Takapa.
Aku yakin. Engkau sudah merasa bahwa aku (selalu) menulis
sesuatu untukmu setiap saat.

Selasa, 20 Desember 2011

Dan Ponsel Saya pun Bisa Cemburu!

Hampir enam tahun. Iya. Saya bersama ponsel saya. Itu ponsel pertama saya. Ayah membelikannya karena nilai UN saya hampir sempurna. Harganya jangan ditanya. Masih sangat mahal. Lebih dari gaji sebulan ayah saya. Saya ingat. Kelas 1 SMA ketika itu. Menyenangkan sekali. Sejak mendapat ponsel itu, sama sekali saya takberniat ganti, baik nomor apalagi ponselnya.
Ah, tapi sayang. Segala sesuatu memang selalu berbatas. Termasuk ponsel saya. Akhir-akhir ini ponsel saya sudah menunjukkan tanda-tanda penuannya. Angka 2 sudah terlalu sensitif. Sudah tidak bisa bekerja secepat dulu. Otaknya sudah enggan diajak menampung banyak kenangan. Tanda getarnya juga sudah tidak berlaku lagi. Kasihan. Waktunya beristirahat.
Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya memutuskan untuk membuat dia istirahat. Menemani saya kala senggang saja. Tidak harus bekerja keras untuk membantu pekerjaan saya. Saya membeli penggantinya. Mungkin generasi cicit dari ponsel saya tersebut. Harganya hanya setengah dari harga ponsel saya, tapi (mungkin) fiturnya jauh lebih banyak.
Sudah seminggu saya memakai ponsel baru. Ponsel lama sedikit terbengkalai, karena memang, saya mengisinya dengan nomor baru--yang hanya beberapa orang yang tahu. Sementara itu, ponsel baru--dengan nomor saya yang lama--menemani saya bekerja dan berhaha-hihi.
Ah, saya salah. Tidak hanya manusia, ponsel pun bisa cemburu. Kemarin, ponsel baru saya sama sekali tidak bisa digunakan. Tidak ada jaringan meskipun sudah saya refresh berkali-kali. Jadinya, saya harus menggunakan nomor baru dengan ponsel lama untuk menghubungi teman-teman saya. Padahal, kemarin saya sedang sibuk menjadi panitia tayang bincang di kampus saya.
Sesampainya di rumah, saya mencoba menukar nomor. Ajaib. Dua-duanya bisa mendapat jaringan. Aneh.
Tapi, tetap saja. Nomor lama saya memang sepertinya minta ganti cip. Nomor lama saya tidak bisa digunakan untuk mengirim sms, padahal masih bisa digunakan untuk menerima sms, menelpon, dan menyelancar dunia maya. Benar-benar aneh.
Ya ya ya. Saya sedikit mengambil kesimpulan bahwa ponsel pun bisa cemburu dan merajuk dengan caranya. Saya tertawa. Baru sekali saya ganti ponsel. Setelah enam tahun. Selalu (terlalu) setia pada apa pun!

Senin, 19 Desember 2011

Penelitian Dialektologi ke Kresek-Tangerang

 

Saya senang berada di semester 5 ini. Mata kuliah yang menyenangkan. Dosen yang menyenangkan. Dan (semoga) juga nilai yang memuaskan. haha.

Hari Sabtu (17/12), saya dan teman sekelompok saya—Inung—melakukan penelitian bahasa di desa Sukasari, kecamatan Kresek, kabupaten Tangerang. Ya. Penelitian ini adalah salah satu syarat kelulusan di mata kuliah Pengantar Dialektologi. Penelitian ini menyenangkan. Sangat.

Kami berangkat dari kamar kosan pukul 08.00 WIB. Pukul 09.00 baru mendapatkan bus yang jurusan Depok—Kalideres. Kami pun naik bus tersebut. Berhubung hari Sabtu, jalanan di Jakarta tidak terlalu macet. Sampailah kami di Kalideres pukul 10.50. Perjalanan belum selesai. Kami harus naik lagi (semacam) Kopaja yang menuju ke arah Kresek. Pukul 11.00, bus jurusan Kalideres—Kresek akhirnya berangkat. Kami mengira perjalanan ini tidak memakan waktu lama, ternyata salah. Kami baru sampai di Kresek pukul 13.45. Entahlah. Itu berapa jam jika dihitung dari awal keberangkatan. Dalam perjalanan tersebut, saya pun harus menyaksikan kenorakan Inung yang (mungkin) baru pertama kali tahu aplikasi navigasi di ponsel barunya. Haha

Kami sampai di sebuah terminal yang merangkap fungsinya menjadi pasar. Sedikit kotor dan bau. Sudahlah. Tidak apa-apa. Untunglah. Di depan situ terdapat sebuah masjid. Kami pun sholat dhuhur sekaligus ashar. Ah, jujur. Saya seperti jetlag ketika awal-awal sampai. Kepala pusing karena terlalu lama dalam perjalanan. Norak. Haha. Ini foto masjid tempat kami sholat.

