Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Rabu, 30 Mei 2012

(lagi) tentang hujan. semoga kau takbosan.

kau takperlu takut hujan. sebab ia hanya air. yang sebentar lagi terhempas. menyatu dengan rindumu. atau mungkin tangismu.
kau takperlu membuka payung saat hujan. sebab ia hanya tetes. yang takakan membuat basah puisi-puisimu. yang malah akan membuat puisimu menyatu. dengan hatimu mungkin.
kau juga takperlu cepat-cepat berteduh ketika hujan. sebab ia hanya rindu. ingin bercumbu dengan kamu. sesederhana itu kan hujan datang? lalu mengapa kau terlalu cepat resah?

Minggu, 27 Mei 2012

Kepada Euforia

Saya ingin menyapamu kali ini. Dalam dini hari. Seperti ini. Tetiba saja pikiranku penuh. Ingin dituang. Ke mana lagi. Kalau tidak di sini.
Baru saja, saya menghabiskan sisa malam dengan bercerita kepada teman saya. Tentang apa? Tentang apa saja. Kemudian saya teringat pada banyak hal. Pada hal-hal yang kadang membuat kita harus menjadi bagian dari sesuatu. Harus masuk ke dalam komunitas tertentu. Harus diakui oleh banyak orang. Untuk apa? Saya pun tidak pernah tahu jawabannya. Mungkin, untuk hal-hal yang di bawah sadar.
Kadang, kita juga terlalu mudah untuk mengikuti sesuatu yang sedang marak. Ah, mungkin kamu tidak, saya saja. Atau ikut-ikutan meneriakkan sesuatu tanpa mengerti apa yang sedang diteriakkan. Wajar saja. Hidup memang seperti itu. Dituntut memihak atau memilih pada apa yang takpernah diketahui. Lantas, jika tidak memilih, kita akan dihakimi.
Banyak yang bilang, hidup adalah soal pilihan. Pilihan pada apa? Pada iya dan tidak? atau pada tidak dan tidak? Lagi-lagi saya tidak tahu. Apakah dengan tidak memilih kita tidak hidup? Masih hidup rasanya. Tapi, benar juga. Sebab tidak memilih pun sebuah pilihan.
Maaf. Semakin dini hari. Pikiran saya semakin ngaco.
Baiklah. Judul tulisan saya kali ini adalah "Kepada Euforia". Tentang apa? Kamu bisa menceritakannya tentang apa saja. Pilihan-pilihan itu membawa kita pada arus dan anti-arus. Tinggal pilih saja, banyak teman atau terasing. Lantas, karena pada dasarnya manusia ingin diakui keberadannya, kemudian banyak yang berbondong-bondong mengikuti arus. Berteriak-teriak seolah-olah mereka bahagia pada pilihannya. Padahal, hanya ikut-ikutan. Yah. Mungkin itulah definisi euforia menurut saya. Saya tidak tahu makna leksikalnya. Kondisi gembira yang berlebihan. Yang (sok) senang pada hal yang tidak dimengerti. Sudah saya bilang. Ini definisi menurut saya. Protes saja pada yang mencipta kata euforia.
Ya. Sebenarnya, bisa saja kamu teguh pada pilihanmu meskipun itu harus melawan arus. Atau kamu tidak harus mengikuti arus agar dianggap sebagai manusia. Bukankah layang-layang terbang tinggi karena melawan arah angin?

Selasa, 22 Mei 2012

Mencintaimu adalah Mencintai Kekuranganmu.

Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu, sementara aku takpernah bisa mencintai kekuranganmu?
Terdengar klise? Bagaimana lagi. Itulah kenyataannya. Bagiku. Mencintaimu adalah mencintai kekuranganmu. Bukan yang lain.
Aku bisa penuh mencintaimu jika aku bisa dengan tulus mencintai kekuranganmu.
Maaf. Apakah aku menyakitimu dengan ini? Sungguh. Aku minta maaf.
Aku sama sekali takbermaksud menyakitimu. Bukankah akan lebih sakit jika aku (pura-pura) mencintaimu? Bukankah lebih sakit aku mencintaimu karena kelebihanmu saja?
Maaf. Jika begitu, takadil bagimu. Kamu sudah bersedia menyediakan bahagiamu untukku. Sementara aku? Aku masih terlalu payah untuk dimiliki. Untuk kaumiliki, tepatnya!
Maaf.
Sekali lagi. Aku belum mampu membagi letihku denganmu. Mungkin, suatu saat. Aku berharap begitu.

