Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Kamis, 30 Juni 2011

Cerpen Terbaik Kompas 2010

Tak ada yang benar-benar murni di dunia ini.

Mungkin, itulah ungkapan yang sedikit tepat untuk menggambarkan dunia literasi kita. Atau mungkin takhanya di dunia literasi, teknologi, sosiologi, atau mungkin biologi. Semua hal yang ada di dunia ini hanyalah mimesis atau, mungkin, hanya kelanjutan gagasan yang pernah ada. Bahkan mungkin, menurut salah satu filsuf, semua hal di dunia ini hanyalah tiruan dari ide. Entahlah. Boleh percaya, boleh tidak. Saya tidak begitu paham mengenai dunia filsafat yang dihubungkan dengan sastra.

Yang pasti, kemarin saya membaca berita bahwa cerpen terbaik Kompas 2010 sudah ditentukan pemenangnya, yaitu “Dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma. Saya senang bukan kepalang. Penulis favorit saya kembali berjaya di cerpen terbaik Kompas. Saya sudah membaca cerpen itu semenjak dimuat di Kompas, sekitar 9 atau 10 bulan yang lalu. Saya takingat tepatnya. Inti ceritanya pun lupa-lupa ingat. Untuk memuaskan rasa penasaran saya, saya kembali membuka file laptop untuk membaca kembali cerpennya.—saya mengopi dari web www.cerpenkompas.wordpress.com,  Fiuh. Saya bernapas lega. Karena memang, cerpennya layak menang. Cerita yang sederhana, namun menyadarkan saya untuk tidak merasa paling benar terhadap segala sesuatu yang saya anut dan menyalahkan segala sesuatu yang tidak saya anut, termasuk kepercayaan pada Tuhan.

Namun, tiba-tiba, raut muka saya sedikit berubah, ketika membaca obrolan singkat Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, dan satu kawannya lagi (Saya takingat namanya) di sebuah jejaring sosial yang berkarakter 140. Mereka membahas cerpen SGA yang katanya mirip sekali dengan short story karya Tolstoy yang berjudul “Three Hermits”.

Daripada saya mati penasaran, saya akhirnya mencari cerpen yang mereka maksud. Untung. Pencarian cerpen Tolstoy tidak memakan banyak waktu. Singkat cerita, mau tak mau, saya membandingkan juga antara “Dodolitdodolitdodolibret” dan “Three Hermits”.

Hemm. Ada beberapa kemiripan alur. Hanya saja, cerpen SGA lebih singkat dan gaya bahasanya masih Seno. Dalam “Three Hermits”, cerita dibuka dengan pelayaran seorang Uskup (Bishop) yang pada akhirnya singgah ke sebuah pulau kecil karena cerita sang nelayan yang ikut dalam pelayarannya. Nelayan bercerita bahwa di pulau kecil itu ada tiga pertama yang hidupnya untuk keselamatan bagi jiwa mereka. Di pulau tersebut, Uskup bertemu juga dengan tiga pertapa yang dimaksud. Mereka berdoa terus menerus, tapi cara mereka berdoa sangat salah dan tidak tunduk pada aturan Tuhan. Lantas, Uskup memutuskan tinggal sementara di pulau tersebut untuk mengajari mereka cara berdoa hingga mencapai tahap benar. Setelah berhasil, Uskup kembali pulang dengan hati yang lega. Namun, tanpa disangkanya, dalam perjalanan pulang, Uskup tersebut melihat ketiga pertapa menyusul kapalnya dengan berlarian di atas laut tanpa menggunakan suatu alat pun. Mereka berteriak pada Uskup agar kembali untuk mengajari mereka cara berdoa yang benar. Sebab, mereka sudah lupa ketika berhenti sejenak saja. Uskup terdiam. Akhirnya, Uskup berkata bahwa masing-masing dari kita memiliki cara berdoa untuk mencapai Tuhan, tidak seharusnya dia mengajari para pertapa itu berdoa. “Pray for us sinners”, ucapnya terakhir kali.

Sementara itu, cerpen “Dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma dibuka dengan polemik dalam diri Kipli (tokoh dalam cerpen “Dodolitdodolitdodolibret”). Kipli memikirkan bagaimana mungkin seseorang dapat berjalan di atas air. Bagaimanapun seseorang yang ingin membaca doa, haruslah diucapkan dengan benar. Karena keyakinannya itu, dia mengajarkan caranya berdoa kepada siapa pun yang ditemuinya. Mengajarkan kebahagiaan, katanya. Suatu ketika, Kipli—yang sekarang berubah panggilan menjadi Guru Kipli—tiba di tepi danau. Singkat cerita, Guru Kipli tiba di pulau yang berada tepat di tengah-tengah danau tersebut. Dia bertemu dengan sembilan orang penduduk pulau tersebut takhenti-hentinya berdoa. Namun, sayang, mereka berdoa dengan cara yang salah, pikirnya. Akhirnya, Guru Kipli pun mengajari mereka cara berdoa yang benar. Setelah merasa sudah berhasil, Guru Kipli pamit dan ingin meneruskan perjalanannya. Takselang berapa lama perahunya berlayar, seseorang berteriak dan menunjuk-nunjuk ke arah laut. Guru Kipli tercengang. Sembilan orang tersebut berlari-lari di atas air. Dia berpikir bahwa orang-orang itu sudah sangat benar cara berdoanya sehingga mampu melakukan hal seperti itu. Sembilan orang itu mendekati perahu Guru Kipli dan mengatakan bahwa mereka ingin diajari lagi cara berdoa yang benar sebab mereka telah lupa.

 

Diakui atau tidak, kedua cerpen ini memiliki kesamaan garis besar cerita dan susunan alur. Jika dalam “Three Hermits” ditutup dengan penyesalan Uskup, dalam “Dodolitdodolitdodolibret”, Seno tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai reaksi Guru Kipli. Saya tidak tahu harus berkomentar apa. Entahlah. Saya pun tidak tahu siapa terinspirasi siapa. Yang pasti kedua cerpen tersebut secara keseluruhan dapat dikatakan mirip. Untung saja. Seno tidak serta merta hanya mengganti prolog dan ending cerita, seperti yang dilakukan oleh Dadang Arimurtono dalam cerpen “Nenek Tua dalam Rashomon” yang isinya hanya menyalin tempel dari cerpen “Rashomon” karya Akutagawa Ryonosuke. Bahkan, cerpen tempelan ini juga termuat di Kompas pada tanggal 30 Januari 2011.

Urusan jiplak menjiplak memang terlalu sensitif untuk dibicarakan ketika menyangkut nama penulis besar, seperti Seno. Kasus seperti ini bukan yang pertama kali, saya kira. Ketika novel Tenggelamnya Kapal van der Wijk karya Hamka terbit, kelompok Lekra sempat ramai menyebut novel tersebut jiplakan dari novel Magdalena karya Al-Manfalutfhi, pengarang dari Mesir. Atau sajak Chairil Anwar yang “Krawang—Bekasi” juga pernah dituduh sebagai sajak jiplakan dari sajak yang berjudul “The Young Dead Soldiers” karya Archibald MacLeish. Dan pada akhirnya, sajak “Karawang—Bekasi” disebut sebagai sajak saduran oleh HB. Jassin.

Saya suka pada pemikiran positif Goenawan Mohamad. Mungkin saja Seno mengadaptasi dongeng yang sama dengan Tolstoy. Di akhir tulisannya, Seno menuliskan cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi. Aha, mungkin Seno sudah mengantisipasi kejadian seperti ini sehingga dia berdalih demikian. Oh, lupakan. Yang ini hanya pemikiran nakal saya. Jika dipikir-pikir, sesuatu yang berasal dari dongeng, otomatis menjadi sebuah tradisi lisan. Semua orang berhak menceritakannya kembali. Ya, seperti dongeng Sangkuriang, Puteri Salju, atau apa pun lainnya, setiap orang memiliki hak yang sama untuk membuat varian bahkan versi dari induk cerita yang sama. Meskipun demikian, sebuah formula--bahasa mudahnya alur cerita--tetaplah sama. Mungkin, ya, sekali lagi ini masih kemungkinan saya, Seno dan Toltstoy bisa saja mengadaptasi dari dongeng yang sama. Tolstoy pun menuliskan di awal ceritanya bahwa ini berasal dari legenda tua dari daerah Volga. Ya, semoga saja benar seperti itu.