2011-12-17 15.10.51

Kami bertanya rumah Pak RT setempat untuk meminta izin mengadakan penelitian ini. Ya. Sekaligus meminta tolong ke Pak RT untuk mencarikan informan yang sesuai dengan kriteria informan penelitian dialektologi ini, yaitu NORM’s. Yang pertama, Nonmobile, maksudnya orang tersebut jarang bepergian dari kampungnya. Yang kedua, Older, orang tersebut harus berusia sekitar 40—60 tahun. Yang ketiga, Rural, maksudnya orang tersebut haruslah penduduk asli daerah tersebut minimal dari dua generasi. Yang keempat, Male, diharapkan informan dalam penelitian ini adalah laki-laki karena laki-laki dianggap dapat menyimpan bahasa etnisnya dengan baik. Namun, kriteria yang terakhir ini masih diperdebatkan.

Akhirnya, kami dipertemukan dengan Ibu Salminah. Penelitian pun dimulai. Karena kami menghindari idiolek, kami pun mewancarai dua orang. Ibu Salminah dan Pak RT itu. haha

Inung mewancarai Ibu Salminah dan saya mewancarai Pak RT—yang saya lupa namanya. Penelitian pun berlangsung. Ah iya, namanya penelitian dialektologi, yang kami tanyakan pun seputar kosakata. Misalnya, mereka menyebut kata abu dengan kata apa. Daftar tanyaannya berupa 200 kosakata Swadesh dan 32 kosakata sistem kekerabatan—sapaan. Total ada 232 kosakata yang kami tanyakan.

Penelitian berlangsung selama kurang lebih 1 jam 15 menit. Pak RT itu baik sekali. Ibu Salminah juga. Mau meladeni mahasiswa kurang kerjaan seperti kami. Sekitar pukul 15.30 penelitian selesai. Untuk kenang-kenangan, saya sempat memotret Inung, Pak RT, dan Ibu Salminah.

2011-12-17 15.06.23

Bisa ditebak kan yang mana Inung, Ibu Salminah, atau Pak RT. Haha

Setelah itu, kami langsung pamit pulang. Takut terlalu malam pulang. Bus yang ke Kresek—Kalideres hanya sampai pukul 17.00, sedangkan Kalideres—Depok hanya sampai pukul 19.00. Wah, itu waktu yang terlalu riskan untuk berleha-leha. Sebelum benar-benar pulang, kami makan siang (atau sore) di warung samping Masjid.

2011-12-17 15.11.322011-12-17 15.10.20

2011-12-17 15.07.19

2011-12-17 15.38.52

Sembari menunggu bus yang takkunjung berangkat, saya memotret-potret saja keadaan yang di sana. (Dari kiri atas ke kanan) Gambar pasar di sana. Dan yang membuat saya kagum, di sana masih ada wartel sekaligus merangkap warnet. Oh waw! Sudah ada minimarket juga. Ckck. Investasi minimarket memang sudah merambah ke setiap pelosok. Jalanan lengang menuju rumah Pak RT.

Akhirnya, bus jurusan Kalideres berangkat juga. Sudah pukul 16.10. Hampir senja. Saya bosan di perjalanan. Baterai ponsel menipis. Membaca buku pun tidak memungkinkan. Yang saya lakukan hanya memotret apa pun yang ada di jalanan.

Kami tiba di Kalideres pukul 18.40. Fiuh. Masih ada bus yang lewat untuk ke Depok. Perjalanan pulang lebih panjang. Jakarta Macet lagi. Saya sampai di kosan pukul 22.00 dengan wajah kusut dan bau bus. Ini perjalanan gila. Penelitian hanya satu jam, sedangkan waktu tempuhnya 10 jam.

Ah, tapi jika tidak ada tugas ini, saya tidak akan jalan-jalan ke Kresek. Tidak akan tahu bahwa kamar mandi di sana masih belum tertutup sempurna. Tidak akan tahu bahwa ada daerah dekat Kota Metropolitan yang masih asli. Tidak akan tahu bahwa ada bahasa Jawa yang digunakan orang-orang tersebut. Kosakata Jawa dengan logat Sunda dan beberapa campuran kata sapaan bahasa Betawi. Itu sangat menarik. Ya. setelah penelitian ini, saya tertarik untuk mengambil skripsi dialektologi. Ingin meneliti dialek di sebuah tempat yang belum terjamah. Tentu saja. Keinginan utama saya adalah jalan-jalan. :P

Minggu, 18 Desember 2011

Kepada Kamu

Selamat pagi,
Sudah lama tak menyapamu. Ada rindu. Sepasang ngilu. Kamu.
Kamu. Masih kamu.
Kemarin hujan. Di jalanan. Menyusun ingatan. Masih tentang kamu. Remah-remah imajinasi. Sedikit saja.
Aku selalu mengingat. Bagaimana kenangan tentang imajinasiku.
Berjalan berdua. Beriringan. Bergandengan. Di bawah hujan.
Atau kita berada dalam bus kota. Bernyanyi. Mengusap nako.
Aku lebih suka berjalan kaki. Bersamamu. Daripada harus kedinginan di dalam mobilmu. Sederhana bukan? Sebab, berjalan membuat waktu berhenti sejenak. Agar aku bisa lebih lama menggenggam tanganmu.
Mungkin kita akan menikah kelak. Aku menjadi pasanganmu. Tapi aku takmau menukar nama belakangku dengan nama belakangmu. itu nama ayahku.
Kelak, akan lahir anak-anak lucu dari rahimku. Lakilaki dan perempuan sama saja.
Lantas, kita akan menghabiskan waktu di toko buku. Memilah dan memilih buku dongeng atau puzzle untuk anak kita. Atau kita akan membacakan sebuah dongeng setiap malam. Mengecup anak kita sebelum mereka tidur.
Membawa mereka jalanjalan. Menemani mereka membaca dan belajar. Itu menyenangkan bukan?
Kepada kamu,
aku senang menghabiskan waktuku bersamamu.

