Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Sabtu, 05 Juli 2014

Perkara Pilpres yang Sebentar Lagi

Akhirnya saya pun terseret arus untuk tidak tidak membicarakan perkara ini. Saya tidak tahu banyak hal tentang siapa dan bagaimana kedua calon itu. Tentang apa visi misi mereka. Atau tentang apa dosa-dosa mereka. Hanya saja, saya tergelitik dengan hal-hal di luar hal itu. Hal-hal yang jika ditarik benang merahnya tidak akan memengaruhi jalannya pilpres ini.

Kemarin, saya membaca tulisan yang cukup netral yang disampaikan oleh Faldo Maldini--mantan Ketua BEM UI--yang dimuat dalam blog pribadinya, "Ada Indonesia di Ujung Sana". Tulisan ini berbicara tentang jalan panjang yang harus ditempuh oleh rakyat Indonesia, perjuangan yang terus-menerus harus dijalani, terlepas dari siapa pun pemimpinnya.

Saya setuju. Bahwa hari-hari ini dan beberapa hari ke depan akan menjadi hari-hari yang menentukan sejarah bangsa ini. Untuk kali ini, saya memutuskan untuk memilih, meskipun sampai detik ini saya belum menentukan pilihan. Saya cukup merasakan euforia pilihan presiden kali ini setelah periode-periode sebelumnya presiden saat ini mendominasi suara. Hanya ada dua calon, yang mungkin sama-sama baik atau sama-sama buruk, sehingga saya yakin masih banyak orang yang bingung memilih atas dasar tidak tahu mana yang lebih baik.

Ini adalah hari pertama hari tenang. Hari tanpa kampanye resmi meskipun saya yakin masih banyak kampanye terselubung di setiap akun jejaring sosial, entah kampanye hitam, putih, atau bahkan pelangi. Teman-teman saya dari beberapa waktu yang lalu juga hampir setiap hari meriuhkan calon-calonnya di grup Whatsapp. Ayah saya juga se(ter)lalu bersemangat mempromosikan calon yang beliau pilih. Setiap kali saya membuka akun jejaring sosial, yang ada hanya hujatan atau pujian terhadap salah satu calon.

Itu sah!

Tidak ada hal yang perlu dirisaukan. Kemarin, saya melihat sebuah meme yang intinya memohon agar 9 Juli cepat berlalu sebab banyak yang mulai eneg. Bahkan, seorang teman saya mengaku dari beberapa hari yang lalu hingga 11 Juli telah memblokir segala macam obrolan yang berkait dengan pilpres, pemilu, dan lain sebagainya itu.

Sejujurnya, saya jauh lebih menikmati respons yang ada daripada visi misi dua kandidat itu. Respons yang muncul seringkali sebuah ide kreatif yang luar biasa, katakan saja video-video kampanye atau slogan-slogan kampanye. Barangkali memang benar, momen pilpres 2014 tidak akan pernah terulang. Dua kandidat dengan pendukung masing-masing yang saya rasa sama kuatnya. Yang sudah memiliki media sendiri untuk mempromosikan dirinya. Sehingga, sampai detik ini pun, saya tidak ada bayangan siapa yang akan memenangkan perhelatan ini.

Kurang dari 3 hari, perhelatan itu akan digelar. Detik-detik menuju sejarah baru. Memilih untuk menikmati momen-momen yang tidak akan terulang ini sepertinya jauh lebih menarik daripada hanya mencaci atau melarikan diri. Barangkali, kali ini saya percaya bahwa politisi yang buruk terpilih karena orang-orang baik memilih untuk tidak memilih. Siapa pun pilihannya, saya yakin, ada kebaikan yang sudah dipertimbangkan baik-baik.

Dan, yang lebih penting, tidak terlalu berharap lebih pada siapa pun yang telah terpilih nanti juga akan menjaga kepercayaan pada negara. Memilih sewajarnya, percaya sewajarnya. Sebab, terlalu tinggi ekspektasi akan menjatuhkan dan membuat sakit. Percayalah, ketika siapa pun yang terpilih nanti, janji-janji pada masa kampanye akan menguap satu per satu. Lalu, terlupakan perlahan. Barangkali saya salah akan hal ini. Dan, semoga yang terpilih nantinya juga akan tetap amanah. Namun, pemerintahan yang sudah-sudah mengajarkan banyak hal.

Lantas, bagaimana jika siapa pun yang terpilih nanti, akan bekerja untuk pihak yang sama? Atau memiliki tujuan yang sama. Apakah segala macam caci maki dan hujatan selama ini masih berarti? Apakah kehidupan akan berubah menjadi sejahtera semuanya? Atau apakah kandidat yang dibela mati-matian itu akan peduli pada kehidupan yang membela itu? Ah, maafkan saya yang terlalu pesimis memandang negeri ini. Nyatanya, saya harus memandang pilihan presiden ini dari dua sisi. Dua sisi yang akan menyeimbangkan segala sesuatunya.

Barangkali, tulisan ini terlampau terlambat. Barangkali juga sudah terlalu banyak dibahas. Ah, maafkan saya yang tidak membawa kebaruan dalam sumbangan pemikiran perhelatan akbar ini. Namun, satu hal saja yang patut saya camkan baik-baik bahwa seharusnya saya tidak berhak membenci siapa pun meskipun saya berhak tidak memercayai siapa pun.

Jombang, 6 Juli 2014, hari-hari menjelang pilpres

Rabu, 25 Juni 2014

The Fate of Pedestrians in Jakarta, Indonesia

Some years ago, 11 pedestrians died because of car accident. The car who is driven by Afianty--a young woman--hit eleven pedestrians who were walking on the sidewalk, Tugu Tani area, Central Jakarta, Indonesia. The case showed us how the pedestrians did not save too. Jakarta is a metropolitan city which many problems occur here, included high traffic jam, even car accident. The case of Afianty is the one case, because there are many others case which happen in Jakarta, especially for pedestrians.
Detik.com upload a news about a pedestrian who get abusive words from the biker because the biker hit him in sidewalk. The biker was angry whereas the accident occur on the sidewalk. It is irony. How come the biker who is angry, whereas the pedestrian walks on the sidewalk? Is the pedestrian right?
In Jakarta, it becomes a habit when the bikers ride their motorcycle on the sidewalk. I'm sure that Jakarta's government has many efforts to give some good facilitates for the people, like a sidewalk, public transportation, and so on. Yet, the people oftentimes negotiate what the given of government. The simplest example is sidewalk's function. In Jakarta, the sidewalk normally becomes a place for selling something, riding a motorcycle, parking, even placing of pet, like cow. Is it interested, right? The phenomena can be seen in pictures below.
Picture is taken from here http://jakartapedestrian.wordpress.com/
The biker was riding her motorcycle on the sidewalk
The generic is sidewalk for pedestrians, but here sidewalk can be anything. The people negotiate how can maximized the empty space around the crowded space in Jakarta. Therefore, they are able to sell something or to bike their motorcycle when traffic jam on the sidewalk. I think, it is their way to adapt the new system.
However, some people think that the sidewalk's functions have to restore. Therefore, some people make a community which wanna restore the function of sidewalk for pedestrians' right. For the first time, they make the community in Facebook and Twitter, the name is "Gerakan Koalisi Pejalan Kaki" or Pedestrians' Coalition Movements. Then, they demonstrate on the sidewalk to give awareness for the bikers. On the others side, government try to put some iron barrier on the sidewalk which purpose the bikers can not pass the barrier.
The picture was taken from here http://www.radarlampung.co.id/read/radar/berita-foto/69867-kegigihan-gerakan-koalisi-pejalan-kaki-kembalikan-hak-pedestrian-di-jalan
Gerakan Koalisi Pejalan Kaki demonstrate to give awareness about pedestrians' right to the bikers.
I think, all of the efforts restore the function of sidewalk, but, I'm sure, the people of Jakarta always find the new way for negotiating the new system, whatever it is. Let's see, the sidewalks in Jakarta only have a little probability to get their mainly function for the pedestrians. It can be concluded that the fate of pedestrians in Jakarta never change well if the people are not awareness about the pedestrians' right.