Sabtu, 19 Mei 2012

Liberalisme dan Hal-Hal yang Membuat Ragu

Seperti yang saya duga dan saya harapkan. Workshop kali ini memang mengarah pada hal itu. Liberalisme. Takmasalah. Hanya saja, saya belum bisa menolak atau mengiyakan seluruhnya. Ada beberapa hal yang bisa saya terima. Ada beberapa hal yang saya tolak. Wajar bukan?
Kemarin. Setelah makan siang. Pembahasan sudah bukan tentang iklim lagi. Sudah mengarah pada permasalahan negara. Sudah mengarah pada hal-hal yang memang seharusnya sudah dibicarakan.
Saya memang "tersesat" masuk ke dalam workshop ini. Tapi saya bersyukur. Paling tidak. Saya mengerti sudut pandang mereka.
Dari awal workshop ini saya sudah curiga. Ya ya ya. Saya memang terbiasa membaca teks. Yang segala sesuatunya harus dicari struktur batinnya. Harus dicari makna eksplisitnya. Seperti kali ini. Saya bisa membaca ketika mereka memulai acara dengan permainan. Ada empat blok. Lalu, fasilitator memberikan pilihan berbeda di setiap blok. Peserta diberi kebebasan untuk memilih menurut hatinya. Ya. Saya tahu. Kebebasan individu yang ditekankan di situ. Lantas, kebebasan yang seperti apa? Kebebasan yang tanpa mengganggu kebebasan orang lain, kata mereka. Sampai sejauh mana? Ini masih sangat bias.
Mereka berpendapat bahwa tidak ada yang salah dengan dunia ini. Kaya. Miskin. Masuk UI. Tidak masuk UI. Adalah sebuah pilihan. Well, bisalah itu disebut pilihan. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang terkungkung karena sistem kapitalis. Mereka tidak bisa bergerak. Bahkan memilih untuk hidup mereka pun takbisa. Apakah mereka dengan sengaja memilih untuk menjadi tidak kaya? Atau mereka sengaja memilih tidak punya rumah? Saya rasa tidak.
Mereka takpunya pilihan yang bisa diperjuangkan. Terbentur banyak hal. Lantas mereka terperangkap dalam sistem tersebut.
Saya memang sedikit sok tahu tentang hal ini. Tapi, saya gelisah. Unsur kemanusiaan saya memberontak. Oke. Banyak hal memang. Banyak hal yang berbenturan. Bias. Dan takterjelaskan. Pertanyaan saya tidak pernah dijawab. Padahal sederhana, saya hanya menanyakan nasib orang-orang yang takpunya pilihan itu. Nasib orang-orang yang terbentur sistem. Mau diapakan mereka? Masih tetap menganggap itu pilihan mereka? Konyol!
Liberalisme membuat orang berhak menentukan pilihan hidupnya, termasuk tentang mengembangkan modal. Hal ini memunculkan persaingan bebas, yang nantinya berujung pada kapitalisme. Saya juga tidak memungkiri jika saya juga pengguna produk kapitalis. Tapi, menjadi tidak wajar ketika yang kaya menjadi semakin kaya. Yang miskin akan semakin miskin. Pemilik modal itu sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang takpunya akses. Sepertinya, bagi mereka, profit menjadi tujuan utama. Pragmatis. Praktis. Yang penting eksis. Mungkin seperti itu.
Saya juga taksuka menganut sistem sama rata sama rasa. Itu pun takadil. Orang yang bekerja keras layak mendapatkan lebih. Tapi sungguh menjadi takadil ketika menjadi takpeduli pada orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.
Kata mereka lagi. Pada dasarnya, setiap orang liberal. Setiap orang sudah memilih kehidupannya masing-masing. Tapi, banyak yang tidak mengakui itu. Untuk bagian ini, saya masih takbegitu paham. Ketika diskusi di luar forum pun, saya takmendapat jawaban lugas. Paling tidak. Saya sudah mengerti jalan pikiran orang-orang liberal. Mengikuti atau tidak, itu penuh menjadi hak saya.
Lantas, apakah saya salah jika meragukan bahwa liberalisme dapat diterapkan secara utuh di negeri ini?

Jumat, 18 Mei 2012

Workshop "Freedom and the Politics of Climate Change"

Baiklah. Kali ini saya memang berdosa. Mencuri-curi waktu di tengah seminar. Tapi bagaimana lagi. Saya sudah tidak tahan untuk tidak menulis. Hanya catatan sebenarnya.
Pada awalnya, saya ikut seminar ini karena diajak teman. Hanya itu. Jujur. Saya tidak tahu bagaimana bentuk seminar. Bahkan judulnya pun saya taktahu. Parah. Iya memang.
Namun, setelah sampai di tempat, ternyata judul diskusinya adalah "Freedom and the Politics of Climate Change". Well, saya tidak tahu itu apa. Haha. Saya memang payah.
Namun, pembahasan-pembahasan berikutnya (tentu saja) tentang perubahan iklim.
Apa coba? Saya masih tidak mengerti apa yang sedang diomongkan di depan. Climate Change. Perubahan Iklim. Sama saja. Iya. Saya tahu. Iklim akan terus berubah. Seiring manusia yang juga terus berubah. Bagaimana mungkin iklim tidak berubah, sedangkan manusia saja setiap hari berubah. Letih. Dari dulu yang dipermasalahkan tetap sama. Penyebab. Dampak. Solusi yang tidak solutif. Lantas bagaimana? Dari dulu, saya juga tidak pernah merasakan bagaimana dampak pemanasan global. Setiap waktu juga sama. Panas. Terus dengan kita melakukan hal-hal yang dianjurkan panas akan berubah dingin? Saya rasa tidak. Wajar saja iklim berubah. Lalu, mengapa harus dipermasalahkan? Bosan!
Abaikanlah itu.
Hei, saya baru sadar. Judul acara ini adalah "Freedom and the Politics of Climate Change". Freedom. Kebebasan. Liberal. Saya suka kata itu. Mengapa kita tidak membahas hal itu saja? Biar ramai. Biar teriak sampai serak. Dari kemarin. Saya menunggu.
Di luar berisik. Di dalam terganggu. Lantas menegur yang di luar. Terus? Di mana liberalnya? Katanya liberal. Batasannya apa? Saya semakin pusing dengan satu kata itu. Batasan mengganggu. Batasan tidak mengganggu.
Haha
Sangat mengingat jelas. Akhir-akhir ini bahasan tentang liberalisme sedang hangat. Panas malah. Seminarnya sih tentang perubahan iklim. Tapi, saya tahu. Ada tiupan perlahan tentang paham liberal yang disisipkan dalam workshop ini. Ah, saya tadi menyebutnya seminar. Maafkanlah saya. Ini workshop yaa. Haha
Setiap kali diskusi, kami diperbolehkan memilih. Memilih pendapat. Memilih tempat. Suka-suka. Lantas, yang masih saya pertanyakan sampai sekarang adalah batasan memilih itu sampai mana? Sampai ujung dunia? Saya semakin ngaco.
Ini masih pagi. Masih hari kedua. Mudah-mudahan nanti sesi selanjutnya bahasan tentang liberalisme sudah tidak gerilya lagi. Sudah blak-blakan. Toh, katanya liberal. Bebas saja mengajukan paham. Saya juga bebas saja menerima paham baru. Bukan berarti harus masuk ke dalamnya. Ah, tidak memilih apa pun juga sebuah kebebasan, bukan?

Senin, 14 Mei 2012

menanam luka

pada seikat kata aku percaya. ada kamu di sana. menungguku. dalam gelap. oh. mungkin aku yang malah menunggumu dalam senyap. aku takpernah tahu. apakah kamu. kapankah kamu.
kadang. aku terlalu haru. lupa pada hakikat. buncah pada gelisah. siapakah aku. aku (mungkin) yang tumbuh bergeliat di hatimu. rajin menanam luka. atau perih. lantas, kamu juga rajin menanam cinta.
"agar luka yang kautanam takjadi belukar," katamu suatu waktu ketika kutanya apa yang sedang kamu kerjakan.
meleleh. siapa yang takmeleleh jika terbakar terus menerus. kamu yang membakar aku. serupa lilin. yang dibakar gelap.
tapi tetap saja. aku takpernah bisa mengalah pada altar egoku. terlalu angkuh. kamu juga bilang begitu.
sudahlah. terlalu banyak aku menulis tentangmu. nanti muak. aku taktanggung jika kamu bosan. maaf.

Kamis, 10 Mei 2012

World Class University: Antara Merakyat dan Melarat.

