Hurip iku Hurup

Jejering wong urip iku sejatine kudu bisa tansah aweh pepadhang marang sapa wae kang lagi nandhang pepeteng kanthi ikhlasing ati. Manawa hurip ora bisa aweh pepadhang iku tegese mati.

Kamis, 16 Februari 2017

Dear You,


Malam ini aku bercerita panjang lebar dengan seseorang di luar sana. Tentang kemalangannya yang ditinggal pergi begitu saja oleh seorang perempuan--yang ternyata juga teman baikku. Aku tertawa-tawa saja mendengar kisahnya yang bagiku semacam cerita bocah kecil yang belum tahu bagaimana menghadapi seorang perempuan metropolitan. Sementara, pada sore harinya, aku juga mendengar cerita yang sama dari versi sang perempuan. Perempuan itu hanya menganggap bocah lelaki yang baru saja bercerita padaku itu seorang teman, cukup teman berbagi yang menyenangkan di awal, tetapi membosankan selanjutnya. Tak ada beda, aku juga hanya tertawa-tawa mendengar kisah-kisah semacam itu.

Pada akhirnya, mereka tidak lagi melanjutkan percakapan. Barangkali karena lelakinya terlalu bocah atau perempuannya terlalu banyak pilihan. Lantas, sekarang, lelaki itu masih saja menjadi bocah yang mencari perhatian di sana-sini, sedangkan perempuan itu sudah menemukan lelakinya dari belahan dunia lain dan barangkali mereka akan hidup bahagia selamanya.

Lalu, hubungannya denganku? Aku hanya bisa tertawa kali ini. Mengingat segala yang pernah kita lewatkan. Tentangmu yang tetiba datang mengetuk pintu berkali-kali. Dan, aku yang dengan mudah membukakannya. Ternyata kamu tak pernah benar-benar ingin tinggal. Sebab di luar hujan deras, kamu hanya ingin mencari tempat singgah yang lebih nyaman daripada sekadar teras warung burjo.

Begitulah. Barangkali, kisah dua orang tersebut hampir sama seperti kisah kita. Hanya saja, aku yang sedang berada dalam posisi lelaki itu. Aku yang malam ini bernasihat panjang lebar agar lelaki itu tak lagi terjerembab dalam harapan-harapan palsu, sesungguhnya, sedang menasihati diriku sendiri. Dan, aku yang sedang menertawakan kisah mereka, sesungguhnya pun sedang menertawakan diriku sendiri--yang pada beberapa waktu lalu menaruh harapan terlalu tinggi padamu.

Pada dasarnya, aku sama sekali tak masalah, ketika kamu harus mengatakan bahwa kamu hanya menganggapku teman. Tak ada masalah sebab tak selamanya rindu harus berbalas rindu. Dan, perasaan ini sungguh tak ada hubungannya denganmu. Aku sudah terbiasa mengatasinya sendiri. Pergilah sesukamu, tak perlu lagi berkunjung jika tak benar-benar ingin tinggal!