Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Minggu, 28 Juli 2013

Puisi yang Terterjemahkan

Entahlah. Saya lupa tepatnya. Mungkin 15 atau 16 Juli 2013 kemarin, saya diminta tolong oleh salah satu dosen favorit saya, Mas Iben, untuk membaca puisinya dalam bahasa Jawa Timur-an. Mas Iben pada hari itu sedang meluncurkan tujuh buku terbarunya. Ini pengalaman pertama saya! Iya. Baru kali ini saya membaca puisi di depan umum. Paling-paling, biasanya, saya hanya bisa membaca puisi di soundcloud.com. Itu pun tanpa ada orang yang tahu. Haha.

Mas Iben memberi saya lima sajak yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa Timur-an. Saya kelabakan. Proses menerjemahkan ternyata taksemudah ngobrol ringan sehari-hari. Alhasil, terjemahan saya itu adalah proses diskusi panjang dengan Mama saya. Siapa lagi yang bisa diandalkan dalam kondisi seperti ini. Ya. Meskipun ada beberapa kata dan kalimat yang Mama saya pun kebingungan harus menggantinya dengan apa. Mama saya masih saklek. Sementara saya meyakinkan Mama saya bahwa terjemahan itu seperti perempuan, yang cantik itu biasanya tidak setia. Itu kalimat yang saya ingat dari Mas Iben. Dulu. Semester satu atau dua.

Meskipun pada akhirnya, saya hanya membaca satu sajak. Saya cukup senang. Sebab saya telah berproses. Mengingat kembali bahasa Jawa Timur-an yang agak susah saya terapkan kepada teman-teman saya yang rerata orang Jawa Tengah. Satu hal lagi, sajak-sajak Mas Iben yang diserahkan kepada saya termasuk sajak-sajak manis. Sajak-sajak yang merdu dibaca sendiri, bukan untuk ditertawakan. Tapi, saya tidak berhasil mempertahankan suasana itu. Entah karena saya kurang cakap, atau memang bahasa Jawa Timur yang selalu bikin ngakak. Satu sajak favorit saya, saya kutip di bawah ini. Semoga Mas Iben berkenan.



Menjelang Petang

menjelang petang
katene surup
tak juga engkau datang
koen gak teko-teko
sementara aku menunggu
saksuwene aku ngenteni
hanya berkawan waktu
mek dikancani wayah surup

malam bukan milik kita
bengi duduk we’e awake dewe
temaram pun tidak
remeng-remeng ae yo ogak
sebab hanya kata-kata
soale mek ukoro thok
di layar; tercetak
nang geber; gambare ketok
tapi hingga senyap
tapine sampek sepi nyenyep
hanya tinggal harap
mek gari pengarep-arep
: adakah karena pulsa
opo mergo pulsa
  atau memang alpa?
utawa ancene ngamplah?
  
Yang pernah nonton acara TV Jawa Timur, "Pojok Kampung", pasti sedang tersenyum. Membayangkan bahwa ada bahasa yang sedang dicoba untuk dialihkan. Kepada hal-hal yang takpernah terkatakan. Kepada hal-hal yang melebihi segala yang terkatakan.

Selasa, 09 Juli 2013

Kuliah yang (seolah) Selesai. Selamat!

Pada akhirnya, saya pun lulus. Tanggal 9 Juli 2013 saya sidang skripsi. Sidang penghabisan yang--oh ya udah gini doang--yang rasanya taksemewah dan takselega yang saya bayangkan. Skripsi saya membahas pesan-pesan ideologis liberalisme yang ada di dalam Twitter akun @Ulil. Analisis Wacana Kritis. Atau bahasa kerennya Critical Discourse Analysis.

Sudahlah. Takusah ditanyakan bagaimana rasanya sidang. Antara gemes dan dingin. Tentu saja, di dalam sidang itu, kesalahan skripsi saya seolah sangat amat banyak sekali. Kesalahan ejaan dipermasalahkan sampai rinci. Kekurangan definisi dalam tinjauan pustaka seolah menjadi hal utama yang sangat fatal. Kata pengantar yang hanya setengah halaman itu juga menjadi masalah. Katanya saya tidak intelek membuat kata pengantar seperti itu. Lalu, pembahasan saya? Hampir tidak tersentuh. Entahlah. Saya harus lega atau tidak ketika pembahasan saya taktersentuh.

Tentu saja dingin. Saya juga terbawa suasana bahwa skripsi saya amatlah buruk. Tidak sistematis. Dan, banyak lagi. Sudahlah. Yang penting selesai. Sebab skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Empat tahun saya ditentukan satu jam kemarin itu.

Sekarang, di belakang nama saya (harusnya) sudah terpasang gelar. Yang sampai saat ini, saya tidak tahu menahu buat apa gelar itu. Selesai sidang. Saya semakin bingung. Apa yang akan saya lakukan setelah ini? Menambah jumlah pengangguran di negeri ini. Haha. Miris.

Kuliah saya memang selesai. Kelihatannya. Tapi, hidup baru akan dimulai. Ada banyak hal di luar sana yang sampai sekarang saya belum tahu. Ada banyak pertanyaan setelah ini. Yang entah bisa saya jawab atau tidak. Yang sangat mungkin pertanyaannya jauh lebih sulit daripada pertanyaan penguji di dalam sidang skripsi.

Mimpi-mimpi di awal kuliah yang terlampau muluk juga perlahan-lahan jatuh. Semacam layang-layang yang putus. Jalan yang dulu yakin saya tempuh, juga sedang menemui persimpangannya. Lalu, saya harus memilih lagi. Terus memilih. Bagi saya, membuat pilihan itu sangat mudah. Yang takmudah adalah setia pada pilihan itu. Lalu, segala sesuatunya sekarang sedang berada di persimpangan. Tinggal saya memilih lurus, belok kanan, belok kiri, atau kembali. Saya yakin. Pilihan saya setelah ini akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan saya kelak. Dan, sekarang, saya sedang memilih untuk diam di tempat sampai beberapa saat. Sampai waktu yang pas, saya akan memilih. Mau melanjutkan hidup seperti apa.

Selamat! Sudah lulus. Lalu, kehidupan (seolah) selesai. Padahal, baru akan dimulai.

Sekarang, saya masih memikirkan. Tumpukan skripsi hasil revisi yang jumlahnya hampir dua rim kertas dari pembimbing dan penguji ini mau diapakan. Silakan mengambilnya di rumah saya jika berminat!

Sabtu, 29 Juni 2013

Sore

Mari, kita bertemu di antara barat dan timur dari angin. Kita berbincang. Tertawa. Menangis. Bersama. Seolah teman lama yang bertemu kembali. Aku menyeduh teh. Dan, kita menyesapnya sedikit demi sedikit. Sembari menunggu senja yang sebentar lagi datang. Ada pisang goreng yang mengepul. Yang hari ini khusus kubuat untukmu. Kamu boleh mencicipinya tentu saja. Takusah ragu. Aku takmemasukkan apa pun ke dalamnya.