Saya teringat. Setiap hari senin, setiap mata kuliah Kritik Sastra di gedung IV FIB UI. Kami harus berbagi LCD dengan kelas sebelah. Kami memulai kelas pada pukul 10.00, sedangkan kelas sebelah pukul 11.00. Kami sama-sama membutuhkan LCD untuk presentasi, tetapi yang ada hanya ucapan, "LCD habis. Semuanya terpakai. Kalau mau gantian."

Baiklah. Berbagi LCD. Mungkin, istilahnya terlalu romantis. Tapi, jujur ini miris. Bagaimana mungkin, kami harus memotong presentasi kami pada pukul 11.00 karena kelas sebelah harus memulai presentasinya juga. Sementara, pembahasan belum selesai.

Mau takmau. Kami pun harus merelakannya. Berbagi LCD. Meski harus mengelus dada. Enthlah. Universitas yang (katanya) berkelas internasional tidak memiliki LCD sejumlah kelas. Mungkin, kami harus merakyat. Menggunakan papan tulis dan spidol. Kembali pada zaman antahberantah.

Takhanya itu. Hampir setiap hari. Kami pun harus berbagi bangku. Lagi-lagi kami diajari untuk berbagi dengan sesama. Ya. Berbagi bangku. Lebih romantis bukan kedengarannya?

Setiap pagi. Ada saja pemindahan bangku dari satu kelas ke kelas yang lain. Bangku diseret-seret. Diangkat-angkat. Mengganggu! Kelas takpunya bangku sejumlah mahasiswanya. Parahnya, berbagi bangku ini terjadi antarlantai. Mahasiswa harus naik atau turun untuk mengambil bangku di kelas yang kosong.

Baiklah. Masih beruntung bisa kebagian. Yang datang terlalu telat dapat dipastikan akan duduk lesehan. Atau tidak perlu masuk kelas karena tidak ada bangku.

Suatu saat, kami harus terheran-heran kembali. Pasalnya, bangku yang ada adalah bangku seminar (tanpa ada meja). Well, ini lucu. Kami tidak boleh menulis karena tidak ada sandaran untuk menulis. Terpaksa lagi. Kami harus menerima keadaan itu dengan lapang dada.

Itu masih belum seberapa. Hari Rabu, 9 Mei 2012, kami harus kuliah di ruang 4309. Kelas kosong. Hanya ada papan tulis, meja dan kursi dosen, serta meja LCD. Taksatu pun bangku untuk mahasiswa di sana. Kami harus lesehan. Duduk di bawah. Seperti akan pengajian. Bangku di gedung itu sudah terpakai semuanya. Tidak mungkin kami mengambil bangku di gedung lainnya.



Lantas, bagaimana dengan gembar-gembor World Class University? Ataukah kami harus diajari merakyat agar takketahuan kalau melarat? Entah. Berbagi LCD dan berbagi bangku. Miris. Lalu, berbagi apa lagi nanti? Mungkin berbagi kelas. Sebab mahasiswa yang diterima melebihi kuota.

Rabu, 02 Mei 2012

jatuh cinta

waktu memang terlalu cepat membawa kita pada hal lain. termasuk jatuh cinta. siapa sangka. aku bisa jatuh cinta padamu. setelah banyak waktu yang kita habiskan bersama.

Selasa, 24 April 2012

Ponsel Saya Hilang

Seperti biasanya. Saya terlalu biasa untuk menerima hal senang maupun sedih. Bagi saya sama saja. Sama-sama dari Tuhan yang patut disyukuri. Sore tadi. Sehabis kelas Wacana, saya (dengan sangat tidak sengaja) meninggalkan ponsel saya di laci kelas Wacana. Keluar gedung menuju perpustakaan. Dan saya baru tersadar jika ponsel saya tidak ada di dalam tas. Saya yakin. Ponsel saya ketinggalan di laci itu. Dengan segera saya kembali ke kelas.
Baiklah. Mungkin ceritanya mudah ditebak. Ponsel saya sudah tidak ada lagi di laci meja saya. Teman saya mencoba menelepon ponsel saya. Mati.
"Kok lo nyantai gitu sih handphone lo ilang?" teman saya--yang daritadi menemani saya--mungkin heran.
"Ya. Mau gimana lagi. Kalau jodoh pasti akan balik lagi. Kalau gak jodoh berarti ya bakal dapat ganti yang lebih baik." saya menjawab enteng sambil tertawa.
Dia terdiam. Membenarkan. Ya. Saya selalu percaya pada Tuhan. Yang akan mengganti hal-hal yang diambil-Nya dengan hal yang lebih baik.
Sesampainya di rumah, saya menelepon Mama saya. Seperti biasanya juga, Mama saya juga biasa saja. Sangat biasa. Malah melarang saya untuk menanyakan ke OB besok.
"Kamu kurang memberi kali!" Pas! Saya sudah menduga itu yang akan dibilang oleh Mama saya.
Iya. Mungkin saya memang sangat kurang memberi. Memberi ke siapa pun. Memberi apa pun. Termasuk ke Tuhan. Saya tahu.
Jujur saja. Ini kehilangan barang yang sedikit istimewa untuk pertama kalinya. Saya termasuk orang yang teliti. Sangat malah. Rapi menyimpan barang-barang saya. Apa pun. Tapi entah kali ini. Mungkin memang waktunya hilang. Sudahlah. Tidak apa-apa. Akan ada ganti yang lebih baik.
Kenapa saya harus mempertanyakan alasan ponsel hilang, sementara saya takpernah bertanya alasan segala kebahagiaan yang diberikan Tuhan pada saya. Cukup adil bukan? Semoga saja.

Senin, 23 April 2012

April Hampir Habis. Dan Aku Baru Saja Menulis.