Source of picture:
Picture 1: http://jakartapedestrian.wordpress.com/
Picture 2: http://www.radarlampung.co.id/read/radar/berita-foto/69867-kegigihan-gerakan-koalisi-pejalan-kaki-kembalikan-hak-pedestrian-di-jalan

*This article also was published in http://aquantumcityjakarta.wordpress.com/2014/06/26/the-fate-of-pedestrians-in-jakarta-indonesia/ for the result of Quantum City Jakarta Workshop, in University of Indonesia, 23 until 26 June 2014

Senin, 23 Juni 2014

Perayaan Kehilangan

Rasanya terlampau susah jika hidup dengan kepala yang di dalamnya sedang ada peperangan. Ricuh. Setiap kata saling bertabrakan entah akan menghasilkan apa. Saya sedang berada di dalam sebuah lokakarya yang berbicara tentang Quantum City. Entahlah. Saya juga tidak terlalu paham dengan segala macam yang dibicarakan dalam ruangan ini. Kepala saya sedang berperang untuk hal yang lain. Sedang ada kericuhan di kepala saya tentang sebuah hal di luar sana yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan ruangan ini. Mungkin ada hubungannya, hanya saja saya belum bisa mengelaborasi perang di kepala saya dengan apa yang terjadi di ruangan ini. Semoga nanti.

Tentang ruang, tentang waktu, tentang jarak, tentang kecepatan, yang semuanya berada dalam satu aliran yang sama. Hanya saja ada banyak persimpangan. Entah saya berada di persimpangan yang mana. Saya tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nantinya. Setiap hal tumpang tindih dan selalu berseberangan. Saya sedang mencoba memilah-milah apa penyebab perang di kepala saya. Nyatanya pun saya bukan pemilah yang baik. Saya sama sekali tak berhasil. Jadi, maafkan saya, jika kalimat-kalimat selanjutnya adalah kalimat yang melompat-lompat, bahkan mungkin tidak saling berhubungan.

Tiba-tiba saja, saya teringat kalimat Seno Gumira Ajidarma bahwa dalam setiap diri pertemuan sudah terkandung perpisahan. Iya. Cepat atau lambat. Perpisahan selalu saja dekat dengan kehilangan. Lantas, kehilangan selalu saja memenuhi ruang, menebas jarak, dan menghentikan waktu. Rasanya begitu cepat. Saya masih teringat bagaimana keranda membawa tubuh kakek saya. Kakek yang beberapa waktu sebelum pergi selalu berjanji akan mengantar saya sekolah TK. Pada saat itu, saya masih berusia empat tahun, beberapa bulan lagi akan memasuki sekolah. Sayangnya, di atas janji kakek saya, masih ada Tuhan. Pada bulan Juni, kakek saya harus pergi. Meninggalkan saya menunggu janji itu. Padahal, tinggal beberapa hari lagi, ayah saya mendaftarkan saya ke sekolah. Jadilah, sejak kepergian kakek saya itu, saya harus menjalani hari-hari TK saya sendirian. Tidak pernah ada yang menunggui saya sebagaimana teman-teman saya yang lain. Pada akhirnya, saya pun terbiasa menjalani hidup sendirian.

Barangkali, Sapardi benar. Bahwa tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni.

Atau mungkin Tuhan memang senang bercanda. Dia suka mendatangkan orang-orang di tengah-tengah kehidupan, lalu tiba-tiba saja menyuruhnya pergi. Tanpa permisi. Entah lama, entah sebentar, orang itu singgah atau menetap. Kalaupun menetap, suatu waktu pasti akan tetap pergi. Jadi, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar menetap dalam hidup. Datang dan pergi begitu saja jika kata Letto.

Maafkan saya yang tiba-tiba saja teringat pada kakek saya. Pada janjinya yang akan selalu mengantar saya sekolah. Pada kebiasaannya yang selalu membawakan saya sekotak Buavita rasa jeruk setiap bulannya. Pada rutinitasnya yang pagi-pagi sudah membersihkan halaman. Pada hangat pelukannya. Pada cerah senyumnya. Dan, pada keranda yang telah membawanya pergi. Membuat kehilangan. Membuat kesepian.

Namun, kepergian seseorang dalam hidup selalu mengajarkan banyak hal. Agar tak melulu bergantung, tak selalu berharap, dan tak sering meminta. Kepergian selalu menyisakan kehilangan. Dan, kehilangan tak melulu dimaknai dengan kesedihan meskipun kata kehilangan dan kesedihan adalah dua saudara kandung. Hanya saja, kehilangan dapat sedikit dirayakan dengan atau tanpa kembang api.

Saya bisa keluar rumah sejenak. Melihat langit, entah sedang berwarna apa. Atau pergi naik kereta listrik, menghitung panjang rel entah dengan apa. Atau saya bisa mengikuti lokakarya seperti ini entah membahas apa. Atau mungkin saya bisa pergi sejenak dari rutinitas entah ke mana.

Ah, Kakek, sedang apa di sana? Semoga selalu bahagia. Semoga juga sedang merindukanku. Semoga baik-baik saja.

Rabu, 18 Juni 2014

Semester Dua yang Selesai

Dan, percayalah, segala sesuatu akan selesai pada tenggatnya.


Begitulah. Akhirnya, semester ini pun selesai juga. Tiga hari yang lalu, lebih tepatnya, setelah makalah terakhir terkumpul. Segala macam perjuangan semester ini berakhir secara simbolis. Jika boleh menganalogikan, semester ini adalah sebuah perjalanan mendaki gunung. Dua belas makalah tugas akhir untuk lima mata kuliah, semacam terdengar tidak masuk akal untuk dikerjakan dalam waktu tidak lebih dari dua minggu. Perjalanan selalu mengajarkan banyak hal, termasuk semester ini. Mengajarkan saya untuk berhenti mengeluh dan sering-sering bersyukur. Bahwa segala sesuatu tidak ada yang sia-sia.