Mari, mari kita berbincang sewajarnya. Seolah kita takpernah kehabisan cerita. Atau seolah kita sudah mengenal lama sebelumnya. Mari, kita bicara. Seirama dengan ritme angin di belakang kita. Rasakan aroma tanah yang semalam terbasahi hujan. Hei, bukankah kau juga suka hujan? Aku hanya menebak sebab aku suka hujan.

Mari, mari kita tertawa. Bersama. Menertawakan segala hal yang mungkin menurutmu konyol. Ha-ha. Bukankah tawa adalah kegetiran yang menumpuk? Semoga. Semoga kamu setuju.

Mari, mari kita pulang. Sesudah menangis puas. Pulang ke rumah masing-masing. Semoga. Semoga kamu taklupa jalan pulang.

Kamis, 27 Juni 2013

Juni Hampir Habis

Dan, bulan Juni pun hampir habis. Lalu semua pelan-pelan terkikis.
Apa kabar, kamu? Sudah lama. Entah. Sejak kapan.
Aku takpandai menghitung waktu. Dan harusnya kamu tahu itu.
Lalu, tentang kenangan yang menjelma bintang pagi itu pun telah habis
Aku sudah membuangnya ke sungai.
Tepat. Setelah kamu pergi.

Aku takpandai menyimpan. Terlebih kenangan.
Biarlah dia kembali. Pada laut.
Yang telah melahirkannya.

Hei,
Apa kabar, kamu?
Semoga kamu tetap baik-baik saja.
Sama seperti terakhir aku bertemu denganmu.
Tentang perpisahan. Tentang ucapan selamat tinggal.

"Apa yang kaurasakan ketika dia pergi? Apa ada sesuatu yang hilang?"
seorang temanku mencercaku. Terdiam.
Lalu, semuanya kembali syahdu.
Ada yang berat di pelupukku.
"Bukan ada yang hilang. Tapi, aku yang hilang.
Luruh dalam kenangan yang kubuang."
Kataku lirih.

Selasa, 11 Juni 2013

Bagaimana Jika Kartu Pos yang Kukirim Padamu Takpernah Sampai?

Ya. Bagaimana jika senja yang kukerat seukuran kartu pos itu takpernah sampai padamu? Entah. Mereka sedang menyangkut di mana. Mungkin di pohon-pohon. Atau di rel kereta. Atau mungkin kartu pos itu masih di Pak Pos. Sebab, Pak Pos masih menginginkan ada seseorang yang mengirimkan kartu pos untuknya. Lantas, sampai rambutnya memutih, Pak Pos takkunjung mendapati sebuah kartu pos dari siapa pun untuknya. Lalu, aku datang, kepadanya. Membawa selembar kartu pos yang kutulisi dengan rindu. Kartu pos ini untukmu.

Tapi, yang terjadi. Kartu posku takpernah sampai kepadamu. Pak Pos itu dengan senang hati menyimpan kartu posku bergambar senja, tertulis rindu. Aku taktahu bagaimana cara memintanya kembali. Agar dia mau mengirimnya untukmu. Sebab, menunggu kartu posku sampai kepadamu itu serupa menyaksikan perjalanan rinduku kepadamu. Perjalanan pendek yang terlalu panjang. Rasanya.

Bagaimana jika kartu posku selanjutnya takpernah sampai kepadamu juga? Kukira sama saja. Aku takmengerti apa yang harus kulakukan jika semua Pak Pos suka menyimpan kartu posku untukmu. Mungkin, itu satu-satunya cara mereka untuk mengenang pekerjaan mereka. Mengirim kartu pos: entah ke alamat yang dituju atau bukan.

Kamis, 30 Mei 2013

Dilarang Punya Kenangan di Negeri ini!

Siang tadi, saya berjalan menyusuri jalan yang sama. Pergi ke kampus. Dari rumah. Menyusuri jalan kecil belakang stasiun.  Yang (dulu) penuh pedagang, dari DVD hingga cokelat mede. Jika lewat jalan itu, saya selalu bahagia. Mendengar seloroh ceria dari para pedagang. Atau mendengar sirine kereta yang terdengar nyaring. Tapi, ada yang berbeda pada siang tadi. Pedagang-pedagang itu sudah tak ada. Digantikan dengan puing-puing. Semacam bangunan yang terdera angin puting beliung.

Ya. Bangunan-bangunan itu sudah luruh. Hampir rata dengan tanah. Mungkin juga sebentar lagi akan hilang, serupa hati nurani orang-orang itu.

Tanggal 29 Mei 2013 kemarin. Segalanya telah berubah. Entahlah. Siapa yang menghancurkan. Siapa yang sedang dihancurkan. Yang pasti ada yang sedang mati pada hari itu. Mungkin nurani atau rasa kemanusiaan.

Saya memang bukan mahasiswa yang pernah ikut aksi. Saya memang tidak pernah berteriak lantang di depan satpol PP. Atau berdiri angkuh membawa spanduk berisi protes dan kecaman. Tidak. Tapi, saya tidak menganggap teman-teman saya yang ikut aksi itu tidak lebih baik dari saya. Saya menghargai perjuangan mereka.

Saya juga tidak tahu-menahu tentang polemik ini. Saya tidak tahu tentang kepemilikan tanah belakang stasiun itu. Entah PT KAI atau pedagang atau pemerintah daerah. Entahlah. Sama sekali taktahu.

Yang saya tahu hanyalah air mata para pedagang itu ketika melihat tempat mereka mencari sesuap nasi roboh begitu saja. Mungkin, tanpa ganti rugi. Mungkin, tanpa relokasi. Lantas, air mata itu mewakili segala beban yang ada. Bagaimana dapur bisa mengepul? Uang sekolah dibayar pakai apa? Harus mencari penghidupan di mana? Tentu saja. Itu mungkin kecamuk yang ada dalam benak mereka.

Saya bisa merasakan meskipun kemarin saya takhadir di tengah mereka. Hanya dengan melihat puing itu. Puing yang sedang bercerita tentang banyak hal. Dalam diam.

Yang saya tahu. Saya kehilangan banyak kenangan. Mungkinkah kenangan terganti? Saya rasa tidak akan. Setiap hari saya menyusuri jalan itu. Bergegas ketika berangkat. Lalu, pelan-pelan ketika pulang. Saya selalu menikmati perjalanan saya ke kampus. Melewati jalan belakang stasiun itu. Kadang mampir ke salah satu toko, membeli permen atau fotokopi materi. Takjarang saya sering nongkrong lama-lama di tukang DVD langganan. Berdiskusi dengan abang penjual DVD, film mana yang layak ditonton.

Sudahlah. Jika ada ungkapan bahwa "Rakyat miskin takboleh sakit", penggusuran ini juga mencipta kalimat bahwa rakyat miskin pun takboleh punya kenangan. Bahkan, hanya sebatas kenangan, kami takpunya. Lantas, apa yang bisa kami miliki di negeri yang katanya "gemah ripah loh jinawi" ini? Mungkin, hanya rasa takut.