Terlepas dari plagiat, menjiplak, menyadur, atau apa pun namanya. Saya rasa, itu adalah sesuatu yang wajar. Meniru sesuatu untuk kemudian menemukan jati diri. Bahasa yang digunakan Seno tidaklah sama persis dengan yang digunakan Tolstoy. Redaksi yang dipilih masih mewakili pemikiran Seno. Selain itu, sumbangan Seno terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia takbisa dibilang remeh. Kecuali, Seno hanya menerjemahkan karya Tolstoy lalu diakuinya sebagai karyanya. Itu mungkin sedikit membuat geram pembacanya, apalagi penggemarnya.

Ah iya, plagiat atau tidak sebuah karya sastra, tergantung dari sudut pandang apa yang dipakai untuk melihat.

 

PS.

Ini link untuk melihat cerpen “Three Hermits” karya Tolstoy http://www.online-literature.com/tolstoy/2896/

Ini link untuk melihat cerpen “Dodolitdodolitdodolibret” karya Seno Gumira Ajidarma http://cerpenkompas.wordpress.com/2010/09/26/dodolitdodolitdodolibret/

Minggu, 26 Juni 2011

Tiba-Tiba Saja, Aku Ingin Menghabiskan Hujan Bulan Juni Bersamamu


tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono



Sekarang bulan Juni. Hampir habis. Tiba-tiba saja aku ingin menghabiskan hujan bulan juni bersamamu. Berdua saja bersama hujan. Kapan terakhir kita bertemu? Setahun yang lalu? Sebulan yang lalu? Entahlah. Penghitung waktu di otakku sudah membeku.
Dulu, aku selalu merengek padamu agar diizinkan bermain hujan. Kamu selalu menggeleng. Nanti sakit, katamu. Aku menurut meski agak cemberut. Kamu terlalu takut air hujan membuatku menggigil lantas menyerang kekebalan tubuhku. Aku tahu itu.
Kubaca sajak itu. Mengingatkanku padamu. Pada waktu yang membawa kita terlalu cepat berlalu. Pada usia yang membuatmu dan membuatku semakin menua. Aku masih ingin bersamamu. Entah sampai kapan. Mungkin sampai aku terbawa kereta kencana ke negeri senja.
Mungkin, jika Tuhan mengizinkan, aku ingin hidup sehari saja setelah kepergianmu. Sebab, aku taksanggup berlama-lama tanpamu. Terlalu sepi hidup ini.
Aku ingin menghabiskan hujan bulan Juni kali ini bersamamu. Duduk di teras rumah sambil sesekali menyeruput teh hangat atau mulut kita kepanasan menggigit pisang goreng. Saling bercerita. Aku berceloteh, engkau mendengarkan. Menatap hujan yang jatuh. Menunggu teduh datang, atau kalau beruntung pelangi hadir di tengah-tengah kita.
Lantas, kita tertawa. Menekuri hidup yang takpernah sederhana. Aku selalu suka saat-saat seperti ini. Pantas saja, kamu begitu cemburu saat aku didekati lelaki lain. Aku tahu. Kamu takingin aku terluka. Pantas saja, kamu takpernah suka pada lelaki yang mempermainkanku. Kamu benar-benar marah ketika aku mulai jatuh cinta pada seseorang di luar sana. Yang katamu dia bukan lelaki baik-baik. Aku takpercaya, tapi benar katamu. Dia melukaiku.
Aku jatuh dan sakit karenanya. Tapi kamu hanya tersenyum, lalu membantuku bangun. Mendekapku erat. Mengusap rambutku. Semuanya akan baik-baik saja, bisikmu saat itu. Aku mengangguk lega. Terima kasih.
Ah iya, aku lupa. Aku lupa memberimu nama, seorang Ayahkah atau malaikat yang diutus Tuhan menjagaku.

Kamis, 23 Juni 2011

Kisah Kita, seperti Hujan dan Teduh

Tiba-tiba saja aku mengingatmu. Mengingat hubungan kita yang semakin lelah untuk dipertahankan. Sayang, bukankah dulu kamu pernah berjanji bahwa seberapa pun jauh jarak kita, kamu akan tetap mengirimiku cinta setiap hari. Sementara aku, aku akan selalu menghabiskan tintaku untuk menulis namamu di langit. Ingatkah kamu? Aku masih sangat mengingatnya. Entah kamu.
Ah, jarak kita takjauh sebenarnya. Hanya saja hati kita yang terlampau jauh. Aku taktahu pasti tujuan Tuhan mempertemukan kita. Seperti hujan dan teduhkah? Selalu bertemu, tapi takpernah ditakdirkan untuk bersama. Ya, mungkin. Seperti itulah kisah kita. Kita saling melengkapi. Saling bercerita. Saling berhadapan. Tapi, jalan kita bersimpangan. Takapa. Semoga saja aku bisa melupakanmu kali ini. Benar-benar melupakanmu. Sebab, bagiku. Melupakanmu itu membutuhkan keberanian. Berani untuk membuka mata tanpamu.
*Hujan selepas senja tadi mengajarkanku banyak hal, termasuk melupakanmu.

Senin, 20 Juni 2011

#Cinta Itu

Setelah beberapa hari meratapi IP dan IPK saya yang terjun bebas, saya akhirnya menyadari bahwa bukan itu satu-satunya tujuan hidup saya. Masih ada banyak hal yang harus saya kejar. Ada banyak hal yang harus saya capai.

Tadi siang, saya bertemu dengan teman sekelas saya. “Ah, hidup menjadi lebih indah dengan cinta, ya?” dia bergumam di sebelah saya. Tentu saja, saya terhenyak dan hanya mengangguk takpasti. Saya tidak tahu mengapa airmuka saya berubah. Cinta? Ah, lagi-lagi satu kata itu. Teman saya itu bercerita bahwa dia baru saja menemukan seseorang yang selama ini dia impikan. Mirip dongeng, tapi biarlah. Dia terlihat sangat bahagia. Matanya berbinar-binar. Layaknya remaja yang baru saja menemukan cinta monyetnya. Saya ikut senang. Sangat senang. Namun, kesenangan itu hanya untuk dia. Lantas, saya berpikir ulang. Cinta. Satu kata itu. Lagi-lagi memenuhi rongga dada. Membuat sesak ruang yang sudah memang sudah menyempit. Membuat mata saya berkaca-kaca.

Red heartRed heartRed heart

protect_me_from_the_rain_by_captain_x

Aku takpernah tahu rasa yang ada ini cinta atau bukan. Yang pasti, aku bahagia melihatmu bahagia. Aku bahagia membiarkanmu bahagia dengannya. Ya. Kamu tiba-tiba saja pergi. Meninggalkanku di sini. Sendiri. Dan berharap padamu agar datang suatu saat nanti. Entah kapan. Tapi, mungkin, kamu takpernah hadir kembali di tengah-tengah kebahagiaanku. Alangkah sepi halaman. Alangkah sepi ladang hatiku. Lalu, pinus-pinus di halaman pun layu. Aku pun takbisa lagi merayumu. Atau mencumbumu agar tetap bersamaku. Aku kesepian sekarang. Tanpa namamu. Tanpa kamu.

Inikah cinta? Cinta yang membiarkanmu pergi tanpa menengok lagi ke perigi. Perigi yang pernah kita lukis bersama di langit. Sumber kisah kita yang tak pernah kering, katamu. Aku hanya mengangguk senang. Ataukah inikah kisah? Kisah yang selalu saja berulang padaku. Yang takpernah berubah formula ceritanya. Layaknya tradisi lisan yang didongengkan berkali-kali. Mungkin, hanya berubah tempat dan waktu. Tokohnya aku dan kamu. Entahlah.

Aku pun takpernah mengerti. Apa yang ada di otakku. Aku bahagia bersamamu. Itu saja. Yang membuatku senang di dekatmu. Itu saja. Yang membuatku menangis ketika kamu lebih memilih dia meskipun aku rela. Kamu dan dia taksalah. Di antara kita takpernah ada komitmen. Apa pun. Hanya saja. Aku yang terlalu menikmati setiap detik bersamamu.