Pun, perjalanan selalu menemui banyak rintangan. Tengah semester yang lalu, saya harus opname karena terkena typhoid. Opname pertama dan semoga yang terakhir. Lima hari di rumah sakit rasanya sewindu. Setelah itu pun tak juga pulih. Saya harus meminta izin untuk tidak masuk kuliah kurang lebih dua minggu karena saya masih ringkih untuk kembali ke rutinitas. Dua minggu saya hanya lontang-lantung di rumah tanpa tahu harus melakukan apa, selain main Candy Crush. Saya juga harus menunda untuk mengumpulkan beberapa tugas karena saya sama sekali tak bisa berpikir. Lalu, saya juga harus terpaksa menolak beberapa pekerjaan dengan alasan kesehatan. Ah, padahal, dulu saya selalu merasa tangguh untuk melakukan banyak hal sekaligus. Nyatanya, setiap hal selalu ada limitnya.

Bagaimanapun, saya sudah seharusnya bersyukur. Semester ini akhirnya berlalu, padahal sebelumnya saya sempat mengajukan cuti, tetapi ditolak dengan alasan sudah separo semester. Sekarang, kondisi saya sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari pascaopname. Semoga sampai nanti selalu baik, dalam segala hal.

Semester dua telah selesai, tinggal satu semester lagi untuk merencanakan segala sesuatunya. Waktu itu seperti terbang, ya? Rasanya baru kemarin saya wisuda sarjana, sekarang saya sudah harus merencanakan topik tesis. Ah, di penghujung semester dua ini pun saya belum tahu akan membahas apa, sedangkan bab I harus sudah selesai pada semester tiga.

Sudahlah. Saya yakin, segala sesuatunya pasti akan selesai pada waktunya. Meskipun belum memiliki topik tesis sekarang, pada waktunya nanti juga akan ketemu, akan mendapatkan ilham, sebagaimana skripsi saya tempo lalu. Saya percaya, dua tahun adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan kuliah ini. Tidak perlu lebih, kalau bisa kurang. Demi senyum yang merekah di wajah kedua orang tua saya. Semoga. Semoga saya masih sempat membahagiakan banyak orang.

Kamis, 05 Juni 2014

Ayah dan Cerita-Ceritanya yang Tak Pernah Ada

"Raden Patih Gajahmada itu pengkhianat, Yah!" kata saya sambil tertawa.
"Kamu itu, semua orang aja dibilang pengkhianat, Prabowo pengkhianat, SBY pengkhianat. Siapa coba yang gak kamu bilang pengkhianat? Gajahmada orang besar dibilang pengkhianat."

Saya hanya tertawa. Bukan. Bukan tentang isi percakapan yang sedikit absurd. Atau tentang pembelaan ayah saya pada orang-orang itu. Saya hanya bahagia. Bahagia saja ketika bisa bercerita dan berbicara apa saja dengan ayah saya meskipun sekali lagi percakapan kami absurd. Bahkan, ayah saya suka sekali mengarang cerita bahwa dia sedang rapat koordinasi dengan PKD (Partai Kekuasaan Desa), PKW (Partai Kebugaran Wanita), atau PKPR (Partai Kebugaran Pria). Katanya, rapat itu untuk mempersiapkan pemilu 2019 dan saat ini sedang menggalang dukungan untuk kemenangan Prabowo-Hatta.

Sudahlah. Jangan hiraukan cerita karangan itu. Demi apa pun, cerita itu tidak pernah ada. Ayah saya sedang mencari topik untuk obrolan di telepon bersama saya. Telepon yang tak jarang berjam-jam itu hanya dihabiskan dengan membicarakan hal-hal yang tak pernah ada. Saya menanggapinya agar kami sama-sama bahagia.

Iya. Jarak yang entah berapa ratus kilometer di antara kami memang terasa sedikit mengganggu waktu bertemu kami. Berapa bulan sekali saya pulang pun tak tentu. Berapa kali ayah menjenguk saya di kota ini pun hanya sekali. Itu pun saat saya wisuda sarjana.

"Kamu kalau kuliah di Gadjahmada, nanti Ayah bisa menjenguk kamu kapan pun. Dan, kamu bisa pulang kapan aja," kelakar ayah saya. Saya hanya mengaminkan dalam hati. Semoga. Semoga segala sesuatunya bisa berjalan sesuai rencana.

Saya tahu sekarang. Barangkali, ayah saya sedang kesepian. Adik saya sudah besar, sudah kuliah, sudah tinggal di luar kota, sudah tidak di rumah setiap hari. Lalu, di rumah tinggal ayah dan mama. Saya bisa membayangkan betapa sepi hari mereka. Pulang kerja, sama-sama capek, tanpa hiburan dari kedua anaknya. Ah, rasanya ingin sekali bisa pulang kapan pun. Namun, entahlah. Di sini terlalu penat.

Satu hal saja yang saya takutkan jika saya masih terlampau egois melawan jarak. Saya takut tidak bisa menghitung lagi uban di kepala ayah saya atau sekadar memijit punggungnya atau membuatkan segelas teh--yang katanya tak ada rasanya itu. Tapi, saya bahagia. Semoga ayah saya juga bahagia memiliki saya. Semoga.

Rabu, 04 Juni 2014

Dibutuhkan Segera: Bahu dan Telinga

Maafkan saya, yang akhir-akhir ini sedang banyak berkeluh kesah di ruang ini. Namun, entahlah. Saya juga tidak tahu bagaimana harus membuat rasa yang membuncah ini agar memiliki tempat. Satu-satunya ruang hanya di sini. Yang sepi. Tanpa kericuhan yang sedang ada di luar sana.

Sudah beberapa hari ini saya sulit memejamkan mata: satu hal yang hampir tidak mungkin bagi saya. Saya terjaga hingga pukul tiga dini hari, bahkan puncaknya semalam saya tidak bisa tidur sama sekali. Sementara paginya saya harus ke kampus.

Alhasil, dari semalam, kepala saya sakitnya tak mereda, malah bertambah setiap saat. Rasanya seperti sedang ditekan oleh tangan yang kuat. Sakit sekali. Sudah istirahat juga tadi sore. Ah, tetap sakit. Entah mengapa. Mungkin saya sedang stres tentang banyak hal. Satu hal saja sebenarnya yang saya inginkan: bahu dan telinga. Entah berapa kali saya membutuhkan ini. Saya hanya ingin bercerita panjang lebar pada seseorang seperti biasanya, lalu berdiskusi memecahkan masalah atau sekadar mencari ide untuk makalah. Agar sakit ini cepat mereda. Sebab semacam waktu saya terbuang percuma. Saya sakit dan tak bisa tidur. Lantas, saya juga tidak bisa menyelesaikan tugas akhir. Semakin menambah sakit rasanya.

Barangkali, harga bahu dan telinga pun sekarang sedang mengikuti harga dolar. Untuk kali ini, saya tak mampu membelinya. Jadi, saya harus tetap bertahan. Pada rasa sakit dan cerita-cerita yang tak bisa lagi diceritakan.

