Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Rabu, 05 Desember 2012

pada minggu ketiga, aku melupa ingatan

[1]
ini minggu ketiga, aku meracik tubuhku searoma tubuhnya. agar wangiku serupa wanginya. agar aku bisa dengan santai datang ke kotamu. menemuimu. bersijingkat mengendap-endap. agar takketahuan olehnya. katanya, kotamu itu menyenangkan. membuat cemburu. dalam rindu.

[2]
jika boleh memilih. aku ingin meminjam tubuhnya. lalu aku bisa leluasa bertemu denganmu. atau mencintaimu, mungkin.

[3]
lalu, pada suatu pagi. aku bisa mengetuk pintu rumahmu. dengan aroma dia. atau mungkin dengan rupanya. mengantar rindu yang takbisa diurai lagi.

[4]
matamu memindai tubuhku. dari atas. mengerling. tanpa tahu maksud. "terima kasih, aku hanya butuh dia di sini", ucapmu pelan.

[5]
pelan-pelan. tubuhku yang beraroma dia menguap. menjadi bulir. merata di seluruh ingatanmu.

Senin, 26 November 2012

Rangkaian Latsitardanus XXXIII: Cerita tentang Saya yang di Kota

Akhirnya sudah sampai Lombok. Saya ditempatkan di Kota Mataram. Tidak ada susah-susahnya. Semuanya di luar ekspektasi. Saya sudah berharap akan ditempatkan di pelosok entah di mana. Tidak akan ada listrik. Terlebih sinyal. Tapi, sayang sekali. Saya di sini semacam liburan. Kegiatan hanya pagi sampai siang. Sore hanya istirahat. Bertempat tinggal di mess. Semuanya ada. Dekat dengan minimarket. ATM. Mall. Ah, sama saja. Semacam berada di Jakarta. Tapi dalam lingkup yang lebih kecil.
Ah iya, jangan kau tanya betapa bosannya. Saya sudah bosan dengan rasa bosan. Mungkin, sudah takbisa memisahkan lagi antara bosan dan taktahu harus bagaimana. Ya. Saya tinggal di lingkup Polda NTB. Paling tidak, harus mengikuti kegiatan mereka. Apel pagi, siang, sore, malam. Memakai seragam. Baris berbaris. Takboleh ada pelanggaran. Hidup macam apa ini? Lama-lama saya bisa mati konyol jika terus menerus seperti ini. Tapi, sudahlah. Ini pilihan. Harus dihadapi.
Sebenarnya, saya takpernah menyesal. Keindahan alam NTB ketika akhir pekan menyelamatkan saya dari rasa bosan ini. Hanya saja, saya belum merasakan pengabdian yang semacam K2N di Wana Bakti kemarin. Saya rindu berjalan-jalan di desa. Rindu mandi di sungai. Rindu berbincang panjang dengan warga lokal. Rindu berjalan  jauh. Rindu takada listrik. Rindu takada sinyal. Ah, padahal, saya sudah berharap ini akan lebih dari itu. Ternyata, saya di kota. Yang semuanya ada. Ah iya, bahkan, saya pun terkadang memilih untuk laundry.
Mungkin, benar kata teman saya, di sini, pengabdiannya hanya bonus.

Rabu, 07 November 2012

Tempat Singgah

Ke Lombok. Ya. Tinggal beberapa hari lagi saya berangkat ke Lombok. Antara buncah dan gelisah. Entahlah. Saya memang selalu senang perjalanan. Terkadang, tujuan dalam sebuah perjalanan takpernah saya nanti-nantikan. Saya hanya ingin melakukan perjalanan. Ke mana pun. Menikmati setiap sentimeter perpindahan dari satu ruang ke ruang lainnya. Itu menyenangkan.

Mungkin, kali ini saya akan melewati beberapa moda transportasi yang lengkap: udara, laut, dan darat. Terlebih itu. Saya suka duduk di ruang tunggu bandara yang senyap. Tapi, seringkali bising. Melihat lalu-lalang orang. Sibuk dengan perangkat elektronik mereka. Hampir takada percakapan di ruang tunggu bandara. Atau mungkin saya yang enggan membuka percakapan dengan orang di sebelah. Entahlah. Dan, saya juga suka ketika pesawat sudah terbang. Jendela sudah boleh dibuka. Saya bisa melihat gumpalan awan putih. Terbang. Menari-nari. Lantas, membayangkan diri saya berlarian di sana. Ya. Pastinya, saya pun taksuka ketika telinga saya sakit.

Namun, ruang tunggu bandara itu tidak pernah semenyenangkan peron stasiun. Bangku memanjang. Berderet-deret. Suara sirine. Rel kereta api. Decit ferum. Bau pesing. Suara bising. Gerbong yang berjajar. Serupa ular naga. Saya suka berlama-lama di sana. Datang jauh lebih awal sebelum kereta datang. Mengamati pedagang asongan. Melihat peluh yang menetes. Mendengar celoteh kasar. Menunggu senja yang akan datang. Menunggu kereta yang berubah warna menjadi jingga ketika terkena tempias senja. Ya. Atau apa pun itu. Jika di peron stasiun, saya bebas bercakap dengan siapa pun. Tentang apa pun. Saya suka tertawa mendengar obrolan kami. Yang kadang taktahu arahnya. Hanya pengisi kekosongan. Biar sama-sama takbosan. Biar takbosan dengan rasa bosan.

Laut. Laut itu seperti ibu: dalam dan menunggu. Saya suka ketika kapal mulai melepas jangkar. Bergerak perlahan. Lalu, ketika sudah berada di laut lepas. Saya jarang bisa membedakan antara langit dan laut. Mereka menyatu. Membentuk sebuah lengkung indah. Ujung langit adalah ujung laut. Mungkin, bisa jadi seperti itu. Senja. Ya. Itu yang membuat saya betah di laut lepas. Saya bisa melihat senja dengan jelas. Melihat bulat matahari yang (seolah) tertelan oleh laut. Kemudian, berganti dengan semburat jingga. Lantas, jingga itu hilang perlahan. Menjadi kelam. Lalu berganti dengan bintang dan bulan. Saya bisa dengan bebas menerka-terka bintang apa yang sedang menampakkan diri. Jika hujan, laut akan menjadi semakin menyenangkan. Rintiknya lembut. Bisa dengan mudah bercumbu dengannya di geladak.

Ya. Intinya. Saya suka melakukan perjalanan. Ke mana pun. Ah iya, satu lagi. Saya suka ketika tempat tujuan perjalanan saya itu tidak ada sinyal. Sama sekali. Saya takperlu repot-repot dihubungi atau menghubungi seseorang. Saya bisa menikmati perjalanan ini dengan utuh. Dengan menyerahkan sepenuhnya diri saya ke ruang tersebut. Tanpa berbagi dengan kenangan saya. Takada sinyal juga membuat rindu saya pada banyak hal terkumpul. Sebab, kadang saya memerlukan sedikit waktu dan jarak untuk merindukan sesuatu, ah, mungkin juga seseorang.

Selasa, 06 November 2012

seseorang yang ingin memotong senja untuk dikirim ke surga

[1]

ia pernah duduk di bangku taman ini sendirian. ketika hujan. lalu, buku-buku yang dia baca basah. dia bergeming. menengadah. dia ingin sekali menanyakan mengapa hujan yang harus jatuh ke bumi. bukan senja saja. sebab jika senja yang turun. dia bisa bermandi jingga. sebab dia ingin sekali menjadi jingga. semburatnya manis, katanya.

[2]

titik-titik air itu semakin membuat rambut dan bukunya basah. dia sudah tidak memikirkan sesuatu apa pun. termasuk tentang daun-daun yang tinggal tulang. atau mengapa ada penyair gadungan yang sedang menulis puisi tanpa huruf kapital. dia hanya ingin hujan yang turun ini akan menjelma menjadi senja. nanti beberapa menit lagi. maka dia masih duduk di kursi itu.