Kamis, 25 April 2013

Naskah Melayu yang Terpampang Ayu


Berbicara tentang Negeri Kincir Angin, yang terlintas dalam benak saya adalah naskah-naskah kuno Melayu yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden. Naskah ini serupa buku harian yang tersimpan di dalam lemari milik orang lain. Ironis. Sebab, yang memiliki tak bisa leluasa jika ingin membacanya. Begitulah kondisinya. Setiap yang ingin mempelajari naskah Melayu Kuno, orang tersebut harus pergi ke Belanda jika ingin versi lengkap atau aslinya. Lantas, apa yang masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia? Mungkin, hanya tentang kenangan.
            Di dalam katalog naskah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, terdapat sejumlah naskah yang sudah rusak dan tidak terdapat mikrofilmnya. Satu naskah hilang, mungkin seribu kearifan lokal yang terkandung di dalamnya juga turut lenyap. Namun, naskah-naskah yang tersimpan di Belanda, khususnya di Perpustakaan Universitas Leiden, berada dalam kondisi baik. Semua naskah yang tersimpan di Belanda telah terdapat mikrofilmnya. Hal ini dapat dilihat dalam tulisan Liaw Yock Fang (1991:23) yang menyatakan bahwa perpustakaan Universitas Leiden telah membuat teknologi untuk menyelamatkan naskah-naskah yang tersimpan di Belanda. Ada lebih dari seribu naskah Melayu yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.
Naskah-naskah ini dapat tersimpan di Belanda karena beberapa faktor, semisal harta rampasan perang, persembahan raja-raja Nusantara untuk pemerintahan Belanda, upeti, atau memang dibeli oleh pihak Belanda. Sebagaimana karya sastra kuno, naskah-naskah tersebut tidak ada kepemilikannya. Setiap orang berhak memilikinya, termasuk pemerintahan Belanda. Hanya saja, naskah-naskah tersebut beraksara Jawi (aksara Arab, bahasa Melayu). Jika boleh berpendapat, pada dasarnya, naskah-naskah yang berumur ratusan tahun ini lebih aman disimpan di Belanda.
Belanda memiliki teknologi yang cukup canggih untuk membuat naskah tetap bertahan dan bisa dibaca. Tidak dapat dimungkiri bahwa Belanda merupakan negara maju yang memiliki anggaran dana yang besar, bahkan untuk pemeliharaan naskah. Dengan demikian, pembuatan mikrofilm dari setiap naskah tidak memiliki rintangan yang cukup berarti. Selain itu, minat masyarakat—baik lokal maupun global—terhadap naskah-naskah yang berada di Universitas Leiden cenderung lebih baik daripada minat masyarakat terhadap naskah-naskah yang ada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Begitulah. Entah mengapa, Belanda masih memesona. Bagi saya, Belanda merupakan negara yang menarik sebab Belanda adalah negara maju yang masih peduli dengan hal-hal budaya, contohnya kepeduliannya terhadap naskah. Itu mengagumkan. Meskipun ketika harus membaca naskah Melayu di Belanda, saya merasa sedang membaca buku harian saya di rumah orang. Rasanya ganjil dan aneh.


Referensi
Liaw Yock Fang. 1991. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jilid 1 dan 2. Jakarta: Erlangga

Senin, 22 April 2013

Tentang Penyihir dan Mahasiswa Tingkat Akhir

Lagi-lagi. Saya membiarkan laman saya ini tanpa penghuni. Sarang laba-laba di mana-mana. Ah, maafkan saya. Ya. Tentu saja. Hanya satu makhluk yang menjadi alasan saya. Apa lagi jika bukan skripsi. Kasihan. Selalu jadi kambing hitam. Sudahlah. Lupakan skripsi.

Sekarang, saya sedang menunggu kuliah jadwal berikutnya. Sekira satu jam lagi. Tetiba terlintas. Cita-cita masa kecil saya: seorang penyihir. Haha. Konyol. Bagaimana mungkin. Pada saat teman-teman saya yang lain sedang bercita-cita sebagai dokter, guru, pilot, atau polisi, saya sedang membayangkan diri saya sebagai penyihir. Membawa sapu. Berkawan dengan kucing hitam. Bertopi kerucut yang ujungnya melengkung. Berteman dengan kegelapan. Lalu, bertempat tinggal di sebuah kastel di ujung gunung. Sepi. Setiap malam mencari puteri raja yang lengah untuk dijadikan santapan esok pagi.

Lalu, saya bisa terbang ke mana-mana. Tanpa membeli tiket pesawat. Bisa membuat sesuatu tanpa harus membeli. Bisa menaklukkan segalanya tanpa susah payah. Dan, saya bisa menyihir apa pun menjadi apa pun yang saya suka. Saya suka membayangkan bahwa saya akan menyihir diri saya menjadi air. Lantas mengalir. Diminum. Atau menguap. Saya juga sering membayangkan bahwa saya bisa menyihir teman-teman saya yang jail menjadi kodok. Biar taklagi berisik. Atau, saya juga bisa membebaskan seekor kodok dari kutukan sehingga dapat berubah kembali menjadi pangeran tampan.

Sudahlah. Saya hampir lupa dengan cita-cita saya itu. Saya hampir lupa bahwa saya pernah berharap segala sesuatunya bisa disihir. Lalu, semuanya akan berubah dalam sekejap. Ternyata tidak. Tidak akan pernah. Semuanya butuh proses. Sangat panjang, malah. Tentu saja. Tidak ada hal yang takberproses di dunia ini. Bahkan, mi instan pun membutuhkan waktu agar dapat dinikmati.

Ya. Saya memang sedang mengingatkan diri saya sendiri tentang proses yang saya jalani. Bahwa semuanya harus diusahakan, termasuk melanjutkan kuliah. Baiklah. Sekarang saya sudah taklagi percaya pada penyihir. Namun, saya masih harus percaya bahwa saya bisa mengubah apa pun menjadi apa pun yang saya inginkan. Dan, semua itu tidak mudah.

Saya mahasiswa tingkat akhir. Yang sebentar lagi akan gelagapan ketika ditanya "Setelah lulus mau ngapain?". Mungkin, hanya bisa tersenyum. Atau, dengan jawaban standar, "Mau lanjut S2."

Lantas, bukan berarti jawaban itu tidak menyisakan gemuruh dalam dada. Jawaban itu akan memunculkan pertanyaan lain, "Mau S2 di mana?" atau "Setelah S2 mau ngapain?" atau "Apa gak lebih baik kerja dulu, baru setelah itu ambil S2?"

Mati.

Dan, saya memang hanya bisa menarik napas panjang. Pertanyaan itu mau takmau harus terjawab. Paling tidak, untuk saya sendiri. Jawaban apa yang harus saya berikan untuk saya? Tersenyum tanpa esensi? Lama-lama memuakkan. Takdapat dimungkiri. Semakin lama hidup, semakin banyak pilihan. Karena memang hidup hanya tentang pilihan.