Red heartRed heartRed heart

“Emang kamunya yang gak membuka diri, gimana bisa dia tahu?” teman saya berceloteh tiba-tiba. Seolah tahu apa yang saya pikirkan. Saya mengangkat bahu. Sedikit setuju. Sedikit taksetuju. Selama ini, saya tidak merasa menutup diri dari orang-orang. Saya senang berteman dengan banyak orang. Saya senang berkenalan dengan banyak orang. Tapi, entahlah. Saya belum terlalu memikirkan jodoh atau apa pun yang berkaitan dengan itu.

Kembali lagi ke paragraf pertama, saya masih ingin mengejar mimpi-mimpi saya. Masih ingin mendapatkan apa pun yang saya mau. Saya tidak ingin jatuh dan terjebak pada kisah cinta picisan seperti ini. Saya tidak ingin karier saya hancur hanya gara-gara saya perempuan lemah yang jatuh cinta pada lelaki yang tidak mencintai saya. Tidak. Itu tidak akan terjadi. Saya menulis ini hanya ingin menyadarkan diri saya sendiri bahwa kisah seperti ini hanya layak masuk dustbin hidup saya. Tidak untuk dikenang. Ya. Orang tua saya jauh lebih bahagia ketika melihat saya berprestasi.

Jumat, 17 Juni 2011

Confession in the Last of Fourth Semester

Oke. Pagi-pagi buta seperti ini saya sudah ingin menulis. Ada apa? Banyak hal. Tentunya masih berkaitan dengan semester ini. Yeah, semester 4 yang penuh penundaan kesuksesan.
Saya mengawali semester 4 lima bulan lalu, eh, empat bulan lalu. Diiringi dengan hati agak dongkol karena IP dan IPK semester 3 udah turun (meskipun gak terjun). Semester 4 saya banyak acara yang menyebabkan konsentrasi saya terpecah. Awal semester saya harus pergi ke Bali untuk menghadiri Rakernas IMABSII, bulan Mei ke Jogja untuk Simposium Bahasa Indonesia (yang juga diadakan oleh IMABSII), ngurusin surat-surat untuk mencari dana, ngurusin organisasi, ngurusin jadwal anak-anak privat, belum lagi ditambah kesibukan saya ngajar di salah satu bimbingan belajar yang gak kira-kira padatnya kalo ngasih jadwal. Well. Saya menikmati itu semua. Sangat. Tapi, di antara kenikmatan saya tersebut, tugas-tugas kuliah saya mulai agak berantakan, UTS dan UAS yang saya kerjakan ala kadarnya, ngumpulin tugas--meskipun tepat waktu--gak maksimal dan ngerjainnya deadline serta berantakan, dan absensi saya mulai sering. Yeah, saya menyadari itu.
Semua kesibukan yang duniawi itu membuat saya melupakan apa yang dinamakan kebutuhan rohani. Saya hampir tidak pernah lagi sholat malam, sholat 5 waktu juga mepet waktu, sholat dhuha sudah tidak khusuk, puasa Senin--Kamis kalau sempat, apalagi untuk membaca Al-Quran (hampir tidak). Percaya atau tidak, hal-hal seperti inilah yang menyeimbangkan kerja keras kita. Saya baru sadar ketika melihat IP saya yang berangka 3.51. Semua pencapaian duniawi yang saya ingin raih dengan usaha saya sendiri semuanya sia-sia tanpa ada penyeimbangan. Yah. That's true!
Saya sudah jarang berdoa pada Tuhan. Biarkan saja, Marx dan pengikutnya bilang agama adalah candu. Ketika ada masalah makhluk-makhluk yang mengaku beragama akan mengadu dan meratap-ratap pada Tuhannya. Dan itu akan sia-sia menurut mereka. Tapi bagi saya tidak. Justru saat saya sedang ada dalam lembah kenistaan seperti ini. Agak berlebihan. Hanya Tuhan yang mau mendengar keluh saya. Hanya Tuhan yang menyediakan tempat untuk saya menangis. Ya, hanya Dia. Dan kedua orang tua saya yang masih setia membesarkan hati saya. Terima kasih. Terima kasih pada Allah. Terima kasih pada dua malaikat yang membuat saya ada hingga sekarang. Terima kasih.
Sungguh. Ini pelajaran. Dulu, saya selalu berpikir bahwa hidup itu layaknya naik gunung. Arahnya selalu ke atas meskipun ada halangan dan rintangan kanan kiri. Tapi, ternyata hidup taksekadar analogi seperti itu. Hidup jauh lebih rumit dari sekadar naik gunung atau bahkan roda berputar. Ada hal-hal yang takterprediksi. Ada faktor-faktor yang takselalu bisa dijelaskan dengan nalar dan akal. Yah, itulah hidup dengan segala kemungkinannya.
Baiklah. Penataan ulang rencana hidup saya harus segera saya lakukan. Anggap saja, kemunduran ini saya perlukan agar saya bisa melompat lebih tinggi dan jauh ke depan. Saya bersyukur dengan IP saya yang terjun bebas. Dengan begitu, saya belajar mengerti untuk apa Tuhan menciptakan saya. Yang terpenting untuk saya sekarang adalah komitmen saya untuk semester depan. Komitmen saya untuk mengatur waktu dengan lebih baik. Intensitas beribadah yang banyak dan rutin. Dan cara belajar saya yang harus saya perbaiki. Semoga Tuhan dan saya mencatat komitmen ini!

PS. Saya menulis ini dengan airmata yang takberhenti menetes.
Thanks to Allah.

Sabtu, 04 Juni 2011

Masih Saja Proletar yang Harus Menangis

Beberapa hari yang lalu, teman SMP saya dikabarkan meninggal. Saya kaget. Entahlah. Padahal, ketika SMP, dia baik-baik saja. Tidak sakit-sakitan. Dia meninggal disebabkan oleh penyakit paru-paru. Ah, kasihan.

Kemarin, saya bertemu dengan teman SMP saya yang lain. Otomatis, yang menjadi pembicaraan adalah masalah teman saya yang meninggal itu. Ternyata, selepas SMK, dia bekerja menjadi buruh di pabrik sepatu, sebut saja PH. Gajinya hanya kurang lebih 800 ribu/bulan, sedangkan obat untuk paru-parunya lebih dari itu. Dia menderita penyakit paru-paru setelah bekerja di pabrik tersebut. Oh Tuhan, sebegitu tidak berharganya sebuah nyawa dibandingkan dengan produksi sepatu tanpa memperhatikan keselamatan kerja karyawannya. Bukan hanya dia saja yang menjadi korban, banyak teman-temannya yang lain yang juga menderita penyakit paru-paru karena setiap hari terkena gempuran zat kimia berbahaya yang ada dalam pabrik tersebut.

Saya hanya bisa menarik napas panjang. Lagi-lagi. Kaum buruh yang harus merasakan edannya kapitalis. Lantas siapa yang salah? Entahlah. Ini seperti memainkan permainan telur dan ayam. Tinggal dari sudut pandang mana kita berbicara. Hanya saja, saya berharap. Suatu saat nanti—entah kapan—kaum buruh mendapat haknya dengan baik. Tidak seperti ini, yang selalu dijadikan korban oleh setan yang bernama kapitalisme kontemporer. Ah, semoga.

Senin, 18 April 2011

Selamat Ulang Tahun

Kemarin saya berulang tahun yang ke-20. 17 April 1991—17 April 2011. Sudah dua kali berulang tahun di rantau. Tak ada pesta. Tak ada hidangan. Saya memang sengaja. Padahal dulu, selalu ada pesta kecil-kecilan antara saya, mama, ayah, dan adik saya. Makan malam bersama. Ah, menyenangkan.
Namun, saya bahagia di ulang tahun saya kali ini. Ya, saya jadi tahu siapa orang-orang yang benar-benar peduli dengan saya. Siapa orang yang hanya berea-reo di depan saya. Siapa orang yang masih sangat mengingat saya. Sampai pukul 3 sore, hanya ada 11 orang yang mengucapkan ulang tahun untuk saya tahun ini. Terima kasih banyak untuk mereka. Bukan kuantitasnya, tapi kualitasnya. Jumlah itu sudah termasuk mama, ayah, adik, nenek, tante, dan dua sepupu saya. Selain mereka, ada 1 orang yang sudah saya anggap sebagai kakak kandung, 2 orang teman SMA saya, dan 1 orang teman kuliah saya. Sedih? Saya menangis. Bukan karena sedih, tapi saya terharu. Betapa mereka ingat tanggal ulang tahun saya di tengah kesibukan mereka. Betapa mereka menyempatkan sedikit waktu mereka untuk mengucapkan kata selamat ulang tahun. Betapa pedulinya mereka pada saya. Tentu saja, jumlah ini sangat turun drastis dari tahun lalu. Tapi saya jauh lebih bahagia sekarang.
Saya memang sengaja untuk tidak membeberkan tanggal ulang tahun saya di situs jejaring sosial. Ah, bahkan saya sudah tidak menjadi bagian dari situs jejaring sosial yang penuh dengan kesemuan itu. Jujur, saya muak dengan pertemanan semu yang ada di dalamnya. Mengucapkan selamat ulang tahun tanpa makna. Ah, menyedihkan.
Ah iya, ulang tahun memang tidak perlu kok dirayakan. Tidak perlu banyak ucapan. Memang hanya sepintas lalu. Bukan hal penting. Tapi, saat hari ini diingat orang, saya sangat bahagia. Sungguh bahagia.
Terima kasih sekali lagi untuk mereka. Terima kasih. Saya sungguh terharu. Mereka masih mampu mengingat hari ini tanpa bantuan internet. Terima kasih. Semoga saya juga mampu melakukan apa yang mereka lakukan untuk saya.