Jumat, 30 Mei 2014

Listrik Sudah Nyala, Nyatanya Aku Masih Memikirkanmu

Hampir tengah malam. Beberapa waktu yang lalu listrik padam, hampir lima jam. Aku takbisa tidur, sama sekali. Kamu pun sangat tahu jika aku takbisa tidur dalam gelap sebab rasanya sedikit sesak. Biasanya, aku hanya tinggal menunggu teleponku berdering tepat ketika aku mengatakan bahwa listrik padam kepadamu. Sayangnya, malam ini aku harus melewatinya sendirian. Namun, takapa. Aku masih bisa mengingatmu dengan baik, tandanya aku masih baik-baik saja.

Maka dari itu, aku pun berpindah-pindah kamar: mencari teman. Namun, tetap saja aku takbisa tidur hingga detik ini, padahal listrik sudah nyala. Barangkali, memikirkan kamu yang membuatku takbisa tidur hingga pukul sekian. Ditambah lagi bau obat kecoa yang menguar memenuhi ruangan. Teman sebelah kamarku takut kecoa, lantas ia seolah berperang dengan kecoa-kecoa yang keluar dari lubang kamar mandi karena efek listrik padam.

Ah, kamu. Apa kabar? Semoga tetap baik-baik saja. Semoga taklupa makan, mandi, dan istirahat. Aku rindu. Sangat. Ah, tapi sudahlah. Lupakan sejenak rinduku ini. Aku hanya ingin meminta maaf. Sungguh-sungguh minta maaf. Aku sama sekali takmembantu, malah menghancurkan hasil kerjamu. Maafkan aku, sekali lagi. Aku tidak tahu harus berbuat apa, selain mendoakan untuk kebaikanmu. Semoga kamu tetap baik-baik saja, sebaik aku memikirkanmu. Dan, tentu saja aku sangat mengkhawatirkanmu. Namun, untuk kali ini aku takbisa berbuat banyak.

Semoga kamu tetap memaafkanku. Semoga. Barangkali, aku memang terlalu sibuk hingga takada waktu untuk membantumu. Lagi-lagi aku hanya bisa meminta maaf. Namun, sungguh, pada saat itu, aku sudah melakukan hal yang terbaik. Sudahlah. Maafkan aku. Yang sampai saat ini pun belum bisa menjadi orang yang baik, paling tidak untukmu. Maafkan aku untuk yang entah keberapa kali. Maaf untuk segala hal.

Kamis, 29 Mei 2014

Kali ini tentang saya

Menjadi perempuan manusia yang baik itu sedikit butuh usaha, ya? Harus kuat menghadapi banyak hal dan banyak orang. Harus tahan dengan rasa kecewa dan sedih. Entahlah. Ini saya sedang tidak ingin membicarakan gender--apakah perempuan atau laki-laki yang lebih kuat menahan rasa kecewa--anggap saja saya sedang berbicara tentang manusia, atau jika masih terlalu umum, saya sedang membicarakan diri saya sendiri yang diatasnamakan manusia berwujud perempuan.

Baiklah. Sesungguhnya saya bingung harus memulai segala macam rasa ini dari mana. Entah dari mana rasa sedih yang tetiba banyak ini. Saya hanya ingin melakukan segala hal yang terbaik untuk orang-orang yang saya sayangi. Mencoba banyak cara agar mereka bahagia. Namun, terkadang, niatan baik itu tidak berbanding lurus dengan timbal baliknya. Lantas saya kecewa? Barangkali sudah tidak. Barangkali saya juga sudah menuliskan hal yang sama ini berkali-kali. Tapi, saya masih merasakan kesedihan yang sama. Ohh. Mungkin saya hanya belum banyak belajar bagaimana mengatasi rasa ini.

Mungkin benar, bahwa manusia tidak bisa membahagiakan semua orang. Ah, tapi, jika ingin membahagiakan beberapa orang pun saya belum mampu. Mungkin masalahnya ada pada saya. Saya yang terlalu memaksakan agar mereka bahagia. Nyatanya, mungkin sebaliknya. Duh. Jangan-jangan saya sedang membuat beberapa orang berpura-pura bahagia di hadapan saya. Ah, maafkan saya.

Saya tidak tahu harus bagaimana ketika seseorang yang saya sayang mengatakan bahwa dia kecewa dengan saya. Sementara, saya sudah melakukan hal terbaik dari diri saya untuknya. Ohh. Barangkali, terbaik dari saya belum tentu bisa menyamai standarnya. Saya hanya bisa minta maaf, tanpa tahu dimaafkan atau tidak. Lalu, saya tidak tahu harus bagaimana ketika saya ingin mengingatkan seorang teman agar tidak terjebak ke dalam sesuatu yang merugikan, teman saya tersebut malah menyalahkan saya karena menurutnya dia batal mendapat keberuntungan. Saya juga hanya bisa minta maaf. Saya juga tidak tahu harus berbagi dengan siapa lagi. Sesungguhnya, masih banyak hal lain yang membuat saya tidak tahu harus bagaimana. Saya hanya bisa meminta maaf. Berlagak kuat bahwa saya baik-baik saja di depan semua orang.

Begini saja, bagaimana jika kamu sudah melakukan segala hal dan apa pun untuk orang-orang terdekatmu, tetapi orang-orang terdekatmu tidak pernah menganggapmu ada? Lalu, jika kamu mengeluhkan hal ini pada entah siapa, dan entah siapa itu mengatakan bahwa kamu yang terlalu berpikiran aneh-aneh. Apa yang bisa kamu lakukan? Jika saya memang hanya bisa menangis diam-diam. Namun, menangis diam-diam pun, masih dikatakan terlalu sensitif dan aneh. 

Ah, menjadi manusia pun terlalu rumit rupanya, terlebih perempuan seperti saya. Yang menjadi serbasalah. Terlalu perhatian pada orang-orang yang saya sayang juga takut. Tidak perhatian pun saya merasa bersalah. Sebab, sungguh, saya menyayangi mereka. Jika rasa sayang ini pun belum cukup untuk membuat mereka bahagia, saya tidak pernah tahu lagi apa yang bisa saya berikan untuk mereka. Mungkin kebahagiaan tanpa saya.

Selasa, 20 Mei 2014

Dear Kamu,

Barangkali, memang benar apa yang dikatakan oleh seseorang di luar sana, Sayang. Bahwa cinta itu membuat cukup, membuat menerima.

"Pergilah. Kamu pasti akan menemukan lelaki yang jauh lebih baik daripada aku," katamu suatu waktu yang entah berapa kali. Yang entah ke berapa kali juga aku menangis setiap kamu mengatakan kalimat itu. Kamu bilang aku terlalu sensitif. Namun, perempuan mana yang tidak menangis ketika lelakinya menyuruhnya pergi untuk mencari kebahagiaan lain. Sementara, lelaki itulah sumber kebahagiannya.

Ada nyeri yang takterungkap.