Selasa, 13 Desember 2011

Jarak

Daunmu gugur kataku
biarlah
kaumemandangnya sayu
Bukan itu mauku, katamu
lantas?
kamu! katamu lagi
aku jengah
mana mungkin?

sekali lagi
kita harus mengalah
pada jarak yang serta
merta tunduk pada waktu

mengapa kita taktumbuh
di tempat yang sama?
lalu kita dapat berjalan
beriringan
oh.

Senin, 12 Desember 2011

Rindu Hujan Pagi Hari

Pukul empat sore. Hujan. Sekarang di luar masih hujan. Meskipun hanya serintik. Pagi tadi, saya tiba-tiba rindu hujan pagi hari. Saya rindu pada hujan yang datang mendadak dan kejam menyembunyikan matahari. Tentu saja. Saya lebih senang hujan turun daripada matahari terik memanggang kepala saya. Berbicara tentang hujan memang takpernah membuat saya bosan. Tapi mungkin membuatmu muak. Sayangnya, saya sudah telanjut jatuh cinta pada rintiknya.
Kemarin, saya melihat postingan teman saya. Saya hanya mengingat dua baris di antara berbaris-baris yang dia tulis. Dia menulis puisi. Sederhana. "You say you love the rain, but you open your umbrella when its rain. This is why I'm afraid. You say you love me"
Yeah. Masih ada beberapa baris yang saya lupa. Kadang-kadang, manusia memang seperti itu. (Seolah-olah) mencintai sesuatu. Padahal hanya sebatas mengikuti orang lain mencintai sesuatu.
Percaya atau tidak. Saya tidak pernah menyelipkan payung di antara kosong tas saya. Ke mana pun saya pergi.
"Wah, hujan nih. Lo gak bawa payung?" teman saya bertanya pada saya dengan muka sedikit manyun.
"Mana pernah!" saya menjawab singkat. Teman saya mendengus. Terserah. Tapi itulah. Saya memilih bermain dengan hujan atau menungguinya hingga hujan pergi sama sekali.
Tentang kesetiaan. Ah, saya selalu terlalu sok tahu tentang hal ini. Ketika saya memilih sesuatu, saya akan tetap bersamanya atau meninggalkannya dari awal. Ya. Itu jugalah yang membuat saya enggan membuka payung ketika hujan.
Saya jadi ingat. Dulu saya selalu senang ketika hujan datang. Saya bisa bermain-main di bawah hujan dengan ayah dan adik saya. Kaki telanjang. Berkeliling kebun. Lempar-lemparan lumpur. Mencari ikan di empang. Bahkan, bermain bola. Saya, ayah, dan adik. Selalu senang ketika hujan. Itu berarti kami bisa bermain bersama. Walaupun setelah bermain, kami harus mendengar ocehan Mama. Tentu saja, Mama mengoceh. Karena kami masuk rumah dalam keadaan basah. Tetesan dari baju kami mengotori lantai yang sudah dipel paginya. Kami hanya tergelak, lalu bersama-sama mengepel kembali lantai rumah kami yang basah. Lalu, setelah mandi dan keramas, saya dan adik saya berlomba mencium pipi Mama. Tapi sayang, pasti ayah saya yang lebih dulu sampai ke pipi Mama saya.
Entah. Itu berapa tahun yang lalu. Mungkin sebelum saya menstruasi untuk pertama kalinya. Sudah sangat lama. Sekarang tidak lagi. Adik saya sudah besar. Sudah enggan berkotor-kotoran dengan hujan. Meski terkadang, masih sering saya melihat ayah saya berhujan-hujanan dengan ayam-ayamnya. Dan saya hanya melihat dari dalam rumah.
Banyak hal yang berubah. Meski rasa hangat itu takpernah berubah. Saya lebih suka menggelung di balik selimut ketika hujan sambil tetap mendengarkan rintiknya. Adik saya lebih senang berhubungan dengan teman-temannya di jejaring sosial. Mama saya lebih senang bermain Zuma di komputernya. Dan ayah saya lebih tertarik bercengkerama dengan ayam, burung, atau bebeknya di kebun.
Saya rindu pada mereka. Pada mereka yang telah memberi rasa hangat pada saya. Hujan hanya pengingat. Benang merah yang menghubungkan kenangan saya tentang tiga malaikat tanpa sayap itu. Terlampau banyak kenangan manis di rumah mungil--yang catnya tidak pernah tetap.
Tanggal 28 November kemarin, Ayah saya ulang tahun. Ke berapa? Saya pun lupa. Mungkin sudah kepala lima. Ah, ayah saya sudah setengah abad. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Harapannya ada pada saya. Sungguh. Sekali pun saya tak ingin mengecewakannya.
Tanggal 7 Desember kemarin, adik saya ulang tahun. Yang ke-17. Oh, dia sudah besar sekarang. Padahal, rasanya, baru kemarin dia lahir. Menjadi bayi mungil yang menyedot banyak perhatian orang. Yang sering saya ciumi ubun-ubunnya. Rasanya, baru kemarin. Saya dan dia pergi bersama ke sekolah. Atau bertengkar rebutan remote TV di rumah. Berkejaran. Saling meneriaki. Mandi bareng. Tidur dalam satu ranjang. Dan sama-sama kena marah Mama atau Ayah. Mengesankan.
Tanggal 22 Desember nanti, hari ibu. Hari Mama. Tak ada kata yang bisa dirangkai untuk mendefinisikan perempuan ini. Terlampau sempurna. Dari Mama juga, saya belajar memberi dan mengasihi sesama. Belajar sabar dan menerima sesuatu. Bersyukur. Mama saya bukan ibu yang cerewet. Tidak panik ketika saya sakit atau mendapat masalah. Memang, seolah-olah Mama membiarkan saya berjalan sesuka saya. Tapi, di kota ini, saya baru mengerti pengajaran yang diterapkan Mama pada saya. Saya belajar untuk bertanggung jawab terhadap pilihan dan kehidupan saya. Belajar mengurusi keperluan saya tanpa terlalu bergantung pada orang lain. Ah, sudahlah. Mama saya tidak akan cukup diceritakan dalam ruang ini.