*Ruang tanpa batas

Jumat, 15 April 2011

Pengkhianatan

Kata itu. Kata itu selalu memaksaku untuk kembali ke sebuah masa. Sakit. Menyakitkan. Sangat. Ya, sebuah rasa sakit yang teramat dalam memang hanya mampu ditorehkan oleh orang yang amat kita cintai. Hemm. aku sedang tidak berbicara tentang kisah cinta picisan. Entahlah. Mungkin 11 tahun yang lalu. Ah, sudah lama. Tapi luka itu masih ada. Lubang bekas itu belum menutup. Kertas yang telanjur sobek tak bisa kembali seperti semula.
Ya, sebuah pengkhianatan. Dari orang yang teramat sangat aku cintai. Seharusnya aku tidak patut menulisnya di sini. Namun aku hanya ingin memberitahumu bahwa kamu tidak layak merasakan luka ini. Kamu tidak harus terluka sepertiku.
Jujur, aku masih sangat trauma dengan kata itu. Aku benci pada orang-orang yang berkhianat. Aku selalu menangis ketika ada orang yang tak setia. Aku sakit jika harus melihat pengkhianatan. Ada sesak yang menjalar di hati dan hariku. Sampai sekarang.
Ya, seharusnya aku bisa memaafkan dan melupakan. tapi maaf, aku hanya sanggup memaafkan saja. Tidak akan pernah bisa melupakan. Padahal sudah lama bukan? 11 tahun yang lalu? berapa usiaku? Masih 9 tahun. Aku masih ingusan. Sudah dipaksa melihat pengkhianatan itu. Sudah dipaksa berpikir secara dewasa. Sudah dipaksa harus mengerti hidup. Padahal anak-anak seusiaku (mungkin) masih puas bermain-main. Atau berceloteh riang. Sementara aku? Aku hampir saja kehilangan salah satu dari dua orang yang sangat aku cintai. Aku hampir saja memilih salah satu di antara mereka. Aku hampir saja hidup sendiri. Aku hampir saja kehilangan masa depan.
Menyakitkan? Sangat. Aku sudah harus siap menghadapi cibiran dan tatapan aneh orang-orang di sekelilingku. Padahal, sungguh, aku hanya korban. Aku tak pernah meminta pada Tuhan untuk dilahirkan. Aku tak pernah meminta dikhianati.
Memang, sebuah pengkhianatan yang kita lakukan tidak hanya berdampak untuk kita. orang-orang di sekitar kita jauh merasakan sakit. ini membuat aku berjanji untuk tidak berkomitmen sebelum aku sanggup untuk setia. karena aku tidak mau hal yang sama terjadi pada orang-orang yang aku cintai. saya tidak mau mengecewakan dan mengkhianati mereka. sungguh. aku teramat mencintai mereka.
Semoga aku bisa menyembuhkan luka hatiku ini. rasanya masih nyeri. entah di hati sebelah mana.

Kamis, 14 April 2011

Saya (harus) gagal lagi

berjalan saja. mengalir. entah akan bermuara ke mana. Oh iya, hari ini saya ditolak lagi. untuk yang kedua kalinya. apa? itu loh, program pembentuk pemimpin masa depan. gak usah sebut nama ya. yang pasti kali ini saya gagal di tahap awal, padahal gelombang yang lalu saya gagal di tahap dua. jujur, saya sedih. sangat sedih. betapa mereka tidak mau menerima keapaadaannya saya kah? atau memang otak saya tidak mencukupi standar mereka. entahlah. saya tidak tahu. tapi, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak pernah menghakimi sesuatu. untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. memahami orang lain yang tidak sependapat. ya ya ya, rasanya janji itu sedikit menenangkan saya. sedikit membuat saya tersenyum bahkan tertawa menghadapinya. Tuhan. itu jawabannya. Tuhan memberikan apa yang saya butuhkan, bukan yang saya inginkan.
Saya yakin ada sebuah rencana besar di sana saat saya harus ditakdirkan gagal lagi. tidak ada air mata kali ini. tidak ada ungkapan penyesalan. bahkan saya hanya bercerita pada Mama dan kakak. sekarang, saya menulis ini. hanya untuk berbagi. bahwa Tuhan itu sangat baik. Tuhan itu akan mendengarkan semua yang saya minta. Ya, nggak apa-apa. gagal kali ini lebih baik, daripada saya hanya melihat pengumumannya di mading kampus. Ah, tak apa.

Rabu, 30 Maret 2011

Sajak Hujan

Hujan pagi tadi
mengingatkan aku padaMu
sedang apa?
pasti Kau sedang menjagaku

teman-temanku tertawa
saat aku bilang ada hujan:
yang membasahkan dan yang tidak membasahkan

mereka tak percaya
mereka bilang aku ngayal
tak apa
lama-lama takkan ayal

Oh ya, aku harus bercerita pada siapa kali ini?
pada hujan ataukah padaMu?
Ah, siapa pun.
kukira Kau juga sedang membaca dan mendengarku.

Dia. iya dia. siapa lagi.
yang akhir-akhir ini memenuhi otakku.
pergi.
bukan menemuiMu
tapi menemui seseorang di hatinya

sementara aku?

aku masih di sini
termangu dalam sepi
menekuri diri
dan menyebut namaMu tak tahu hari

Ya, makanya tadi.
aku tanyakan pada banyak orang:
Apa yang harus kamu katakan saat lelaki yang kamu sukai bercerita tentang perempuan yang dia sukai?
Aku terdiam
bergeming
mungkin, besok baru kutemukan jawabannya
setelah aku menemuiMu dalam sujudku
atau setelah aku bercumbu dengan hujan esok pagi.
semoga.

Sabtu, 26 Maret 2011

Kartini

"Kamu sekarang dengan siapa?" seseorang di ujung sana bertanya padaku.
"Dengan siapa?" aku mengulang pertanyaannya. Aku tidak tahu apa maksudnya.
"Pacar kamu sekarang, siapa?" dia memperjelas maksudnya. Aku hanya menelan ludah.
"Oh. Masih sama. Seperti dulu."
"Apa? Jadi, kamu belum punya pacar? Hampir 20 tahun?"
Aku hanya mengangguk. Bodoh. Dia tidak akan tahu. Ini kan telepon.
Telepon ditutup. Aku mendengus. Aku jengah dengan pertanyaan itu. Tak ada pertanyaan lain kah? Aku sama sekali tak peduli bahwa aku belum punya pacar. Itu bukan menjadi masalah. Tapi, pertanyaan itu sudah berkali-kali terlontar kepadaku dari mulut orang yang berbeda. Aku jenuh.

Pacar. Bahkan, sampai sekarang aku tak pernah berpikir untuk punya pacar. Tak pernah berpikir mau menikah kapan. Tak pernah berpikir mau punya anak berapa.