Ini benar-benar April hampir habis. Dan aku belum menulis sama sekali. Tentang apa pun. Terlebih tentang kamu. Maaf. Aku salah fokus. Seperti bulan-bulan yang lalu. Banyak hal yang terjadi. Menyenangkan. Mengharukan. Menyedihkan. Bagiku. Itu sama saja. Sama-sama membahagiakan. Takkurang apa pun. Sudah kukatakan bukan? Konsep bahagia bagiku terlalu sederhana. Bahkan hanya bisa bangun pagi lalu melakukan hal-hal rutin, bagiku itu juga bahagia. Bulan April ini. Tuhan memang sedang sangat-sangat baik padaku. Sudah kuceritakan padamu juga kan? Jika aku taklolos seleksi Mahasiswa Berprestasi, bahkan masih di tingkat Jurusan. Perasaanku biasa saja. Dan masih tetap berpikir akan ada ganti yang jauh lebih baik. Entah kapan. Ternyata. Apa yang teryakini. Itu jugalah yang terjadi. Aku memang taklolos seleksi Mapres Utama, tapi aku tetap menjadi Mahasiswa Berprestasi di Bidang Akademik. Takmenyangka. Indeks Prestasi Komulatif-ku menempati angka tertinggi di seluruh mahasiswa program studiku. Namaku terpanggil. Menerima penghargaan dan bantuan membayar Biaya Operasional Pendidikan--yang bagiku mahal itu. Terima kasih Tuhan. Mungkin, jika boleh kumenyebutnya, ini kado dari Tuhan untuk tanggal lahirku. Baiklah. Aku memang selalu percaya kebaikan-kebaikan sederhana yang kulakukan untuk orang lain akan berdampak besar padaku. Di saat yang tepat. Mungkin kamu taktahu atau takingat. Jika tanggal 17 April kemarin aku berkurang umur. Entah. Berapa sisa umurku sekarang. Ya. Takperlu ucapan memang. Tapi aku bahagia ketika malaikat-malaikat kecil takbersayap yang serumah denganku menyiapkan kejutan tengah malam. Aku dibangunkan tepat pukul 00.00, mereka membawa kue tart cokelat yang lezat dengan angka lilin 99. Aku tertawa saja. Terima kasih. Sempat kami berdoa bersama. Bersenda gurau. Kata mereka, usiaku sudah mencapai 99 tahun. Iya. Tandanya aku harus sesegera mengingat kematian. Jika dihitung oleh kalkulator manusia, usiaku baru mencapai 21 tahun. Usia ranum. Jujur saja. Tanggal 17 kali ini, aku takbanyak berharap mendapat ucapan selamat. Sebab aku tahu. Ini takpanjang. Takabadi. Tapi, aku tetap berterima kasih pada mereka yang sudah bersusah payah mengingat tanggal itu tanpa bantuan jejaring sosial. Lalu, adikku satu-satunya. Dia mengirimiku ucapan "Selamat Ulang Tahun" berbelas-belas kali di kotak masukku. Mungkin, itu caranya menyayangiku. Aku juga sangat menyayanginya. Sangat. Orang-orang terdekatku memang takpernah melupakan tanggal itu. Kedua orang tuaku. Tanteku. Dan kedua adik sepupuku. Aku menyayangi mereka. Sangat. Ketika berangkat ke kampus pun, aku bebas saja. Takada beban. Namun, lagi-lagi. Membuatku terharu. Teman baikku membawakan kue tart mungil yang cantik. Mengucapkan selamat ulang tahun dengan caranya. Aku hampir menangis. Terima kasih sekali lagi. Bahkan, sampai hari ini aku masih mendapat ucapan selamat ulang tahun dan kado. Padahal, aku takmemiliki situs jejaring sosial yang beraplikasi pengingat ulang tahun itu. Terima kasih. Sudah mengingat hari itu untukku. Satu lagi. Kado dari Tuhan yang takpernah berakhir. Aku lolos hingga tahap esai untuk Peneliti Muda Good Governace MWA UI Unsur Mahasiswa. Besok petang akan wawancara. Semoga Tuhan takbosan baik kepadaku. Satu hal yang belum tertuliskan pada April ini: kamu! Semoga kamu juga baik-baik saja.

Jumat, 30 Maret 2012

Bahagia itu sederhana. Seperti kemarin.

Entahlah. Definisi bahagia bagi saya memang terlalu mudah. Menjalani sepanjang hari dengan berjalan-jalan juga membahagiakan. Seharian kemarin saya tersenyum. Hal-hal sederhana memang biasanya membuat saya sangat bersyukur pada Tuhan. Saya masih bisa menikmatinya. Hingga sekarang.

Pagi-pagi. Saya membaca pesan singkat dari teman saya bahwa kuliah Sastra Bandingan ditiadakan. Hari itu hanya satu mata kuliah. Otomatis. Kemarin saya sedikit terbebas dari kuliah yang penuh tuntutan. Saya juga sengaja menolak tawaran mengajar. Alasan saya ada seminar, padahal saya akan hadir di diskusi film. Sudahlah. Berbohong demi kebahagiaan. Sepertinya Tuhan mengerti.

Berangkat ke kampus. Memakai baju ungu. Menyenangkan. Saya akan ke perpustakaan hari ini. Menonton film. Mengerjakan tugas. Lalu mengikuti diskusi filmnya.

Sengaja saya tidak menunggu bus untuk sampai ke perpustakaan. Meminjam sepeda. Menaikinya. Bersepeda selalu menyenangkan. Ya. Mengingatkan pada masa kecil. Takada rasa takut. Takbanyak pertimbangan. Seperti sekarang. Panas. Tapi, takmembuat bersepeda menjadi tidak menyenangkan. Angin masih bertiup. Untunglah, sedikit mendung. Saya memang suka bersepeda atau berjalan kaki. Bebas polusi. Bebas dikejar waktu.

Sesampainya di perpustakaan. Saya langsung masuk ke sinema. Filmnya sudah hampir mulai. Oh iya, saya menonton film “Dilema”. Film yang diproduseri oleh Wulan Guritno. Sangat menarik. Film ini gabungan dari lima film pendek. Yang disutradrai oleh empat orang berbakat. Yang memiliki cerita masing-masing, tetapi tetiba memiliki benang merah. Ada kritik sosial tentang negeri ini. Ada penggambaran hubungan antara ayah dan anak di setiap scene. Garis Keras, The Officer, The Gamblers, Big Boss, dan Rendesvouz. Judul tiap-tiap scene. Menjadi satu kesatuan. Bergerak. Seperti kenangan. Terpisah-pisah. Tapi menyatu. Nanti. Jika ada waktu saya akan menulis resensinya.

Setelah menonton film, saya naik ke lantai tiga. Mengerjakan tugas. Baru kali ini saya mengerjakan tugas yang bahannya berbahasa Inggris dengan senang hati. Entahlah. Mungkin perasaan masih terbawa.

Minum segelas jus jeruk yang berwarna oranye juga menjadi hal yang menyenangkan. Sederhana saja.

Pukul lima. Saya harus ke lantai enam. Diskusi film hampir dimulai. Kembali menyenangkan. Wulan Guritno, empat sutradaranya, dan Ario Bayu hadir sebagai pembicara di diskusi itu. Ario Bayu. Iya. Dia salah satu pemain dalam scene The Officer. Sebagai Brigadir Aryo. Ah, sudah lama saya kagum dengan kemampuan akting dia. Selalu dingin. Dingin yang menghangatkan.