Aku takpernah tahu, apa yang sedang ada dalam pikiranku tentangmu. Hanya saja aku mencintaimu. Itu saja. Barangkali, itu cukup bagi seseorang--termasuk aku--untuk memutuskan bertahan. Pada apa pun. Pada setiap apa, mengapa, dan bagaimana. Bertahan untuk tetap ada.
Aku takpernah menunggu lelaki lain--yang katamu akan lebih baik dari kamu--sebab aku mencintaimu. Cinta itu membuat cukup, membuat menerima. Aku takpernah tahu--atau lebih tepatnya takpernah mencari--siapa yang lebih baik. Bagiku, takada lelaki yang lebih baik daripada kamu. Sebab aku mencintaimu. Hanya kamu. Mencintaimu hanya tahu perkara waktu yang sedang dijalani. Bukan kemarin, terlebih besok.
Aku mencintaimu. Jika dengan cinta yang aku gembar-gemborkan ini takcukup, tentu saja, kamu boleh memilih: untuk pergi atau memilih yang lain. Ah, tetapi, tentu saja, kamu boleh bertahan selama kamu mau. Kamu juga masih boleh takpercaya jika aku akan tetap membuka lebar-lebar lenganku untuk menyambut pelukanmu selama apa pun.

Bukankah kita sudah sangat hafal kalimat ini: aku takkeberatan menunggu siapa pun seberapa lama pun, selama aku mencintainya? Aku hanya mencintaimu. Itu saja. Semoga itu cukup untuk membuatmu nyaman, bersamaku.

Senin, 24 Februari 2014

Kepada Kamu. Muara Rindu

Semenjak kepergian itu, aroma tubuhmu--yang sempat kucium sebelum kereta yang membawamu pulang itu berangkat--masih melekat. Dalam ingatan. Padahal, sudah berapa purnama semenjak kepergianmu? Kukira banyak. Hanya saja, kenangan selalu saja membawa pada hal-hal yang seharusnya diingat. Tanpa diminta.

Kepada kamu. Rinduku itu jatuh. Bertumpah ruah dalam ruang tak terbatas. Pun tanpa diminta. Rindu. Yang semenjak bertemu matamu, aku selalu saja kerepotan untuk mengasuhnya. Pun rindu. Yang membuat mataku selalu mencari matamu. Mata bulat itu. Yang tak pernah berhenti membuatku merindu.

Kepada kamu. Rinduku menjadi liar. Yang sebelumnya tak pernah ada. Terbungkus rapi. Kini ke mana-mana. Serupa kopi panas yang tumpah. Menempel. Membuat noda. Susah hilang. Begitulah. Barangkali bisa dikata seperti itu. Ya. Hanya kepada kamu.

Lalu, jarak seringkali dituduh sebagai penghalang rindu. Aku toh setuju saja. Hanya, yang aku tahu. Jarak adalah satu-satunya alasan yang membuat rindu semakin khidmat. Yang aku juga tahu. Apa pun itu. Muara rindu masih sama. Kamu.

Rabu, 12 Februari 2014

Anak Panah, Apa Kabar?

Gambar diambil di sini


Anak Panah, apa kabar?

Ceritanya aku sedang ikut-ikutan menulis surat cinta. Pada bulan yang katanya bulan cinta. Meskipun aku tahu, aku tidak akan sanggup ikut #30HariMenulisSuratCinta. Dan, ini pun bukan surat tentang cinta. Hanya saja aku sedang mencoba mencari tahu tentang kabarmu. Hallo, Anak Panah, apa kabar?

Bagaimana? Adakah sesuatu hal yang lain yang membuatmu enggan menulis surat atau sekadar membalas suratku lagi? Atau mungkin kau tak lagi mengunjungi laman ini karena kesibukanmu, mungkin? Barangkali memang seperti itu.

Aku hanya ingin berterima kasih padamu. Pada anak panah yang pernah kau lepaskan meskipun taktahu arah. Terima kasih sudah menulis untukku. Barangkali aku sudah berterima kasih padamu berkali-kali pada surat yang takpernah lagi kau balas itu. Tapi, takapa. Aku hanya ingin berterima kasih.

Ah, iya, satu lagi. Aku pernah bercerita tentang Lelaki Lampu, bukan? Iya. Lelaki Lampu yang pada saat itu hampir menyita seluruh perhatianku. Yang hampir saja membuatku gila. Ah, ini mungkin berlebihan. Tapi, satu hal yang harus kamu tahu. Tuhan mendengar doa-doaku untuk Lelaki Lampu itu. Agar aku dan Lelaki Lampu itu dipertemukan dalam aliran waktu yang sama. Ah, kau pun sebenarnya takperlu tahu doa-doaku yang lain. Tapi, terima kasih. Aku bahagia bersama Lelaki Lampu itu. 

Anak Panah, apa kabar?

Aku pun takpernah tahu bagaimana harus berterima kasih padamu. Dan, masih sangat berharap, kau tetap ada di depan lamanku meskipun takharus setiap hari. Terima kasih sudah membaca dan menulis untukku.

Sabtu, 25 Januari 2014

Seharusnya Aku Bertemu Kekasihmu di Stasiun Tugu

Seharusnya aku bertemu kekasihmu di stasiun tugu tempo lalu. Sayangnya, kekasihmu takpernah datang. Hingga dini hari. Hingga kereta fajar yang membawaku pergi. Barangkali kekasihmu takpernah mau bertemu denganku. Atau barangkali gemericik air dari langit sejak senja kemarin berhasil mengurungkan niatannya. Atau kekasihmu sedang sakit. Yang pasti tidak ada kabar dari kekasihmu. Sama sekali. Selain menunggu fajar, aku juga menunggu layar. Layar ponsel hitam putihku berkedip. Berharap dari kekasihmu. Ternyata hanya kamu. Kamu yang berkali-kali menanyakan apakah kekasihmu sudah tiba. Aku yang akhirnya berkali-kali juga membalas pertanyaanmu dengan jawaban yang sama. Barangkali, operator seluler kita juga bosan mengirim pesan yang sama berkali-kali. Tapi, peduli apa. Kekasihmu takpernah datang. Takpernah menemuiku di stasiu  tugu hingga pekat berganti semburat merah, lalu terang.

Seharusnya aku bertemu kekasihmu di stasiun tugu waktu itu. Sebatas mengucap salam. Barangkali sedikit permohonan maaf dan ucapan terima kasih. Sebab, telah menjagamu. Paling tidak, menjaga hatimu. Lalu, menyampaikan pesanmu yang singkat itu. Sebatas selembar kertas. Bertuliskan namamu dan namaku. Dan, dengan kerendahan hati, meminta kekasihmu hadir pada tanggal yang telah ditentukan dalam selembar kertas itu. Ah, kekasihmu cukup baik untuk datang, bukan? Begitulah katamu tempo lalu. Bahwa kekasihmu itu bak malaikat. Lalu, dengan mudahnya kamu membandingkanku dengan kekasihmu itu. Tentu saja, aku manusia.

Seharusnya aku bertemu kekasihmu di stasiun tugu pada senja itu. Tapi, sayangnya, kekasihmu takpernah datang. Tidak akan pernah. Kamu lihat saga yang menggantung di langit itu? Barangkali. Itu kekasihmu yang menjelma. Menjelma isyarat.