"Iya, menikah. lalu punya anak." aku ingat teman sekamarku--yang sudah aku anggap kakak kandungku--menegaskan lagi pernyataannya saat aku bertanya dengan heran kenapa dia ingin menikah. Dia lebih terheran-heran dengan pertanyaanku.
"Kamu tak ingin menyempurnakan hidupmu?" dia bertanya padaku. Aku hanya menggeleng.
"Hidupku sudah sempurna," jawabku singkat.
"Dasar arek edan. Dargombes!" dia mengacak-acak rambutku. Kami tertawa. Mungkin, baginya pemikiranku sudah tidak normal. Aku tak acuh.
Ya. Bagiku hidupku sudah sangat sempurna. Aku punya Tuhan. Mama. Ayah. Adik. Nenek. Tante. Om. Sepupu. Sahabat. Teman. Mereka mencintaiku. Aku mencintai mereka. Lalu, kurang sempurna apa lagi?
Entahlah. Sejak kecil aku tak pernah membayangkan punya pacar. Apalagi membayangkan pangeran tampan yang kaya raya lalu menikahiku dan kami hidup bahagia di dalam istananya yang megah. Sama sekali tidak pernah. Aku tak pernah ingin jadi Cinderella. Meskipun aku suka ceritanya. Aku muak ketika teman-teman sekelasku membicarakan lelaki tampan yang kaya raya. Yang bermotor merk inilah. Yang bermobil merk itulah. Yang berhandphone lima. Yang punya gadget ini. Yang punya gadget itu. Lalu mereka bermohon-mohon--entah pada siapa--agar lelaki tersebut suka padanya dan dalam sekejap kehidupannya akan berubah. Omong kosong.
Aku sama sekali tak pernah tertarik pada bahasan itu. Itu norak. Itu merendahkan kami sebagai perempuan. Ya, keinginanku memang dari kecil tidak banyak yang berubah. Aku hanya ingin menjadi perempuan yang tidak dipandang remeh. Itu saja.

Oke. Aku tidak tahu. Aku berbeda atau aku ketinggalan zaman. (mungkin fragmen ini tidak begitu berhubungan, tetapi kukira ini juga yang sangat memengaruhi mimpiku).
Aku suka musik, tapi aku tak tahu perkembangannya. Aku tak suka nonton film meskipun sesekali aku nonton. Aku tak suka nonton TV. Aku selalu menjadi pupuk bawang saat bermain permainan tradisional. Aku tidak tahu tren yang beredar. Aku tidak tahu artis luar negeri. Aku membaca karya sastra yang tidak dibaca teman seusiaku. Aku tidak bisa membaca komik. Aku tidak tahu fashion yang lagi booming. Aku tidak punya geng. Aku tidak pernah punya pacar. Aku lebih senang menghabiskan waktu di depan komputer untuk menulis, daripada harus nongkrong dengan teman-temanku. Saat sekolah pulang lebih awal, aku lebih senang langsung pulang daripada jalan-jalan. Aku tidak suka belajar. Aku suka membaca karya sastra orang Indonesia. Aku suka matematika, tapi aku nol dalam fisika dan biologi. Aku tak keberatan untuk ke mana-mana sendiri. Ketika jalan bertiga, aku tak suka di posisi pinggir. Aku suka di tengah. Aku tak berani tidur sendiri.

Ah, kurasa tak penting. Ya, anggap saja itu intermezo. Dari fragmen-fragmen itu, aku merajut keinginanku. Aku menyulam mimpiku.
Saat teman-temanku ingin menjadi Cinderella, aku ingin membangun istana itu tanpa pangeran. Membangun sendiri. Dari hasil kerjaku. Aku ingin punya istana lengkap dengan isinya. Agar kelak, aku bisa istirahat dengan tenang. Aku ingin bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa harus mengandalkan uang dari orang lain, bahkan orang tuaku. Aku ingin menjadi editor. Chief editor lebih tepatnya. Karena aku tak suka bekerja di bawah orang lain. Aku ingin menjadi perempuan pekerja. Yang berangkat pagi, pulang malam. Gaji besar. Melakukan segala sesuatunya sendiri. Yeah, because I'm single and very happy.
Aku tak perlu memikirkan pendamping hidup. Toh, jodoh ada di tangan Tuhan. Ditambah lagi, aku tak bisa melihat pengkhianatan. (Ini tak ada hubungannya, tapi ini satu-satunya alasan aku enggan menjalin hubungan dengan lelaki. Ada trauma yang berkepanjangan pad bab pengkhianatan. Aku belum bisa bercerita. Nanti saja. Saat luka hatiku benar-benar kering).
Sungguh, aku benar-benar ingin menjadi perempuan yang tak bisa diremehkan, terlebih oleh kaum adam. Perempuan itu hebat. Perempuan itu tak sebatas sumur, dapur, dan kasur. Perempuan itu bisa keliling dunia. Perempuan itu bisa jadi guru besar.
Semoga, aku bisa menjadi Kartini. Paling tidak untuk diriku sendiri. Sebentar lagi April. Aku ulang tahun. Kartini ulang tahun. Dekat bukan? Ya, semoga semangat Kartini juga sangat dekat denganku.

Selamat

Selamat apa?
Selamat untuk semuanya. aku bahagia melihatmu bahagia.
Asal kamu tahu. di sini, aku selalu mendoakanmu. mendoakan untuk kebahagiaanmu.

Kamis, 17 Maret 2011

Tentang Kamu

Aku lelah akhir-akhir ini. Lelah untuk menyelesaikan semuanya. Otakku hanya ada kamu. Ah, lagi-lagi cerita picisan. Tolonglah. Aku sebenarnya juga muak dengan cerita basi seperti ini. Mau bagaimana lagi. Ini nyata. Dan aku tokoh utamanya. Selayaknya tokoh utama, aku seharusnya bisa mengendalikan semuanya. Tapi nyatanya? Aku hanya terbawa air. Tentu saja. Air itu kamu.
Sudah berapa bulan kita dekat? Aku lupa menghitung, barangkali kamu ingat. Aku tak bisa mendefinisikan kedekatan kita macam apa. Aku kapas dalam kainmu? Atau aku panas dalam apimu? Bukan. Itu puisi Abdul Hadi WM. Aku tak ingin menjadi plagiat untuk mencintaimu. Ya, agar rasaku ini tak ada yang menuntut.
Aku menyebutmu apa? Kekasih? Teman? Sahabat? Atau hanya rekan kerja? Entahlah. Lagi-lagi aku pun sulit menentukan statusmu.

Mencintaimu harus menjelma aku


Itu baris terakhir dari puisi Sapardi Djoko Damono. Sederhana. Bahkan lebih sederhana dari biasanya. Ya, mencintaimu tak perlu menjelma menjadi orang lain. Cukup menjadi aku sepenuhnya. Kita berbeda. Aku pun tak mau memaksakan perbedaan kita menjadi sama. Aku sederhana, sedangkan kamu?
Entahlah. Jika perbedaan yang membuat aku keukeuh untuk tidak mau mengakui bahwa aku mencintaimu. Mungkin itu hanyalah sebuah alasan. Ya, ada alasan lain. Aku tak mau mencintaimu. Aku tak mungkin mencintaimu. Meskipun pada kenyataannya, aku sangat mencintaimu. Ada alasan mendasar. Aku tak ingin menjalin hubungan dengan lelaki siapa pun untuk saat ini, termasuk kamu. Meski itu harus membuatku menangis di setiap sujud malamku.
Aku takut. Aku takut kehilangan. Aku takut kecewa. Aku takut pengkhianatan.
Itulah sebabnya, aku sama sekali tak ingin memiliki kamu. Karena rasa takut kehilanganmu jauh lebih besar.
Aku takut terjadi pengkhianatan di antara kita. Oh, terlalu jauh ya pikiranku? Entahlah. Aku sering tak bisa mengendailkan emosiku ketika berbicara tentang kamu.

Facebook

Sudah beberapa hari yang lalu, saya bertekad untuk menonaktifkan facebook saya. kenapa? banyak alasan sebenarnya. ya, pertemanan semu. itu yang membuat saya muak. saya tak peduli lagi berapa banyak teman yang ada di facebook saya. ratusan bahkan ribuan. tapi apa yang saya dapatkan dari semua itu? kekonyolan semata. hanya ber-say hello tanpa makna. hanya mengucapkan selamat ulang tahun tanpa benar-benar peduli. ehm, contoh sederhana dan nyata terjadi kemarin. ketika teman sekelas saya berulang tahun. sebut saja si A. mungkin, jauh-jauh hari sebelum hari ulang tahunnya, dia sudah mengganti atau menyembunyikan tanggal ultahnya di semua situs jejaring sosial. bisa ditebak. hanya sedikit orang yang mengingat hari ulang tahunnya. ketika iseng-iseng saya nyeletuk ke teman-teman saya (tentu saja tanpa ada dia), "Eh, si A hari ini kan ulang tahun,". teman-teman saya tak ada yang percaya. "Masak sih? kok di facebook gak ada?" ya, seperti itulah komentar teman-teman saya.
Saya hanya menggeleng. tanda tak mengerti. bagaimana mungkin kita setiap hari bersama, kita lupa hari spesial orang itu. apakah memang pertemanan kita selama ini sebuah kemayaan? entahlah.