Yang pasti. Sekarang. Saya merindukan mereka. Ah, paling tidak. Saya sudah meluapkannya di sini. Siapa tahu kicauan ini sampai pada mereka. Entah terbawa hujan atau angin.

Kamis, 08 Desember 2011

Tentang Kepedulian

Maaf. Saya memulai paragraf ini dengan sebuah permohonan tulus kepada kalian. Mencaci saya sekarang pun takapa. Sama sekali saya tidak keberatan. Baiklah. Selama ini kalian (mungkin) menganggap saya benar-benar tidak peduli dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan "kita". Maaf. Saya ralat. Yang berhubungan dengan "kalian". Hanya saja (seolah-olah) saya harus mengikuti semua kegiatan "kalian" itu.
Ya. Kebetulan saja kita "terlahir" di tempat yang sama. Tapi bukan berarti kita harus selalu bersama-sama. Jujur saja, saya sedikit risih ketika kalian berteriak-teriak di depan saya. Menanyakan di mana kepedulian saya terhadap "rumah kita"? Dalam hati, saya tergelak. "Rumah kita"? Rumah adalah tempat pulang yang hangat. Yang memberikan ruang untuk menjadi diri. Maaf. Saya tidak menemukan kehangatan itu di tempat yang kalian sebut "rumah kita" ini.
Kepedulian itu tidak harus kasat mata. Tidak harus muncul di setiap suasana. Setiap orang memiliki prioritas masing-masing. Yang mungkin tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Kalian punya kerjaan. Saya punya kerjaan. Baiklah. Tidak perlu mengunggulkan kerjaan siapa yang paling berat dan yang paling sibuk. Semua adalah soal pilihan. Saya memilih keluar. Dan kalian memilih masuk. Bukan masalah besar sebenarnya. Lantas, mengapa kalian mempermasalahkan pilihan saya, sedangkan saya tidak pernah mempermasalahkan pilihan kalian?
Ada banyak alasan (jika saya mau beralasan). Tapi saya memilih diam. Membiarkan kalian meneriaki dan memaki saya. Apakah kalian peduli terhadap pilihan saya? Saya rasa tidak. Dan mengapa saya harus peduli pada pilihan kalian? Saya tidak punya komitmen dan tanggung jawab apa pun terhadap kalian!
Maaf. Saya memang tidak terbiasa dengan kerumunan. Tidak terbiasa terpesona dengan huru-hara yang ada. Saya lebih senang menghabiskan waktu saya sendirian. Terkesan egois dan autis, memang. Tapi, apakah seseorang hanya dinilai dari kesannya? Semoga saja tidak.

Selasa, 29 November 2011

Tentang Kesetiaan

seperti jalan panjang--tak berkesudahan.
meniti sepi.
bermusim-musim.

adakah kau di situ?

Kamis, 24 November 2011

Terima Kasih

Di ruang ini, saya bebas bercerita. Tentang hal-hal sederhana apa pun. Tentang saya. Tentang kamu.
Di sini tempat bebas untuk membiarkan saya tetap ada. Menjaga jari-jari saya tetap dekat dengan tuts keyboard. Melihat mereka menari, lalu bercinta. Saya terkekeh ketika mereka takmencapai klimaks bersama. Terkadang, jari-jari saya lelah duluan atau tuts keyboard ini yang berkeringat terlalu deras. Melihat mereka itu nikmat. Serupa rangkaian musik klasik yang berbicara dalam kalimat sederhana.
Ruang ini sepi. Sama sekali. Tapi mampu menjaga gairah saya agar tidak mengendap atau terlalu meliar.
Hanya sesekali kamu dan teman-temanmu menengok. Dan saya percaya: yang datang ke mari adalah orang-orang yang rindu pada saya! Itu cukup membuat saya bahagia, paling tidak, masih ada yang peduli.
Begitulah. Ruang ini membuat saya bebas takmembatas. Yang memberikan kenyamanan semu membius. Yang mungkin jauh lebih baik dari rasa nyata tapi takterbaca.
Saya selalu menikmati kesendirian saya dalam sepi. Dan ruang ini menyediakannya untuk saya. Terima kasih.