Kebahagiaan itu sepertinya memang datang beruntun. Saya berhasil memenangkan kuis yang diadakan panitia. Mendapat bingkisan. Yang menyerahkan Ario Bayu. Bersalaman. Foto bersama. Hampir berciuman. Oh. Yang ini lupakan. Saya hanya bercanda. Haha

Di luar hujan. Semakin petang. Saya harus pulang sendirian. Iya. Takapa. Sudah biasa. Ada rerintik. Yang semakin membawa pada dejavu. Pada rindu. Terima kasih. Kemarin sangat menyenangkan. Bolehlah nanti. Saya mengajakmu serta dalam bahagia versi saya.

Bahagia itu sederhana. Sesederhana hujan. Yang takpernah memilih tempat untuk jatuh. Seperti kemarin.

Sabtu, 24 Maret 2012

Intinya, Saya Rindu!

Sepertinya sudah sangat lama, saya tidak menjenguk rumah ini. Sudah banyak sarang laba-laba di sana-sini. Berdebu. Kotor. Tapi mungkin cukup disapu atau dipel. Sedikit saja. Sebab, saya takmeninggalkan rumah ini terlampau lama. Lama tapi takterlalu.
Entahlah. Tetiba saja saya kangen bercerita di sini. Padahal takada yang sedang ingin saya ceritakan. Saya ingin menulis. Itu saja. Saya juga sudah lama tidak menulis puisi. Sekadar membimbang dalam tulisan pun tidak. Saya tidak tahu. Apa yang saya lakukan akhir-akhir ini. Gempuran tugas. Makalah. Presentasi. Menjadi satu kesatuan yang menjelma monster. Merampas separo lebih waktu saya. Ditambah jadwal mengajar yang lama-lama tidak manusiawi. Saya rindu. Kangen. Menulis puisi.
Paling tidak, menulis puisi adalah cara sederhana untuk bercerita. Sesingkat waktu. Sependek usia. Takperlu berpanjang lebar.
Ah, saya ingat. Kemarin libur panjang. Saya tidak pulang, ke Bandung ataupun ke Jombang. Sama sekali. Hanya berdiam diri dan bercinta dengan tugas. Lama-lama memuakkan. Tapi, bagaimana lagi. Sudahlah. Nikmati saja.
Jika saya sedang bosan dengan tugas saya, menulis hal takpenting seperti ini yang saya lakukan. Sekadar membunuh jenuh. Meminta waktu berlama-lama. Entahlah. Akhir-akhir ini saya lebih sering rindu rumah. Rindu pulang. Menurut saya, rumah itu manis. Ada banyak kenangan di dalamnya.
Tadi, saya mengatakan sedang rindu pada puisi. Sekarang, saya benar-benar rindu pulang. Intinya, saya rindu. Pada apa? Pada siapa? Pada setiap hal yang membuat rasa hangat. Tertawa. Bercerita. Banyak hal. Pada setiap orang yang pernah mengajari saya mengeja nama. Rindu. Ingin bertemu.

Sabtu, 17 Maret 2012

Ada Banyak Cerita pada Malam. Yang Takterlihat saat Terang

Saya selalu senang melakukan perjalanan pada malam hari. Ada banyak hal yang takterlihat pada siang hari akan tampak pada malam hari. Ah, ini bukan cerita seram.
"Kamu kalau pulang jangan malam-malam!" nasihat Oma saya setiap kali saya akan pulang ke Bandung. Saya diam. Tidak menolak ataupun mengiyakan. Masalahnya, hari terakhir sebelum akhir pekan yang panjang, urusan saya di kota ini baru selesai menjelang senja. Saya hanya bisa naik bus dari terminal pukul enam. Itu mungkin bus yang terakhir.
Kemarin, akhirnya saya pun pulang. Setelah melalui perdebatan panjang dalam diri saya. Antara urusan di kota ini yang takpernah selesai atau meluangkan sedikit waktu untuk bisa memeluk Oma, Tante, Om, dan dua adik sepupu saya. Untunglah, saya memilih pilihan yang kedua.
Perjalanan yang menyenangkan meskipun terlalu dingin. Saya suka duduk di samping jendela. Menatap keluar. Tidak memasang headset. Membaca buku. Melihat pengamen-pengamen kecil di lampu merah-kuning-hijau. Menatap nanar pada kakek atau nenek yang masih belum istirahat di usianya yang senja.
Melihat mereka. Mengingat negeri ini. Banyak protes di sana sini. Menolak kebijakan itu ini. Miris.
Banyak ketimpangan. Sang pemilik modal tetaplah pada posisinya yang aman. Sang proletar juga harus tetap menerima nasibnya. Lantas, bagaimana dengan kelas menengah? Kelas setengah-setengah. Yang takbisa dianggap pemilik modal juga takpantas dianggap proletar? Saya kira, kelas menengah akan terombang-ambing. Mencoba dengan keras meraih "gaya hidup" yang di atas sebab takmau dicap kelas bawah. Dilematis.
Perjalanan malam selalu mengingatkan saya pada hal-hal yang takterduga. Seperti kali ini, saya teringat pada Marx yang membagi dunia atas dua kelas: borjuis dan proletar. Sementara kelompok menengah yang sulit teridentifikasi takpernah dipikirkan oleh Marx.
Ada kesenjangan di sini. Saya selalu kasihan pada orang-orang yang di pinggir jalan itu, pada sopir angkot, pedagang asongan, mungkin juga pada makelar penumpang. Bagaimana jika mereka tak mendapatkan cukup uang untuk mencukupi kebutuhan anak istri mereka di rumah.
Kadang, di tengah keterbatasan mereka, masih ada senyum yang tulus. Ya. Bahagia memang sederhana. Kemarin, saya sempat melihat sepasang kakek nenek yang bergandengan di trotoar. Berjalan. Berdua saja. Saling menopang tubuh ringkih masing-masing. Membuat iri. Termasuk saya. Mereka bahagia. Bahkan dengan cara yang sangat sederhana.
Setiap kali ke Bandung, saya tidak pernah absen pergi ke pusat perbelanjaan. Sekadar jalan-jalan atau memang ada urusan. Jujur saja, saya tidak begitu tertarik pergi ke arena modern ini. Hanya saja, saya menikmati kebersamaan saya dengan tante dan kedua adik [sepupu] saya. Saya bisa ngobrol atau sekadar menggandeng tangan mereka. Itu hal yang takbisa ditukar dengan apa pun. Termasuk kemewahan yang ada di pusat perbelanjaan. Setiap kali tante saya memilih dan memilah produk, saya hanya menungguinya. Mengajak ngobrol tante atau duduk jika memungkinkan. Melihat-lihat pengunjung lain. Mencatat apa pun yang dapat disimpan.
Banyak yang datang dan pergi di setiap gerai. Masing-masing membawa gayanya. Setiap orang berusaha berpenampilan sangat menarik--paling tidak menurut dia.
Mungkin, mereka termasuk kelas menengah. Yang takpernah mau disebut ketinggalan zamam. Sepertinya, gadget terbaru selalu ada dalam genggaman mereka. Berjalan tanpa mendongak karena (mungkin) sibuk membuat livetweet tentang perjalanannya ke mall. Atau sedang check-ini di foursquare.
Entahlah. Itu hanya sekilas pemikiran liar saya. Boleh setuju boleh tidak.
Sudah saya bilang. Perjalanan malam selalu membuat saya semakin meracau. Melamun ke mana-mana.