Minggu, 27 Februari 2011

Dunia Anak, Ke Manakah Engkau Kini?

Bagaimana bisa aku menemuimu, membayangkanmu saja susah.
Bagaimana bisa aku mengirim surat untukmu, menitip salam saja aku tak sanggup.
Oh, Kekasihku. Kekasihku.


Sedikit cuplikan lagu dari seorang pengamen kecil di angkot 04, jurusan Depok—Pasar Minggu, yang aku tumpangi. Senja itu. Gerimis. Suasana syahdu. Aku hampir menangis. Kuberikan selembar uang kertas untuknya. Entah berapa nilainya. Aku tak sempat melihat. Biarlah. Rezekinya.
Suaranya indah. Indah sekali. Dia mengucapkan kalimat pembuka sebelum dia bernyanyi. Ah, teknik komunikasi yang sudah cukup baik untuk anak seusianya, pikirku. Andai saja nasibnya sedikit lebih baik. Dia bisa sekolah. Dia bisa dengan mudah berpresentasi di depan teman-temannya. Dia bisa menjadi vokalis atau gitaris dalam band sekolah. Dia bisa menjadi juara 1. Ah, banyak sekali yang seharusnya bisa dia raih.
Namun, aku sedikit tersadar. Ada sesuatu yang salah di sini. Lagu yang dia bawakan. Entah. Itu lagu siapa. Aku tak pernah tahu. Harusnya dia masih anak-anak. Belum saatnya mengonsumsi lagu-lagu dewasa. Harusnya dia masih menyanyikan lagu anak-anak. Lagu tentang persahabatan, tentang cinta pada orang tua, tentang cinta pada Tuhan, tentang cinta pada alam, dan tentang cinta yang lebih universal. Tak sebatas hanya cinta romantis antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya dikonsumsi oleh orang-orang yang sudah dewasa.
Siapa yang salah? Entahlah.
Begitu sulit menjawab pertanyaan itu. Dunia anak-anak tiba-tiba tak ada jejak. Tak ada batas antara anak, remaja, dan dewasa. Apa yang dikonsumsi oleh remaja dan dewasa juga turut dikonsumsi oleh anak-anak. Lagu anak seolah mati setelah penyanyi-penyanyi cilik seperti Trio Kwek-Kwek, Sherina, Joshua, Tasya, dan lain-lain beranjak dewasa. Lagu-lagu mereka pun hanya sebatas masanya. Tak ada regenerasi. Tak ada pembibitan baru. Demand akan lagu-lagu tentang cinta meningkat. Tak elak, band-band dengan lagu bertema cinta pun menjamur. Produser musik sepertinya terlena dengan munculnya band-band sejenis ini. Ya, penghasilan pun meningkat karena adanya trend baru di dunia musik di Indonesia. Membanggakan atau menyedihkan? (lagi-lagi) aku pun tak bisa menjawab. Kasihan anak-anak itu. Seharusnya mereka punya lagu sendiri yang bisa mereka kenang saat sudah dewasa nanti. Bukan menghapal lirik dari lagu-lagu band picisan yang (maaf) sedikit tidak mendidik untuk perkembangan psikologis anak-anak. Ironisnya, lagu yang dinyanyikan dalam program pencarian bakat penyanyi anak pun tergolong lagu dewasa. Lalu, di mana anak akan mencari tuntunan dan role mode untuk lagu anak-anak?
Fenomena ini tak hanya terjadi dalam lagu anak. Cerita anak pun mulai terkikis. Terlebih untuk cerita anak asli Indonesia, semakin hilang di peredaran. Kegiatan mendongeng hampir punah. Memang mencengangkan. Anak-anak sekarang jarang sekali yang paham dan tahu akan dongeng, seperti Malin Kundang, Si Kancil, Sangkuriang, dan sebagainya. Mereka lebih akrab dengan komik Sinchan, Pikatchu, Avatar, atau apa pun lah. Bahkan, karena ketiadaan buku cerita yang memadai, anak-anak usia sekolah dasar sudah membaca teenlit. Oh Tuhan. Padahal di dalam sebuah dongeng dan hikayat banyak terkandung nilai-nilai lokal yang membuat kecerdasan, daya analisis, dan kekritisan mereka meningkat. Dewasa ini, anak sangat dimanjakan dengan cerita-cerita yang mengajarkan kehidupan yang serba instan, easy going, kesenangan sesaat, bahkan hedonisme. Padahal, sebuah dongeng mengajarkan bagaimana kehidupan yang sesungguhnya. Sebagai contoh, dalam dongeng Si Kancil, anak akan diajarkan bagaimana memecahkan masalah dengan kepercayaan dirinya. Kancil adalah binatang yang kecil dan lemah, tetapi dia mampu mengalahkan buaya yang hendak memakannya dengan kecerdasan yang dimilikinya. Ini mengajarkan anak untuk memiliki nyali dan menyadari potensi dirinya. Bukan dengan cerita peri-peri atau Doraemon yang membuat anak memiliki mental ketergantungan.
Sayangnya, dunia anak yang terebut pun tak berhenti pada lagu dan cerita anak. Permainan anak pun harus menjadi korban berikutnya. Banyak permainan tradisional yang harus rela terenggut dari keceriaan anak-anak. Berapa banyak anak yang masih mahir memainkan bola bekel, gobak sodor, kucing & tikus, atau bahkan congklak? Tak terhitung. Ya tak terhitung sedikitnya. Teknologi sudah mampu mengalihkan perhatian mereka. Bermain play station, video game, game online, dan blackberry lebih menarik daripada harus bermain permainan tradisional yang membutuhkan partner. Sikap individualistik sepertinya sudah mendarah daging.
Dunia memang sudah berubah. Beralih ke hal-hal yang lebih instan. Seharusnya, orang tua menjadi agen penting untuk mengembalikan nilai-nilai budaya pada anak, tapi sayangnya, orang tua malah sebagai fasilitator yang mendukung adanya pemusnahan dunia anak ini. Dengan alasan tuntutan ekonomi, orang tua bekerja pagi—malam. Anak dibiarkan tumbuh tanpa ada pendampingan. Semua fasilitas diberikan tanpa ada pembelajaran. Kalau saja, 30 menit waktu orang tua diberikan pada anak dan digunakan secara maksimal, niscaya anak-anak itu tidak akan kehilangan masa kecilnya. Ya, tak banyak bukan? Orang tua bisa bermain, mengajarkan ke anak lagu-lagu yang semestinya dinyanyikannya, mendongeng, membuat mainan, bahkan bercerita. Ya, sosialisasi primer dalam keluarga memegang peran penting untuk pertumbuhan usia emas anak. Terbukti, bahwa sebagian besar orang-orang yang bermoral baik adalah orang yang diperlakukan baik di dalam keluarganya.
Semoga saja keadaan ini hanyalah kematian suri dari dunia anak-anak. Suatu saat, dia bisa bangkit kembali dan kembali menjadi dunia anak yang ceria, menyenangkan, dan sesuai.
Teman, kelak suatu saat, kita akan menjadi orang tua yang memiliki anak-anak. Anak-anak itu adalah sebuah pilihan. Kita akan membawa mereka ke mana? Karena pilihan kita menentukan kualitas bangsa ini ketika mereka menjadi pemegang kekuasaan.

Sabtu, 22 Januari 2011

Rekruitmen Terbuka Kedisina (Kelompok Diskusi Ilmiah Prodi Indonesia)

Oprec Kedisina

Halo teman-teman, apa kabar?
IKSI punya program baru nih, namanya Kedisina (Kelompok Diskusi Ilmiah Prodi Indonesia). Nah, berhubung program ini tak bisa berjalan tanpa partisipasi anggota IKSI, kami mengadakan rekruitmen terbuka. Rekruitmen terbuka ini untuk mencari bibit-bibit unggul dalam bidang ilmiah yang berkeinginan untuk mengembangkan bakat tersebut.