Bau

Kenangan. Masih saja membuat saya bertanya. Tersusun atas apa dia? Beberapa orang teringat sesuatu ketika mendengar lagu atau melihat sesuatu. Ya. Begitulah kenangan. Mampir sejenak. Lantas pergi. Atau mengendap terlalu lama. Seperti hidup.

Kenangan juga tiba-tiba datang ketika saya mencium sesuatu. Entah wangi. [atau] busuk. Seperti kali ini. Ketika saya duduk di ruang megah. Saya mencium bau seduhan kopi. Mungkin dari arah warung kopi seberang ruangan ini.

Bau kopi yang mengepul selalu mengingatkan saya pada wajah Kakek. Yang setiap hari minum secangkir kopi. Duduk di dapur. Menunggui Nenek memasak nasi goreng. Tertawa melihat saya yang masih (sangat) kecil. Berlari-lari. Kadang kami saling memeluk dan berjanji. "Kalau kamu masuk TK, Kakek akan mengantar-jemputmu setiap hari!" Saya bersorak. Takada yang lebih menyenangkan daripada janji seorang kakek pada cucunya. Tapi sayang, Kakek sama sekali taksempat mengantar saya pergi sekolah. Kakek lebih memilih menemui Tuhan.

Bau kopi yang mengepul juga [kadang] membuat saya mengingat rasa mual. Saya ingat ketika saya muntah karena nekad meminum secangkir cappucino hangat di suatu senja.

Begitulah kenangan.

Mengingat kenangan. Saya selalu ingat bagaimana saya mengingat masa-masa SD saya ketika saya mencium aroma yang timbul dari telur ceplok. Saya ingat setiap pagi--setelah kepindahan Nenek ke Bandung--saya harus membuat sarapan sendiri. Apa yang bisa dimasak anak kecil berumur 10 tahun, selain menceplok telur? Belum ada. Ibu dan Ayah saya sudah berangkat ke kantor sebelum sempat menyiapkan sarapan untuk saya. Tidak apa-apa. Ini membuat saya belajar menyiapkan keperluan saya.

Begitu juga saya mengingat masa SMP dan SMA saya ketika mencium asap knalpot angkutan kota. Ini menyenangkan. Saya mengingat bagaimana saya harus berlari mengejar angkot agar takterlambat ke sekolah. Tak ada yang bisa mengantar saya ke sekolah.

Parfum aroma buah juga menyimpan cerita dalam kenangan saya. Saya ingat ketika saya mulai menyukai seseorang, saya mulai menggunakan parfum. Dosis pemakaiannya pun sedikit berlebihan, menurut saya. Bahkan takjarang ayah saya berkomentar jika parfum saya membuatnya pusing. Itu masa-masa labil. Entah. Mungkin SMP atau SMA. Yang pasti saya selalu tergelak ketika mencium parfum yang beraroma buah.

Saya selalu teringat pada Itali--dan keinginan saya untuk ke sana--ketika hidung saya menangkap bau pizza yang masih hangat. Saya teringat pada kegilaan saya pada jalan-jalan.

Sekarang, saya sedang mencium wangi cokelat dari aroma parfum saya. Mungkin, suatu saat kelak, saya akan mengingat hari ini ketika saya mencium parfum beraroma cokelat. Seperti saat ini. Persis. Ketika saya mulai [mencoba] jatuh cinta.