[3]

dia akan mengerat senja yang jatuh ke bumi. memotong-motongnya menjadi beberapa bagian. mungkin, seukuran kartu pos. lalu, dia akan menempeli senja itu dengan perangko seharga lima ribu rupiah. pergi ke kantor pos yang kian hari kian berdebu. tanpa pengunjung. ia akan berdiri lama-lama. ingin menulis surat, tapi dia takpandai berkata. akhirnya, dia hanya menyerahkan senja yang ditempelinya perangko itu kepada mbak-mbak penjaga kantor pos.

[4]

tanpa melihat alamat yang dituju. senja yang tertempeli perangko itu dimasukkan begitu saja ke dalam tumpukan surat lainnya. ia mendesah. tersenyum simpul. berharap banyak. bahwa senja yang tertempeli perangko itu akan segera sampai di surga. ia hanya ingin ayahnya tahu bahwa ia rindu. ingin bertemu. sebab, sampai senja yang tertempeli perangko itu diserahkan. ia takpernah tahu dipeluk ayahnya. yang ia tahu hanya cerita-cerita kosong dari ibunya bahwa ayahnya sedang berbahagia di surga.

[5]

ia hanya mengangguk-angguk ketika ibunya bercerita. padahal, dia sedang teringat cerita gurunya bahwa di surga semua lelaki akan mendapatkan bidadari yang mereka inginkan. dari situ, ia mulai membenci surga. ia mulai membenci keberadaan surga yang telah merebut ayahnya. ia mulai mengumpulkan ingatannya tentang sosok bidadari. ia gemetar. ketika melihat ibunya, kemudian menengok ingatannya. ibunya renta, sedangkan bidadari cantik sempurna. ia kasihan melihat ibunya. yang sudah renta, tapi masih pandai membual.

[6]

sementara, di ruang yang terpisah. ibunya setiap malam menangis. mengutuk tuhan yang pernah menciptakan kata surga. sehingga membuatnya bercerita banyak tentang surga kepada anaknya. lelaki yang oleh ia disebut ayah, sebenarnya takpernah masuk surga. ia pergi bersama bidadari murahan pinggir jalan. bertahun-tahun. entah. sekarang di mana. mungkin sudah dimakan kenangan. atau tertelan ingatan.

[7]

ia masih duduk di kursi itu. senja yang harus dipotongnya takjuga jatuh. hanya rintik hujan yang menjelma gerimis. bukunya sudah hanyut. rindunya sudah teresap oleh tanah basah. lantas, kenangannya pun sedang mengembara bersama rintik.

Selasa, 23 Oktober 2012

Selamat Berakhir Semester 7!

Ya. Rutinitas saya menulis sesuatu pada akhir semester. Sekarang saya berada pada semester 7. Dan semester ini sudah berakhir. Paling tidak, bagi saya. Hari Kamis kemarin, saya resmi membatalkan semua mata kuliah yang sudah saya ambil. Tinggal menyisakan mata kuliah spesial, yaitu skripsi.

Semester ini sudah berjalan hampir setengah semester. Tetapi, saya membatalkan kuliah begitu saja. Oh, tidak. Tidak begitu saja. Ada alasan yang kuat. Alasan yang mungkin dianggap gila oleh banyak orang. Ah, yang dianggap gila oleh orang lain, belum tentu gila juga bagi saya. Sudah berkali-kali saya bilang, kan? Cita-cita hidup saya sederhana. Melakukan apa yang saya cintai dan mencintai apa yang saya lakukan. Itu saja.

Pembatalan mata kuliah ini tidak akan terjadi jika saya tidak melihat pengumuman di kampus. Mabes TNI mengadakan Latsitarda (Latihan Terintegrasi Taruna Wreda). Ini semacam KKN bagi Taruna TNI, Akpol, mahasiswa IPDN, dan mahasiswa tingkat akhir. Latsitarda akan diadakan di Lombok pada bulan November-Desember. Hampir 1.5 bulan. Ya. Memang untuk mahasiswa yang sudah tidak ada kuliah.

Entahlah. Kegiatan itu sungguh menyita perhatian saya. Tetiba saja berpikir untuk mengikuti Latsitarda sebab saya masih punya jatah satu semester untuk lulus tepat waktu dan (semoga) tetap cumlaude. Ah, dengan segera saya berkonsultasi dengan dosen pembimbing, mama, ayah, dan (tentu saja) Tuhan. Jawabannya 'Iya'.

Saya mendaftar. Terombang-ambing antara diterima dan tidak. Kuliah berjalan sebagaimana mestinya. Saya masih belum berani membatalkan kelas. Akhirnya. Pengumuman juga. Saya diterima! Empat hari sebelum UTS! Ohh.

Ya. Tuhan sepertinya sudah mengatur jadwal saya. Mata kuliah tidak bisa dibatalkan selepas pekan UTS. Tapi, ini sudah ada keputusan sebelum UTS. Jadi, saya bisa membatalkannya. haha Takperlu waktu lama untuk mengedrop semua mata kuliah. Hari itu juga, saya sudah tidak ada tanggungan mata kuliah. Saya bisa pergi ke Lombok. Tapi, dengan janji ke dosen pembimbing skripsi untuk menyelesaikan skripsi sebelum pergi ke Lombok. Voila! Semoga saja!

Tapi, komentar dan cercaan takberhenti di sini. Hampir semua orang yang tahu cerita saya pasti berkomentar, "Gila lo! Gak sayang apa kuliah udah jalan separo?" atau komentar-komentar sejenis itu. Ayah saya juga takkalah marah. "Kalau Ayah jadi kamu, Ayah bakalan menyelesaikan kuliah dulu. Setelah selesai kuliah, baru ikut kegiatan-kegiatan seperti itu!"

"Kalau seperti ini, kamu namanya membuang-buang waktu. Harusnya kamu bisa lulus pada semester 7!" Ayah saya masih saja berkomentar.

Saya hanya menggeleng dan tersenyum. Merasa ini sama sekali bukan kesalahan. Ini adalah pilihan. Menguji keberanian saya untuk memilih. Bukankah manusia akan dianggap Ada karena dia telah memilih? Mencoba keluar dari kerumunan. Mencoba menjadi individu yang memiliki alasan untuk memilih sesuatu.

Lulus 3.5 tahun atau 4 tahun bagi saya sama. Sama-sama menyimpan misteri. Bukan berarti yang bisa lulus 3.5 tahun jauh lebih hebat daripada yang lulus 4 tahun. Apa salahnya memanfaatkan status mahasiswa untuk sesuatu yang menyenangkan seperti ini.

Ya. Sembari menunggu keberangkatan pada minggu kedua November, saya tetap masuk kelas. Mengikuti kuliah sebagaimana biasanya. Bedanya, saya tidak perlu mengerjakan tugas. Lantas, teman saya masih berkomentar juga. "Ngapain lo tetep kuliah? Kan udah lo drop semua mata kuliah?"

Ah, sepertinya memang selalu mendapat komentar terhadap segala sesuatu yang telah saya lakukan. Saya tersenyum saja. Kuliah dan masuk kelas adalah salah satu cara saya bersenang-senang. Menikmati hidup. Belajar tanpa harus banyak menghabiskan waktu. Bukan beban yang harus segera diselesaikan. Jadi, takada salahnya jika saya tetap masuk kelas tanpa mendapatkan nilai nantinya. Sebab, segala sesuatu takselalu bisa diukur dengan angka atau huruf.