Senin, 09 Desember 2013

aku mencintaimu

waktu memang terlalu cepat membawa kita pada hal lain. termasuk jatuh cinta. siapa sangka. aku bisa jatuh cinta padamu. setelah waktu-waktu yang lalu. yang takpernah ada kata kita. siapa sangka. pada akhirnya kita mengayuh sepeda bersama. menuju ujung jalan itu. melipat jarak. menyimpan rindu. atau bahkan merayu waktu. siapa sangka. pada akhirnya tuhan mempertemukan kita dengan cara yang takpernah dibayangkan. lalu, perasaan ini mengalir begitu saja. sebab, aku percaya, kamu akan datang tepat waktu. tidak terlambat. tidak tergesa-gesa.

begitulah. aku mengingatmu banyak-banyak. bukan sekadar mengingat. merindu lebih tepatnya. terlebih pada sore manis yang gerimis. setelah aku berjeda dengan banyak hal yang seringkali kaubilang sibuk itu. dan berkali aku bilang bahwa aku taksibuk. aku hanya mengisi waktu di antara jarak ratusan kilometer ini. menunggu pertemuan selanjutnya. percaya saja. toh, itu kenyataannya.

Pada Sore yang Takmanis

Sudah terlalu lama saya berdiam di kamar. Hanya menekuni satu per satu huruf dalam jurnal. Membuat reviewnya. Begitu seterusnya hingga akhirnya saya sadar. Ada banyak sarang laba-laba di ruang ini. Berdebu. Membuat ngilu.
Akhir-akhir ini, frekuensi menulis saya sungguh buruk. Saya hampir saja tidak menulis. Bahkan, sesingkat kicauan di jejaring sosial pun tidak. Rasanya saya sedang berada di antah. Yang terlalu sibuk dengan sesuatu yang entah apa.
Iya. Kuliah baru saya benar-benar menyita waktu saya. Membuat onar tatanan hidup saya--yang dulu hanya berisi senang-senang dan hura-hura. Jangan ditanya sekarang saya sedang apa. Ini pun saya sedang mencuri-curi waktu. Sekadar membersihkan debu dan jaring laba-laba di ruang ini. Pada sore gerimis yang sebentar lagi senja. Yang akan jauh lebih manis jika tanpa kejaran tenggat waktu. Tidak seperti sore ini yang sama sekali takmanis.
Ini pekan menjelang uas. Tidak terasa hampir sesemester saya sudah berada di jenjang ini. Tentu saja. Ada banyak hal yang berubah. Ada jadwal yang bernegosiasi dengan banyak hal. Ada banyak mimpi baru yang terus bertumbuh. Semoga tidak layu begitu saja seperti jenjang yang lalu.
Sudah. Sudah. Mari menulis yang lain. Agar sore yang takmanis ini bisa ditambah rempah. Biar tetap bisa ternikmati.

Kamis, 24 Oktober 2013

Untuk Kamu. Terima kasih.

"Seberapa lama kamu bisa berpindah?" aku menatap matamu lekat. Ada luka di sana. Entah dari siapa. Mungkin dari aku.
Hening.
"Iya. Berpindah hati." aku kembali menegaskan. Kamu masih bergeming. Masih menatapku. Aku salah tingkah. Pertemuan tak sengaja kali ini membawa kita pada percakapan tentang hal yang sama. Sudah lebih dari satu tahun. Tapi, masih saja tentang aku. Terlalu absurd memang kebetulan yang dicipta.
"Selama lamanya," kamu menjawab singkat. Giliran aku yang terdiam.
"Apa lagi yang kamu harapkan dari aku?"
"Selama harapan itu masih ada, tak ada salahnya aku berharap," kamu memainkan sedotan dalam minumanmu. Aku menghela napas. Tak tahu apa yang harus kukatakan padamu.
Selalu.
"Ada banyak perempuan di luar sana yang sedang menunggumu," aku mencoba mengalihkan perhatianmu. Kamu menggeleng.
"Cuma kamu,"
"Tapi, hidupku takhanya tentang kamu,"
"Bukan urusanku. Aku mencintaimu. Itu saja,"
"Aku sudah memilih yang lain," kataku hambar.
"Lantas?"
"Seharusnya kamu juga memilih yang lain saja," nada suaraku mulai sedikit kacau. Kamu menggeleng lagi. Aku semakin bersalah. Ah, bukankah hidup, terlebih cinta, memang hanya soal pilihan? Apa salahnya aku memilih orang lain, sedangkan kamu tetap memilihku?
Terlalu egois kelihatannya. Tapi, siapa yang tahu isi hati. Aku tak mungkin memaksakan perasaan, sementara perasaan dengan pasti memilih jalannya sendiri.
Lalu, di antara kita hanya ada sekat yang takterlihat. Yang membuat kaku setiap kali bertemu. Yang membuat lidah terlalu kelu.
"Terima kasih sudah mencintaiku," ucapku singkat, lalu berlalu dari hadapanmu.
Entahlah. Aku pun taktahu apa yang sedang kamu pikirkan setelah ini. Yang pasti, ada yang mengganjal di pelupuk mataku.

Rabu, 18 September 2013

Dari Baju Kebesaran Sang Raja Hingga Vickinisasi

Seorang Raja sedang kebingungan mencari penjahit untuk baju kebesarannya. Banyak penjahit yang telah datang, tetapi tidak ada yang pas dengan selera Raja. Sampai, suatu ketika, datanglah dua orang. Mereka mengatakan bahwa mereka adalah penjahit paling terkenal di negeri seberang. Mereka akan membuatkan baju kebesaran yang sangat istimewa untuk Sang Raja. Raja merasa hebat. Sebab, hanya orang pintar saja yang bisa melihat baju kebesarannya. Raja semakin senang.
Waktu  berjalan,  baju kebesaran telah siap. Raja becermin. Meskipun pada dasarnya Raja tidak melihat apa pun yang menempel di tubuhnya, Raja diam dan hanya mengangguk-angguk. "Iya. Iya. Bagus." komentarnya. Ya. Katanya hanya orang pintar yang bisa melihat rupa baju kebesaran itu. Para menteri pun hampir sama komentarnya. Tidak ada satu pun orang yang ingin terlihat bodoh dengan mengatakan bahwa dirinya tidak melihat apa pun.
Sampailah pada hari yang ditunggu. Raja ingin berkeliling wilayah kerajaannya dengan memakai baju kebesarannya itu. Rakyat menyambut gembira. Semua rakyat mengangguk-angguk dan (seolah) terkagum-kagum dengan kemewahan baju Sang Raja itu. Padahal, tak ada apa pun yang sedang menempel di tubuh Sang Raja. Sebab takada satu orang pun yang ingin terlihat bodoh.
"Raja telanjang! Raja telanjang!" seorang anak kecil yang taktahu apa pun berteriak lantang. Kasak-kusuk mulai terjadi. Kerumunan mulai riuh. Raja mulai panik. Lalu, satu per satu orang mengiyakan teriakan anak kecil itu. Diam-diam menertawakan Sang Raja. Tapi, lupa menertawakan dirinya sendiri. 