Sabtu, 19 November 2011

Truth or Death

Terbuat dari apakah kenangan itu? Aku takpernah tahu. Dari serpihan jerami yang menumpukkah? Atau dari debu di atas laci mejaku. Hanya saja, kenangan selalu membuatku mengingat-ingat sesuatu yang takingin kuingat, atau malah menghilangkan file penting dalam memori. Seperti jelangkung. Membuatku takut.
Kenangan jugalah yang menggedor-gedor ingatan. Tentang apa pun. Seperti halnya dini hari ini. Tiba-tiba aku mengingat permainan "Truth or Death" yang beberapa hari lalu kumainkan bersama teman-temanku. Mungkin kau akan bingung dengan permainan ini. Ya, harusnya, permainan ini bernama "Truth or Dare". Kami punya aturan sendiri. Takada tantangan. Atau memilih mati dan melompat dari lantai dua. Oh, tidak. Ini terlalu berlebihan.
Kami melingkar. Mungkin sepuluh atau sebelas orang. Tertawa. Aku duduk di sebelah utara, menghadap ke barat daya. Botol diputar. Setiap orang memasang muka (sok) tegang. Baiklah. Putaran pertama, kedua, ketiga, keempat. Aku lolos. Botol itu dengan baik hati tidak mengarah kepadaku. Sayangnya, ini takberlaku ketika putaran kelima. Dengan tepat, kepala botol itu menunjukku. Ya. Menunjukku untuk menjawab pertanyaan gila dari teman-temanku. Mereka bersorak. Aku mengernyit. Perasaanku sedikit takenak.
"Oke pertanyaan pertama yaaa!! Lo pernah jatuh cinta gak sih?"
Damn! Sudah kuduga. Pertanyaan itu akan muncul.
"Ehm, gimana ya? Sepertinya belum pernah!" aku mencoba mengatakan yang sejujurnya.
"Mana mungkin!!! Kami kan butuh kebenaran. Tapi, kenapa tulisan lo menandakan kalau lo (sepertinya) pernah bener-bener sakit hati?" sebuah pertanyaan tambahan dari orang yang sama.
"Haha. That's just writing! Gak ada hubungannya sama gue! Gue suka nulis, and that's why, I'll writing everything, termasuk rasa sakit hati!" Ini juga jujur. Yeah, selama ini aku hanya menulis. Tanpa harus memperhatikan apa yang kutulis.
Iya, ada sedikit kebenaran di situ. Aku memang pernah sakit hati. Tapi, sakit hati yang kualami memang berbeda dengan anggapan mereka. Bukan sakit hati pada cerita picisan seperti itu. Biarlah. Itu takapa.
"Pernah deket sama seseorang gak?" Sial. Pertanyaannya takcukup satu.
"Pernahlah! Gue deket sama orang tua gue, sama adik gue, sama temen-temen gue, sama kalian! Haha"
"Ishhh, maksud gue, lawan jenis!"
"Bokap gue!" entah. Ini bercanda atau serius. Sebab, sepersekian detik yang lalu aku mengingat-ingat segala sesuatunya, tak ada lelaki yang benar-benar dekat denganku, kecuali ayah.
"Lo bakalan pacaran gak?" Ini menyebalkan. Permainan sepertinya berhenti pada giliranku. Setelah ada pertanyaan itu, ada beberapa orang yang bersorak. "Gak pacaran lah, kan mau pakai proposal!" entah. Itu kalimat milik siapa. Sumpah. I never know about proposal of marriage. On my mind, proposal just for events! Haha
"Haha. Kok lo nanyanya pacaran sih? Lo nanya gue bakalan nikah atau enggak, itu aja gue masih binguung!" Yeah. That's true.
Derrr! Seperti tersengat lebah. Ruangan menjadi semakin gaduh dan sedikit ricuh. Ada banyak pertanyaan penyangkalan, kenapa?
"Yah, gue gak pernah tahu apa yang akan terjadi di kehidupan gue kelak. Tapi, yang pasti, untuk saat ini, gue belum bisa memutuskan gue bakalan nikah atau enggak!"
That's my choice!
"Kenapa? Kalau gue malah pengen cepet-cepet nikah. Buat menyempurnakan ibadah dan mengikuti sunnah Rasul. Haha" pernyataan itu didukung oleh beberapa orang lainnya.
"Emang kenapa lo gak pengen nikah? Pasti ada sesuatu yang membuat lo berpikiran seperti itu?"
Dasar manusia kepo!!
"Just about choices!" aku menjawab singkat.
Untung saja. Di tengah-tengah situasi yang memojokkan seperti ini, seorang temanku mengusulkan untuk mengakhiri saja giliranku. Sebab, pertanyaan yang diajukan sudah masuk ke ranah yang terlalu pribadi. Good advice! Thanks a lot to my friend!
Kuputar botol itu. Menunjuk ke teman sebelahku. Thanks God!
Maaf. Setelah pertanyaan tadi aku memang takbisa fokus lagi dalam permainan gila ini. Aku taktahu apa yang diungkapkan oleh teman-temanku pada giliran selanjutnya. Pikiranku terfokus pada pilihan menikah atau tidak.
Masih sangat tabu untuk memilih tidak menikah di negeri ini. Setiap orang punya alasan. Menikah atau tidak adalah soal pilihan. Dan setiap orang wajib menghormati terhadap pilihan orang lain. Lantas alasanku? Maaf. Aku takbisa menceritakan di sini. Terlalu umum. Mungkin, aku bis menghampirimu di lorong kosong untuk bercerita atau aku akan mengendap-endap memanjat tembok rumahmu agar bisa sampai ke kamarmu. Lalu, kita berbincang banyak di jendela lebarmu.

Kau takpernah tahu bukan,
rasanya takpernah jatuh cinta? Itu sepi.
Serupa musim dingin tanpa api. Lantas,
bagaiman mungkin kau memaksaku menikah.
Sementara aku takpernah bisa mencintai.
Terserah. Kau bilang hatiku terbuat dari
baja macam apa.
Bukankah kau pernah bilang,
cinta itu takpernah memaksa?
Sungguh. Aku percaya itu. Tapi, mengapa
kau takpernah percaya: aku takpernah jatuh
cinta!
Berapa kali harus kukatakan itu?
Aku takbisa.
Terlebih untuk menikah.
Menikah, bagiku, adalah upacara paling
sakral yang pernah ada. Penggabungan kembali
jiwa satu yang sempat terpisah. Bagaimmana
mungkin aku menikah, sedangkan jiwaku telah
satu.
Kau taktega melihatku tersiksa, bukan? Maka,
jangan paksa aku menikah.
Dengan siapa pun!