Sudahlah. Pada akhirnya, ke Lombok pun saya tetap belajar. Belajar memaknai hidup di tengah masyarakat yang sama sekali belum saya kenal. Perjalanan selalu memberi saya cerita. Rumah yang baru. Saya tidak akan menyesal. Memilih sesuatu selalu ada sesuatu yang dibayarkan. Kali ini, saya membayar waktu sesemester saya kuliah dengan perjalanan yang mungkin tidak akan saya lewati lagi setelah lulus kuliah.Ya. Ini menjadi semacam sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kuliah di kelas. Itu menurut saya.

Saya bahagia dengan pilihan saya. Itu sudah cukup.

Jumat, 05 Oktober 2012

Jajanan Pinggir Jalan

Beberapa menit yang lalu, saya melihat tempelan banyak poster di lantai 1 perpustakaan. Poster tentang makanan yang sehat. Mungkin anak Fakultas Kesehatan Masyarakat yang mengadakan acaranya. Ya. Acaranya semacam lomba poster tingkat nasional. Lalu, poster pemenang dan poster peserta sama-sama dipajang. Biar orang tahu. Ah, mungkin juga sebagai pembelajaran. Isi posternya takjauh-jauh dari pembiasaan makanan sehat. Lucu-lucu.

Namun, ada beberapa poster yang menggelitik saya. Poster yang bertemakan "Jajanan Pinggir Jalan". Bisa ditebak. Poster tersebut pasti mengimbau tentang bahaya makan jajanan pinggir jalan. Setiap poster melarangnya. Ohh. Sedikit miris. Hampir menangis.

Teringat jajanan pinggir jalan. Teringat tentang tangan-tangan kekar. kulit legam. keriput pada wajah. peluh. kemiskinan. perjuangan hidup. anak-anak yang menangis lapar di rumah. anak-anak yang berharap banyak pada keuntungan--yang takseberapa--untuk membayar seragam dan buku sekolah. pada dapur di rumah yang harus mengepul. tentang palak preman pinggir jalan. tentang penertiban oleh Satpol PP. tentang razia kaki lima. tentang pembeli yang takbayar. tentang hujan yang takkunjung reda sehingga sepi pembeli. tentang utang pada rentenir. tentang makanan yang takhabis terbeli. banyak hal tentang mereka.

Entahlah. Saya miris saja membaca poster itu. Membayangkan tetiba masyarakat sadar dan melakukan apa yang diimbau dalam poster tersebut. Lantas, pedagang jajanan pinggir jalan taktahu harus menjual dagangannya ke mana dan siapa. Lalu, hidup mereka yang miskin akan semakin miskin. Makin banyak anak-anak yang taksekolah sebab takpunya biaya. Ah, makin banyak hal yang akan terjadi.

Baiklah. Memang terkadang jajanan pinggir jalan itu takbaik untuk kesehatan. Ya. Untuk kesehatan individu, lebih tepatnya. Terlalu kompleks memang. Padahal hanya masalah makanan apa yang akan termakan. Segalanya memiliki rantai--yang jika terputus bagiannya akan memutus bagian yang lain.

Pedagang itu pun (mungkin) takmau mencampur dagangannya dengan segala sesuatu yang taksehat. Tapi harga bahan baku yang sehat juga terlampau mahal. Sementara, pembeli takmau membeli jika harga terlalu mahal. Taksederhana.

Namun, melarang membeli makanan mereka juga bukan salah satu cara melenyapkan masalah kesehatan di negeri ini. Entahlah. Saya juga belum punya solusi untuk mensikronkan antara tuntutan kesehatan dan tuntutan ekonomi. Saya juga cuma bisa mengkritik. Takada beda sama mereka. Maafkan saya.

Minggu, 26 Agustus 2012

Ssstt... Jangan Bilang Siapa-Siapa!

Ini rahasia! haha
Sudah pernah saya katakan padamu, kan? Saya bisa jatuh cinta pada seseorang dari tulisannya. Seriously!
Ya. Saya memang sedang jatuh cinta sekarang. Sudah lama. Tapi berhasil memendam. Ah, mirip cerita picisan. Entahlah. Saya bahagia saja jatuh cinta padanya. Mungkin nanti, ada definisi lain tentang jatuh cinta semacam ini. Intinya, saya jatuh cinta pada tulisannya. Pada pemikirannya. Ya. Bisa saja jatuh cinta semacam ini berdampak pada cinta orangnya. Abaikan. Saya semakin konyol.
Baiklah. Pada mulanya memang kesalahan saya yang suka jalan-jalan di blog orang. Membaca-baca tanpa dosa. Kalau menarik, saya langganan. Kalau tidak, sekali saja mampir. Okelah. Berawal dari sebuah pernyataan teman saya di twitter, yang menyatakan bahwa blog www.catatanugahari.wordpress.com itu bagus. Naluri jalan-jalan saya bekerja dengan baik. Sekali klik. Blognya muncul.
Dari judulnya saja, saya tahu. Itu tulisan takbiasa. Tulisan yang muncul dari pemikiran seorang yang sedikit anti-mainstream. Semacam candu. Saya ketagihan. Mengikuti setiap tulisan yang dibuatnya. Perlahan. Saya mulai jatuh cinta. Ya. Sebatas jatuh cinta. Tanpa berani komentar apa pun di blognya. Sedikit pengecut. haha. Dari rasa cinta itu, saya sempat mencari makna kata ugahari dalam KBBI. Artinya 'sederhana'. Ya. Semacam itulah dia. Kesederhanaan.
Dia sering bercerita tentang ayahnya. Tentang perjalanan yang telah dia lakukan. Tentang rasa muaknya pada dunia yang penuh artifisial ini. Tentang buku-buku yang sedang atau telah dia baca. Tentang bola. Tentang sastra dan sosiologi. Tentang hal-hal sederhana di sekitarnya.
Semua topik itu menarik hati saya. Ya. Kecuali bola. Dia berbicara secara jujur tentang apa yang dia rasakan. Saya bisa merasakannya itu. Memandang dunia dengan analisis dalam sudut pandang sosiologis.
Dari ceritanya, saya mulai sadar. Dia tidak berada jauh dari saya. Baiklah. Dia sering bercerita tentang kuliahnya. Tentang universitas. Akhirnya, saya bisa menebak. Dia kuliah di universitas yang sama dengan saya. Yang fakultasnya bersebelahan. Beruntungnya lagi, dia adalah teman seangkatan teman baik saya. Ah, hidup memang kadang-kadang terlalu sempit.
Saya pun tahu namanya. Tahu sedikit cerita tentangnya dari teman baik saya itu. Semacam pengagum yang gila. Saya pun sudah tahu orangnya. haha. Berharap. Suatu saat nanti, saya bisa mengobrol banyak dengannya. Tentang apa pun. Tentang hal-hal sederhana.
Bahkan, kemarin, saya dan dia sempat berada dalam satu acara Kuliah Kerja Nyata. Sayangnya, sekali pun saya takberani menegurnya. Terlebih dia. Sama sekali takkenal saya. Konyolnya lagi, saya berdoa pada Tuhan, siapa tahu kami ditempatkan di lokasi yang sama. Ternyata tidak. Bahkan satu armada pun tidak. Dia berada di armada timur, sedangkan saya di armada barat. Benar-benar belum berjodoh. haha. Jadilah, sampai sekarang. Saya masih menguntit tulisannya saja. Seperti dulu. Taklebih. haha

Senin, 13 Agustus 2012

Rangkaian K2N: Tanah Surga, Katanya!