Warna: Identitas Budaya Populer

Warna. Warna-warni. Setiap yang oranye, paling tidak, harus berpasangan dengan yang serupa oranye. Senada, katanya. Tak bolehkah yang oranye berpasangan dengan yang hijau atau biru?
Kalau itu takboleh, betapa kasihan si warna. Oranye hanya bersama (serupa) oranye!
Paling tidak, itulah yang saya lihat di pusat perbelanjaan hari ini. Tas warna oranye dipadupadankan dengan sepatu dan dompet oranye. Begitu halnya dengan warna merah, biru, ungu, dan lainnya.
Kemudian, tante saya ribut. Dia ingin membeli tas oranye tersebut, namun bingung harus dipasangkan dengan baju warna apa. Masalahnya, dia hanya punya sedikit baju yang bernada oranye. Pada akhirnya, tas tersebut tak jadi terbeli. Hanya karena taktahu harus memakai baju apa.
Entahlah. Hal-hal seperti ini siapa yang mengonstruksikan. Siapa yang memulai.
Jika menanyakan hal ini, nantinya, akan sama dengan permainan telur dan ayam. Siapa yang duluan? Takada yang mengaku!
Pusat perbelanjaan tidak akan mengonstruksikan pola dan warna senada untuk setiap produk yang mereka tawarkan jika takada konsumen yang meminta. Sementara itu, pola pikir konsumen juga tidak akan terbentuk jika takada pola dari produsen. Masalah ini sederhana. Hanya saja, banyak yang enggan peduli.
Masalah warna dalam berpenampilan. Ya itu saja. Dari sini. dapat terlihat adanya konstruksi sosial yang lekat. Streotip masyarakat yang kuat bahwa yang tidak senada akan terasing!
Pada dasarnya, manusia membutuhkan komunitas untuk mengakui keberadaannya. Menjadi bagian dari kerumunan. Akan merasa termarginalisasi jika tidak mengikuti perkembangan zaman. Boleh juga disebut sebagai budaya populer untuk fenomena semacam ini. Dalam budaya populer, penyeragaman cita rasa pada masyarakat itu menjadi unsur yang penting.
Warna dalam penampilan pun dapat menjadi identitas seseorang. Ada semacam peraturan taktertulis dalam diri setiap penikmat warna. Keberpikiran seperti ini takelak dimanfaatkan dengan sangat baik oleh pemilik modal. Produk diciptakan dengan asas keterserasian. Belum afdol jika memakai tas warna ungu tanpa sepatu warna ungu juga. Mungkin itu paradigma yang digembar-gemborkan secara diam-diam dan menyelinap. Display pada manekin dan etalase toko semakin menguatkan ideologi itu. Masyarakat berebut di depan kasir untuk memuaskan keinginan yang sebenarnya takpernah cukup. Merasa sangat puas jika bisa membeli tas dan sepatu yang sepaket dengan harga selangit. Kemudian dengan bangga memakainya ketika bertemu dengan orang lain. Dengan begitu, mereka dapat dianggap bagian dari sebuah komunitas yang takdisadari: budaya populer.
Warna adalah konsep. Realitasnya berupa ungu, hijau, oranye, dan sebagainya. Klasifikasi warna yang mengatur adalah manusia menurut budaya masing-masing. Lantas, mengapa masih meributkan warna yang taksenada dalam sebuah penampilan? Padahal, boleh saja kau memakai warna sesukamu di satu waktu! Bukan berarti kau bukan bagian dari komunitas.

Senin, 12 Maret 2012

Beberapa Cerita tentang Bahasa Kita

Sepagian tadi, saya kembali diingatkan oleh dosen saya beberapa istilah atau peribahasa dalam bahasa Indonesia yang memiliki "sejarah" atau "muatan budaya". Sebelum menguap, saya mencoba menuliskannya di sini. Kamu boleh menyebarluaskannya, asalkan masih ada nama saya. Hehe.

1. Alah Bisa karena Biasa

Peribahasa ini bermakna leksikal 'kalah bisa (racun) karena biasa'. Kata alah berasal dari bahasa Melayu Klasik yang berarti juga 'kalah', sedangkan bisa bermakna 'racun'. Mungkin, sebagian orang menganggap bahwa kata bisa di sini bersinonim dengan kata dapat. Yang pasti, peribahasa ini mengisyaratkan bahwa bisa itu dapat kalah dengan kebiasaan. Jika tubuh setiap hari memakan sedikit racun, kelak, tubuh akan membentuk sistem kekebalannya sendiri. Ya. Kalah bisa karena biasa! Tidak berlebihan memang.

2. Mata Keranjang

Istilah ini sering terdengar ketika ada seseorang yang hobinya menggoda lawan jenis. Pada dasarnya, istilah ini berasal dari frase dari mata ke ranjang. Yang maksudnya, seseorang melihat orang lain dengan pikiran menuju ke ranjang, bukan keranjang yang dapat menampung semuanya.