Kamis, 17 November 2011

Sederhana

Hidup itu sederhana. Sesederhana kecipak air yang terkena ujung sepatu. Atau lebih sederhana dari membalikkan telapak tangan. Sederhana sekali.
Saya jadi teringat, ketika saya kuliah isyarat--lagi-lagi isyarat--beberapa hari yang lalu. Seorang translator mengkritik beberapa dari kami yang terlalu rumit menyampaikan percakapan dalam bahasa isyarat. Ya. Saya memang masih menerjemahkan kata per kata untuk dibuat bahasa isyaratnya. Taksalah memang, tapi takperlu.
"Hidup itu sederhana. Jangan dibikin rumit!" Begitulah komentar dari translator tersebut. Saya tergagap. Iya. Hidup itu memang sederhana. Saya saja yang selalu sering membuat rumit.
Ah, sebenarnya. Dari dulu, saya juga enggan memikirkan rincian hidup. Saya senang menikmati hidup saya secara sederhana. Tanpa beban. Mengalir saja. Dan oleh beberapa orang, hidup saya terlalu santai. Takmasalah.
Saya seorang dateliner sejati. Terlalu tepat waktu, kalau dalam bahasa saya. Mungkin ini menyiksa bagi sebagian orang, tapi bagi saya ini adalah cara menyederhanakan hidup.
Saya juga taksuka mengkritik sesuatu. Taksuka bawel. Taksuka ribut. Saya kadang-kadang merasa jengah ketika teman-teman saya mulai mempermasalahkan sesuatu yang sebenarnya takmenyangkut hajat hidup orang banyak. Misalnya saja, ketika kami makan bersama, ada satu atau dua orang selalu marah-marah ketika pesanannya datang terlambat. Hei, yang pesan bukan cuma kalian!!! Tangan penjualnya juga cuma dua. Begitulah. Komentar saya dalam hati. Atau mereka mempermasalahkan tempat yang terlalu sempit, banyak lalat, masakan terlalu asin, banyak asap rokok, atau apa pun lah itu. Hello, kalau gak mau ribet dengan semua itu, cari tempat lain. dan urusan akan selesai.
Ah, mungkin saya yang terlalu apatis pada lingkungan sekitar. Yang menurut saya, semua hal akan jadi membahagiakan jika saya bisa membuat nyaman diri saya sendiri. Lingkungan itu tergantung perasaan saya. Sudahlah. Sebenarnya saya ingin sekali ngomong ke mereka, tapi ya itu, saya taksuka ribut. Taksuka berdebat.
Hidup itu sederhana. Bahkan lebih sederhana dari suhu tubuh yang naik setelah bermain hujan-hujanan.

Selasa, 15 November 2011

Ending




07:59:00
Penghitung waktu di pojok monitormu terus berjalan. Tik. Tik. Serupa jam dinding usang yang dentingnya terus menghantuimu. Menit itu diam saja. Namun, ada yang berteriak nyaring.
"Cepat selesaikan!! Kalau kamu tidak mau mengulang!"
Entah. Itu suara siapa. Mungkin dosenmu. Papamu. Mamamu. Atau bahkan pacarmu.
Tes. Tes.
Keringat di dalam ruangan berpendingin seperti ini memang taknormal. Tapi kamu basah. Lebih deras dari hujan yang mengguyurmu kemarin sore.

07:59:30
Monitor di depanmu masih kesepian. Hanya ada nama dan nomor mahasiswamu. Bodoh! Mau mengerjakan apa? Ingin kau lempar saja monitor yang dari tadi menjulurkan lidahnya ke arahmu. Mengejekmu. Mungkin, hidupmu akan bebas dalam 30 detik jika monitor ini hancur. Tapi, tentu saja. Kau akan terperangkap satu tahun lagi menghabiskan waktu di kuliah keparat ini.
Napasmu memburu. Logikamu menolak segala kemungkinan. Gila saja! Lima halaman hanya dalam waktu 30 DETIK!!! Hanya Tuhan yang bisa melakukan itu, pikirmu!
"Pukul 08.00, semua tulisan sudah harus dikumpulkan di meja biasa!" suara ketua kelasmu tempo lalu mendengung. Telingamu sakit, tapi (mungkin) tidak sesakit otakmu.
Mulutmu takberhenti mengucapkan sumpah serapah untuk mengutuk dosen yang menurutmu brengsek itu. Sudah dua kali kamu gagal lulus dalam mata kuliahnya.

08:00:00
Waktu habis.
Tet. Tet. Tet. Black Berry-mu bergetar. Panggilan masuk. Temanmu. Kamu sudah seharusnya menyerah. Kautekan tombol hijau. Menempelkan dengan malas di telingamu yang panas.
"Bapak Bachtiar meninggal!" telepon ditutup. Singkat. Jelas. Padat.
Matamu mengerjap. Seperti mimpi. Itu nama dosen yang kauserapahi sepersekian detik yang lalu.

Senin, 14 November 2011

Rintik dan Kamu

Aku sendirian saja di sini. Di gedung yang menjulang. Sudah pukul lima. Dan aku belum segera pulang. Kulihat orang lalu-lalang. Mungkin berpikir sedih atau senang. Ya, sedih karena tidak segera sampai rumah. Atau senang melihat hujan.
Seperti biasanya, kamu tahu bukan? Jika aku suka memperhatikan rintik. Senang melebur dengan rintik. Tik. Tik. Suara itu mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali. "Pada siapa?", tanyamu. "Mungkin padamu atau pada rintik." jawabku singkat.

Aku suka pada hujan. Pada hujan yang suka bersijingkat menghampiriku dalam tidur. Atau pada hujan yang bersepatu bot agar jika masuk kamarku, lantaiku tidak kotor. Aku suka pada hujan yang membawakanku payung. Padahal, aku tahu. Hujan tidak akan membasahi rambutku.
Ah, aku selalu suka pada hujan. Kapan pun. Terlebih ketika hujan pada senja seperti ini. Jingga yang memudar. Temaram. Petang. Mengingatkanku padamu. Padamu yang sudah melukis jingga pada kanvas putihku.
Di luar hujan, Sayang. Kau mendengarnya, bukan? Kau juga bisa mendengar degup jantungku yang ketakutan, bukan? Aku ketakutan, Sayang. Hujannya terlalu liar bermain dengan halilintar. Jujur. Aku cemburu pada petir yang menyambar.