Beberapa hari yang lalu, saya melihat acara infotainment. Awalnya, takmenggubris. Namun, setelah ada paparan tentang film baru dari Deddy Mizwar, saya sedikit melongok. Pasalnya, film yang berjudul "Tanah Surga, Katanya" itu bercerita tentang kehidupan perbatasan. Tentu saja, sangat mengingatkan saya pada proses K2N UI beberapa minggu yang lalu.
Saya ditempatkan di desa Wana Bakti, kecamatan Ketungau Tengah, kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Desa ini termasuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Hanya terpisah bukit.
Lantas, cuplikan film tersebut juga sangat mengingatkan saya pada kondisi di sana. Rumah panggung. Mandi di sungai. Tanah berlumpur. Jalanan rusak. Anak-anak. Merah putih yang jarang.
Ah. Perbatasan selalu membawa cerita. Setiap hari ketika di sana, saya harus berjalan sekira sekilometer menuju ke lokasi kegiatan. Mungkin, lagu pengiring yang tepat adalah "Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah, la la la...". haha. Memang seperti itu. Saya harus melewati jalanan tanpa aspal. Penuh lumpur. Jika tidak hati-hati, dapat dipastikan kaki akan tercelup pada lumpur itu. Sementara, di Pulau Jawa, hampir tidak ada jalanan yang takteraspal. Kalaupun belum teraspal, tanahnya masih bersahabat.
Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Ini Kalimantan. Harusnya masih Indonesia. Namun, sepertinya, campur tangan negeri ini tidak sampai ke tempat ini. Jalanan saja masih jauh dari layak. Terlebih listrik sama sekali belum masuk. Sampai sekarang saya masih menanyakan sila kelima pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Kebutuhan mendasar, seperti listrik, saja belum terpenuhi. Padahal, Pulau Kalimantan termasuk penghasil batu bara terbesar. Miris.
Kemudian tentang sungai. Biasanya, saya hanya melihat di televisi tentang kegiatan mencuci, mandi, dan segala macam dilakukan di sungai. Namun, di sini, saya merasakannya. Pertama kali mandi di sungai, saya seperti orang gagu yang ingin bicara. Kaku. Penuh ragu. Hanya memakai kain sebatas dada. Menuju sungai. Mencelupkan seluruh tubuh ke dalam air yang jernih dan sangat dingin itu. Ah, mungkin saya terlihat sangat norak pada saat itu. Namun, lama-lama biasa. Mungkin, keringat saya sudah menyatu dengan air sungai itu. haha. Mandi bersama-sama dengan penduduk setempat. Bercerita. Tentang apa saja.
Oh iya, ada tiga sungai di desa Wana Bakti, yaitu sungai Merakai, Empudau, dan Kemawil. Semuanya menyenangkan. Tapi saya paling suka mandi di sungai Empudau!
"Orang bilang tanah kita tanah surga..." Semacam lagu lawas yang berdengung. Kalau boleh saya meracau, tanah kita masih tanah surga. Surga dengan definisi yang berbeda. Surga di Jawa, mungkin, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Namun, surga di Kalimantan, mungkin, pasir sungai yang bercampur emas. Tuhan Mahaadil.
Beberapa waktu yang lalu, saya pulang dari Bandung. Naik kereta. Mengobrol banyak hal dengan Bapak yang duduk di sebelah saya.
"Tapi, sekarang kan semua daerah sudah terjangkau karena adanya internet." Beliau menanggapi cerita saya tentang Wana Bakti. Saya menggeleng pelan. Bagaimana bisa internet menyebar di sana, sementara sinyal pun takada.
Ya. Berbicara tentang perbatasan memang takakan habis masalah. Semoga saja. Suatu saat. Saya bisa kembali ke sana. Mengabdi lagi. Pada hal yang lebih nyata.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Rangkaian K2N: Tentang Desa yang Saya Tinggali

Hai, apa kabar kamu di sana? Tetiba saja ingat kamu. Pada panah yang menebas jarak. Sudah lama sekali. Kamu takmembalas suratku. Padahal kamu yang meminta. Mungkin kamu sibuk. Iya. Takapa.
Sedang apa kamu? Aku rindu. Rindu menulis pada lamanku. Sudah sangat lama taksinggah. Sudah banyak sarang laba-laba. Atau sarang semut.
Setiap kali aku rindu menulis, aku juga rindu kamu. Rindu kamu yang akan membacanya. Terima kasih.
Aku baik. Baik sekali. Tapi mungkin sedikit letih. Ada senyum dan luka sekarang. Ada banyak cerita yang ingin kusampaikan padamu. Buncah. Aku takingin menahannya lebih lama. Tapi takbisa. Sebulan terakhir ini aku selalu berlomba dengan masa dan letih. Hampir takpernah bisa menang. Bahkan sekadar mengingatmu pun baru kali ini.
Sudah lebih dari sebulan aku keluar dari zona aman kamar. Aku mengalahkan rasa takut untuk mengikuti kuliah lapangan. Akhirnya. Aku harus berangkat. Pergi ke Kalimantan. Menengok saudara-saudara kita yang di perbatasan.
Aku harus menghela napas dulu sebelum bercerita banyak. Ada banyak hal di sini. Di tempat yang mungkin takterpikir oleh orang. Hampir di antahberantah. Tapi ada kehidupan.
Pada mulanya adalah asing. Tanpa kata. Dan sedikit ragu. Tapi, itu taklama. Sebab, di sini ternyata rumah. Rumah yang memberi rasa hangat.
Aku bisa merasakan hangat. Tanpa dibuat-buat. Aku mencoba segala hal yang takpernah kulakukan sebelumnya. Memasak. Bercerita banyak pada orang. Menyapa setiap orang yang kutemui. Rasanya takseburuk yang kukira. Sangat menyenangkan ternyata.
Jatuh cinta pada segala sesuatu di sini memang terlampau mudah. Lantas, jangan kautanya cara melupakannya. Mungkin hingga ujung usia.
Banyak hal yang takterungkap sebelumnya. Masalah hutan lindung. Tanah yang didiami mereka selama ratusan tahun tetiba saja berubah statusnya menjadi hutan lindung. Sementara mereka tetap harus membayar pajak. Membayar tanpa ada hak untuk memiliki dan mengatasnamakan tanahnya. Miris. Ironi.
Hidup di perbatasan terlampau penuh dengan daya juang. Tanah tanpa aspal. Kala hujan akan berlumpur, kala panas akan sangat berdebu. Sudah berkali-kali aku jatuh.
Jarak antarrumah sedikit jauh. Jalannya licin dan berbukit. Sedikit berat, memang. Aku bisa merasakan betapa letihnya mereka hidup di sini. Tanpa akses. Tanpa informasi. Kalau saja mereka protes ingin mengibarkan bendera negara tetangga, aku takheran. Sebab, negeri ini terlampau luas. Terlampau penuh dengan orang-orang yang takpeduli.
Kamu bisa membayangkan bagaimana bentuk rumah yang halaman depannya dibiarkan saja. Tanpa dirawat. Seperti itulah negeri ini.
Harga-harga kebutuhan pokok dua kali atau bahkan tiga kali lipat dari harga di pusat. Mencengangkan. Sementara mereka takpernah merasakan fasilitas apa pun.
Banyak cukong kayu yang sama sekali takkasihan pada mereka. Kamu tahu kayu gaharu? Kayu mahal itu. Cukong-cukong itu membeli dari penduduk sini hanya 3 juta rupiah per kilo, sedangkan mereka menjualnya lagi bisa mencapai 70 juta rupiah per kilo. Brengsek memang.
Entahlah. Semoga kamu takbosan membaca ceritaku.