Baiklah. Mungkin itu cerita sederhana. Tentang baju kebesaran Sang Raja. Namun, paling tidak, bagi saya cukup lucu dan miris. Orang-orang dalam cerita itu menutupi hal yang sebenarnya hanya karena ingin terlihat pintar. Cerita itu mungkin hanya dongeng, tapi menggelitik. Sekarang pun sebenarnya banyak yang melakukan hal yang sama. Membuat diri seolah-olah pintar dengan melakukan berbagai cara. Apa pun. Termasuk berbicara yang sebenarnya entah apa, tapi terlihat keren karena menggunakan bahasa "tingkat tinggi". Iya. Saya memang sedang berbicara tentang fenomena yang baru saja terjadi. Tentang seorang yang bernama Vicky Prasetyo. Yang tetiba menjadi bahan tertawaan semua orang karena bahasa yang digunakannya entah bahasa mana. Yang mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang tahu. Lalu, semua orang--yang merasa bahasanya lebih baik dari dia--berbondong menertawakannya. Mungkin, saya juga termasuk orang yang menertawakannya.

Kemudian muncul banyak parodi yang mengejek Vicky. Dari istilah Vickinisasi hingga Kamus Bahasa Vicky. Lucu saja. Vicky hanya salah satu korban yang kebetulan terekspos ke publik. Padahal, masih banyak orang lain yang serupa Vicky. Yang jika berbicara selalu dalam tataran tidak dimengerti. Yang jika menulis berprinsip semakin tidak dimengerti, maka semakin terlihat hebat. Yang banyak nama besar selalu disebut dalam setiap helaan napasnya. Yang selalu mengutip kutipan-kutipan dari tokoh besar, yang sebenarnya tidak pernah dipahami maknanya. Yang selalu menyelipkan bahasa-bahasa asing yang sebenarnya tidak pernah diketahui terjemahannya. Lalu, dengan bahasa tingkat tinggi itu mereka bisa menyebut dirinya orang pintar. Lalu, banyak orang hanya bisa terdiam jika berhadapan dengan orang yang seperti itu.

Pada kenyataannya, itu tidak terjadi di kalangan penyanyi dangdut saja yang dengan mudah terkagum-kagum dengan buaian diksi Vicky. Sebut saja di kalangan akademisi. Sebut saja dosen yang mengajar. Sebut saja teman sekelas yang terlihat pintar. Seringkali mereka berbicara tanpa bisa dimengerti. Hanya karena mereka berasal dari kalangan akademisi, maka yang mendengar pun cukup dibuat percaya. Ada banyak titel di depan dan di belakang namanya. Lalu, mau protes atau bertanya tentang maksudnya? Mungkin, orang di sebelah akan menganggap bodoh. Daripada harus menghadapi hal yang seperti itu, lebih baik diam. Mengangguk-angguk. Seolah mengerti. Padahal, takada satu pun hal yang masuk ke dalam memori. Takada beda dengan orang-orang dalam cerita Sang Raja tersebut, bukan?

Setiap orang memang membutuhkan imajinasi. Mungkin, salah satu imajinasi yang menyenangkan adalah terlihat pintar. Maka, setiap orang mengandai-andaikan dirinya adalah orang yang sangat pintar. Semacam terjebak fantasi. Sebab setiap orang menggunakan bahasa yang tidak dapat dimengerti untuk memenuhi kebutuhan imajinasinya. Ah, mungkin tulisan ini juga salah satu pemenuhan imajinasi saya. Agar saya terlihat mengikuti perkembangan masa. Agar terlihat takketinggalan zaman. Tapi, percayalah, sampai saat ini saya masih percaya bahwa orang yang benar-benar mengerti akan menjelaskan segala sesuatunya dengan bahasa yang sangat sederhana. Yang setiap orang dapat dengan mudah memahaminya.

Ini lucu, bukan? 

Selasa, 27 Agustus 2013

Pasca-apa pun

Kurang dari tiga hari saya wisuda. Lalu, kurang dari lima hari saya mulai kuliah kembali. Jenjang yang berbeda tentunya. Saya bingung harus memulai cerita dari mana. Yang pasti, saya tidak merasa lulus. Bagaimana bisa merasa lulus jika dua hari setelah wisuda harus sudah kuliah seperti biasanya. Saya hanya ingin bersyukur. Itu saja. Paling tidak, saya ada alasan untuk tidak berbondong-bondong mencari pekerjaan. Ada penundaan. Entah sampai kapan.

Selasa, 13 Agustus 2013

Yang Seharusnya Ditinggalkan

Gambar diambil dari sini.


"Kamu?" Aku tertegun. Saat melihat tubuh yang dulu begitu kukenal sedang berdiri di depan pintu. Tersenyum. Lalu, semuanya tiba-tiba menguap. Dan, selalu saja begitu. Setiap kali matanya menatap lekat.
"Selamat lebaran. Mohon maaf lahir dan batin, ya!" dia berkata perlahan. Aku hanya mengangguk dan hanya terucap 'sama-sama'. Entahlah. Sudah berapa lama. Aku taklagi mengucap selamat Natal padanya. Sedang mencoba melupa. Dan, mungkin memang sudah terlupa. Meski sesekali masih terkenang.
"Silakan masuk," aku mempersilakannya dengan sedikit kikuk. Lalu, kami sudah berada di kursi masing-masing. Ujung dan ujung. Seolah tanpa pernah bersinggungan. Padahal, dulu. Ah, Sudahlah.
"Kamu apa kabar?" dia membuka hening yang sedang terjadi.
"Baik. Semoga kamu juga baik-baik saja," jawabku sekenanya. Aku takbermaksud menanyakan apa pun tentangnya.
"Begitulah. Aku juga baik. Sebaik aku mengingatmu," dia berkata tanpa perasaan. Aku semakin kikuk.
"Aku ingin mencoba opor ayam dan ketupat buatanmu," dia memecah hening kembali. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Aku tahu dia sangat tahu bahwa aku takpernah dan takbisa memasak, terlebih opor ayam. Terlalu rumit. Lalu, dia hanya tertawa. Tawanya masih sama. Renyah dan menghangatkan. Aku pun ikut tertawa. Sekadar membiarkan resah menyerah pada gelisah.
Sudah sangat lama. Aku takmelihat matanya. Sejak dia pergi setelah segala sesuatunya (harus) berakhir. Sudah pernah kubilang, setiap kali Natal, aku selalu mengingatnya. Dengan sangat. Sekadar mengingatnya. Dulu, ada rindu yang diam-diam melekat, lalu tertiupkan pada angin agar tersampaikan padanya. Sekarang tidak lagi. Aku hanya mengingatnya. Mungkin, setiap Lebaran seperti kali ini dia juga selalu mengingatku. Tapi, aku takpernah tahu, adakah rindu yang tertitipkan pada udara atau tidak.
Entahlah. Menjadi manusia terkadang terlalu rumit terikat pada nama. Pada aturan-aturan yang entah bagaimana harus terpatuhi. Pada segala hal yang entah bagaimana telah menjadi ritual pemujaan.
"Masih lama di rumah?" Aku mengangguk. Lalu, menyebut sebuah tanggal rencana kepergianku ke kota yang katanya metropolitan itu. Dia mengangguk-angguk.
"Kalau kamu takkeberatan, kamu bisa datang di acara pernikahanku. Tepat seminggu setelah hari ini," masih dengan gayanya yang santai, dia berkata seperti itu. Tentu saja, aku terkejut. Dulu. Kami selalu merencanakan masa depan bersama. Meski aku tahu, takpernah ada kata 'kita' di dalam masa depan kami masing-masing. Dia orang yang ambisius pada karier, kukira.
"Kenapa secepat ini?" aku takkuasa menahan pertanyaan itu.
"Setiap orang akan berubah, termasuk mimpi. Mimpiku taklagi jabatan tinggi,"
Aku tercekat. Rasanya aku ingin mendengarnya cerita banyak-banyak seperti dulu. Tapi, bukan itu.
"Selamat! Semoga kamu bahagia. Aku akan datang," janjiku padanya.
"Terima kasih. Aku tahu, kamu masih bersetia dengan mimpi-mimpimu itu. Semoga kamu juga bahagia,"
Aku mengangguk.
Lalu, perbincangan taklagi lama. Dia harus pergi (lagi). Ada bening yang menggumpal di pelupuk setelah melihat mobilnya menjauh ditelan sudut pandang. Entahlah. Bahagia atau sedih. Aku sama sekali takbisa mendefinisikannya.
Akhirnya, cerita pun berubah. Dan, pertanyaanku terjawab. Takada rindu yang diam-diam tercekat. Yang ingin dia sampaikan lewat udara. Untukku. Mungkin hanya kenangan, yang membawanya kemari. Menemui seseorang yang pernah ada dalam hidupnya. Dulu.
Ah, masa lalu. Selalu saja hanya untuk dikenang. Bukan untuk ditinggali, tapi sebaliknya.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Pindah Hati