Di tengah kebingungan itu. Saya kembali teringat. Bahwa cita-cita kecil saya menjadi penyihir. Itu saja. Dan, saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan terdampar di pulau manusia yang penuh basa-basi dan kepura-puraan ini. Memang benar. Cita-cita masa kecil dan masa kecil itu menenangkan. Menyenangkan. Tanpa tuntutan.

Boleh saya memutar waktu? Sekadar menghidupkan kembali roh penyihir dalam diri saya.

Minggu, 31 Maret 2013

Untuk Lelaki yang Sudah Terlibat Banyak dengan Hatiku

Halo, kamu, apa kabar? Ya. Aku tahu. Kamu baik-baik saja. Tetiba aku mengingatmu banyak-banyak. Haha. Biasanya, aku selalu menulis kartu pos jika aku rindu kamu. Tapi, Sayang, kartu posku habis. Dan, aku lupa membelinya. Ah, maafkan aku, Sayang. Ingatanku memang takbaik.

Baiklah. Tulisan ini tidak akan kukasih tautannya ke kamu. Buat apa? Toh, aku yakin, kamu bisa menemukannya dengan modal telepati yang kamu sering kamu bilang itu. haha.

Aku akan mengatakan kalimat yang seringkali kamu ucapkan: "aku kangen kamu. kangen banget. kamu percaya?"
Bodoh! Bagaimana mungkin aku takpercaya kamu, sementara kamu sudah mengambil hampir seluruh hari dan hatiku. Kalau aku takpercaya kamu, aku takkan menjalani semua ini. Semua hal yang membuatku ingin melipat jarak. Meski katamu, yang berjarak selalu menggetarkan. Sudahlah. Aku juga percaya itu. Segala sesuatu yang berjarak memang selalu menggetarkan.

Aku menggunakan kata ganti "kamu" dalam tulisan ini. Seperti katamu bahwa "kamu" sudah lebih dari rindu, cinta, dan sayang! Dan, berharap, setiap kali kamu tersebut, ada banyak hal yang tersirat. Semacam banyak hal-hal yang di luar bahasa. haha.

Entahlah, Sayang. Aku tetiba ingat kamu. Dan, memang sedikit norak tetiba aku harus mengunggahnya di blogku. Blog yang setiap hari dibaca banyak orang. Haha. Tujuannya, sih, ingin menyampaikan rindu dengan cara yang lain. Yang penting aku tidak akan menautkannya di Twitter. Biar tidak menjadi terlalu berisik nantinya.

Please, tell me if you have found this letter! So, I can see how fast your telepati working is!

*Untuk seseorang
yang enggan tersebut nama
yang enggan tertulis aksara
saya cinta
itu saja

Terima kasih sudah mengambil hatiku. Jadi, aku tahu harus mengambil hati siapa. Dan, kurasa, bahumu cukup bidang untuk menahanku dari tangis dan kantuk. Ah, kamu tahu, kan, aku suka tidur. Mungkin, telingamu cukup lebar untuk mendengarkanku berkeluh. Terima kasih. Sudah mengakrabkanku dengan kebahagiaan. Mulai sekarang sampai nanti, aku takperlu mengayuh sepedaku sendiri. Ada kamu yang mengayuh di sampingku. Semoga. Nanti, di ujung jalan sana, arah sepeda kita takberlawanan. Sebab, setelah ujung jalan itu masih banyak jalan yang seharusnya kita tempuh bersama tanpa tahu ujungnya.


Untuk
Kun Andyan Anindita

Senin, 18 Maret 2013

Sesederhana Itu Bahagia!

Saya sedang tertawa ketika menulis ini. Mengapa? Terlalu banyak debu dan jaring laba-laba di laman saya ini. ha-ha. Kemarin, saya sempat tertegun ketika salah seorang teman saya berkata, "Saya udah lama nggak kepoin blog kamu!"
"Ohh. Jangankan kamu. Saya aja udah gak pernah kepoin blog saya sendiri!" saya tergelak. Dia pun tergelak.

Kemudian, saya pun teringat. Saya memiliki akun ini yang sudah terlalu lama tidak terurus. Entahlah. Akhir-akhir ini saya (sok) sibuk bercinta dengan satu makhluk yang bernama skripsi. Terlalu asyik. Padahal, sesungguhnya membosankan dan tidak membahagiakan.

Ah iya, tentang kebahagiaan. Saya ingin menulis tentang ini.
Apa yang dicari dalam hidup ini, selain kebahagiaan? Saya kira tidak ada. Orang mengejar uang ke sana kemari pasti dengan kedok mencari kebahagiaan. Entah kebahagiaan macam apa. Orang mengejar jabatan setinggi-tingginya pasti dengan alasan mencari kebahagiaan. Entah kebahagiaan macam apa.
Sesungguhnya, saya kasihan pada kebahagiaan. Harusnya, dia bahagia memiliki nama itu. Namun, banyak orang memalsu ketika memakai namanya.

Definisi kebahagiaan setiap orang pasti berbeda. Sangat. Atau semua orang sebenarnya memiliki definisi bahagia yang sama? Tapi, atas dasar status sosial dan pengotak-kotakan derajat, definisi kebahagiaan menjadi tergeser? Entahlah. Saya juga takpernah mengerti. Yang pasti. Saya selalu saja gelisah ketika sedang sangat sibuk dengan segala macam urusan, lalu tertegun sejenak. Mempertanyakan, ini semua untuk apa? Dan, saya takkunjung menemukan jawaban.

Bukankah, ketika kita merasa bahagia, lantas semuanya bisa menjadi membahagiakan? Bagi saya, bahagia itu rasa nyaman. Rasa aman. Ya. Semuanya dalam porsi cukup. Itu sudah lebih dari cukup.

Sudahlah. Berbicara tentang kebahagiaan takpernah akan habis. Mencintai hidup ini dengan apa adanya juga salah satu kebahagiaan bagi saya. Sesederhana itu bahagia!

Kamis, 17 Januari 2013

Untuk Kotaku yang Sedang Asyik Bercinta dengan Langit

Barangkali. Ya. Barangkali. Kita juga harus keluar rumah, Sayang. Pada kuncup tahun seperti ini. Sekadar bertelanjang kaki. Merasakan hujan dengan kaki kita. Melepas sejenak cerita tentang kita. Menikmati kotaku yang kata banyak orang sedang tidak baik. Pasti. Kau sudah melihat kotaku dari televisi di kamarmu, bukan? Ini kotaku, Sayang. Mungkin juga akan jadi kotamu, kelak.

Ah, mungkin langit sedang ingin berbagi kesedihan. Menangis banyak-banyak. Agar setelahnya dapat tersenyum banyak-banyak. Kotaku baik hati. Dia mau mendengarkan kesedihan langit. Menerima air matanya dengan dada yang lapang. Begitulah. Langit dan kotaku memang sedang dan senang berbagi air mata. Seperti yang sering kita lakukan, bukan? Semacam itulah. Cinta.