Rabu, 01 Agustus 2012

Rangkaian K2N: Tentang Sinyal dan Yang Mengubah Hidup

Baiklah. Saya memulai cerita tentang sinyal. Tentang ketergantungan yang sebenarnya takbegitu penting. Saya sudah hampir sampai di Pontianak. Sinyal mulai nyangkut sedikit. Sedikit saja. Takbanyak. Tapi, teman-teman saya sudah ribut. Meributkan mengapa ponselnya takjua mendapat sinyal. Saya sudah mengganti kartu saya dengan Telkomsel. Ini bukan promosi. Tapi itulah kenyataannya. Cuma provider ini yang bisa bertahan di luar Pulau Jawa. Hanya untuk menghubungi orang tua saya. Mengabarkan bahwa saya baik-baik saja. Selesai.

Saya teringat pada kata dosen saya, tiga hal yang mengubah hidup manusia, yaitu penemuan ponsel, penemuan www, dan penemuan internet. Salah satunya ponsel. Ponsel dekat dengan sinyal. Seolah-olah. Hidup bergantung pada kuat lemahnya sinyal. Mengerikan bagi saya.

Sebelum ikut K2N ini. Saya sudah sangat terbiasa untuk tidak membawa ponsel. Tidak mengeluarkan ponsel ketika di tempat umum. Atau tidak terlalu khawatir ketika ponsel ketinggalan. Untuk apa. Jika perlu. Saya ingin membuangnya ke laut lepas ini. Biar lepas sekalian hidup saya.

Obrolan dari tadi hanya menyangkut ada dan tidaknya sinyal. Apa yang saya pikir? Bosan! Coba saja ada agama baru, mungkin, agama ponsel jadi kandidat terkuat. Sudahlah. Di tengah laut seperti ini saya semakin mabok.

Ya. Saya juga. Saya juga. Sekarang ini ingin sekali menelepon Mama. Bilang bahwa saya baik-baik saja. Semoga Mama juga baik.

Selasa, 31 Juli 2012

Rangkaian K2N: Cerita tentang Marinir dan KRI

Ini posting pertama saya tentang K2N (Kuliah Kerja Nyata). Ya. Ketika saya memposting ini suatu saat. Cerita ini mungkin terjadi sebulan yang lalu. mungkin. Iya. Saya hanya bisa menulis di netbook saya. Takbisa mengunggah. Sama sekali. Takada sinyal.

Posisi saya sekarang ada di dalam KRI (Kapal Republik Indonesia). Menunggu bosan. Menunggu kapal sampai tujuan. Sudah hampir 4 hari saya di dalam sini. Jangan kau tanyakan bagaimana rasanya? Pasti akan saya jawab luar biasa. Terombang-ambing di laut lepas. Tanpa sinyal. Untung masih ada aliran listrik.

Sebelum berlayar, saya ada di Korps Marinir. Selama satu minggu di situ. Dididik dan ditempa. Bangun pagi-pagi. Lari-lari. Push up. Ya. Seperti itulah. Saya tidak kaget lagi. Sebab sudah biasa mendengar cerita. Tapi, banyak hal yang saya dapatkan dari pendidikan kilat itu. Teman-teman. Pelatih yang (sebenarnya) baik, tapi terlihat garang. Kebersamaan. Menjadi lebih kuat. Ah, takterlupakan yang pasti.

Tapi, saya jadi berpikir. Serius. Ini hanya pemikiran konyol saya. Jangan dimasukkan hati. Menjadi seorang tentara, berarti siap memberikan segala hal dalam hidupnya, termasuk hak kritisnya. Ya. Iseng-iseng, saya bertanya filosofi jargon “Kekuatan” yang harus dijawab serempak dengan “Lima lima”. Mereka takbisa menjelaskan. Sepele. Dan membuat saya berpikir. Selama ini mereka hanya menjalankan tugas dengan sangat sangat baik. Diperintah A, mereka akan mengerjakan A. Mungkin, takpernah bertanya dari mana, untuk apa, untuk siapa, tentang apa, mengapa harus, atau pertanyaan-pertanyaan konyol lainnya. Sudahlah. Hentikan. Saya semakin mabok nanti. Pak Tentara yang baik, maafkan saya. Saya takada maksud apa pun.

Kau tahu, posisi saya sekarang di mana? Ada di haluan KRI. Menatap lurus. Laut lepas, Sebentar lagi senja. Betapa romantisnya, bukan? Ya. Setelah dari Marinir, saya dan teman-teman saya harus menyeberang laut Jawa ke Pontianak. Entah berapa lama lagi, kami harus di sini. Beruntung. Saya sekali pun belum muntah dalam perjalanan berhari-hari ini.

Segala sesuatu menjadi lebih nikmat di sini. Makan pop mie. Menjadi sesuatu yang patut dinikmati. Tidur berpuluh-puluh perempuan di ruangan sempit. Untung berpendingin ruangan. Sedikit takterasa. Atau mungkin sudah hilang rasa. Tipis bedanya.

Saya bertemu Angkatan Laut di sini. Sama kesan saya. Mereka baik. Sangat baik. Saya bisa membantu memasak di sini. Bahkan saya bisa mencoba mengemudikan kapal dari anjungan. Belajar navigasi. Sedikit saja. Tapi cukup berkesan. Terima kasih. Bercerita tentang kegiatan saya. Bertanya tentang kegiatan mereka. Menyenangkan. Sayang sekali. Saya takbisa mengunggah tulisan ini sesegera mungkin. Harus menunggu kembali ke Jakarta. Ya sudahlah. Semua nikmat jika dinikmati dengan nikmat.

Tulisannya terputus. Barusan saya dihukum. Bukan saya. Tapi kami. Seperti biasanya. Push up. Sit up. Yel-yel. Karena apa? Karena kami takmenjaga kebersihan. Haha. Terdengar bocah, bukan. Tapi itulah kenyataannya. Saya tahu. Setiap tentara pasti sangat menjaga kebersihannya. Saya juga tidak tahu, kenapa teman-teman saya jorok sekali. Mungkin juga saya yang jorok. Ah, tapi kan saya sudah berusaha menjaga kebersihan. Membuang sampah pada tempatnya. Tapi di sini tidak seperti itu. Satu salah semua salah. Satu benar, yang lain belum tentu benar. Yang lain ada yang salah. Jadinya ikutan salah. Sudahlah. Ini seperti permainan ayam dan telur.

Kau pasti tahu. Apa yang saya paling senangi berada dalam KRI seperti ini. Ya. Melihat senja. Hujan. Laut. Dan pagi. Semuanya terasa lebih jelas dan nikmat. Matahari bulat penuh ketika menjelang senja. Turun perlahan ditelan garis pandang. Sepagian tadi sempat hujan. Saya berdoa. Semoga kamu baik-baik saja. Saya juga.

Sekarang sudah senja. Saya bisa memotret senja di laut lepas. Ini untuk kamu. Semoga kamu senang. Semoga ini bagus. Cukup untuk menutup cerita saya kali ini. Lain kali, saya pasti akan cerita lagi. Tentang apa pun. Mungkin nanti tentang Sintang. Taksabar saya sampai di sana.