3. Hidung Belang

Istilah ini sering digunakan untuk menyebut lelaki yang "nakal" atau suka gonta-ganti pasangan. Istilah ini muncul ketika zaman penjajahan ada seorang sersan yang jatuh cinta pada puteri jenderalnya. Suatu saat, sersan tersebut kepergok sedang bercinta dengan puteri tersebut. Singkatnya, sersan dihukum di tengah lapangan banteng dengan hidung dicat hitam belang-belang, sedangkan sang puteri tidak dihukum karena dia anak jenderal. Julukan ini tetap berlaku sampai sekarang. Perempuan tidak ada yang mendapat julukan ini. Agak sedikit bias gender sih. haha

4. Dirgahayu

Ini makna katanya 'semoga panjang umur'. Ada banyak yang salah, termasuk saya. Pada awalnya, saya mengira kata ini bermakna 'selamat ulang tahun'. haha. #ngaco

5. Antara Wanita dan Perempuan

Dua kata ini seringkali mengalami pergeseran makna, kadang yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Namun, penutur bahasa Indonesia dapat memilih, ingin menggunakan kata wanita atau perempuan. Kata wanita berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Vanita yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi fun yang artinya senang-senang. Sementara itu, kata perempuan berasal dari kata empu yang berarti yang memiliki. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa wanita juga berasal dari kata wani ditoto (dalam bahasa Jawa) yang artinya berani ditata.

Begitulah. Sekelumit cerita tentang bahasa kita. Boleh percaya boleh tidak. Sebab ini semacam tradisi lisan yang turun temurun. Namun, bahasa acapkali dipengaruhi oleh budaya dan alam yang membentuknya, termasuk peribahasa dan istilah yang digunakan. Segala sesuatu yang ada di bumi ini tidak turun dari langit, termasuk bahasa.

I Wanna Learn Indonesian atau I Wanna Learn Bahasa?

Ah, mungkin topik ini sudah terlalu basi. Namun, saya baru saja tersadar akan hal ini ketika membaca artikel singkat dari Anton M. Moeliono beberapa jam yang lalu.
Seringkali, penutur bahasa Indonesia dalam berbahasa Inggris mengucapkan I'll speak in Bahasa atau I wanna learn Bahasa. Kalimat ini juga diucapkan oleh dosen MPK Bahasa Inggris saya.
Dulu, jujur, saya tidak mengerti mengapa banyak orang menggunakan kata bahasa untuk mengganti kata, yang seharusnya, Indonesian. Dalam hal ini, saya benar-benar tidak mengerti (dalam arti yang sebenarnya) konsep pemakaian kata bahasa dalam bahasa Inggris.
Hal ini dapat ditelusuri pemakaian katanya. Seperti yang saya rangkum (semoga tepat) dari tulisan Anton M. Moeliono bahwa ada kesejarahan yang bisa dirunut dalam penggunaan kata bahasa Indonesia. Pada mulanya, orang Belanda di Tanah Air seringkali menggunakan istilah bahasa Indonesia dalam pemakaian bahasa Belanda. Pada mulanya, orang Belanda menyebut het maleis untuk bahasa Melayu--yang menjadi induk bahasa Indonesia. Setelah itu, muncul bentuk de bahasa atau de bahasa Indonesia sebagai bentuk kompromi atau (mungkin) analogi dalam kalimat berbahasa Belanda.
Kebiasaan menggunakan de bahasa ini menjalar ke beberapa penggunaan bahasa asing lainnya meskipun alasannya berbeda dengan kalangan Belanda. Istilah ini kemudian ditiru secara terus menerus hingga menjadi kaprah. Sebagai contoh sederhana, orang Inggris akan mengatakan "I'm going to learn French, German, Dutch, and Japanese"
Dan, mereka tidak akan mengatakan, "I'm going to learn le francais, das Deutsche, het nederlands, and Nihon-go," padahal, nama itu lazim digunakan dalam bahasanya masing-masing.
Tanpa kita sadari, penutur bahasa Indonesia, juga tidak akan mengatakan, "Saya besok akan belajar English dan le francais!" kecuali dia adalah Cinta Laura. haha
Masih menurut Moeliono, bangga berbahasa Indonesia itu memperlakukan bahasa Indonesia sewajarnya seperti bahasa lain dan tidak (sok) menganggap kata bahasa tidak dapat diterjemahkan. Bentuk I wanna learn bahasa akan menjadi wajar dan lazim jika bentuk I wanna learn le francais sama rapinya dengan I wanna learn French--dalam bahasa bakunya.

Artikel itu sederhana, namun mencerahkan. Kesalahkaprahan memang kerapkali terjadi di negeri ini, terutama dalam hal bahasanya. Tulisan tersebut pemikiran Anton M. Moeliono yang saya rangkum dengan kalimat saya. Jika dipikir, logika yang digunakan Moeliono memang benar. Takselamanya yang sering digunakan orang itu benar. Seringkali, penutur bahasa hanya menggunakan tanpa curiga pada sejarahnya. Ya. Takada salahnya menggunakan kalimat, "I'm going to learn Indonesian!" atau "Io studio l'Indonesiano!"

Minggu, 26 Februari 2012

Merajut Perih

Kadang memang, sepertinya hidup takpernah adil. Kamu yang sudah berjuang mati-matian mendapatkan sesuatu, temanmu dengan mudah mendapatkannya. Sementara kamu? Kamu tetap pada perjuanganmu. Tanpa hasil. Paling tidak, itulah yang kamu pikirkan.

Kadang, kamu merasa berhak mendapatkan sesuatu, tapi ternyata tidak. Kamu sama sekali tidak pernah mendapatkan itu.

Remah-remah perih memang selalu ada. Terjadi begitu saja. Menyusun. Menjadi sekumpulan sayatan luka. Dan mungkin kamu pikir itu akan menjadi borok.

Kamu berpikir begitu? Tolong, jawablah tidak.

Remah perih itu akan jadi luka yang menguatkan. Yang akan tumbuh menjadi kulit yang lebih kuat. Kamu ingat cerita tentang adonan roti bukan? Atau cerita tentang rajutan benang?

Telur mentah. Tepung terigu. cokelat mentah. gula pasir. baking powder.

paling tidak, itulah bahan dasar roti. coba cicipi satu satu. macam-macam bukan rasanya? pahit. hambar. manis. getir.

Begitulah. Kehidupanmu sekarang. Kamu hanya butuh bersabar untuk mencampur keperihanmu itu menjadi "kue" yang lezat. Menjadi "kue" yang membuat rindu lidah.

Atau, coba kamu perhatikan rajutan benang dari bagian bawah. Berantakan dan terlalu ruwet, bukan?

Karena kamu memandangnya dari sudut pandang bawah. Tuhan yang tahu. Sebab Tuhan melihat kehidupanmu dari atas. Keruwetan itu akan membentuk rajutan indah di atas kain. Itulah. Rajutan Tuhan untukmu.