Haha
Lalu, untuk apa aku menangis, Sayang? Melihat langit dan kotaku yang sedang bercinta. Sementara mereka bahagia melakukannya. Lalu, untuk apa aku mencaci banyak orang, Sayang? Sementara langit dan kotaku saja takpunya rasa.

Barangkali. Ya. Barangkali, Sayang. Kamu setuju dengan pemikiranku itu, mari, kita keluar. Sekadar hadir melihat langit dan kotaku yang sedang merajut cerita. Atau membagi senyum pada segala sesuatu yang tergenangi air mata. Mencipta kebahagiaan pada semesta. Semuanya bisa dirayakan, bukan? Dengan atau tanpa kembang api.

Baiklah. Kalau kamu setuju. Di ujung jalan pulang itu, aku menunggumu. Aku memakai rok jingga senja. Dan kamu boleh memakai kemeja bening hujan. Lalu, kita bisa berbagi rasa pada rahasia. Siapa tahu. Langit dan kotaku cemburu. Kemudian, mereka berpisah di akhir cerita. Dan kita bisa bahagia. Tanpa pura-pura.

Rabu, 05 Desember 2012

pada minggu ketiga, aku melupa ingatan

[1]
ini minggu ketiga, aku meracik tubuhku searoma tubuhnya. agar wangiku serupa wanginya. agar aku bisa dengan santai datang ke kotamu. menemuimu. bersijingkat mengendap-endap. agar takketahuan olehnya. katanya, kotamu itu menyenangkan. membuat cemburu. dalam rindu.

[2]
jika boleh memilih. aku ingin meminjam tubuhnya. lalu aku bisa leluasa bertemu denganmu. atau mencintaimu, mungkin.

[3]
lalu, pada suatu pagi. aku bisa mengetuk pintu rumahmu. dengan aroma dia. atau mungkin dengan rupanya. mengantar rindu yang takbisa diurai lagi.

[4]
matamu memindai tubuhku. dari atas. mengerling. tanpa tahu maksud. "terima kasih, aku hanya butuh dia di sini", ucapmu pelan.

[5]
pelan-pelan. tubuhku yang beraroma dia menguap. menjadi bulir. merata di seluruh ingatanmu.

Senin, 26 November 2012

Rangkaian Latsitardanus XXXIII: Cerita tentang Saya yang di Kota

Akhirnya sudah sampai Lombok. Saya ditempatkan di Kota Mataram. Tidak ada susah-susahnya. Semuanya di luar ekspektasi. Saya sudah berharap akan ditempatkan di pelosok entah di mana. Tidak akan ada listrik. Terlebih sinyal. Tapi, sayang sekali. Saya di sini semacam liburan. Kegiatan hanya pagi sampai siang. Sore hanya istirahat. Bertempat tinggal di mess. Semuanya ada. Dekat dengan minimarket. ATM. Mall. Ah, sama saja. Semacam berada di Jakarta. Tapi dalam lingkup yang lebih kecil.
Ah iya, jangan kau tanya betapa bosannya. Saya sudah bosan dengan rasa bosan. Mungkin, sudah takbisa memisahkan lagi antara bosan dan taktahu harus bagaimana. Ya. Saya tinggal di lingkup Polda NTB. Paling tidak, harus mengikuti kegiatan mereka. Apel pagi, siang, sore, malam. Memakai seragam. Baris berbaris. Takboleh ada pelanggaran. Hidup macam apa ini? Lama-lama saya bisa mati konyol jika terus menerus seperti ini. Tapi, sudahlah. Ini pilihan. Harus dihadapi.
Sebenarnya, saya takpernah menyesal. Keindahan alam NTB ketika akhir pekan menyelamatkan saya dari rasa bosan ini. Hanya saja, saya belum merasakan pengabdian yang semacam K2N di Wana Bakti kemarin. Saya rindu berjalan-jalan di desa. Rindu mandi di sungai. Rindu berbincang panjang dengan warga lokal. Rindu berjalan  jauh. Rindu takada listrik. Rindu takada sinyal. Ah, padahal, saya sudah berharap ini akan lebih dari itu. Ternyata, saya di kota. Yang semuanya ada. Ah iya, bahkan, saya pun terkadang memilih untuk laundry.
Mungkin, benar kata teman saya, di sini, pengabdiannya hanya bonus.

Rabu, 07 November 2012

Tempat Singgah

Ke Lombok. Ya. Tinggal beberapa hari lagi saya berangkat ke Lombok. Antara buncah dan gelisah. Entahlah. Saya memang selalu senang perjalanan. Terkadang, tujuan dalam sebuah perjalanan takpernah saya nanti-nantikan. Saya hanya ingin melakukan perjalanan. Ke mana pun. Menikmati setiap sentimeter perpindahan dari satu ruang ke ruang lainnya. Itu menyenangkan.

Mungkin, kali ini saya akan melewati beberapa moda transportasi yang lengkap: udara, laut, dan darat. Terlebih itu. Saya suka duduk di ruang tunggu bandara yang senyap. Tapi, seringkali bising. Melihat lalu-lalang orang. Sibuk dengan perangkat elektronik mereka. Hampir takada percakapan di ruang tunggu bandara. Atau mungkin saya yang enggan membuka percakapan dengan orang di sebelah. Entahlah. Dan, saya juga suka ketika pesawat sudah terbang. Jendela sudah boleh dibuka. Saya bisa melihat gumpalan awan putih. Terbang. Menari-nari. Lantas, membayangkan diri saya berlarian di sana. Ya. Pastinya, saya pun taksuka ketika telinga saya sakit.

Namun, ruang tunggu bandara itu tidak pernah semenyenangkan peron stasiun. Bangku memanjang. Berderet-deret. Suara sirine. Rel kereta api. Decit ferum. Bau pesing. Suara bising. Gerbong yang berjajar. Serupa ular naga. Saya suka berlama-lama di sana. Datang jauh lebih awal sebelum kereta datang. Mengamati pedagang asongan. Melihat peluh yang menetes. Mendengar celoteh kasar. Menunggu senja yang akan datang. Menunggu kereta yang berubah warna menjadi jingga ketika terkena tempias senja. Ya. Atau apa pun itu. Jika di peron stasiun, saya bebas bercakap dengan siapa pun. Tentang apa pun. Saya suka tertawa mendengar obrolan kami. Yang kadang taktahu arahnya. Hanya pengisi kekosongan. Biar sama-sama takbosan. Biar takbosan dengan rasa bosan.