Dulu, saya bersetia menggunakan sampo merek A. Bertahun-tahun. Mungkin sejak saya tidak lagi menggunakan sampo bayi. Tapi, entah karena sesuatu hal yang saya lupa. Saya pun berpindah merek sampo B. Itu empat tahun yang lalu. Semenjak saya berkuliah. Lalu, membeli segala keperluan sendiri. Dan, ada beberapa hal yang berubah memang, termasuk merek sampo. Kemarin saya pulang. Keramas. Ternyata, sampo di rumah masih bermerek A. Saya pun memakainya tanpa rasa apa pun. Sempat beberapa kali keramas, rambut saya mulai ada perubahan. Terasa agak kasar. Dan kemerahan.

Iya. Sampo merek A taklagi cocok untuk rambut saya. Meski saya sudah menggunakannya bertahun-tahun. Rambut saya pun tahu, sudah berpindah pada sampo merek B.

Begitulah.

Semacam hati. Perpindahannya kadang takbisa kembali. Tempat yang baru mungkin taksemewah yang lama, tetapi jauh lebih nyaman. Lalu, apa yang dicari lagi? Mungkin, hati sudah berdiam di tempat yang lama dalam waktu yang taksebentar, tapi itu bukan jaminan bahwa hati bisa kembali ke tempat itu kapan pun. Tidak. Hati akan menemukan rumahnya. Dalam bentuk apa pun. Takperlu risau pada tempat yang taklagi cocok. Percayalah. Setiap hati telah memiliki rumah. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk berpindah.

Kamis, 01 Agustus 2013

Firasat

Ada kalanya memang. Alam memberi tahu segala hal yang (mungkin) akan terjadi dengan caranya. Saya percaya. Semesta itu semacam tautan. Hal yang satu akan menghubungkan dengan hal lainnya. Meski kelihatannya takada sangkut pautnya. Semacam cerita bersambung yang takpernah diketahui ujungnya, tapi pasti berujung. Begitulah. Alam bekerja.

Lalu, memang takada yang kebetulan dan keberuntungan dalam hidup. Kebetulan dan keberuntungan hanya alibi orang-orang yang takingin kerjanya diketahui orang lain. Yang ingin menyimpannya. Sambil mengucap syukur pada Tuhan. Dalam-dalam.

Kemarin lusa dan kemarinnya lagi. Saya bermimpi. Entahlah. Saya tidak bisa mendefinisikan mimpi saya tersebut dengan rinci. Satunya, saya bermimpi bertemu dengan orang yang ingin saya temui. Sudah lama, saya ingin berbincang dengannya. Bertanya segala sesuatu tentang (salah) saya yang mungkin mengganjal hidupnya atau kisah cintanya. Dalam mimpi itu, dia datang ke rumah saya. Bersikap manis. Dan, saya pun senang berbicara panjang lebar dengannya. Entah. Apa yang kami bicarakan.

Mimpi selanjutnya, saya menikah. Memakai kebaya putih. Memakai jilbab putih. Wajah saya pucat. Jilbab putih saya takselesai dipasang. Masih ada juntai panjang yang mengatung. Lalu, perias saya pergi begitu saja. Saya ditinggal sendirian di depan cermin.

Bangun dari kedua mimpi tersebut, saya tergeragap. Ada bulir yang mengalir. Ada detak yang takbiasa. Entahlah. Padahal, saya tipe orang yang takterlalu percaya pada mimpi. Namun, terbangun dengan mimpi aneh dua hari berturut-turut membuat saya merasa ada yang salah.

Kemarin. Saya harus ke rumah sakit untuk memeriksakan sakit saya yang sudah hampir seminggu. Telinga saya berdengung. Tidak ada yang mengantar. Jadilah, saya pergi sendirian. Menaiki motor, padahal sudah sangat lama saya tidak mengendarai motor. Saya hanya berpikir, ini bulan baik. Tidak apa-apa. Kalaupun mimpi saya itu berdampak buruk pada saya, toh, semuanya juga akan kembali. Cepat atau lambat.

Perjalanan berangkat saya baik-baik saja. Pulang juga demikian. Sampailah tepat di depan rumah. Saya membelokkan motor saya. Entahlah. Apa yang sedang terjadi. Tetiba saja saya sudah terguling. Tertindih motor saya. Tidak berdampak terlalu buruk memang. Hanya lecet sedikit di lutut dan tangan saya. Nyeri. Lebam. Juga dalam porsi sedikit.

Lalu, saya mengurai kembali. Firasat kadang memang takpernah berbohong. Manusia saja yang sudah telanjur sombong sering mengabaikannya. Entah. Saya mengutip di mana kalimat itu. Ataukah peristiwa jatuh saya juga merupakan firasat untuk sesuatu hal yang lain. Mungkin. Sekarang, saya sedang mencoba membaca lebih. Membaca pertanda. Semoga semuanya terasa baik-baik saja.