Apa sih program Kedisina ke depan?
1. Membuat web atau blog untuk menampung karya-karya anak IKSI
2. Setiap bulan ada artikel ilmiah dari masing-masing bidang keilmuan yang dihasilkan untuk diunggah di web atau dikirim ke media massa
3. Kunjungan ilmiah ke Pernas, Museum HB Jassin, dan Pusat Bahasa. Tujuan kunjungan tersebut untuk mengetahui proses kerja yang terdapat di tempat-tempat tersebut dan dapat menghasilkan karya setelah kunjungan
4. Festival Ilmiah Program Studi Indonesia untuk mempersiapkan karya yang akan diajukan ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS)
5. Simposium Nasional/Internasional Perencanaan Bahasa dan Pemilihan Duta Bahasa Nasional. Kegiatan ini diadakan pada bulan Oktober hingga November.

Bagaimana teman-teman? Menarik bukan Kedisina ini? Ayo, tunggu apa lagi, segera daftarkan dirimu untuk menjadi bagian dan anggota dari Kelompok Diskusi Ilmiah Prodi Indonesia. Tidak akan pernah rugi!!

Caranya bagaimana?
Bisa langsung kirim sms dengan format:
Nama_Angkatan_alamat email
Contoh: Fitria_2009_fitriasisnariswari@yahoo.co.id
Kirim ke: 085649180457 (I’a IKSI 09)
Setelah itu, kirimkan CV terbaik kamu ke alamat email ia_Nariez@yahoo.co.id
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 23 Januari—5 Februari 2011
Ayo, nggak usah mikir dua kali! Pastikan dirimu menjadi bagian dari kami!

P.S. Tolong sebarkan info ini ke IKSI ya! Terima kasih.

Kamis, 23 Desember 2010

Surat Untuk Kakek (Yang Entah Keberapa)

Depok, 23 Desember 2010

Dear Kakek,
Apa kabar? Entah Kek, ini surat yang ke berapa. Aku lupa. Sungguh. Ya, aku tak pernah bosan Kek, menulis surat untuk Kakek. Aku sangat merindukan Kakek. Sangat. Hingga sekarang, dadaku terasa bergemuruh dan tak tenang. Ada yang mengganjal di hatiku. Aku pun tak tahu apa itu.

Kakek,
Aku sekarang mengajar. Ya, mengajar anak-anak SMP dan SMA di sini. Aku senang Kek. Mereka lucu-lucu. Mereka semangat-semangat. Ada pertanyaan yang kritis. Ada jawaban yang menggelitik. Ada tawa yang tergelak. Ada suara nada kecewa. Aku menikmati itu semua, Kek. Hatiku bahagia. Sangat bahagia. Bila mata mereka berbinar mendengar penjelasanku. Mulut mereka membentuk ’O’ tanda mengerti. Tawa mereka meledak. Aku senang, Kek. Mereka sedikit bisa menghibur hatiku yang sepi. Namun, aku juga takut Kek. Aku tak enak. Aku merasa bodoh. Ya, saat mereka berbisik-bisik di belakangku ketika penjelasanku ada kesalahan. Ketika jawabanku kurang memuaskan. Ah, apalagi ketika kehadiranku tak diharapkan. Rasanya ingin menangis. Airmata ini ingin tumpah ruah. Tapi tak bisa Kek. Di depan mereka, aku harus selalu tersenyum. Selalu semangat. Selalu ceria. Ah, Kakek. Aku ingin bercerita banyak Kek.

Kakek,
Seharusnya aku mengajar privat hari ini. Aku sudah datang ke rumahnya. Naik angkot dua kali. Naik ojek. Lalu jalan kaki. Ternyata dia tak ada, Kek. Dia sudah tidak pulang sejak kemarin pagi. Ke mana dia, Kek? Aku khawatir. Sungguh. Ponselnya tidak aktif. Di rumahnya hanya ada pembantu. Ah, ke mana orang tuanya? Tak khawatirkah pada anaknya? Ingin rasanya aku menunggu di rumahnya.

Kakek,
Jujur. Rasanya aku ingin menangis sekarang. Ingin airmata ini lancar mengalir karena di dadaku sudah sesak. Sudah penuh. Ingin membuncah.
Aku lupa cerita, Kek. Empat belas orang adikku kemarin ada masalah. Masalah internal. Ya, semoga setelah pertemuan kemarin masalah itu bisa terselesaikan. Aku berharap itu. sangat berharap. Ya, aku sayang sama mereka Kek. Bukan hubungan darah yang membuatku mencintai mereka, melainkan sebuah ketulusan cinta atas dasar kedekatan hati.

Kakek,
Aku capek sekarang. Jari-jariku sudah enggan mengetik. Sudah dulu ya, nanti pasti aku akan cerita lagi. Entah kapan. Tapi pasti.

Senin, 13 Desember 2010

Surat Inspiratif: Surat untuk Kakek

Dear Kakek,
Selamat malam Kek,
Apa kabar? Kakek di mana sekarang? Apakah di tempat yang sama saat kita terakhir bertemu? Atau di tempat yang menjadi tujuan Kakek? Tempat yang luas, indah, segar, dan menyenangkan. Itu yang Kakek sering ceritakan padaku. Itu tempat apa Kek? Tanyaku dulu. Itu surga. Jawab Kakek singkat. Yah, aku rasa Kakek sekarang di surga. Semoga surga memang tempat kebahagiaan, ya, Kek. Kalau Kakek bahagia, aku juga bahagia. Sangat bahagia malahan.
Kek, di luar sana, teman-temanku berlomba-lomba ingin menulis surat untuk presiden, sekjen PBB, Obama, rektor, atau siapalah. Namun, aku tidak, Kek. Aku hanya ingin menulis surat pada Kakek. Ya, hanya untuk Kakek. Sudah lebih dari 15 tahun Kakek meninggalkan aku. Meninggalkan Nenek. Meninggalkan Ayah, Om, dan Tante. Meninggalkan dunia ini. Aku ingin cerita banyak, Kek. Seperti dulu. Tapi Kakek tak pernah berkirim kabar padaku, bahkan sebuah senyum dalam mimpi pun tidak. Akhirnya, aku beranikan mengetik kalimat-kalimat ini. Sebab, aku rindu pada Kakek. Sangat rindu. Merindukan semua tentang Kakek. Merindukan dekap hangat Kakek. Aku berharap Tuhan akan menyampaikan surat ini pada Kakek. Ya, semoga saja Pak Pos masih mau mengantar surat walau sudah di surga. Atau merpati masih berkenan menjalankan tugasnya.

Kakek,
Aku sudah besar sekarang. Usiaku sudah 19 tahun, hampir 20 malah. Bukan lagi aku yang kecil. Yang merengek pada Kakek untuk dibelikan sekotak Buavita atau sebatang SilverQueen. Aku sudah tak tinggal di kampung kita, Kek. Aku sudah merantau jauh ke kota yang katanya metropolitan ini. Ada banyak hal di sini. Ada banyak peristiwa. Ada banyak senyum. Ada banyak airmata.

Aku senang Kek di sini. Aku senang kuliah di sini. Ada banyak yang kudapatkan. Ada banyak yang aku pelajari. Tak hanya teori, tetapi juga praktik. Dulu, aku hanya bisa membaca nama-nama sastrawan besar di sampul buku yang aku baca, Kek. Sekarang, aku bisa berdiskusi langsung dengan mereka. Mengobrol, bahkan aku bisa dengan leluasa bertanya pada mereka. Dulu, gedung-gedung tinggi itu hanya bisa kupelototi dalam layar kaca. Sekarang, aku bisa dengan mudah keluar masuk ke dalamnya. Bercengkerama dengan petinggi-petingginya, bahkan meminta nomor ponselnya. Aku senang Kek. Ada banyak malaikat di sini. Teman-temanku yang bisa menerimaku apa adanya. Yang mau mendengarkan ceritaku. Yang mau tertawa untuk leluconku. Mereka malaikat tak bersayap Kek. Tapi mereka mampu menerbangkanku.