Laut. Laut itu seperti ibu: dalam dan menunggu. Saya suka ketika kapal mulai melepas jangkar. Bergerak perlahan. Lalu, ketika sudah berada di laut lepas. Saya jarang bisa membedakan antara langit dan laut. Mereka menyatu. Membentuk sebuah lengkung indah. Ujung langit adalah ujung laut. Mungkin, bisa jadi seperti itu. Senja. Ya. Itu yang membuat saya betah di laut lepas. Saya bisa melihat senja dengan jelas. Melihat bulat matahari yang (seolah) tertelan oleh laut. Kemudian, berganti dengan semburat jingga. Lantas, jingga itu hilang perlahan. Menjadi kelam. Lalu berganti dengan bintang dan bulan. Saya bisa dengan bebas menerka-terka bintang apa yang sedang menampakkan diri. Jika hujan, laut akan menjadi semakin menyenangkan. Rintiknya lembut. Bisa dengan mudah bercumbu dengannya di geladak.

Ya. Intinya. Saya suka melakukan perjalanan. Ke mana pun. Ah iya, satu lagi. Saya suka ketika tempat tujuan perjalanan saya itu tidak ada sinyal. Sama sekali. Saya takperlu repot-repot dihubungi atau menghubungi seseorang. Saya bisa menikmati perjalanan ini dengan utuh. Dengan menyerahkan sepenuhnya diri saya ke ruang tersebut. Tanpa berbagi dengan kenangan saya. Takada sinyal juga membuat rindu saya pada banyak hal terkumpul. Sebab, kadang saya memerlukan sedikit waktu dan jarak untuk merindukan sesuatu, ah, mungkin juga seseorang.

Selasa, 06 November 2012

seseorang yang ingin memotong senja untuk dikirim ke surga

[1]

ia pernah duduk di bangku taman ini sendirian. ketika hujan. lalu, buku-buku yang dia baca basah. dia bergeming. menengadah. dia ingin sekali menanyakan mengapa hujan yang harus jatuh ke bumi. bukan senja saja. sebab jika senja yang turun. dia bisa bermandi jingga. sebab dia ingin sekali menjadi jingga. semburatnya manis, katanya.

[2]

titik-titik air itu semakin membuat rambut dan bukunya basah. dia sudah tidak memikirkan sesuatu apa pun. termasuk tentang daun-daun yang tinggal tulang. atau mengapa ada penyair gadungan yang sedang menulis puisi tanpa huruf kapital. dia hanya ingin hujan yang turun ini akan menjelma menjadi senja. nanti beberapa menit lagi. maka dia masih duduk di kursi itu.

[3]

dia akan mengerat senja yang jatuh ke bumi. memotong-motongnya menjadi beberapa bagian. mungkin, seukuran kartu pos. lalu, dia akan menempeli senja itu dengan perangko seharga lima ribu rupiah. pergi ke kantor pos yang kian hari kian berdebu. tanpa pengunjung. ia akan berdiri lama-lama. ingin menulis surat, tapi dia takpandai berkata. akhirnya, dia hanya menyerahkan senja yang ditempelinya perangko itu kepada mbak-mbak penjaga kantor pos.

[4]

tanpa melihat alamat yang dituju. senja yang tertempeli perangko itu dimasukkan begitu saja ke dalam tumpukan surat lainnya. ia mendesah. tersenyum simpul. berharap banyak. bahwa senja yang tertempeli perangko itu akan segera sampai di surga. ia hanya ingin ayahnya tahu bahwa ia rindu. ingin bertemu. sebab, sampai senja yang tertempeli perangko itu diserahkan. ia takpernah tahu dipeluk ayahnya. yang ia tahu hanya cerita-cerita kosong dari ibunya bahwa ayahnya sedang berbahagia di surga.

[5]

ia hanya mengangguk-angguk ketika ibunya bercerita. padahal, dia sedang teringat cerita gurunya bahwa di surga semua lelaki akan mendapatkan bidadari yang mereka inginkan. dari situ, ia mulai membenci surga. ia mulai membenci keberadaan surga yang telah merebut ayahnya. ia mulai mengumpulkan ingatannya tentang sosok bidadari. ia gemetar. ketika melihat ibunya, kemudian menengok ingatannya. ibunya renta, sedangkan bidadari cantik sempurna. ia kasihan melihat ibunya. yang sudah renta, tapi masih pandai membual.

[6]

sementara, di ruang yang terpisah. ibunya setiap malam menangis. mengutuk tuhan yang pernah menciptakan kata surga. sehingga membuatnya bercerita banyak tentang surga kepada anaknya. lelaki yang oleh ia disebut ayah, sebenarnya takpernah masuk surga. ia pergi bersama bidadari murahan pinggir jalan. bertahun-tahun. entah. sekarang di mana. mungkin sudah dimakan kenangan. atau tertelan ingatan.

[7]

ia masih duduk di kursi itu. senja yang harus dipotongnya takjuga jatuh. hanya rintik hujan yang menjelma gerimis. bukunya sudah hanyut. rindunya sudah teresap oleh tanah basah. lantas, kenangannya pun sedang mengembara bersama rintik.

Selasa, 23 Oktober 2012

Selamat Berakhir Semester 7!

Ya. Rutinitas saya menulis sesuatu pada akhir semester. Sekarang saya berada pada semester 7. Dan semester ini sudah berakhir. Paling tidak, bagi saya. Hari Kamis kemarin, saya resmi membatalkan semua mata kuliah yang sudah saya ambil. Tinggal menyisakan mata kuliah spesial, yaitu skripsi.

Semester ini sudah berjalan hampir setengah semester. Tetapi, saya membatalkan kuliah begitu saja. Oh, tidak. Tidak begitu saja. Ada alasan yang kuat. Alasan yang mungkin dianggap gila oleh banyak orang. Ah, yang dianggap gila oleh orang lain, belum tentu gila juga bagi saya. Sudah berkali-kali saya bilang, kan? Cita-cita hidup saya sederhana. Melakukan apa yang saya cintai dan mencintai apa yang saya lakukan. Itu saja.

Pembatalan mata kuliah ini tidak akan terjadi jika saya tidak melihat pengumuman di kampus. Mabes TNI mengadakan Latsitarda (Latihan Terintegrasi Taruna Wreda). Ini semacam KKN bagi Taruna TNI, Akpol, mahasiswa IPDN, dan mahasiswa tingkat akhir. Latsitarda akan diadakan di Lombok pada bulan November-Desember. Hampir 1.5 bulan. Ya. Memang untuk mahasiswa yang sudah tidak ada kuliah.

Entahlah. Kegiatan itu sungguh menyita perhatian saya. Tetiba saja berpikir untuk mengikuti Latsitarda sebab saya masih punya jatah satu semester untuk lulus tepat waktu dan (semoga) tetap cumlaude. Ah, dengan segera saya berkonsultasi dengan dosen pembimbing, mama, ayah, dan (tentu saja) Tuhan. Jawabannya 'Iya'.

Saya mendaftar. Terombang-ambing antara diterima dan tidak. Kuliah berjalan sebagaimana mestinya. Saya masih belum berani membatalkan kelas. Akhirnya. Pengumuman juga. Saya diterima! Empat hari sebelum UTS! Ohh.