Sekarang kamu mengerti betapa hidup ini indah pada waktu-Nya. Tuhanmu akan tetap menjawab doa-doamu. Bukankah dia sudah menjanjikan hal itu?

Percayalah. Kehidupan ini sangat adil dengan cara-Nya.

*Note to my self

Senin, 20 Februari 2012

Bahagia

ada banyak hal yang membuat saya
bahagia. termasuk mencium bau rumput yang baru saja dipotong. wangi sisa hujan. air di pucuk daun. tawa bayi. pulang malam. berjalan di depan kandang rusa. bermain hujan. atau sekadar duduk di peron
stasiun. ya. sesederhana itu.
saya bahagia. melihat kakek dan nenek di samping rumah. setiap sore bercengkerama di depan warung kecil milik mereka. meladeni anak-anak yang membeli pop ice. menutup warungnya sebelum larut. membukanya sebelum ada matahari. ada senyum di wajah mereka. mereka bahagia. ya. sesederhana itu.
bahagia takperlu pengakuan. cukup
perasaan. bersyukur. terima kasih pada Tuhan. yang telah menciptakan segala sesuatunya memiliki
harmoni. terima kasih. saya bahagia. dengan hal-hal sederhana yang saya miliki.

Rabu, 15 Februari 2012

Rutinitas

Kembali ke rutinitas itu selalu mampu membuat saya tertegun. Kembali belajar hidup. Seorang diri.
Ada banyak hal. Awalnya memang selalu merasa jetlag. Merasa memulai sesuatu dari awal lagi setelah berminggu-minggu hidup di istana (baca: rumah). Rumah takpernah mengizinkan saya melihat sekitar. Pagar yang menjulang. Dan gembok yang terkunci rapat. Sangat melindungi saya dari dunia luar. Boleh dikatakan mengisolasi.
Sekarang tidak. Saya harus berpanas-panas lagi. Mengejar angkutan umum. Antri di terminal.
Sekarang pukul enam sore. Hampir magrib. Terminal penuh. Macet. Bahkan, di kota ini perjuangan dimulai dari titik awal perjalanan. Saya hanya menghela napas. berharap ini akan baik-baik saja sampai tujuan.
Ada banyak pengamen.
Penjaja makanan.
Penjaja es teh manis dalam plastik.
Penjaja permen.
(bahkan) mungkin penjaja tubuh.
Saya selalu kasihan melihat mereka. Ada rasa haru yang luar biasa pada orang-orang itu.
Seorang anak kecil. Mungkin masih 8 tahun. Terseok-seok membawa botol-botol minuman untuk dijual. berkeringat. sangat.
Mbak pengamen. Ada banyak tato dan pearching di tubuhnya. Suaranya cempreng. Tapi masih nekad mengamen.
Ah, betapa kadang hidup ini terlihat tidak adil. Mereka mencari koin untuk makan, sedangkan orang-orang yang ada Senayan itu dengan ganasnya menghabiskan koin--yang sebenarnya--milik mereka. Sudahlah, saya semakin ngelantur.
Rutinitas ini selalu mampu membuat saya merasa. Ada banyak hal yang terjadi. Yang rutin terjadi--meski dengan cerita dan pemeran yang berbeda.

Senin, 13 Februari 2012

hampir tujuh tahun

sesekali bolehlah saya tidak menggunakan huruf kapital di awal kalimat. ini sekali saja. saya janji.
saya sudah kembali ke rutinitas. diajar dan mengajar. dipimpin dan memimpin. semuanya kembali pada semangat baru.
sore tadi gerimis. ketika saya baru berangkat ke tempat ngajar. saya berjalan terus. tanpa berniat membawa payung. seperti biasanya. saya juga taktakut make-up di wajah saya luntur. sebab saya takpernah memoles wajah saya dengan sapuan warna-warni. cukup pelembap dan lipgloss tipis. itu sudah lebih dari cukup.
di jalanan itu, tetiba saya teringat kamu. teman di sekolah menengah pertama dan atas. teman seorganisasi intrasekolah. kamu wakilnya, saya sekretarisnya. seringkali kita menghabiskan waktu berdua, atau bertiga dengan adik saya. berenang. memasak. atau apa pun hal menyenangkan lainnya.
dari kamu pula saya belajar sabar dan toleransi. menghargai kekurangan dan kelebihan orang lain. banyak hal. saya kenal baik dengan orang tuamu. kamu pun kenal baik dengan orang tua saya.
ah, kita sama-sama perempuan yang sedikit maskulin. kamu suka lihat pertandingan sepak bola. saya suka main bola. entahlah. mungkin itu yang membuat kita akrab.
hal yang paling saya senangi ketika kita berada di kolam renang. beratapkan langit. kadang muncul pelangi di sana. kita suka memandangi langit itu lama-lama. hingga taksadar baju renang kita sudah hampir mengering.
lantas kita tertawa.
"yuk, bikin janji." kamu memecah keheningan di antara kita. saya mendelik. bingung.
"tentang?"
"tentang laki-laki. kita berjanji. tidak akan menerima cinta laki-laki sebelum kita meraih mimpi tertinggi kita masing-masing." kamu mengucapkan kalimat itu dengan lancar. saya menanggapinya dengan antusias. mengangguk dengan cepat.
kelingking kita tertaut. saya tahu, ketika itu, kamu punya mimpi sebesar saya. bahkan mungkin lebih besar.
janji itu hampir tujuh tahun yang lalu. ketika kita sedang berada di tingkat dua sekolah menengah pertama.
kamu tahu? saya masih memegang janji itu. taktergoda untuk mengingkarinya. meski saya tahu. di tahun yang kedua, kamu sudah mulai menerima cinta laki-laki. mengakuinya sebagai kekasihmu.
saya bergeming. tetap dengan pendirian ini. mimpi tertinggi saya belum tercapai. ini terdengar naif dan tolol memang. tapi biarlah. saya tidak pernah diajarkan untuk mengingkari janji yang telah saya buat.
saya tak marah padamu. sama sekali tidak. tapi saya tahu. kamu menjauh dari saya ketika kamu punya kekasih yang pertama. entahlah. apa yang ada di pikiranmu saat itu.
hampir tujuh tahun. saya masih setia pada janji bocah ingusan. yang mungkin diucapkan di tengah kegalauan. tapi percayalah, saya masih menyayangimu. berharap kita bisa tertawa di kaki langit lagi.
itulah mengapa. saya tak ingin mengawali semua kalimat ini dengan huruf besar. sederhana. jika ada (tanda) untuk awal, selalu ada masanya berakhir. saya tak ingin hubungan kita terhenti.