2012-06-20 18.05.10

Senin, 18 Juni 2012

Tentang Semester Enam

Akhirnya. Semester ini berlalu juga. Semester yang saya jalani dengan rasa bosan kuliah yang sudah di ujung ubun-ubun. Semester yang hampir tingkat akhir. Dan sekarang saya resmi menjadi mahasiswa tingkat akhir.
Banyak hal. Seperti biasanya. Tapi kali ini sedikit beda. Saya sedang tidak ingin ikut organisasi dan kepanitiaan apa pun. Saya hanya kuliah-ngajar-pulang. Sesederhana itu. Bagaimana lagi? Saya sedang sangat malas kuliah semester ini. haha
Meskipun demikian, target IP saya masih 4.00. Bagaimana? Lebih konyol lagi kan? Sudahlah. Saya memang gila. Tapi, Tuhan masih sangat baik. Dengan tugas dan ujian yang saya kerjakan asal-asalan, IP saya turun tidak terlalu banyak. IPK masih tetap. Tidak berkurang ataupun bertambah seangka pun. Terima kasih.
Ketika mengetik tulisan ini, saya sedang berada di Korps Marinir Cilandak. Sedang mengikuti tes fisik dan mental sekaligus pembekalan untuk Kuliah Kerja Nyata (K2N) 2012 di daerah perbatasan. Lebih tepatnya sedang mengerjakan proposal program K2N. Di sini banyak hal. Pendidikan disiplin semi semi-militer. Tapi, tetap saja. Saya senang. Di tempat ini, saya mengingat ayah saya lebih. Teringat pada obsesinya pada militer. Saya mendapat tugas di Desa Wanabakti, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Mengabdi pada negeri sekira 30 hari. Semoga saja saya benar-benar bisa mengabdi. Besok berangkat. Pukul 17.00. Naik KRI. Mungkin selama 2-3 hari. Lalu dilanjut perjalanan darat sekira 25 jam. Dan diakhiri dengan perjalanan sungai menaiki long-boat sekira 12 jam. Baiklah. Bisa dibayangkan bagaimana jauhnya tempat itu. Nanti sajalah cerita episode ini secara lebih lengkap.
Ya. Saya ingin mereview semester ini. Selain kuliah-ngajar-pulang, saya banyak menghabiskan waktu untuk memuaskan jiwa saya. Ah, ini terlalu berlebihan. haha
Ketika digempur dengan UAS, saya malah enak-enakan hadir dalam "Sapardi Membaca Sita" atau launching buku puisi Sapardi Djoko Damono di Salihara. Kemudian dilanjutkan dengan menonton teater "Balada Nabi Kembar" di Salihara juga. Hari kemarinnya, saya juga menghabiskan waktu untuk menonton "Malam Jahanam" di Auditorium Gedung IX FIB UI. Sebelumnya, saya juga sempat hadir dalam "Petang Puisi". Dan masih dalam semester ini, saya juga sempat menonton teater "Goyang Penasaran". Ah, saya memang takbisa menolak untuk acara-acara seperti itu. Yang penting, kuliah jangan sampai mengganggu jadwal senang-senang. INI SESAT!
Yang tidak kalah menarik dalam semester ini, banyak doorprize-doorprize yang saya menangkan. Iya sih, sedikit tidak penting. Tapi cukup membuat saya berterima kasih pada Tuhan. Tiba-tiba saja saya mendapat penghargaan IPK tertinggi. Ah, ini juga mencengangkan. Saya malas kuliah. Malas mengerjakan tugas. Kuliah ogah-ogahan. Sumpah. Ini hanya keberuntungan. Dan bisa disebut sebagai doorprize. Kedua, kemarin saya mendapat hadiah Blacberry karena berhasil menang menulis berita media cetak di Media Indonesia. Ini semakin ngaco. Berita saya sama sekali takpenting. Sudahlah. Tuhan memang baik. Saya bersyukur pada apa yang telah saya dapat.
Ini sudah pukul 03.30. Hampir pagi. Saya harus tidur. Besok KRI akan membawa saya mengarungi samudra raya. Membawa saya pada pengabdian di pelosok negeri ini. Mungkin, selama 40 hari ke depan, saya tidak bisa menulis tentang apa pun di jejaring sosial yang saya miliki. Sebab sinyal ponsel pun terancam takada. Tidak apa-apa. Saya juga masih bisa bertahan hidup tanpa ponsel dan kawan-kawannya itu kok. haha

Minggu, 10 Juni 2012

Suatu Waktu, Saya akan Kehilangan

Pagi-pagi tadi, Mama telepon. Katanya sakit, habis jatuh. Tangannya takbisa gerak. Saya tertegun. Sejenak. Mencemaskan waktu yang taktahu malu. Ada bening mengalir di pipi. Harusnya saya bisa pulang. Memeluk Mama. Atau sekadar memijit tangannya itu. Paling tidak, bisa menyuapinya atau memasak makanan untuknya. Tapi sayangnya takbisa. Saya tetap di sini. Makalah yang takjua saya kerjakan menahan saya. Sudahlah. Saya takmau menyalahkan makalah lagi.
Kemarin-kemarin juga sudah jarang telepon. Sudah jarang bercerita. Saya terlalu (sok) sibuk. Padahal rindu. Sangat. Dua minggu yang lalu Mama meminta saya pulang. Segera memesan tiket. Agar sebelum pergi ke perbatasan, saya bisa bertemu dengannya. Saya diam saja. Mengiyakan. Tapi ternyata, saya malah banyak main di sini. Takjadi pulang. Sama sekali.
Ah, waktu selalu terlalu cepat. Membawa hidup pada usia tua dengan cepat. Uban. Tubuh ringkih. Selalu mengingatkan saya pada satu hal: kehilangan. Saya benar-benar takut hal itu terjadi. Iya. Saya tahu. Saya takbisa mengelak pada waktu. Pada ketetapan. Entah Mama yang kehilangan, atau saya, bahkan mungkin kami berdua. Tuhan takpernah membocorkan jawaban.
Saya takut. Waktu itu sebentar lagi. Saya terlalu cepat berlari. Tapi takpernah sadar, bahwa waktu lebih cepat larinya, mencuri cantik Mama. Mencuri tegap Ayah. Mencuri bahagia kami.
Mengapa waktu takmembiarkan saja saya bersandar hangat di bahu Ayah lebih lama? Mengapa waktu takmembiarkan saja saya memeluk pinggul Mama lebih lama? Entahlah. Sepertinya dia hidup untuk merasa kehilangan. Untuk dirinya sendiri.
Agar semuanya indah pada waktu-Nya. Mungkin.

Rabu, 06 Juni 2012

Yang Fana adalah Waktu. Kita Menurut Saja.

Sesajak milik Sapardi itu bergema. Entahlah. Saya memang terlalu sering mengingatnya. "Yang fana adalah waktu. Kita abadi." seperti itu harusnya. Ya. Waktu memang terlalu fana. Tetiba pagi. Siang. Malam. Lalu kembali pagi. Begitu terus. Berlari. Meninggalkan saya. Saya yang takpernah sadar dimakan waktu. Lantas, menurut saja. Hendak di bawa ke mana.
Siang ini hujan. Bulan Juni. Ah, Sapardi lagi. Tidak. Saya taksedang ingin bercerita tentang Sapardi. Hanya saja tentang hujan yang telah membawa saya pada ingatan. Pada kenangan. Cepat-cepat memutar.
Memandang hujan di kota ini. Entah yang keberapa kalinya. Tapi, saya masih merasa itu hujan yang pertama. Hujan tiga tahun lalu. Hujan yang saya maknai sebagai ucapan selamat datang di kota ini. Kota yang mengajari saya banyak hal.
Tiga tahun yang lalu. Saya datang ke kampus ini. Dengan tawa yang menggema. Yang seolah-olah akan menaklukkan dunia. Menggenggamnya dalam sekali tangkup. Ya. Rasanya baru kemarin saya berteriak girang melihat akun sisa ujian. Sekarang hampir habis. Sudah tiga tahun. Rasanya baru kemarin. Baru kemarin. Waktu terlampau fana. Ataukah saya yang terlampau lambat berjalan? Bisa jadi.
Rasanya baru kemarin. Saya melihat hujan di titik yang sama. Di jendela kelas yang sama. Dulu saya tersenyum. Hari ini pun saya tersenyum. Dulu, saya tersenyum untuk keberanian saya datang ke kota ini sendirian. Hari ini, saya tersenyum sebagai ucapan terima kasih pada diri saya karena sudah bertahan. Paling tidak, bertahan dari sergapan rindu tiba-tiba. Pada apa? Tentu saja pada rumah.
Saya berjalan. Melewati rute yang sama dalam tiga tahun. Rasanya baru sekali melewati jalan itu. Tapi, sudah tiga tahun. Mungkin ribuan kali. Hitung saja. Sudah saya katakan, waktu memang terlalu angkuh. Meninggalkan saya tertatih. Hampir menyerah.
Sudah tiga tahun. Saya di sini. Merah-Biru-Ungu. Semuanya berbaur menjadi satu. Takada yang benar-benar jelas. Atau takada yang benar-benar takjelas. Semuanya sama saja. Boleh dianut. Boleh dirujuk. Tapi, saya belum mendapat apa-apa. Usia saja yang bertambah, tapi kedewasaan? Saya kira perlombaan sudah dimenangkan oleh waktu. Dan saya menurut saja.