Ya. Tuhan sepertinya sudah mengatur jadwal saya. Mata kuliah tidak bisa dibatalkan selepas pekan UTS. Tapi, ini sudah ada keputusan sebelum UTS. Jadi, saya bisa membatalkannya. haha Takperlu waktu lama untuk mengedrop semua mata kuliah. Hari itu juga, saya sudah tidak ada tanggungan mata kuliah. Saya bisa pergi ke Lombok. Tapi, dengan janji ke dosen pembimbing skripsi untuk menyelesaikan skripsi sebelum pergi ke Lombok. Voila! Semoga saja!

Tapi, komentar dan cercaan takberhenti di sini. Hampir semua orang yang tahu cerita saya pasti berkomentar, "Gila lo! Gak sayang apa kuliah udah jalan separo?" atau komentar-komentar sejenis itu. Ayah saya juga takkalah marah. "Kalau Ayah jadi kamu, Ayah bakalan menyelesaikan kuliah dulu. Setelah selesai kuliah, baru ikut kegiatan-kegiatan seperti itu!"

"Kalau seperti ini, kamu namanya membuang-buang waktu. Harusnya kamu bisa lulus pada semester 7!" Ayah saya masih saja berkomentar.

Saya hanya menggeleng dan tersenyum. Merasa ini sama sekali bukan kesalahan. Ini adalah pilihan. Menguji keberanian saya untuk memilih. Bukankah manusia akan dianggap Ada karena dia telah memilih? Mencoba keluar dari kerumunan. Mencoba menjadi individu yang memiliki alasan untuk memilih sesuatu.

Lulus 3.5 tahun atau 4 tahun bagi saya sama. Sama-sama menyimpan misteri. Bukan berarti yang bisa lulus 3.5 tahun jauh lebih hebat daripada yang lulus 4 tahun. Apa salahnya memanfaatkan status mahasiswa untuk sesuatu yang menyenangkan seperti ini.

Ya. Sembari menunggu keberangkatan pada minggu kedua November, saya tetap masuk kelas. Mengikuti kuliah sebagaimana biasanya. Bedanya, saya tidak perlu mengerjakan tugas. Lantas, teman saya masih berkomentar juga. "Ngapain lo tetep kuliah? Kan udah lo drop semua mata kuliah?"

Ah, sepertinya memang selalu mendapat komentar terhadap segala sesuatu yang telah saya lakukan. Saya tersenyum saja. Kuliah dan masuk kelas adalah salah satu cara saya bersenang-senang. Menikmati hidup. Belajar tanpa harus banyak menghabiskan waktu. Bukan beban yang harus segera diselesaikan. Jadi, takada salahnya jika saya tetap masuk kelas tanpa mendapatkan nilai nantinya. Sebab, segala sesuatu takselalu bisa diukur dengan angka atau huruf.

Sudahlah. Pada akhirnya, ke Lombok pun saya tetap belajar. Belajar memaknai hidup di tengah masyarakat yang sama sekali belum saya kenal. Perjalanan selalu memberi saya cerita. Rumah yang baru. Saya tidak akan menyesal. Memilih sesuatu selalu ada sesuatu yang dibayarkan. Kali ini, saya membayar waktu sesemester saya kuliah dengan perjalanan yang mungkin tidak akan saya lewati lagi setelah lulus kuliah.Ya. Ini menjadi semacam sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kuliah di kelas. Itu menurut saya.

Saya bahagia dengan pilihan saya. Itu sudah cukup.

Jumat, 05 Oktober 2012

Jajanan Pinggir Jalan

Beberapa menit yang lalu, saya melihat tempelan banyak poster di lantai 1 perpustakaan. Poster tentang makanan yang sehat. Mungkin anak Fakultas Kesehatan Masyarakat yang mengadakan acaranya. Ya. Acaranya semacam lomba poster tingkat nasional. Lalu, poster pemenang dan poster peserta sama-sama dipajang. Biar orang tahu. Ah, mungkin juga sebagai pembelajaran. Isi posternya takjauh-jauh dari pembiasaan makanan sehat. Lucu-lucu.

Namun, ada beberapa poster yang menggelitik saya. Poster yang bertemakan "Jajanan Pinggir Jalan". Bisa ditebak. Poster tersebut pasti mengimbau tentang bahaya makan jajanan pinggir jalan. Setiap poster melarangnya. Ohh. Sedikit miris. Hampir menangis.

Teringat jajanan pinggir jalan. Teringat tentang tangan-tangan kekar. kulit legam. keriput pada wajah. peluh. kemiskinan. perjuangan hidup. anak-anak yang menangis lapar di rumah. anak-anak yang berharap banyak pada keuntungan--yang takseberapa--untuk membayar seragam dan buku sekolah. pada dapur di rumah yang harus mengepul. tentang palak preman pinggir jalan. tentang penertiban oleh Satpol PP. tentang razia kaki lima. tentang pembeli yang takbayar. tentang hujan yang takkunjung reda sehingga sepi pembeli. tentang utang pada rentenir. tentang makanan yang takhabis terbeli. banyak hal tentang mereka.

Entahlah. Saya miris saja membaca poster itu. Membayangkan tetiba masyarakat sadar dan melakukan apa yang diimbau dalam poster tersebut. Lantas, pedagang jajanan pinggir jalan taktahu harus menjual dagangannya ke mana dan siapa. Lalu, hidup mereka yang miskin akan semakin miskin. Makin banyak anak-anak yang taksekolah sebab takpunya biaya. Ah, makin banyak hal yang akan terjadi.

Baiklah. Memang terkadang jajanan pinggir jalan itu takbaik untuk kesehatan. Ya. Untuk kesehatan individu, lebih tepatnya. Terlalu kompleks memang. Padahal hanya masalah makanan apa yang akan termakan. Segalanya memiliki rantai--yang jika terputus bagiannya akan memutus bagian yang lain.

Pedagang itu pun (mungkin) takmau mencampur dagangannya dengan segala sesuatu yang taksehat. Tapi harga bahan baku yang sehat juga terlampau mahal. Sementara, pembeli takmau membeli jika harga terlalu mahal. Taksederhana.

Namun, melarang membeli makanan mereka juga bukan salah satu cara melenyapkan masalah kesehatan di negeri ini. Entahlah. Saya juga belum punya solusi untuk mensikronkan antara tuntutan kesehatan dan tuntutan ekonomi. Saya juga cuma bisa mengkritik. Takada beda sama mereka. Maafkan saya.

Minggu, 26 Agustus 2012

Ssstt... Jangan Bilang Siapa-Siapa!