Kakek,
Tahun baru Islam kemarin, aku ke Bandung Kek. Mengunjungi Nenek dan Tante di sana. Aku membantu nenek bikin kue. Ah, lebih tepatnya hanya membantu mencetaknya. Tak sempat aku membantu membuat adonannya, sebab saat itu, aku sedang sibuk ber-facebook-an ria.
"Untuk dibawa ke masjid," katanya. Nenek masih seperti dulu, suka membawa makanan ke masjid. Suka membuat kue untuk orang lain. Tapi Kek, cucumu ini memang benar-benar tak bisa membuat kue, cetakan satu sampai tiga tak tertolong. Gosong. Hitam. Pahit. Haha. Nenek tak marah, malah tertawa. Aku pun ikut tertawa. Setelah itu, aku masih mencetaknya, tak peduli bentuknya, yang penting rasanya.
Sambil mencetak, aku bercerita pada nenek, menanyakan sesuatu. "Bagaimana bila niat baik kita kepada seseorang tak mendapatkan timbal balik yang setimpal dari orang tersebut?" sebuah pertanyaan yang jawabannya sudah pernah aku nasehatkan pada seseorang, tapi aku sekarang merasakannya Kek. "Kamu masih punya Tuhan kan? Kenapa balasannya tak minta dari-Nya saja?" jawaban nenek masih seperti dulu. kaku. Tak puitis apalagi romantis. tapi selalu mengena di hati. Ah iya, niat baik kita pada seseorang memang tak selalu berbanding lurus dengan timbal balik darinya. Itu kalimat yang sering aku ucapkan pada seseorang dan setiap orang. Sekarang Kek, rasanya memang sulit, tapi aku yakin bisa Kek, menerima dengan lapang dada setiap hal buruk yang mereka lontarkan kepadaku. Seseorang yang pernah aku tolong ingin memperburuk citraku, Kek. Tak apa. Sungguh. Aku tak pernah peduli itu. Ya, Tuhan takkan pernah tidur.

Kakek,
Setelah mencetak kue, lalu membungkusnya. Aku iseng-iseng bertanya pada Nenek tentang perasaannya pada Kakek. Aku hanya menggoda. Tapi, Nenek malah terdiam. Nenek terkadang juga bahkan mungkin setiap detik sangat merindukan Kakek. Apa Kakek tak rindu pada nenek? Ah, kisah cinta sepanjang masa, pikirku. Terlalu manis. Sudah hampir 50 tahun, tapi nenek masih menyimpan rasa cinta yang sama pada Kakek. Semoga Kakek juga begitu. Ya, meski tanpa raga. Andai saja, Kakek masih bersama kami, sekarang ini pasti kami sudah sibuk menyiapkan perayaan ulang tahun emas Kakek dan Nenek. Romantis.
Kek, cucumu sekarang sudah ada 6 ekor. hehe. Ini buah cinta dari Kakek dan Nenek. Kami besar dengan cerita-cerita hebat tentang Kakek dan belaian lembut dari Nenek. Dua kombinasi yang sungguh hebat. Nenek sering bercerita tentang kehebatan Kakek. Aku senang mendengarnya dan menunggu cerita-cerita selanjutnya. Ada tawa. Ada haru. Ada canda. Ada tangis.

Kakek,
Sepertinya, surat pertamaku ini sudah cukup, aku hanya ingin bercerita itu saja. Tak perlu panjang lebar dulu. Aku takut Kakek terlalu lelah membaca tulisanku. Nanti, aku akan berkirim kabar lagi jika Tuhan mengizinkan. Ya, semoga surat ini bisa sampai walaupun Kakek di surga. Nanti, akan aku titipkan saja pada merpati yang biasa hinggap di pohon depan rumah sebab Pak Pos tidak tahu di mana alamat surga. Kakek, aku sangat merindukan Kakek. Apakah Kakek juga merindukanku?

*Di sebuah ruang tanpa batas, 21.17

Senin, 06 Desember 2010

Perempuan Bersayap Ungu


Dan aku lupa. Kapan terakhir aku terbang. sudah lama. sayap ungu pemberian-Nya pun hanya tergantung di dinding kamarku. Berdebu. Sesekali kubersihkan. Lalu kuletakkan lagi di tempatnya. Dulu, dulu sekali. hampir setiap hari aku mengepakkan sayap ini. mengelilingi cakrawala. menembus awan. ungu pada sayapku berpendar indah. menimbulkan iri setiap orang. Tuhan (selalu) baik. Memberikan sayap ini padaku. Padahal aku tahu. Tuhan tak memberikannya pada setiap orang. Sayap ungu ini hanya untukku. Ya, harusnya aku bisa terbang jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang tak punya sayap. bisa tahu lebih banyak. tapi, sayang. aku sama saja. aku malas untuk terbang. hanya melihat sayap ungu tergantung begitu saja. Maafkan aku Tuhan. Setelah ini, sayap ungu itu akan aku pasang kembali di punggungku. kukepakkan lagi. dan aku akan terbang. terbang menemuimu. di sana. entah di alam mana.

Selasa, 30 November 2010

Segala Sesuatu Itu Berawal dari Cinta

Hari ini berkah. Ya, tes lisan mendadak di mata kuliah Kemahiran Membaca Naskah Klasik itu sebuah anugerah. Saya bisa keluar kelas dengan cepat, yang memang sejak awal sudah ingin membolos. Bukan kok. Saya hanya ingin menonton pertunjukan karawitan jawa yang sindennya berasal dari Jepang. Waw! Itu kata yang terucap dari mulut saya saat pertama kali melihat posternya. Ehm, saya merasa malu. Saya orang Jawa. Tulen. Tapi sungguh, bahasa Jawa yang ada di tembang-tembang karawitan itu pun banyak yang tidak saya mengerti. Apalagi untuk menyinden, lebih-lebih memainkan kendang dan kawan-kawan. Beuh! Boro-boro! Sangat memalukan.
Ah ya, saya lupa. Pesinden itu bernama Hinomi Kano. Lebih senang dipanggil dengan Mbak Hinomi. Sudah lebih dari 10 tahun menjadi sinden. Sudah lebih dari 20 tahun berada di Indonesia. Ehm, luar biasa.

Ya, ya, ya,
Sebenarnya bukan itu yang ingin saya ceritakan di sini. Tapi hanya satu hal saja.
CINTA. Indah bukan kata itu? Lima fonem, satu morfem.
CINTA. Damai bukan kata itu?

Seorang penonton bertanya pada Mbak Hinomi, alasan apa yang membuat Mbak Hinomi begitu cinta dengan karawitan. Dengan singkat, Mbak Hinomi berkata, "Ya, ya, kalau orang jatuh cinta itu kan tidak ada alasannya!"

Deg! Iya. Itu betul. Jawaban yang singkat, tapi menyentuh. Sangat.
Semua berawal dari cinta.
Ah, cinta itu luas. Coba saja kau katakan pada setiap orang. Pasti ada definisi yang berbeda-beda.
Cinta.
Satu hal saja yang ingin saya perluas dari cinta ini. Bahwa memulai segala sesuatu itu dengan cinta. dengan rasa suka. dengan ketertarikan. Tidak perlu terpengaruh karena opini publik. Tak usah peduli pad konstruksi sosial. Tak perlu itu semua. Cukup ikuti saja cintamu berjalan. Ya, ke mana saja. Cinta takkan pernah salah menuntun. Tak pernah salah mendefinisikan.

Ah iya, contoh paling nyata dalam hidup saya adalah pilihan saya. Saya tidak pernah peduli dengan omongan orang. Banyak yang mencibir dan mempertanyakan akan jadi apa saya kelak? Kuliah jauh-jauh dan bayar mahal-mahal hanya untuk memperlajari sastra. Hanya untuk mempelajari bahasa. Buang-buang saja. Sungguh, saya sama sekali tak peduli dengan pendapat itu. Yang penting, saya cinta pada bahasa. Saya cinta pada sastra. Saya cinta pada kata. Itu saja. Tak lebih.
Saya yakin, suatu saat nanti, cinta yang saya perjuangkan ini akan membawakan hasil yang luar biasa. Cinta yang saya perjuangkan ini akan menghidupi saya dengan layak.
Ya, saya yakin itu. Sebab Tuhan pun akan memberikan sebuah jembatan untuk saya. Jembatan yang akan lebih mendekatkan saya dan cinta.
Iya, semuanya berawal dari cinta. Ini tak bohong.