Jumat, 01 Juni 2012

Catatan Pagi Hari

Sepagian tadi saya sudah tidak bisa terpejam. Selepas subuh, saya tidak terbiasa untuk tidur lagi. Hanya merenung. Atau membaca. Bahkan melamun. Lantas, saya teringat pada tugas makalah saya yang menumpuk. Tidak tahu harus berkata apa. Jujur saja. Semester ini saya terlampau malas mengerjakan semua makalah yang takbeda jauh dengan masalah itu. Saya tahu. Tapi saya diam saja. Membiarkan mereka terlunta. Siapa tahu mereka mencari penyelesaiannya sendiri. Abaikan. Ini saya berkhayal.
Biasanya. Pada bulan Juni. Saya sudah di rumah. Menunggu hujan yang kata Pak Sapardi tabah itu. Bersandar di bahu ayah. Atau menggelung dipeluk mama. Sekarang tidak. Saya masih di sini. Di kota yang sudah mengambil banyak hal dari hidup saya.
Sepertinya, saya akan pulang dua bulan lagi. Menjelang lebaran, mungkin. Ya. Saya akan pergi. Ke mana? Ke perbatasan. Ke pulau terdepan negeri ini. Beruntung. Saya bisa ikut kegiatan K2N yang diadakan oleh kampus saya. Pengabdian masyarakat. Menjangkau negeri ini hingga ke pelosok. Memberikan kasih pada mereka yang merasa tidak diperhatikan. Berbagi kebahagiaan. Saya bahagia. Semoga mereka juga bahagia.
Lantas, otak saya memikirkan setelah liburan. Apa yang akan saya kerjakan? Sementara SKS saya sudah hampir habis. Dan saya masih punya dua semester lagi. Tinggal 3 mata kuliah dan skripsi. Setelah itu sudah. Apakah saya akan mengejar target lulus 3.5 tahun? Dulu iya. Saya sudah mempersiapkan lulus 3.5 tahun mulai semester 1. Tapi, sampai sini. Saya berubah pikiran.
Lulus 3.5 tahun. Takada salahnya memang. Tapi, entah mengapa. Sekarang saya merasa sayang. Terlalu cepat meninggalkan tempat belajar. Dan setelahnya belum tahu harus berbuat apa. Saya masih ingin belajar. Mungkin, semester depan saya akan mengambil banyak mata kuliah (lagi). Belajar saja. Menikmati kampus. Lulus tepat 4 tahun.
Ya. Setelah lulus. Saya akan kuliah lagi. Melanjutkan belajar. Entahlah. Saat paling menyenangkan itu ada di kelas. Mendengar dosen. Belajar banyak. Lalu, saya bisa mengamati lingkungan sekitar saya. Menambah kepekaan saya.
Paling tidak. Saya sudah menghabiskan pagi ini dengan merenung. Semoga melegakan.

Rabu, 30 Mei 2012

(lagi) tentang hujan. semoga kau takbosan.

kau takperlu takut hujan. sebab ia hanya air. yang sebentar lagi terhempas. menyatu dengan rindumu. atau mungkin tangismu.
kau takperlu membuka payung saat hujan. sebab ia hanya tetes. yang takakan membuat basah puisi-puisimu. yang malah akan membuat puisimu menyatu. dengan hatimu mungkin.
kau juga takperlu cepat-cepat berteduh ketika hujan. sebab ia hanya rindu. ingin bercumbu dengan kamu. sesederhana itu kan hujan datang? lalu mengapa kau terlalu cepat resah?

Minggu, 27 Mei 2012

Kepada Euforia

Saya ingin menyapamu kali ini. Dalam dini hari. Seperti ini. Tetiba saja pikiranku penuh. Ingin dituang. Ke mana lagi. Kalau tidak di sini.
Baru saja, saya menghabiskan sisa malam dengan bercerita kepada teman saya. Tentang apa? Tentang apa saja. Kemudian saya teringat pada banyak hal. Pada hal-hal yang kadang membuat kita harus menjadi bagian dari sesuatu. Harus masuk ke dalam komunitas tertentu. Harus diakui oleh banyak orang. Untuk apa? Saya pun tidak pernah tahu jawabannya. Mungkin, untuk hal-hal yang di bawah sadar.
Kadang, kita juga terlalu mudah untuk mengikuti sesuatu yang sedang marak. Ah, mungkin kamu tidak, saya saja. Atau ikut-ikutan meneriakkan sesuatu tanpa mengerti apa yang sedang diteriakkan. Wajar saja. Hidup memang seperti itu. Dituntut memihak atau memilih pada apa yang takpernah diketahui. Lantas, jika tidak memilih, kita akan dihakimi.
Banyak yang bilang, hidup adalah soal pilihan. Pilihan pada apa? Pada iya dan tidak? atau pada tidak dan tidak? Lagi-lagi saya tidak tahu. Apakah dengan tidak memilih kita tidak hidup? Masih hidup rasanya. Tapi, benar juga. Sebab tidak memilih pun sebuah pilihan.
Maaf. Semakin dini hari. Pikiran saya semakin ngaco.
Baiklah. Judul tulisan saya kali ini adalah "Kepada Euforia". Tentang apa? Kamu bisa menceritakannya tentang apa saja. Pilihan-pilihan itu membawa kita pada arus dan anti-arus. Tinggal pilih saja, banyak teman atau terasing. Lantas, karena pada dasarnya manusia ingin diakui keberadannya, kemudian banyak yang berbondong-bondong mengikuti arus. Berteriak-teriak seolah-olah mereka bahagia pada pilihannya. Padahal, hanya ikut-ikutan. Yah. Mungkin itulah definisi euforia menurut saya. Saya tidak tahu makna leksikalnya. Kondisi gembira yang berlebihan. Yang (sok) senang pada hal yang tidak dimengerti. Sudah saya bilang. Ini definisi menurut saya. Protes saja pada yang mencipta kata euforia.
Ya. Sebenarnya, bisa saja kamu teguh pada pilihanmu meskipun itu harus melawan arus. Atau kamu tidak harus mengikuti arus agar dianggap sebagai manusia. Bukankah layang-layang terbang tinggi karena melawan arah angin?

Selasa, 22 Mei 2012

Mencintaimu adalah Mencintai Kekuranganmu.

Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu, sementara aku takpernah bisa mencintai kekuranganmu?
Terdengar klise? Bagaimana lagi. Itulah kenyataannya. Bagiku. Mencintaimu adalah mencintai kekuranganmu. Bukan yang lain.
Aku bisa penuh mencintaimu jika aku bisa dengan tulus mencintai kekuranganmu.
Maaf. Apakah aku menyakitimu dengan ini? Sungguh. Aku minta maaf.
Aku sama sekali takbermaksud menyakitimu. Bukankah akan lebih sakit jika aku (pura-pura) mencintaimu? Bukankah lebih sakit aku mencintaimu karena kelebihanmu saja?
Maaf. Jika begitu, takadil bagimu. Kamu sudah bersedia menyediakan bahagiamu untukku. Sementara aku? Aku masih terlalu payah untuk dimiliki. Untuk kaumiliki, tepatnya!
Maaf.
Sekali lagi. Aku belum mampu membagi letihku denganmu. Mungkin, suatu saat. Aku berharap begitu.