Ini rahasia! haha
Sudah pernah saya katakan padamu, kan? Saya bisa jatuh cinta pada seseorang dari tulisannya. Seriously!
Ya. Saya memang sedang jatuh cinta sekarang. Sudah lama. Tapi berhasil memendam. Ah, mirip cerita picisan. Entahlah. Saya bahagia saja jatuh cinta padanya. Mungkin nanti, ada definisi lain tentang jatuh cinta semacam ini. Intinya, saya jatuh cinta pada tulisannya. Pada pemikirannya. Ya. Bisa saja jatuh cinta semacam ini berdampak pada cinta orangnya. Abaikan. Saya semakin konyol.
Baiklah. Pada mulanya memang kesalahan saya yang suka jalan-jalan di blog orang. Membaca-baca tanpa dosa. Kalau menarik, saya langganan. Kalau tidak, sekali saja mampir. Okelah. Berawal dari sebuah pernyataan teman saya di twitter, yang menyatakan bahwa blog www.catatanugahari.wordpress.com itu bagus. Naluri jalan-jalan saya bekerja dengan baik. Sekali klik. Blognya muncul.
Dari judulnya saja, saya tahu. Itu tulisan takbiasa. Tulisan yang muncul dari pemikiran seorang yang sedikit anti-mainstream. Semacam candu. Saya ketagihan. Mengikuti setiap tulisan yang dibuatnya. Perlahan. Saya mulai jatuh cinta. Ya. Sebatas jatuh cinta. Tanpa berani komentar apa pun di blognya. Sedikit pengecut. haha. Dari rasa cinta itu, saya sempat mencari makna kata ugahari dalam KBBI. Artinya 'sederhana'. Ya. Semacam itulah dia. Kesederhanaan.
Dia sering bercerita tentang ayahnya. Tentang perjalanan yang telah dia lakukan. Tentang rasa muaknya pada dunia yang penuh artifisial ini. Tentang buku-buku yang sedang atau telah dia baca. Tentang bola. Tentang sastra dan sosiologi. Tentang hal-hal sederhana di sekitarnya.
Semua topik itu menarik hati saya. Ya. Kecuali bola. Dia berbicara secara jujur tentang apa yang dia rasakan. Saya bisa merasakannya itu. Memandang dunia dengan analisis dalam sudut pandang sosiologis.
Dari ceritanya, saya mulai sadar. Dia tidak berada jauh dari saya. Baiklah. Dia sering bercerita tentang kuliahnya. Tentang universitas. Akhirnya, saya bisa menebak. Dia kuliah di universitas yang sama dengan saya. Yang fakultasnya bersebelahan. Beruntungnya lagi, dia adalah teman seangkatan teman baik saya. Ah, hidup memang kadang-kadang terlalu sempit.
Saya pun tahu namanya. Tahu sedikit cerita tentangnya dari teman baik saya itu. Semacam pengagum yang gila. Saya pun sudah tahu orangnya. haha. Berharap. Suatu saat nanti, saya bisa mengobrol banyak dengannya. Tentang apa pun. Tentang hal-hal sederhana.
Bahkan, kemarin, saya dan dia sempat berada dalam satu acara Kuliah Kerja Nyata. Sayangnya, sekali pun saya takberani menegurnya. Terlebih dia. Sama sekali takkenal saya. Konyolnya lagi, saya berdoa pada Tuhan, siapa tahu kami ditempatkan di lokasi yang sama. Ternyata tidak. Bahkan satu armada pun tidak. Dia berada di armada timur, sedangkan saya di armada barat. Benar-benar belum berjodoh. haha. Jadilah, sampai sekarang. Saya masih menguntit tulisannya saja. Seperti dulu. Taklebih. haha

Senin, 13 Agustus 2012

Rangkaian K2N: Tanah Surga, Katanya!

Beberapa hari yang lalu, saya melihat acara infotainment. Awalnya, takmenggubris. Namun, setelah ada paparan tentang film baru dari Deddy Mizwar, saya sedikit melongok. Pasalnya, film yang berjudul "Tanah Surga, Katanya" itu bercerita tentang kehidupan perbatasan. Tentu saja, sangat mengingatkan saya pada proses K2N UI beberapa minggu yang lalu.
Saya ditempatkan di desa Wana Bakti, kecamatan Ketungau Tengah, kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Desa ini termasuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Hanya terpisah bukit.
Lantas, cuplikan film tersebut juga sangat mengingatkan saya pada kondisi di sana. Rumah panggung. Mandi di sungai. Tanah berlumpur. Jalanan rusak. Anak-anak. Merah putih yang jarang.
Ah. Perbatasan selalu membawa cerita. Setiap hari ketika di sana, saya harus berjalan sekira sekilometer menuju ke lokasi kegiatan. Mungkin, lagu pengiring yang tepat adalah "Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah, la la la...". haha. Memang seperti itu. Saya harus melewati jalanan tanpa aspal. Penuh lumpur. Jika tidak hati-hati, dapat dipastikan kaki akan tercelup pada lumpur itu. Sementara, di Pulau Jawa, hampir tidak ada jalanan yang takteraspal. Kalaupun belum teraspal, tanahnya masih bersahabat.
Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke. Ini Kalimantan. Harusnya masih Indonesia. Namun, sepertinya, campur tangan negeri ini tidak sampai ke tempat ini. Jalanan saja masih jauh dari layak. Terlebih listrik sama sekali belum masuk. Sampai sekarang saya masih menanyakan sila kelima pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia". Kebutuhan mendasar, seperti listrik, saja belum terpenuhi. Padahal, Pulau Kalimantan termasuk penghasil batu bara terbesar. Miris.
Kemudian tentang sungai. Biasanya, saya hanya melihat di televisi tentang kegiatan mencuci, mandi, dan segala macam dilakukan di sungai. Namun, di sini, saya merasakannya. Pertama kali mandi di sungai, saya seperti orang gagu yang ingin bicara. Kaku. Penuh ragu. Hanya memakai kain sebatas dada. Menuju sungai. Mencelupkan seluruh tubuh ke dalam air yang jernih dan sangat dingin itu. Ah, mungkin saya terlihat sangat norak pada saat itu. Namun, lama-lama biasa. Mungkin, keringat saya sudah menyatu dengan air sungai itu. haha. Mandi bersama-sama dengan penduduk setempat. Bercerita. Tentang apa saja.
Oh iya, ada tiga sungai di desa Wana Bakti, yaitu sungai Merakai, Empudau, dan Kemawil. Semuanya menyenangkan. Tapi saya paling suka mandi di sungai Empudau!
"Orang bilang tanah kita tanah surga..." Semacam lagu lawas yang berdengung. Kalau boleh saya meracau, tanah kita masih tanah surga. Surga dengan definisi yang berbeda. Surga di Jawa, mungkin, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Namun, surga di Kalimantan, mungkin, pasir sungai yang bercampur emas. Tuhan Mahaadil.
Beberapa waktu yang lalu, saya pulang dari Bandung. Naik kereta. Mengobrol banyak hal dengan Bapak yang duduk di sebelah saya.
"Tapi, sekarang kan semua daerah sudah terjangkau karena adanya internet." Beliau menanggapi cerita saya tentang Wana Bakti. Saya menggeleng pelan. Bagaimana bisa internet menyebar di sana, sementara sinyal pun takada.
Ya. Berbicara tentang perbatasan memang takakan habis masalah. Semoga saja. Suatu saat. Saya bisa kembali ke sana. Mengabdi lagi. Pada hal yang lebih nyata.