Sudah berapa kali aku terjebak hujan? Entahlah. Mungkin ratusan. Dan di antara ratusan itu, ratusan kali juga aku menghampirinya. Menadahkan tanganku ke arah langit. Berharap tubuhku terguyur air. Dingin. Tapi, itu menyenangkan, Sayang.
Hujan semakin deras, Sayang. Kau dengar itu kan? Kau juga dengar denyut hatiku? Hatiku yang takpernah berhenti merindukanmu!

Minggu, 13 November 2011

Buku dan Rak Buku

 

“Jika S2 nanti kamu akan tetap mengambil Linguistik?” tanya teman sekamar saya. Saya mengangguk mantap.

“Saya telanjur cinta!” saya berkelakar. Dia hanya menggeleng dan tertawa.

Mungkin, baginya, saya sudah sedikit tidak waras. haha. tidak apa-apa. Mungkin, baginya, kuliah saya selama ini terlalu rumit dan tak penting. sama sekali bukan masalah. Saya telanjur jatuh cinta pada bahasa. telanjur jatuh cinta pada naskah. dan tentu saja, telanjur jatuh cinta pada sastra. Terlalu berlebihan, sepertinya. Tapi tetap saja. Saya hanya mengatakan bahwa saya sedang jatuh cinta.

Di sudut kamar saya, ada sebuah rak buku sederhana. Rak buku itu selalu mengingatkan saya pada cinta saya pada bahasa. Selalu. Saya menyempatkan diri untuk memberi sampul plastik pada buku-buku saya. Agar terlindung dari lalat, saya pikir.

Ada empat susun. Saya bisa menaruh apa pun di rak itu. Saya meletakkan fotokopian semua naskah dan buku—yang takbisa saya beli—di rak paling atas.

Image(572)

Ah, saya kadang-kadang harus memfotokopi buku-buku atau naskah-naskah ini. Bukan tindak kejahatan, saya kira, karena saya ingin mendapatkan ilmunya. #ngeles haha

Tumpukan ini menandakan cinta yang bertumpuk-tumpuk. halah, ini juga terlalu berlebihan.

Kemudian, di rak kedua, saya meletakkan buku-buku fiksi saya. Belum saya baca semua, tapi saya suka semua buku fiksi saya ini. Ah, jumlahnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan toko buku. Atau koleksi teman-teman saya. Tapi, ini kumpulan buku fiksi saya sejak kuliah. Dan tentu saja, saya membelinya dengan uang hasil kerja saya. haha. #sedikitpamer

Image(568)

Image(570)

Image(565)

Image(575)

Image(573)

Itu buku-buku yang sedang saya pinjam dari perpustakaan UI tercinta. Buku Hikayat Kadiroen yang sudah saya cari dari semester kemarin. Bercerita tentang bagaimana masyarakat semasa kolonial. Dan ini benar-benar aset. Buku Membaca Sapardi dan Pengarang Telah Mati adalah dua buku yang saya baca untuk membandingkan. Segenggam cerita dalam Pengarang Telah Mati ada yang dibahas dalam buku Membaca Sapardi. Dan yang terakhir adalah buku Seno Gumira Ajidarma “Aku Kesepian, Sayang. Datanglah Menjelang Kematian!” Ah, Seno selalu membuat saya jatuh cinta berkali-kali.

Kemudian rak ketiga, saya meletakkan jurnal-jurnal yang saya dapatkan gratis, block note hasil seminar, map-map, majalah, berkas-berkas kepanitiaan, modul mengajar, bahkan hasil ujian. Sengaja tidak saya potret. Sebab bagian ini terlalu berantakan. haha

Saya meletakkan buku-buku kuliah saya di rak keempat. Ada kamus, tesaurus, dan buku-buku nonfiksi. Ini sedikit membuat saya pusing. Tapi, tetap saja. Tidak mengurangi cinta saya pada mereka.

Image(560)

Image(559)

Ini kamus yang baru saya miliki. Masih sangat kurang sekali! Harus ditambah. Ah, sebentar lagi akan ada Kamus Mistik karya saya dan kelompok Leksikografi saya. haha

Image(561)

Image(562)

Image(563)

Image(564)

Ini buku-buku kuliah saya. (Lagi-lagi) tidak banyak. Biasanya, saya meminjam di perpustakaan. Itu pun, masih sangat kurang sebenarnya. Dan saya harus membaca lebih banyak buku referensi lagi. Fiuh. Tapi, masalahnya saya selalu tertidur jika membaca. Oh la la. Ini menyebalkan.

Kembali ke kecintaan saya pada sastra, naskah, dan bahasa. Saya mencintai buku-buku itu seperti saya mencintai bahasa saya. Buku adalah bahasa. Buku adalah sastra. Dan buku adalah naskah. Dengan mencintai buku sama halnya dengan mencintai sastra, naskah, dan bahasa. Ah, tolong. Saya sedang jatuh cinta.

 

*Pada buku yang selalu menyampaikan rindu!