Sabtu, 19 Mei 2012

Liberalisme dan Hal-Hal yang Membuat Ragu

Seperti yang saya duga dan saya harapkan. Workshop kali ini memang mengarah pada hal itu. Liberalisme. Takmasalah. Hanya saja, saya belum bisa menolak atau mengiyakan seluruhnya. Ada beberapa hal yang bisa saya terima. Ada beberapa hal yang saya tolak. Wajar bukan?
Kemarin. Setelah makan siang. Pembahasan sudah bukan tentang iklim lagi. Sudah mengarah pada permasalahan negara. Sudah mengarah pada hal-hal yang memang seharusnya sudah dibicarakan.
Saya memang "tersesat" masuk ke dalam workshop ini. Tapi saya bersyukur. Paling tidak. Saya mengerti sudut pandang mereka.
Dari awal workshop ini saya sudah curiga. Ya ya ya. Saya memang terbiasa membaca teks. Yang segala sesuatunya harus dicari struktur batinnya. Harus dicari makna eksplisitnya. Seperti kali ini. Saya bisa membaca ketika mereka memulai acara dengan permainan. Ada empat blok. Lalu, fasilitator memberikan pilihan berbeda di setiap blok. Peserta diberi kebebasan untuk memilih menurut hatinya. Ya. Saya tahu. Kebebasan individu yang ditekankan di situ. Lantas, kebebasan yang seperti apa? Kebebasan yang tanpa mengganggu kebebasan orang lain, kata mereka. Sampai sejauh mana? Ini masih sangat bias.
Mereka berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan dunia ini. Kaya. Miskin. Masuk UI. Tidak masuk UI. Adalah sebuah pilihan. Well, bisalah itu disebut pilihan. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang terkungkung karena sistem kapitalis. Mereka tidak bisa bergerak. Bahkan memilih untuk hidup mereka pun takbisa. Apakah mereka dengan sengaja memilih untuk menjadi tidak kaya? Atau mereka sengaja memilih tidak punya rumah? Saya rasa tidak.
Mereka takpunya pilihan yang bisa diperjuangkan. Terbentur banyak hal. Lantas mereka terperangkap dalam sistem tersebut.
Saya memang sedikit sok tahu tentang hal ini. Tapi, saya gelisah. Unsur kemanusiaan saya memberontak. Oke. Banyak hal memang. Banyak hal yang berbenturan. Bias. Dan takterjelaskan. Pertanyaan saya tidak pernah dijawab. Padahal sederhana, saya hanya menanyakan nasib orang-orang yang takpunya pilihan itu. Nasib orang-orang yang terbentur sistem. Mau diapakan mereka? Masih tetap menganggap itu pilihan mereka? Konyol!
Liberalisme membuat orang berhak menentukan pilihan hidupnya, termasuk tentang mengembangkan modal. Hal ini memunculkan persaingan bebas, yang nantinya berujung pada kapitalisme. Saya juga tidak memungkiri jika saya juga pengguna produk kapitalis. Tapi, menjadi tidak wajar ketika yang kaya menjadi semakin kaya. Yang miskin akan semakin miskin. Pemilik modal itu sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang takpunya akses. Sepertinya, bagi mereka, profit menjadi tujuan utama. Pragmatis. Praktis. Yang penting eksis. Mungkin seperti itu.
Saya juga taksuka menganut sistem sama rata sama rasa. Itu pun takadil. Orang yang bekerja keras layak mendapatkan lebih. Tapi sungguh menjadi takadil ketika menjadi takpeduli pada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.
Kata mereka lagi. Pada dasarnya, setiap orang liberal. Setiap orang sudah memilih kehidupannya masing-masing. Tapi, banyak yang tidak mengakui itu. Untuk bagian ini, saya masih takbegitu paham. Ketika diskusi di luar forum pun, saya takmendapat jawaban lugas. Paling tidak. Saya sudah mengerti jalan pikiran orang-orang liberal. Mengikuti atau tidak, itu penuh menjadi hak saya.
Lantas, apakah saya salah jika meragukan bahwa liberalisme dapat diterapkan secara utuh di negeri ini?

Jumat, 18 Mei 2012

Workshop "Freedom and the Politics of Climate Change"

Baiklah. Kali ini saya memang berdosa. Mencuri-curi waktu di tengah seminar. Tapi bagaimana lagi. Saya sudah tidak tahan untuk tidak menulis. Hanya catatan sebenarnya.
Pada awalnya, saya ikut seminar ini karena diajak teman. Hanya itu. Jujur. Saya tidak tahu bagaimana bentuk seminar. Bahkan judulnya pun saya taktahu. Parah. Iya memang.
Namun, setelah sampai di tempat, ternyata judul diskusinya adalah "Freedom and the Politics of Climate Change". Well, saya tidak tahu itu apa. Haha. Saya memang payah.
Namun, pembahasan-pembahasan berikutnya (tentu saja) tentang perubahan iklim.
Apa coba? Saya masih tidak mengerti apa yang sedang diomongkan di depan. Climate Change. Perubahan Iklim. Sama saja. Iya. Saya tahu. Iklim akan terus berubah. Seiring manusia yang juga terus berubah. Bagaimana mungkin iklim tidak berubah, sedangkan manusia saja setiap hari berubah. Letih. Dari dulu yang dipermasalahkan tetap sama. Penyebab. Dampak. Solusi yang tidak solutif. Lantas bagaimana? Dari dulu, saya juga tidak pernah merasakan bagaimana dampak pemanasan global. Setiap waktu juga sama. Panas. Terus dengan kita melakukan hal-hal yang dianjurkan panas akan berubah dingin? Saya rasa tidak. Wajar saja iklim berubah. Lalu, mengapa harus dipermasalahkan? Bosan!
Abaikanlah itu.
Hei, saya baru sadar. Judul acara ini adalah "Freedom and the Politics of Climate Change". Freedom. Kebebasan. Liberal. Saya suka kata itu. Mengapa kita tidak membahas hal itu saja? Biar ramai. Biar teriak sampai serak. Dari kemarin. Saya menunggu.
Di luar berisik. Di dalam terganggu. Lantas menegur yang di luar. Terus? Di mana liberalnya? Katanya liberal. Batasannya apa? Saya semakin pusing dengan satu kata itu. Batasan mengganggu. Batasan tidak mengganggu.
Haha
Sangat mengingat jelas. Akhir-akhir ini bahasan tentang liberalisme sedang hangat. Panas malah. Seminarnya sih tentang perubahan iklim. Tapi, saya tahu. Ada tiupan perlahan tentang paham liberal yang disisipkan dalam workshop ini. Ah, saya tadi menyebutnya seminar. Maafkanlah saya. Ini workshop yaa. Haha
Setiap kali diskusi, kami diperbolehkan memilih. Memilih pendapat. Memilih tempat. Suka-suka. Lantas, yang masih saya pertanyakan sampai sekarang adalah batasan memilih itu sampai mana? Sampai ujung dunia? Saya semakin ngaco.
Ini masih pagi. Masih hari kedua. Mudah-mudahan nanti sesi selanjutnya bahasan tentang liberalisme sudah tidak gerilya lagi. Sudah blak-blakan. Toh, katanya liberal. Bebas saja mengajukan paham. Saya juga bebas saja menerima paham baru. Bukan berarti harus masuk ke dalamnya. Ah, tidak memilih apa pun juga sebuah kebebasan, bukan?